Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 142


__ADS_3

Perlahan-lahan Mike melangkah mendekat, sebab sebelumnya ia belum mengetahui rupa dari pejambret tersebut, begitupula dengan si penjambret itu.


Namun, saat Mike melangkah semakin dekat untuk melihatnya terdengar suara mobil aparat kepolisian semakin mendekat.


Wiiiww wiiiww wiiiww


Mobil aparat kepolisian tersebut berhenti tepat pada lokasi itu lekas meringkus si pejambret tersebut. Sebab sebelumnya saat Mike tengah melempar buah semangka sembari meneriaki sang pejambret itu, salahsatu warga yang menyaksikan ada yang langsung menghubungi polisi.


"Tidak! Gua gak mau masuk penjara, lepaskan gua!" Teriak sang penjambret tersebut.


"Diam! Jika kau tidak ingin masuk penjara, maka kau jangan melakukan kejahatan, paham!" Pekik para polisi.


Kejadian Saat polisi datang meringkusnya sangatlah cepat, bahkan membuat Mike pun belum melihat rupa dari pejambret itu. Namun, saat pejambret itu berusaha melepaskan diri dari para polisi, disaat itulah Mike melihat wajahnya.


Sontak ia terkejut, sebab rupa pejambret tersebut sungguh tidak asing baginya.


'Oh Tuhan, bukankah dia Yadi?' Batin Mike penuh tanya.


Begitu pula dengan si penjambret itu saat dia melihat Mike.


"Alan, tolongin gua Lan, Gua gak mau di penjara Lan, tolongin adikmu ini Lan!" Ucap Yadi tak memiliki rasa malu dan tidak berpikir sehingga ia langsung mengucapkan kalimat demikian kala melihat wajah yang sama dengan Alan.


Mike masih diam, namun tidak lepas memandangnya. Sebab ia sendiri masih bingung kenapa tiba-tiba Yadi berada di kota, bahkan bertemu dengannya dalam kasus seperti ini.


"Woi Alan, anj*ng loe! Kenapa loe masih diam saja hah! Cepat tolongin gua, gua gak ingin di penjara Lan!" Pinta Yadi sembari mengumpat.


Sementara Saga, Dion dan samuel hanya terbengong kala melihat Yadi memanggil-manggil Mike dengan sebutan Alan.


Namun para polisi ada yang mendekat untuk sedikit berbincang sejenak dengan mereka yakni kepada Saga selaku yang paling tertua diantara mereka.


Usai berbincang, lekas polisi membawa Yadi hendak masuk kedalam Mobil.


"Tidak! Tolong lepaskan saya, saya tidak mau mendekam di penjara pak, tolong jangan bawa saya" Yadi merengek dan menangis kala polisi tidak menggubrisnya, ia pun menoleh ke arah Mike, sebab Mike terdiam seribu bahasa Karena ia benar-benar bingung harus berkata apa dan bertindak yang bagaimana atas segala kejadian ini.


"Oh.. rupanya kau seorang bangs*t yang terpendam ya Lan! Oke, gua pasti akan selalu mengingat kejadian hari ini. Tapi Ingatlah suatu saat nanti, kan ku buat kau lebih menderita dari yang aku rasakan saat ini Lan, Cam kan itu!" Yadi mengancam, sebab yang ia inginkan tidak ia dapatkan yakni ditolong.


Mike melirik tajam saat mendengar kalimat tersebut, sebab yang ia ketahui Yadi tumbuh besar bersama Alan tapi sungguh tidak sepantasnya menjadi seorang anggota keluarga berkata seperti itu, walaupun bukan saudara kandung.


***

__ADS_1


Next


Setelah Yadi digelandang ke kantor polisi, lekas Saga, Samuel dan Dion mendekat ke Mike.


"Wei apa Kabar Loe Mike, Kemana saja Loe kagak pernah nongol? terakhir kita bertemu saat Samuel kecelakaan waktu itu," Tanya Saga, tidak membahas seputar kejadian tadi.


"Rupa-rupanya.. ada yang berubah jadi anak penurut nih sekarang, hehe." Sambung Dion mengejek sembari tertawa.


Mike hendak menjawab, namun perhatiannya teralihkan kala terdengar dering suara handphone dari sakunya.


Kring.. kring.. kring..


"Bentar-bentar" Pamit Mike sedikit bergeser untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


Bip!


"Ya, bro"


"Mike, loe buruan kesini. Gua tadi juga udah menghubungi Dimas, dia lagi panggil seluruh teman sekelompoknya" Ucap yang menelpon tersebut yakni Vidze terdengar masih sama seperti tadi, tergesa-gesa.


"E.. tunggu, memangnya ada urusan apa sampai Dimas memanggil seluruh teman-teman dia?" Tanya Mike.


"Apa! Oke Vid, gua segera kesana." Pungkas Mike mematikan sambungan telepon tersebut tampak emosi nan tergesa-gesa lekas melangkah kembali ke arah teman-teman tadi.


"Bro, gua cabut duluan ya, ada urusan penting." Pamit Mike.


"Hei Mike, tunggu!" Seru Saga.


"Sorry kawan, lain waktu gua pastikan akan datang seperti biasa," Lanjut Mike.


"Hei Mike, tunggu dulu sebentar. Gua sangat paham sama Loe. Jangan sungkan jika loe butuh bantuan, kita pasti akan siap kapanpun untuk membantu Loe." Lanjut Saga sudah bisa menebak.


"Tapi.." Mike ragu-ragu sebab ia sendiri belum mengetahui ada permasalahan apa dibalik kabar dari Vidze tersebut. Namun, mendengar ucapan Vidze bahwa Dimas memanggil seluruh teman sekelompoknya sudah bisa dipastikan sedang ada permasalahan besar.


"Sudahlah tidak usah pikir panjang, loe segera masuk ke mobil Samuel, biar gua yang pakai motor Loe, sini kuncinya." Pinta Saga.


Tanpa pikir panjang Mike memberikan kunci motornya lekas bergegas masuk kedalam mobil bersama Dion dan Samuel. Saga hendak menuju ke arah motor Mike berada, namun ia datang sejenak ke arah Samuel.


"Loe nanti kirim ke gua lokasinya." Bisiknya di telinga Samuel.

__ADS_1


"Oke."


Setelah semuanya siap, Samuel langsung memacu kendaraannya menuju tempat Vidze berada sesuai petunjuk Mike.


Sementara Saga sendiri tidak langsung mengikuti mereka melainkan pergi ke tempat lain untuk merencanakan sesuatu.


***


Disisi Alan.


Sejak Mike keluar tadi hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul 22:45 pm. Alan sangat fokus belajar sehingga ia tidak begitu memperhatikan waktu.


Namun, saat ia sudah mulai lelah ia baru melihat ke arah jam.


'Oh Tuhan, pergi kemana lagi dia.. sudah selama ini dia belum juga kembali.' Batin Alan teringat sang kakak. Alhasil ia segera mencoba untuk menghubunginya.


"Aih.." Gumamnya kala nomor Mike tidak bisa di hubungi lantaran sambungan data milik Mike tidak dinyalakan. Alhasil ia segera mencoba untuk menghubunginya lewat telepon biasa.


"Huuff" ia menghela napas setelah mengetahui bahwa sado pulsanya limit.


Alan tidak teringat bahwa masih ada telepon rumah yang bisa digunakan untuk menelpon sehingga ia langsung meraih jaket lekas keluar rumah hendak mencari pulsa.


Pada area sekitar luar perumahan tersebut tidak ada counter melainkan hanya ada satu minimarket. Namun, kebetulan minimarket tersebut sudah tutup. Alhasil ia melangkah lagi jauh dari area sana.


Bahkan sudah cukup jauh ia melangkah, masih belum juga menemukan counter yang terbuka hingga kurang lebih sejauh 800 meter barulah ia melihat counter besar yang buka.


Lekas ia membelinya, namun tak selang lama saat ia masih berdiri didepan meja counter itu, terdengar suara motor yang ia kenali yakni seperti suara motor milik Mike berhenti didepan konter itu.


Jrug! Jrug! Jrug!


Karena penasaran, ia pun menoleh sejenak berharap motor itu adalah milik Mike.


Dan benar dugaannya ketika ia melihat plat kendaraan motor tersebut adalah motor milik Mike. Namun ia heran, sebab yang mengendarainya bukanlah Mike melainkan orang lain yakni Saga.


Saga berhenti sejenak di counter itu hendak membeli pulsa untuk menghubungi rekan-rekannya. Posisi ia masih menunduk yakni sedang menstandarkan motor saat Alan menoleh ke arahnya sehingga ia pun belum melihat Alan berada disana.


Saat Saga sudah melepas helm nan beranjak ke konter tersebut sontak langkahnya terhenti kala terkejut melihat Alan yang ia kira Mike. Kebetulan Alan memakai jaket kembar dengan jaket yang sedang Mike pakai.


"Loh, loh, Mike? Kok.. loe berada disini?"

__ADS_1


__ADS_2