
"Tolong loe jangan bilang ke orang tua-nya Alan, kalo gua yang membawa dia ke sini dan kalo Alan udah sadar jangan loe bilangin dia juga, oke?" Pinta Naldo.
"Cih," sebatas dilirik saja oleh Verza enggan menggubrisnya tanpa menjawab satu kalimatpun lantaran sikap dan keinginan Naldo sangat aneh baginya. Enggan berpikir lama-lama dia bergegas pergi dari sana.
__
Jarak tempuh dari klinik tersebut hingga sampai di rumahnya terbilang cukup jauh. Setelah sampai, Verza pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum menyampaikan pesan dari dokter tadi pada orangtua-nya Alan.
Menaruh tas penampung bukunya di atas kasur, seraya berganti pakaian, lantaran selepas ini dia terpikir hendak ke klinik lagi berkunjung ke klinik tadi bersama-sama dengan orangtua-nya Alan nanti.
Selepas usai berbenah, bergegas menuju ke rumah Alan.
Tok, Tok, Tok,
"Permisi, Pak, Bu, Yadi," Panggilnya satu kali. Tak ada jawaban dia ketuk pintu rumahnya lagi,
Tok, tok, tok,
Tak henti sambil terus memanggil berulang-ulang kali sampai akhirnya ada suara yang menyahutnya dari dalam.
"Iya, ada apa?" dialah Yadi yang menjawabnya, perlahan dia buka pintu itu.
"Yad, Ibu dan ayah loe ada dirumah gak?" Tanya Verza.
Yadi masih diam saja meski melihat seraut wajah Verza tampak tergesa-gesa.
"Oi, ditanya malah bengong sik Yad, lagi gawat Nih. Itu ... Alan!" Verza masih belum tuntas mengemukakan yang hendak dia katakan itu.
"Iya ada apa'an, Alan apa maksud loe itu?" Jawab Yadi garuk-garuk kepala meski tak gatal.
"Alan sekarang lagi di Klinik Yad, mana kedua orangtua loe? lagi gawat Men!" Lanjut Verza.
"Hah di klinik? ngapain dia di klinik?" jawab Yadi tidak merasa curiga apalagi menghkawatirkan Alan sedikitpun.
Semasih berbincangan yang masih mentah itu berlangsung, Ika datang dari arah belakang rumah usai menjemur pakaian.
"Ada apa Ver? Kok kamu terlihat cemas seperti itu?" Tanya Ika secara langsung.
"Alan sekarang sedang berada di klinik Bu, ayo Bu kita segera kesana, Dokter mengatakan keadaan Alan saat ini sangat mengkhawatirkan." Jelas Verza tampak sedih dan tergesa-gesa.
"Apa, di klinik? Memangnya dia kenapa Ver?" Ika tak kalah khawatirnya begitu mendengar penyampaian Verza itu.
Ya, tentunya Ika khawatir lekas terngiang kejadian pada malam hari saat Alan mengetahui kebenaran tentang dirinya (bukan anak kandung Ika dan Ferdi) si Alan langsung pergi keluar rumah dalam kondisi badan masih babak belur setelah dianiaya oleh suaminya.
Tanpa pikir panjang Ika segera menjawabnya "Ayo kita kesana" bergegas menuju ke klinik bersama Verza.
__ADS_1
Sementara Yadi tidak mau ikut, karena dia samasekali tidak peduli dengan keadaan Alan, Lantaran menurut pendapatnya Alan kini sedang syok selepas mengetahui kenyataan bahwa dia bukanlah anak kandung dari kedua orangtuanya berakhir terjadi yang tidak-tidak dengan Alan.
"Masa bodo lah," Yadi menutup pintunya lagi sembari melihat sang Ibu dan Verza melangkah pergi bersama-sama.
__
Tak lama kemudian Ika dan Verza telah sampai di klinik itu, Ika beranjak masuk, sementara Verza masih berada di luar, dia diam sejenak sembari menoleh kesana dan kemari mencari keberadaan Naldo, mengingat Naldo-lah orang yang membawa Alan ke klinik tersebut.
"Lah, dia kok kagak ada? kemana pula curut satu itu." Lirih Verza sembari melangkah ke seluruh halaman klinik hingga ke arah samping samasekali tidak melihat Naldo.
Alhasil dia berpikir mungkin Naldo sudah pulang, mengingat sebelumnya pakaian Naldo tadi memang basah kuyup. Dan jua dia ingat perkataan/pesan Naldo tadi bahwa dia tidak ingin diketahui oleh orangtua-nya Alan bahwa dialah orang yang membawa Alan ke klinik tersebut.
"Cih, Kenapa dia kagak mau diketahui dia yang nyelametin Alan ya? dasar manusia super aneh sedunia dia mah, Konyol!" Gumam Verza.
Lantas menyusul Ika masuk kedalam klinik tersebut. Selepas masuk dia mendapati Ika sedang berbincang-bincang dengan sang Dokter.
"Bagaimana dengan keadaan anak saya Dokter? apakah dia baik-baik saja?" tanya Ika, ekspresi wajahnya nampak sedih dan merasa bersalah.
"Bu, kami sarankan supaya anak ibu segera di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap fasilitasnya" jawab Dokter.
__
Pada waktu saat yang bersamaan ada Dokter lain yang baru saja datang, dia hendak berbicara dengan Dokter yang kini sedang menangani Mike itu lantaran ada suatu keperluan. Lantas sesudah dia masuk kedalam ruang perawatan Mike, Sedikit tercengang melihat pasien yang berada didalam ruang itu (Mike)
Didalam batin dia bertanya-tanya, 'loh, pasien ini kan ... bukannya semalam sudah di bawa kemari dan sudah di rujuk ke rumah sakit ya, kenapa dia malah di bawa ke sini lagi pagi ini?'
Tentunya Dokter itu merasa sedikit heran, lantaran Dokter tersebut adalah Dokter yang menangani Alan (Alan yang asli) sewaktu Alan di bawa oleh Daniel ke sana.
Ya, beginilah sebuah takdir kehidupan penuh misteri, yang mana Alan sempat di rujuk ke klinik itu oleh Daniel pada malam hari, begitu pagi harinya Mike dibawa ke klinik ini juga.
Selepas sedikit keperluannya dengan Dokter usai dia perbincangkan, dia beranjak pergi lagi lantaran teman sesama Dokter-nya itu lanjut berbincang dengan keluarga pasien (Ika)
__
#Next
"Tapi Dokter ... kami tidak ada biaya yang cukup untuk perawatan anak kami? apakah dia masih bisa sembuh seperti sedia kala jika hanya dirawat di sini saja Dokter?" Tanya Ika dari percakapannya sebelumnya.
"Bisa saja Bu, tapi jangan salahkan kami jika dia tidak bisa kembali mengingat apapun didalam hidupnya" jelas sang Dokter penuh ragu.
"Maksud Pak Dokter apa ya dok? apakah ... anak saya tidak bisa mengingat tentang hidupnya Dok?" Ika nampak bingung, lantaran belum mengerti maksud yang dokter jelaskan itu.
"Begini Bu, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan anak ibu, tapi setelah melihat hasil dari pemeriksaan yang kami lakukan, sepertinya anak ibu telah mengalami suatu benturan yang sangat kuat di bagian kepalanya Bu, dan dari benturan yang sangat kuat tersebut membuat 85% dari ingatannya hilang Bu, bukan hanya itu saja, sepertinya anak Ibu juga terendam air cukup lama, membuat daya tahan tubuhnya melemah, Bu" Jelas sang Dokter.
"Hilang ingatan Dokter?" Ika nampak Syok.
__ADS_1
"Benar Bu, dia tidak bisa mengingat apapun tentang hidup dia sebelumnya."
Verza mendengar percakapan tersebut merasa sangat sedih, lantaran dia merasa seakan-akan kehilangan sahabatnya, bagaimana jika sang sahabat tidak bisa lagi mengenalinya? begitulah pikirnya.
Di dalam batin tak henti dia berkata, 'Ya Tuhan ... Tidak, ini tidak mungkin terjadi, Lan, Alan ... apa loe bakalan kagak ingat siapa gua lagi Lan? Oh Tuhan Please!'
Posisi dia berdiri tepat di sebelah Mike yang sedang terbaring itu, menoleh ke arah Mike dan melihat paras dia lebih dekat.
"Lan, Alan, apa benar loe udah kagak bisa ingat gua lagi Lan? kagak ingat kita sering lomba renang di sungai, nangkep ikan bareng-bareng, gak ingat kita bakar-bakar kodok saat gerimis, gak ingat gua sering nyontek PR loe lagi? Lan ..." Ucapnya lirih tampak sedih.
"Lan, buruan bangun dong ... cepet loe ngomong ke gua kalo loe tuh gak ilang ingatan Lan, Please Lan ..." Lanjut Verza sembari memegang telapak tangan Mike yang dia kira sahabat masa kecilnya itu.
Selepas Verza usai mengucapkan kalimat tersebut, suatu keajaiban tiba-tiba tampak, tangan Mike ada sedikit pergerakan disusul kedua matanya perlahan terbuka.
Verza kian menyadari begitu merasakan suhu tubuh Mike melalui telapak tangan berubah, yang mana sebelumnya terasa sangat dingin, kini perlahan terasa hangat.
Verza menegakkan kepalanya secara perlahan kedua mata tertuju ke arah wajah Mike. Sontak terkejut sekaligus gembira melihat Mike sudah membuka kedua Matanya.
"Alan, Puji Tuhan. Dokter, Bu Ika, lihatlah kesini, Alan sudah sadar Bu!" Ucap Verza nampak sangat gembira.
Ika beranjak langsung mendekat ke Mike.
"Alan, kamu tidak apa-apa kan Nak? maafkan Ibu ya Nak" ucap Ika sembari meneteskan air mata lantaran merasa bersalah atas kejadian pada malam harinya (Tidak mengejarnya semasih Alan pergi keluar rumah)
Tetapi Alan yang sekarang ini bukanlah Alan yang sebenarnya melainkan Mike sang saudara kembar-nya Alan, dia hanya terdiam, selain dia bukanlah Alan, karena saat ini dia juga kehilangan ingatan.
"Lan, Alan, loe udah sadar Lan, syukurlah ... apa yang sebenarnya terjadi sama loe, Lan? Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini sih?" lanjut Verza.
Lantas Dokter menyahut, "Ssstt ... mohon bersabar dulu, Dik" menenangkan si Verza yang terbawa suasana, bertanya secara terus-menerus itu.
"Ini benar-benar suatu keajaiban bu, oh iya Bu, tolong dengarkan penjelasan saya sebentar ya, anak ibu ini mengalami kehilangan 85% ingatannya. jadi, jangan memaksakan dia untuk bisa mengingat kembali semua tentang masa lalunya secara langsung, karena dia seperti bayi yang baru saja dilahirkan, dia tidak bisa mengingat apapun di kehidupan sebelumnya, jika ingatannya terlalu di paksakan, justru akan memperburuk kinerja otaknya dalam mengingat kembali." Ucap dokter.
"Tapi Dokter ... apakah masih ada kesempatan untuk dia bisa mengingat lagi?" Sambung Verza.
"Kemungkinannya sangatlah tipis, namun kuasa Tuhan kita semua tidak tahu, jika keajaiban telah terjadi padanya, maka dia pasti bisa mengingat dengan sendirinya Dik." pungkas Dokter.
Sementara Ika hanya diam saja sembari menyapu air mata yang terus-menerus mengalir di kedua pipinya.
Walaupun Alan bukanlah anak kandungnya dan dia juga tidak begitu respek dengan Alan selama ini, rasa kasih sayangnya terhadap Alan tetaplah ada, karena apapun itu Ika telah menbesarkannya sedari Alan masih balita.
__
Tiba-tiba Ferdi datang ke klinik, sebelumnya dia baru pulang dari kerja, lalu mendengar yang Yadi sampaikan bahwa Ika sedang di klinik karena Alan sedang berada di klinik ini pastilah dia langsung datang kesini.
Ferdi langsung masuk dan melihat keadaan Mike yang kini menjadi Alan, namun dia tidak merasa khawatir sedikitpun maupun bertanya-tanya tentang kondisinya. Mengingat kejadian sebelumnya (mengungkapkan kebenaran bahwa Alan bukanlah anak kandungnya) maka dia beranggapan bahwa mungkin saja Alan depresi berujung terjadi sesuatu padanya.
__ADS_1
"Pa ... Alan anak kita Pa ..." Sapa Ika begitu melihat Ferdi baru saja memasuki ruang tersebut.