Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 121


__ADS_3

Andreas langsung mengusap lembut kepala putrinya nan tiada henti-hentinya ia bersyukur kepada sang Pencipta atas keajaiban yang ia saksikan bahwa kini putrinya dapat kembali sadarkan diri.


Sementara Ananta sudah dalam posisi duduk nan langsung menangis histeris ketika melihat tangan ia tengah di genggam erat oleh Mike. Melihat itu, Mike langsung memeluknya dalam tujuan supaya Ananta dapat tenang.


"Mike, hiks hiks hiks"


"Ssttt.. Tenanglah Ananta, Aku ada disini. Kamu tidak papa, tenanglah." Ucapnya seraya mengusap lembut pundaknya.


Mike sebenarnya tidak sensitif seperti Alan kala melihat seseorang menangis, terlebih lagi seorang wanita. Namun, karena Ananta adalah sahabat terdekatnya, maka tidak heran jika ia menjadi sensitif, bahkan lebih dari sensitif melainkan over sensitif ketika ia melihat Ananta menangis histeris seperti sekarang ini, terlebih lagi setelah ia mendengar apa penyebabnya.


Darah Mike seperti mendidih saat ia tengah memeluk Ananta. Didalam hatinya banyak sekali ia mengumpat dengan kata-kata kotor mengarah kepada siapapun orang yang berani berbuat demikian kepada sang sahabatnya tersebut.


Dugaan Mike sementara mengarah kepada Andika, namun Mike berpikir entah Andika atau siapapun orang yang berani berbuat tidak senonoh dengan sahabatnya tersebut, ia bertekad kuat hendak segera menuntaskannya.


Sementara Andreas yang menyaksikan hal tersebut, merasa lega karena sebelumnya ia sempat menaruh kecurigaan terhadap pemuda yang tengah memeluk putrinya tersebut.


"Sudah-sudah tenanglah Ananta, jangan menangis. Aku ada disini, okey?" Ulang Mike ketika ia melepaskan pelukan Ananta dalam tutur bahasa yang biasa ia pakai berbicara dengannya.


Ananta tidak mengucapkan kalimat apapun, karena ia sungguh-sungguh tidak mampu untuk berbicara apapun lagi. Sebelumnya Ia sempat mengalami depresi yang nyaris menghilangkan akal pikirannya. Namun beruntung, Tuhan telah berkehendak baik kepada dirinya, bahwa ia tidak sampai mengalami gangguan jiwa yang signifikan.


Usai Mike memeluknya, Andreas menyusul memeluk putrinya sembari mengucapkan banyak kalimat-kalimat lembut untuk menenagkan sang anak yang masih menangis.


Mike terdiam, namun jauh didalam lubuk hatinya ia banyak sekali berkata-kata hingga ia lupa bahwa ia berkunjung ke rumah sakit tersebut tidaklah sendirian melainkan bersama dengan saudara kembarnya.


Jangankan untuk mengingat datang bersama dengan Alan dan hendak mengenalkan saudara kembarnya tersebut kepada Ananta. Mengontrol emosi kini yang tengah melanda jiwanya saja Mike nyaris tidak mampu. Ya, begitulah Mike yang terlalu mengutamakan persahabatan daripada dirinya sendiri.


"Om, saya keluar sejenak ya," Pamit Mike


"Baiklah" Andreas tersenyum.


"Mike.." Panggil Ananta ketika Mike tengah melangkah baru sampai di depan pintu. Alhasil Mike pun kembali berhenti nan menoleh sejenak seraya tersenyum.


Setelah ia keluar dari ruang perawatan Ananta tersebut. Mike melangkah ke arah toilet, ia berhenti sejenak, lalu ia langsung mengepalkan tangan nan meninju keras dinding didekatnya.


"Arrrgh! Brengs*k!"


Braak!


Begitu banyak yang tengah Mike pikirkan yang membuat emosinya semakin memuncak. Lalu ia sejenak mengambil hanphone di saku celana hendak menghubungi seseorang.


"Haissh, Pakek acara lowbet segala pula kau." Gumamnya ketika melihat handphone-nya kehabisan batrai. Tanpa pikir panjang Mike segera bergegas pergi keluar.


Setelah ia sampai di tempat parkiran.


"Astaga, kenapa aku bisa sampai lupa dengan mu, aissh" Gumam Mike ketika ia menyadari bahwa ia datang ke rumah sakit tersebut bersama dengan Alan. Alhasil ia segera bergegas kembali masuk ke dalam.

__ADS_1


Setelah ia melangkah tidak begitu jauh dengan nomor ruang perawatan Ananta, ia melihat Alan tengah berdiri tepat didepan pintu tersebut hendak masuk ke dalam. Melihat Alan menoleh ke kanan dan ke kiri, ia langsung bersembunyi dibalik tanaman hias yang berada di dekatnya. Kemudian, Mike langsung menghentikan niatnya untuk menemui Alan hendak mengatakan bahwa ia akan pergi sejenak.


'Maaf Lan, Aku pergi sejenak, Aku pastikan akan kembali lagi untuk menjemputmu pulang nanti.' Batin Mike seraya melangkah pergi.


***


Disisi Alan.


Ketika ia tengah berdiri di depan pintu tersebut, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Mike, karena ia sempat melihat ke arah dalam ruang tersebut melalui celah kaca di pintu itu, ia tidak melihat Mike.


Alan sempat berpikir salah atau tidakkah ia hendak masuk ke dalam ruang tersebut. Karena Kebetulan ketika ia mengintip ke arah dalam, posisi Ananta tertutup badan Andreas. Maka ia pun belum mengetahui bahwa teman yang Mike kunjungi tersebut adalah Ananta.


Sebelumnya Alan sedikit lama ketika ia pergi ke toilet karena ia tidak hanya ke toilet saja, melainkan pergi mengejar seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya yaitu Rehan, saat tidak sengaja ia melihat Rehan melintas ketika baru saja ia keluar dari toilet.


Alan mengejarnya lantaran ia penasaran. Ia pernah melihat Rehan juga kala ia sedang datang ke rumah sakit itu bersama dengan Marvin dan Mike saat ia baru saja di bawa dari daerah tempat tinggalnya ke ibu kota ini. (Kisah tersebut berada pada bab 95)


Tetapi ia tidak berhasil menemukan Rehan, hingga akhirnya ia sempat tersasar, mengingat rumah sakit tersebut memang cukup besar.


Rehan masih berada di sana karena ia memang sedang mengintai Ananta selaku ia yang membawa Ananta ke rumah sakit tersebut pada waktu itu meskipun ia tidak pernah masuk ke dalam ruang perawatan Ananta. Namun, lain daripada itu, ia disana juga karena pada siang harinya ia membantu Bonanza dalam mengurus jenazah Deril di rumah sakit tersebut.


***


Hingga beberapa detik Alan berdiri di sana, tiada henti-hentinya ia menoleh ke sana dan ke mari untuk mencari keberadaan Mike, tetapi tidak jua ia lihat. Namun, karena yang Mike sebutkan tadi adalah nomor pintu tersebut, tanpa ragu-ragu lagi ia segera mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


"Pak.." Sapa Alan.


Andreas merasa ada yang aneh ketika melihat pemuda tersebut kembali mengetuk pintu dan kembali menyapanya. Terlebih lagi kalimat sapa dalam memanggilnya berbeda dari yang tadi. Alhasil ia hanya membalasnya dengan senyum karena ia bingung harus berkata apa-apa lagi.


Setelah ia mempersilahkan Alan masuk, Andreas menggelengkan kepala seraya tersenyum karena yang ia pikir Mike sedang bercanda sehingga nampak seperti tamu yang baru saja datang berkunjung.


Meskipun pakaian yang saat ini di pakai oleh Mike dan Alan berbeda (jaket-nya karena bajunya masih sama-sama seragam sekolah) tetapi Andreas tidak memperhatikan hingga sedetile itu.


Setelah Alan melangkah ke dalam, ia benar-benar terkejut ketika melihat siapakah gerangan seseorang yang tengah berbaring nampak perban membalut di beberapa bagian tubuh-nya itu.


'Astaga Tuhan, Kamu..' Batin Alan seraya menatapnya dengan tatapan khas.


Sontak membuat Ananta kembali menagis ketika ia melihat Alan, karena ia teringat akan tatapan mata Alan yang benar-benar terlihat berbeda bagi Ananta yang hanya ia saja yang bisa merasakan berbedaan tersebut.


Namun, karena logikanya ia belum mengetahui bahwa Mike memiliki kembaran, maka Ananta hanya terpikir bahwa Mike tetaplah satu orang yang sama, namun Mike yang kini sedang berdiri sembari menatapnya tersebut adalah Mike yang bersamanya pada malam itu alias Alan saat tertukar posisi dengan Mike. (Kisah tersebut berada di bab 47 dan 48)


Melihat Ananta menangis, Alan langsung beranjak mendekatnya, tanpa ragu-ragu lagi ia langsung menyapu air mata Ananta dengan tangannya.


"Janganlah menangis, saya mohon jangan teteskan air mata ini." Ucap Alan lembut.

__ADS_1


Ananta pun langsung meraih tangan Alan yang tengah menyapu air mata di pipinya tersebut seraya memandang ke arah matanya.


"Kenapa Mike, kenapa kamu seperti ini. Kenapa kamu membuatku bingung. Kenapa Mike.. hiks hiks hiks"


Alan terdiam lantaran bingung, karena ia benar-benar tidak mengerti maksud kalimat yang Ananta ucapkan tersebut bahwa yang Ananta maksud itu adalah Mike berbeda.


Banyak sekali yang sedang Alan pikirkan sekarang bahwa kenapa Mike tidak ada di sana dan juga kenapa Ananta masih memanggilnya dengan nama Mike. Namun, karena situasinya seperti ini maka Alan pun mengikuti arus yang ada, ia tidak mengatakan apapun bahwa dirinya bukanlah Mike.


"Jangan menangis, berhentilah menangis," Alan menenangkan Ananta dan mengalihkan kalimat yang Ananta tanyakan tadi.


"Apa yang terjadi padamu, ini.. kenapa bisa seperti ini?" Tanya Alan sembari melihat ke sekujur tubuh Ananta yang terdapat perban.


Sementara Ananta hanya menggelengkan kepala, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Andreas pun langsung datang menyusul nan berdiri di sebelah kiri Ananta.


Andreas sempat merasa heran yang tak kunjung usai ia pikirkan melihat teman putrinya tersebut mengulangi pertanyaan yang sudah di jawab tadi. (Saat berbincang-bincang dengan Mike) tetapi apapun itu, Andreas tidak terkukuh oleh rasa herannya tersebut karena melihat putrinya kini terlihat lebih tenang dari sebelumnya semenjak pemuda tersebut datang.


"Mike," panggil Andreas.


"Iya, Pak." Alan menoleh ke arah-nya.


"Putri saya selalu menyebut nama kamu di pikiran bawah sadarnya dalam beberapa hari ini. Dokter juga telah mengatakan bahwa, putri saya bisa sembuh total jika seseorang yang selalu dia sebut itu berada di sisinya. Apakah.." Andreas hendak melanjutkan kalimatnya namun sudah di jawab lebih dulu oleh Alan.


"Baik Pak, saya mengerti. Apapun itu jika untuk kesembuhan putri anda, saya pasti disini untuk kesembuhan dia."


"Terimakasih banyak, Mike." Andreas tersenyum penuh bahagia, Alan yang ia kira Mike telah menyetujui keinginannya untuk menemani Ananta dalam proses penyembuhannya.


Usai Alan terlanjur mengucapkan kalimat tersebut, ia merasa sangat bersalah. Lantaran semua ini bukan ia yang seharusnya berada disana untuk menemani Ananta sesuai permintaan Andreas tersebut, melainkan Mike.


Tetapi, Alan juga tidak tahu mengapa kalimat tersebut tiba-tiba terucap begitu saja dari mulutnya, yang mana ia merasa tidak berhak untuk mengalihkan apapun yang ada didalam kehidupan Mike.


***


Jam menunjukkan pukul 22:30 pm.


Alan masih melanjutkan berbincang-bincang dengan Andreas. Sementara Ananta sudah istirahat. Alan merasa gelisah seringkali ia melihat ke arah jam tangan dan sesekali melihat layar hanphone untuk melihat ada atau tidak kah pesan atau panggilan dari Mike. Tetapi tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Mike yang muncul.


Tidak selang waktu lama, ada beberapa orang yang datang berkunjung juga yaitu sanak saudara dan rekan-rekan Andreas. Melihat suasana semakin ramai, dan jua karena Ananta sudah terlelap tidur. Alan pun pamit hendak pulang.


"Saya permisi dulu Pak, hari sudah semakin Malam. Esok hari setelah pulang sekolah, pasti saya kesini lagi"


"Baiklah Mike, sekali lagi terimakasih saya ucapkan"


"Jangan sungkan Pak. Permisi Pak, Bu, mari.." pamit Alan kepada Andreas dan kepada beberapa orang yang berkunjung di sana.


Setelah Alan sudah keluar dari ruang tersebut, ia berkali-kali mencoba untuk menghubungi nomor Mike. Tetapi tidak bisa menyambung.

__ADS_1


'Dimana kamu, Mike..' Batin Alan seraya menoleh ke seluruh penjuru arah di rumah sakit tersebut.


__ADS_2