Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 35


__ADS_3

"Iya Nak, yuk kamu bangun dulu kita makan bersama dan kamu juga pasti belum minum obat kan?" Tanya Marvin seraya tersenyum.


Alan mengangguk.


Kemudian Alan langsung bangun dan duduk, ia tersenyum ketika ia memandang ke arah Marvin. Kerena Alan merasa kasih sayang yang diberikan oleh Marvin kepadanya sangat tulus, walaupun ia tidak mengingat apapun namun ia merasa belum pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang Ayah seperti sekarang ini.


"Yasudah Nak, kamu segera membersihkan wajahmu dan langsung turun kebawah ya.. tadi Papa pulang sudah sekalian beli makanan, yuk kita segera makan nanti keburu dingin" Pungkas Marvin.


Alan mengangguk seraya tersenyum.


Setelah itu Marvin kembali beranjak keluar dari dalam kamar Mike.


***


Beberapa saat kemudian, Alan telah usai mencuci wajah ia langsung turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama sang Ayah. Setibanya ia di lantai bawah Ayahnya sedang menunggunya di meja makan.


"Ayo cepat kemari, nih.. Papa sudah siapkan untukmu" ucap Marvin sembari menata makanannya di atas piring.


Alan langsung duduk di meja makan, ia terdiam sejenak ketika melihat makanan yang di suguhkan oleh Ayahnya di atas piringnya.


"Loh.. Kenapa kok malah diam? ayo segera dimakan mumpung masih kress kress, ini ayam goreng kesukaan mu loh.. " Ujar Marvin seraya tersenyum.


"Hu um" Alan menggangguk, walau sebenarnya Alan tidak terlalu menyukai ayam goreng terlebih lagi ayam goreng tersebut dimasak dengan cara di balut tepung seperti yang ayahnya suguhkan. Namun tetap saja ia makan karena untuk menghargai ketulusan sang Ayah.


Ketika mereka berdua sedang makan, mereka sembari berbincang-bincang.


"Gimana keadaan badan mu, Nak? apakah sudah mendingan?"


"Iya Ayah, saya sudah mendingan, apakah hari esok saya sudah bisa kembali bersekolah?" tanya Alan mengingat ia diberikan tugas oleh guru yang disampaikan oleh Ananta tadi siang.


"Sekolah? wah jika memang dirasa kondisimu sudah baikan boleh-boleh saja justru itu akan lebih bagus jika kamu mau masuk kembali ke sekolah" jawab Marvin.


Alan terdiam sejenak ketika Marvin berkata demikian namun ia tidak menjawab maupun bertanya kembali.


Marvin mengatakan hal demikian karena selama ini Mike jarang sekali masuk sekolah, terlebih lagi jika dalam keadaan sakit seperti yang sekarang ini. Karena Marvin sangat menginginkan Mike bisa seperti dirinya bisa masuk dalam pendidikan yang tinggi.


Mendengar yang diucapkan oleh Alan yang kini menjadi Mike, Marvin merasa sangat bahagia walau ia sama sekali tidak mengetahui bahwa yang sedang berada didepannya adalah anak kembarnya yang hilang pada 17 tahun lalu.


"Oh iya, tadi Papa sudah sekalian mampir ke sekolahanmu Nak, Papa sudah mengatakan kepada pihak sekolah tentang kejadian yang menimpa mu, supaya mudah nantinya jika kamu sudah masuk lagi ke sekolah" Pungkas Marvin.

__ADS_1


Lagi-lagi Alan hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Setelah mereka selesai makan kemudian bel rumah berbunyi.


Ting.. tong.. Ting.. tong..


"Hey Vin.." sapa tamu tersebut yaitu Daniel, ketika sudah dibukakan pintu langsung oleh Marvin.


"Eh hey, iya Daniel mari silakan masuk" jawab Marvin tersenyum hangat.


Ketika Daniel berjalan masuk kedalam, dia melihat Alan masih berdiri di dekat meja makan membuat dia merasa sedikit gugup tentang kesalahan yang telah dia lakukan, akan tetapi hingga sekarang ini pun dia tidak berani mengungkapkan kebenarannya kepada Marvin.


Dia pun bersikap seperti biasa selayaknya tidak pernah terjadi sesuatu apapun, dia juga langsung menyapa dan tersenyum kepada Alan.


"Hey Mike,"


Namun tidak sebaliknya dengan Alan, ia hanya sedikit menganguk tanda sapa melalui bahasa tubuh, tanpa adanya sebuah kata. Kemudian Alan kembali beranjak masuk kedalam kamarnya tanpa mengatakan apapun (pamit) kepada Daniel selaku teman terbaik Ayahnya.


Setelah Alan sudah kembali masuk kedalam kamarnya, Marvin dan Daniel seperti biasa berbincang-bincang membicarakan seputar bisnis.


***


Pagi hari kemudian


Disaat ia datang ke dapur ia melihat Bu Tiah sudah berada di dapur.


"Loh, kakak Mike sudah bangun? Sedang mencari apa Kak?" Tanya bu Tiah.


"Masak" jawab Alan singkat.


"Masak? Tapi kak? biar Ibu saja yang memasak lagian juga tuan sudah berpesan bahwa dia tidak sarapan pagi ini, sebentar lagi sudah mau berangkat, apakah kakak Mike mau Ibu gorengin Ayam?"


"Oh jadi begitu, yasudah tidak usah Bu, saya tidak begitu suka ayam goreng" jawab Alan singkat langsung bergegas kembali masuk kedalam kamarnya.


"Walah? bukankah ayam goreng adalah makanan favoritnya ya? tumbenan sekali Kakak Mike menolak" gumam Bu Tiah berbicara sendiri ketika Alan sudah menaiki anak tangga.


Setelah Alan sudah masuk kembali kedalam kamarnya, ia langsung berberes-beres membersihkan diri. (mandi)


Selesai ia selesai mandi, ia mengenakkan baju seragam sekolah milik Mike, ia bercermin melihat dirinya sendiri mengenakkan seragam sekolah tersebut sembari memegang nama pengenal yang berada di baju Mike yang ia pakai.


'Siapakah sebenarnya Mike ini? apakah benar ini adalah aku?kenapa rasa dihatiku sangat bertolak bahwa nama ini bukanlah nama ku? ah.. baiklah kini aku harus menjadi dirimu wahai Mike, entah siapapun kamu, entah siapapun diriku aku akan berusaha yang terbaik menjadi dirimu' gumam Alan didalam batinnya.

__ADS_1


Selesai bercermin ia langsung bergegas untuk segera berangkat ke sekolah. Setibanya ia di lantai bawah Marvin sudah berangkat lebih dulu ke kantor dan Marvin telah menitipkan pesan pada Bu Tiah permintaan maafnya kepada Mike bahwa dia sangat terburu-buru sehingga dia tidak bisa mengantarkan Mike untuk berangkat ke sekolah pada hari pertamanya setelah ia kehilangan ingatan.


Namun bagi Alan sendiri tidaklah masalah, walau ia tidak mengingat apapun ia merasa sudah biasa melakukan apapun seorang diri terlebih lagi hanya tentang berangkat ke sekolah.


Marvin sudah memberikan sopir pribadi untuk mengantarnya ke sekolah.


***


Beberapa saat kemudian


Alan telah sampai di sekolah. Ketika ia baru memasuki lingkungan sekolah, ia melihat semua siswa-siswi melihat kearahnya. Alan merasa paling risih jika ia sedang berjalan menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.


Kemudian ia langsung berjalan buru-buru hendak mencari kelasnya namun ketika ia sedang berjalan Alan bertabrakan dengan salah satu siswa hingga mereka berdua saling terjatuh.


Brakk!


"Woi! Lihat-lihat dong loe kalo jalan, mata di pakek!" Pekik salah satu siswa yang bertabrakan dengannya yaitu Deril.


Kemudian Deril langsung berdiri begitupun dengan Alan, setelah Alan menghadap ke arahnya. Deril langsung memegang kerah Alan sembari melotot seakan-akan hendak memukulnya. Setelah itu ia langsung mendorong tubuh Alan


Seet!


Hingga Alan mundur beberapa langkah ke belakang nyaris terjatuh.


Setelah Alan tiba-tiba didorong oleh Deril, ia langsung menatapnya dengan tatapan tajam penuh sengit karena ia tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi sebelumnya.


"Apa loe Mike melotot ke gua, loe pikir gua selama ini takut sama loe hah? cuih!" Pekik Deril.


Alan masih terdiam karena ia bingung dengan keadaan yang ada, ia menabraknya karena ia tidak sengaja dan ia hendak meminta maaf namun siswa tersebut sudah lebih dulu marah nampak ada suatu masalah yang ia tidak ketahui sebelumnya.


"Woi Mike! Kenapa loe diem hah?"


"Orang aneh!" jawab Alan singkat karena ia paling tidak suka dengan hal-hal demikian (masuk kedalam masalah) kemudian ia hendak berjalan pergi.


Akan tetapi ketika Alan hendak berjalan pergi, Deril langsung menarik tas Alan dari arah belakang. Deril menariknya cukup kuat sehingga Alan langsung terjatuh.


Seet!


Brakk!

__ADS_1


__ADS_2