Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 169


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, pelajaran telah usai lantas kini tiba waktunya untuk kembali pulang. Disaat semua siswa dan siswi masing-masing berbenah hendak pulang, Alan terdiam sebabnya ada sesuatu yang membelenggu didalam pikirannya.


"Wei, Lan." Panggil Mike, kala usai berbenah beberapa peralatan sekolahnya. Namun sudah dua kali Mike memanggilnya, Alan belum terpecah dalam lamunannya.


Lantas akhirnya Mike sedikit menyenggol sikunya.


"Eh, ada apa Kak?" Tanya-nya tampak terkejut.


"Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?"


"Pikiran kamu saja yang berlebihan, Kak." jawabnya mengalihkan perhatian seraya bergegas menata peralatan sekolah kedalam tasnya.


"Haiyaa .. lagi ditanya serius juga, malah ngatain berlebihan pula, sue!" Gumam Mike.


"Kamu mengumpat?" Lirik Alan.


"Kagak, tadi ada iklan ikan terbang lewat barusan, dah yuk akh kita pulang" Ajaknya lantas sedikit menoleh ke arah Ananta. "Sstt Lan, aku tadi belum .." bisiknya hendak mengatakan kepada sang adik bahwa ia belum sempat menjelaskan apapun kepada Ananta lantas sudah langsung dijawab oleh Alan.


"Tidak apa, aku tahu apa yang akan kamu katakan."


"Oh, begitu .. syukurlah" pungkas Mike sudah langsung mengerti serta tidak ingin membahas lagi lantaran dia jua sedang menutupi bahwa didalam sekolah ini ada seorang gadis yang hendak mengancam adiknya (Jessi) sekalipun nantinya Sang adik cepat maupun lambat pasti akan mengetahuinya sendiri.


Disaat mereka sedang berbincang sedikit, lantas Ananta bergegas pulang terlebih dahulu nan hanya sedikit melirik keduanya lantaran merasa canggung sekaligus merasa kesal terhadap Mike atas kejadian dialam perpustakaan tadi.


"Yup. Cuss Lan, kita juga pulang." Ajaknya bergegas meninggalkan badan dari kursinya. Usai Alan berdiri nan melangkah keluar ruang bersama sang kembaran, tiba-tiba Ada yang merangkul pundak keduanya dari arah belakang.


Plek! Plek!


Yakni oleh Jovan. "Oih .. seger nian lihat para pemuda kembar jalan bersama-sama begini. Geser-geser dikit kasih gua tempat biar dapat aura kalian oih!" Celotehnya merusuh di tengah keduanya. Lantas membuat Alan dan Mike meliriknya serentak.


"Ceileh tatapan kalian itu lho bikin hati cewek-cewek pada meleduk, duarrr .. duaar! Hahaha" Celetuknya didekat telinga keduanya, alhasil ia langsung mendapat timpuk dikepala oleh Mike.


Plak!


"Ya sangat meleduk, sampai ambyar!"


"Oih sakit coeg! Kunyuk! Santai Men .. selow-selow. Kuy lah kita jalan bareng. Wuaakakak." Lanjut Jovan dalam kekonyolannya yang sok akrab itu.


Mike melayaninya berbincang, sementara Alan diam, namun sesekali senyum lanjut menggelengkan kepala mendengar celotehan konyol diantara keduanya.


***


Disaat mereka jalan bertiga hendak menuju ke arah parkir lantas tiba-tiba Jovan melihat sesuatu dari arah kejauhan.

__ADS_1


"Eh bro, gua duluan ya .. " pamitnya tampak terburu-buru.


"Oih, ada apaan? kek lagi lihat bidadari aja loe, oi. Haiyaa .. main ngacir aja tu bocah." Seru Mike kala Jovan sudah langsung pergi dari sana lantaran hendak mengejar Maria tanpa Alan dan Mike ketahui.


"Hmm .. tampang-tampangnya ada 'Kikuk" tu anak."


"Ngomong apa kamu, Kak. Tidak jelas!" Sahut Alan lantas meninggalkan sang kakak yang masih terdiam melihat ke arah Jovan sembari dia masih terus bergumam.


"Lan, aish .. kebiasaan!" Gumamnya kala mengetahui sang adik sudah jalan terlebih dahulu meninggalkanya sendirian.


Setelah sampai di tempat parkir, Mike mengajak Alan untuk pulang bersamanya berboncengan motor. Namun .. Alan menolaknya lantaran ia menghargai sang sopir yang sudah menunggu untuk menjemputnya. Tapi akhirnya Alan menerima tawarannya lantaran ia jua berpikir sesuai apa yang sedang ia pikirkan tanpa Mike ketahui.


***


Sudah menjadi kebiasaan Mike melalui jalan alternatif baik berangkat maupun pulang sekolah. Tepat pada suatu Jalan ia menghentikan sejenak kendaraan bermotornya pada bahu jalan tepat pada penjual es keliling yang sedang berhenti di sana.


Jrug! Jrug! Jrug!


"Aku mau beli es bentar. haus sangat" Ucapnya walau Alan samasekali tidak bertanya kepadanya. Lantas ia turun sejenak, sementara Alan masih duduk diam di atas motor.


"Pak, es 2 bungkus pakai plastik saja." Pintanya kepada penjual es tersebut seraya mata fokus melihat dompet ditangannya.


"Es-se sampon telas, le .." Jawab bapak-bapak penjual es tersebut dalam bahasa daerah yang artinya (es-nya sudah habis, Nak ..)


"Es-se sampon telas le .. sampon telas" Ulang bapak-bapak itu lagi menggunakan bahasa yang sama.


Lantas akhirnya Mike menyadari bahwa ia pernah mengalami hendak membeli es pada penjual keliling yang tidak menyambung dalam berbicara. Maka, perlahan ia pun meluruskan pandang ke arah penjual es tersebut.


Sontak ia pun sedikit melotot sebab benar apa adanya bahwa penjual es itu adalah penjual yang sama kala itu.


Sementara penjual es itupun demikian, kala dia melihat paras Mike lantas ekspresinya berubah nan langsung mendorong gerobaknya hendak pergi.


"Huelahdalah, tibakno bocah gemblung iki maneh. Wes lah, wegah aku ngelayani cah iki neh, mending tak minggat ae" Gumamnya menggelengkan kepala.


(Astaga, ternyata anak tidak waras ini lagi, sudahlah tidak mau saya melayani dia lagi, mendingan saya pergi saja)


"Haiyaa .. wei Pak! Kalau tak butuh duit mending kagak usah jualan saja pak! Orang mau beli malah kabur pula. Mana ngomel-ngomel pakai bahasa planet pula, Haisssh!" Teriak Mike seraya menendang-nendang tanpa ada yang di tendang hingga bablas menendang trotoar jalan.


Brak!


"Aaiiisshhh, kamvered perasaan sial amat gua!" Teriaknya sendiri menahan kesal tak ayal membuat Alan terkekeh menyaksikan tingkah sang kakak benar-benar tampak konyol itu.


Lantas Mike menoleh Alan, sebab terdengar jelas olehnya kala sang adik melepas tawa. "Hihihi"

__ADS_1


"Hoih! Bahagia nian liat kakaknya menderita, itu orang gila bener-bener gila Sumpah. Orang aku mau beli minta bungkus pakai plastik malah dia ngomel-ngomel pakai bahasa planet gak jelas, haish!" Mike masih saja mengulang-ulang kalimat omelannya hingga membuat Alan turun dari atas motor lantas mendekat kepadanya.


"Sudah, Kak, sudah Ya Tuhan, hihihi"


Alan berulangkali menenangkan Sang Kakak sembari masih menahan tawa, namun Mike masih saja mengomel dalam kalimat-kalimat umpatan tampak sangat konyol.


"Awas saja tu bapak-bapak tua, bila dia punya anak gadis aku sumpahin bakal aku nikahin tuh anaknya" Celoteh Mike berbicara semakin ngawur.


"Husss .. Ngomong apa kamu kak, sudahlah sudah .. Lihatlah Orangnya saja sudah pergi sangat jauh. Mari kita pulang, sekarang" Pungkas Alan seraya menarik Mike kembali ke motor.


Usai keduanya siap, lantas Mike kembali memacu kendaraannya hendak pulang.


***


Sesampainya mereka pada sebuah jalan hendak keluar dari jalan alternatif, tidak disengaja motor yang Mike kendarai menyerempet spion mobil yang hendak masuk ke jalan itu dari arah berlawanan. Sebab jalan itu cukup kecil bila dilewati oleh dua kendaraan.


Namun, yang terjadi kali ini lantaran sopir pengemudi mobil itu kurang pandai dalam menyetir hingga membuatnya terlampau mepet ke pinggir berakhir membuat stang motor Mike menyerempet bahkan membuat tangannya terluka.


Sreet!


Mike tampak emosi lantas membuatnya menarik gasnya cukup kencang semasih 'Netral'


Bruum! Bruum!


Sontak Diantara keduanya saling berhenti, Lantas sopir sang pengemudi mobil itupun membuka kacanya.


"Wei Bang, macam mana pula kau berkendara tak becus. Lihatlah akibatnya, mobil ini jadi tergores! Tanggung jawab kau!" Pekik sopir itu.


Tepat sopir itu menyuarakan kalimat tersebut lantas ada 'Pak Ogah' yang mengatur ruas jalan itu meminta mereka menyelesaikan masalahnya ke tempat aman, supaya tidak menjadi kemacetan.


Akhirnya mereka berdua kini berhenti tepat di depan sebuah ruko yang memiliki ruas parkir cukup Luas.


Sebelumnya Mike enggan untuk melayaninya, namun akhirnya ia menurutinya lantaran ada sebuah kalimat 'Tanggung jawab' dari sopir itu.


Tetapi, sopir itu tidak turun dari dalam kendaraannya, melainkan hanya sekedar membuka kaca depannya saja.


"Anda mau minta ganti rugi berapa hah? Bukankah anda yang berkendara terlalu mepet ke pinggir hingga memakai jalan yang seharusnya jalan saya?" Ucap Mike seraya mengibas-ngibas tangannya sendiri lantaran terluka hingga darah mengucur cukup deras.


"Kak, tanganmu .." sambung Alan.


"Tidak apa-apa, kamu diam saja Lan, ini hanya sekedar urusan ikan teri." Mike melirik ke arah sopir itu semasih dirinya sendiri di atas Motor.


Namun keduanya (Alan dan Mike) terdiam kala tiba-tiba pintu tengah mobil itu terbuka, lantas tampak ada sebuah kaki seorang wanita lengkap menggunakan high heels berwarna cream keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2