
Setelah Ananta pergi dibawa oleh Andika, Alan masih duduk bersama dengan teman Ananta yaitu Maria, Alan langsung melihat ke Maria membuat Maria tersimpuh malu.
"Em anu.. anu.. aku masuk ke dalam kelas dulu ya?" Pamit Maria nampak gugup. Ia pun langsung hengkang dari tempat tersebut.
Sementara Alan sendiri langsung tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Maria terlihat lucu karena dia malu terlihat sangat gugup.
***
Beberapa saat kemudian
Lonceng sekolah telah dibunyikan tanda waktu sudah saatnya kembali kedalam pelajaran.
Teng.. teng.. teng..
Alan langsung berbenah untuk segera kembali masuk ke dalam kelas. Setibanya ia di dalam kelas para teman-temannya sudah berada di dalam.
Mereka semua melihat ke arah Alan ketika Alan tengah berjalan menuju kursinya, sementara Alan sendiri tidak menoleh ke arah mereka melainkan langsung duduk di kursinya serta langsung membuka kembali buku pelajaran. Alan melirik ke arah samping meja dia yaitu tempat duduk Ananta ternyata kosong.
Ananta tidak kembali masuk kedalam kelas (bolos) namun tidak begitu Alan hiraukan karena ia paling enggan berurusan dengan segala masalah yang tidak ia ketahui asal-muasalnya. Walaupun Alan tidak menghiraukannya tetap terbesit pertanyaan didalam hatinya.
'kemana dia..'
***
Beberapa waktu kemudian jam pelajaran telah usai, lonceng sekolah telah kembali dibunyikan. Masing-masing diantara siswa-siswi sudah banyak yang pulang. Sementara Alan sendiri pun hendak bergegas pulang juga. Ketika ia belum beranjak pergi dari tempat duduknya semua teman-teman langsung menghampirinya.
"Hey Mike, maafin perkataan gua tadi ya?" Ucap Taro dengan wajah datar.
"Maafin ucapan yang tadi kita semua ucapkan ya, Mike" sambung Ivan mewakili semua teman-teman yang lain.
"Iya," jawab Alan singkat sembari menggangguk nan tersenyum tipis.
Setelah itu Alan beranjak pergi disusul oleh semua teman-temannya ikut serta berjalan didekat Alan. Akan tetapi kini sudah tiada lagi celotehan omong kosong diantara mereka seperti biasanya, karena Alan sendiri hanya diam tanpa kata, sebab awal mula obrolan omong-kosong diantara mereka Mike lah yang selalu mengawalinya dan disusul oleh celotehan alay khas Kenji yang membuat suasana semakin ceria.
Ketika mereka semua sedang berjalan bersama-sama, salah satu temannya ada yang melihat bekas luka yang berada di lengan kiri Alan.
"Eh Mike, tungggu sebentar" Ucap Al menghentikan langkah.
Alan langsung menoleh ke arahnya.
"Bekas luka apa yang berada ditangan loe itu, Mike? seperinya baru kali ini gua melihat bekas luka itu." Tanya Al.
Alan langsung melihat ke bekas luka yang dimaksud namun ia menggelengkan kepala tanpa menjawabnya karena ia sama sekali tidak mengingatnya. Bekas luka tersebut adalah bekas luka yang disebabkan oleh Ferdi ketika Alan di siram dengan air panas hingga melepuh.
__ADS_1
Sesudah sampai diluar sekolah, mereka berpisah ketika Alan sudah hendak masuk ke dalam mobil penjemput yang sudah menunggunya. Tanpa ada perkataan apapun ketika mereka berpisah Alan hanya tersenyum tipis seraya melambaikan tangan kepada mereka semua sebelum ia masuk kedalam mobil.
***
Ketika Alan sudah berada didalam mobil, ia hanya diam tanpa kata lain halnya dengan Mike yang biasanya mengajak ngobrol sang sopir jika kebetulan ia sedang ingin di jemput, karena biasanya Mike lebih suka menggunakan transportasi umum daripada di jemput oleh sopir pribadi.
Kring.. kring.. kring..
Hape Mike berbunyi hingga beberapa kali, Alan ambil hape tersebut di sakunya namun tidak diangkat olehnya, ia hanya melihat siapakah gerangan yang menelpon dan yang menelpon tersebut adalah nomor yang tidak tersimpan dalam kontak ponselnya alhasil ia langsung menolaknya hingga berkali-kali, karena bising baginya.
Beberapa saat kemudian ia telah sampai di rumah.
Ia langsung turun dari mobil dan dilanjutkannya masuk kedalam rumah, ia melihat sang Ayah telah berada didalam rumah dan posisinya sedang berbicara melalui telpon di halaman belakang menghadap ke kolam renang.
Alan melihat dari celah-celah jendela samping kemudian ia langsung masuk ke dalam kamar serta langsung berbenah seperti berganti pakaian dan semacamnya, setelah usai berbenah ia kembali turun ke lantai bawah hendak makan siang.
"Loh.. sudah pulang kamu Mike, kok Papa tidak melihatnya, hehe" Marvin tersenyum ketika ia melihat Alan sudah duduk di meja makan.
Alan hanya mengangguk dan tersenyum jua kemudian ia langsung berdiri setelah itu ia langsung memegang tangan ayahnya untuk berjabat sekaligus mencium tangannya, sontak Marvin merasa terkejut sekaligus kagum ketika Alan melakukan hal yang sangat begitu santun kepadanya, karena lagi-lagi ia tidak pernah melihat Mike seperti itu sebelumnya.
Marvin tersenyum gembira melihat putranya kian berubah menjadi sangat santun dan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Yasudah mari kita makan siang bersama" lanjut Marvin.
Mereka berdua makan bersama sembari berbincang-bincang.
"Bagaimana dengan hari pertama kamu masuk sekolah, Nak? dan bagaimanakah dengan teman-temanmu apakah..?" Marvin hendak banyak menanyakan tentang bagaimana setelah mereka tahu kini Mike telah hilang ingatan dan hendak menanyakan jua tentang bagaimana aktifitas Alan selama disekolah karena semua itu pasti terasa baru baginya.
"Baik Ayah, mereka semua baik" jawab Alan singkat, karena ia enggan ditanya-tanya lebih banyak.
Marvin sendiri langsung dapat mengerti karena ia belum selesai berbicara sudah terpotong oleh jawaban singkat dari Alan.
"Oh iya, sekarang ini Papa pulang sebentar ke rumah pada siang-siang begini karena Papa akan segera berangkat keluar negri nanti pukul 15:00 Nak, kamu baik-baik di rumah ya, Papa tidak akan lama kok hanya dua hari, karena ada urusan kantor" lanjut Marvin.
"Iya Baiklah Ayah, hati-hati." jawab Alan singkat.
Setelah usai makan siang, Marvin segera berberes-beres sedikit barang yang hendak ia bawa, sementara Alan duduk di taman belakang rumah sembari melihat ke arah kolam renang.
Cuaca hari ini tidak begitu terik dan tidak pula mendung menjadikan Alan ingin berenang. Walaupun ia tidak ingat kehidupan ia sebelumnya namun pada kehidupan asli sebelumnya ia sering pergi ke sungai yang letaknya hanya di belakang rumahnya untuk mencuci pakaian, mandi dan lain-lain, menjadikan kini ia pandai berenang dan suka bermain air.
Sebelum ia menceburkan diri ke kolam renang ia kembali masuk dahulu ke dalam kamar untuk berganti celana kolor, ketika ia sedang berganti, ia melihat hape Mike terus-menerus berbunyi terdapat banyak panggilan telepon yang ia tidak ketahui dari siapa, ia bawa serta hape itu kembali ke lantai bawah lalu ia senyapkan modenya supaya tidak terlalu bising.
Setelah ia sudah sampai di lantai bawah, ia melanjutkan niatnya untuk berenang lalu ia langsung melepaskan kaosnya, ia hanya menggunakan kolor tanpa pakaian, sementara pakaiannya ia taruh di kursi dekat kolam renang bersama dengan hapenya.
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian
"Mike.. Mike.. Papa mau berangkat dulu ya.." panggil Marvin sembari melihat ke lantai atas.
Byurrr kupriyak kupriyak
Terdengar suara percikan air dari kolam renang yaitu Alan sedang berenang di kolam renang tersebut, mengetahui itu Marvin berjalan menuju kolam renang untuk menemuinya.
"Hey Mike, Papa mau berangkat dulu ya.." Pamit Marvin mengulangi perkataannya karena Alan masih berada di dalam air.
Kemudian kepala Alan nongol tepat pada Marvin berdiri dipinggir kolam. Alan langsung tersenyum sembari mengusap wajahnya yang masih terdapat air.
Marvin jongkok mendekat ke Alan sembari tersenyum dan mengusap-usap kepalanya.
"Hemm.. anak Papa.. tumbenan mau berenang"
Alan kembali tersenyum dan langsung beranjak keluar dari air. Setelah ia sudah keluar dari air ia mendekat langsung kepada sang Ayah.
Sontak ayahnya langsung terkejut ketika dia melihat ada tanda lahir (tahi lalat) sebesar kuku jari kelingking yang terdapat pada tengah dada Alan menyadari alan sedang tanpa pakaian. Marvin langsung melotot melihat ke arah tanda lahir tersebut dan ia langsung memegangnya dengan tangan.
Sementara Alan sendiri diam nan terbengong melihat ekspresi wajah ayahnya terlihat seperti terkejut sembari ia melihat tangan Ayahnya yang sedang memegang dadanya.
"Ini.. tanda lahir ini.. Oh Tuhan, Michealan.." ucap Marvin lirih ketika ia memegang tanda lahir tersebut sembari melotot melihat tanda lahir itu.
"Hah..?" Alan bingung ketika mendengar ucapan Marvin menyebut nama Michealan dengan suara lirih.
'Michealan anakku.. kau kah ini Nak.. oh Tuhan, Michealan anakku..' Marvin berkata didalam hatinya.
Marvin sudah berkaca-kaca tanpa basa-basi ia langsung memeluk tubuh Alan dengan sangat erat diiringi tangisan yang sudah tak terbendung melihat suatu keajaiban di depan matanya.
"Oit, hentikan Ayah, apa yang sedang Ayah lakukan. Ayah sudah berpakaian rapi sedangkan saya masih basah kuyup seperti ini, lihatlah baju Ayah menjadi basah," ucap Alan sembari melepaskan pelukan Marvin dari tubuhnya.
Setelah Marvin telah dilepaskan pelukannya oleh Alan, Marvin langsung memegang kedua pundak Alan dan dilanjutkannya memegang pipi dengan kedua tangannya sembari ia melihat ke sekujur tubuh Alan. Ia tersenyum sembari menangis tersedu-sedu.
Sementara Alan sendiri merasa kebingungan melihat ayahnya menangis seperti itu.
"Michealan anakku, kamukah ini, Nak..?" ucap Marvin.
Seketika Alan langsung melihat ke mata sang Ayah.
"Apa maksud Ayah?"
__ADS_1