
Selanjutnya ada beberapa jumlah tetangga yang datang kerumah untuk menjenguk keadaan Ferdi. Melihat banyak warga yang datang berombongan, Mike berjalan keluar dari dalam rumah seorang diri.
Ia terus berjalan sesuai langkah kakinya melangkah sembari berpikir bagaimanakah tentang cara menyembuhkan ayahnya sementara keadaan ekonomi sangat tidak memungkinkan untuk membawanya ke rumah sakit.
Ia berjalan cukup jauh dari rumahnya selanjutnya ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang karena ia berjalan sembari menunduk dan yang bertabrakan dengannya adalah pak Tarman, yaitu salah satu warga yang ia jumpai ketika pertama kalinya ia datang didaerah tersebut di pos ronda kala itu.
Brak!
"Atah, duh maaf pak." ucap Mike.
"Walah Halah..kamu toh dik Alan mau kemana kamu dik?" Sahut pak Tarman.
"Eh iya anu, bapak yang waktu itu ya hehehe" lanjut Mike cengegesan.
Selanjutnya mereka melangkah pelan bersamaan sembari berbincang-bincang dan Mike berbicara tentang Ferdi yang kini menderita stroke dan Mike pun bercerita bahwa ia membutuhkan biaya untuk membiayai pengobatan Ferdi.
"Oh iya pak, Apakah ada informasi pekerjaan paruh waktu untuk bisa saya bekerja pak?" Tanya Mike.
"Bekerja Paruh waktu? Waduh.. gimana ya dik Alan, sebenarnya ada sih tapi pekerjaan itu adalah pekerjaan kasar dik, bisa dibilang tidak paruh waktu juga dik." Jawab pak Tarman.
"Apakah saya bisa bekerja disana pak?"
"Lah tapi kan kamu masih pelajar dik Alan? Lagian kerjaan itu kerjaan kasar loh?" Jawab pak Tarman karena yang ia ketahui kemungkinan besar Alan tidak akan kuat menerima kerjaan berat itu.
"Tidak masalah pak, mau sekasar apapun pekerjaan itu asalkan pekerjaan baik, untuk sekolah nanti waktunya bisa saya urus pak, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan ayah saya pak, jadi dapatkah saya berkerja disana saat ini juga?" Lanjut Mike bersikukuh.
Pak Tarman salut akan keinginan Mike yang bersikukuh untuk bisa bekerja dengan segera demi kesembuhan orang tuanya sementara kelakuan orang tuanya dahulu teramat sangat keterlaluan yang mereka lakukan kepada Alan.
"Baiklah, jika memang keinginanmu seperti itu dik Alan, mari ikuti saya." jawab pak Tarman mengajak.
***
Selanjutnya mereka berjalan bersama-sama hendak menuju tempat dimana Mike akan bekerja, sasampainya di tempat tersebut Mike sedikit heran karena pak Tarman membawanya bukan ketempat areal industri atau semacamnya melainkan datang kerumah salah satu warga.
Ketika mereka sampai, pemilik rumah langsung menyambut kedatangan mereka dan orang tersebut bernama Joy, ia terbilang masih cukup muda namun ia sudah berumah tangga dan sudah memiliki seorang anak.
Selanjutnya pak Tarman mengenalkan Mike kepadanya, setelah keduanya saling berkenalan, merekapun saling berbincang-bincang tentang tujuan utama Mike yaitu mencari pekerjaan yang bisa secara langsung bekerja pada saat hari itu juga. Hingga waktu menunjukkan tepat pukul 14:15 pm.
(Note: Waktu tersebut adalah waktu yang sama ketika Marvin dan Alan sedang makan siang bersama pada bab 40)
Meskipun Alan hidup didaerah tersebut dari ia masih kecil, ia jarang sekali berbaur dengan warga sekitar terlebih lagi dengan orang semacam Joy, yang mana ia sangat jarang sekali berada dirumah karena pekerjaan yang membuatnya selalu berada di luar daerah.
Kebetulan Joy sendiri saat ini sedang membutuhkan tenaga tambahan yaitu bongkar muat barang yang akan dikirimkan ke daerah ibukota dan barang yang akan mereka bongkar muat adalah bahan baku makanan berupa pisang mentah hasil panen daerah tersebut.
Joy sendiri bukanlah pemilik asli mobil ataupun yang mengelola bisnis tersebut melainkan hanya menjalani yang mana bisnis tersebut adalah milik mertuanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian obrolan telah usai, dan segala tentang upah dan semacamnya telah selesai disepakati, dan mereka dapat langsung berangkat jua pada saat waktu itu juga.
***
"Yasudah saya jalan dulu ya pak?" Pamit Mike kepada pak Tarman ketika ia telah siap dan hendak masuk kedalam mobil.
"Baiklah nak, hati-hati dijalan ya..?" Jawab pak Tarman.
"Baik pak, dan SAMPAI JUMPA KEMBALI ya pak." jawab Mike tersenyum.
Pak Tarman jua kembali tersenyum ketika Mike mengucapkan kalimat demikian, namun ia sedikit merasakan sesuatu ketika Mike mengucapkan kalimat demikian. Walau dengan begitu ia tidak terlalu untuk terus memikirkannya.
Ketika Mike telah masuk kedalam mobil bersama dengan Joy, serta mobilnya telah berjalan, pak Tarman baru teringat sesuatu.
"Dik Alan, hey dik Alan! Berhenti dulu dik Alan." Pak Tarman teriak-teriak namun mobilnya terus melaju karena Joy dan Mike tidak mendengar bahwa pak Tarman sedang berteriak-teriak memanggilnya.
"Waduh! Aku lupa pula mau nanya si Alan, dia mau pergi ke kota sudah pamit apa belum ya sama orang tuanya duh! Gimana ini ya?" Gumam pak Tarman berbicara sendiri.
Selanjutnya pak Tarman berinisiatif untuk memberitahukan kepada orang tua Alan setelah urusannya telah selesai, karena ia sendiri sedang ada urusan lain ketika ia berjalan seorang diri dan tanpa sengaja bertabrakan dengan Mike menjadikan urusannya tertunda.
***
Joy hanya bersama dengan Mike didalam satu mobil, dan nantinya akan berkumpul bersama mobil rombongan lain sesama pengangkut barang setelah sampai disalah satu daerah di ibukota sebelum sampai pada lokasi tempat penurunan barangnya.
Jalanan yang mereka lintasi adalah jalan lintas yang menghubungkan antar propinsi, karena mereka membawa barang di bak belakang menjadikan mobilnya berjalan dengan kecepatan sedang cenderung lambat.
Hingga memakan waktu hampir petang yaitu pukul 16:30 pm mereka masih melintas dijalan raya tersebut sebelum mereka sampai pada dermaga. Karena mereka menuju ke daerah ibukota pastinya melintasi perjalanan laut terlebih dahulu. (Naik kapal)
Joy menghidupkan musik didalam mobil cukup kencang sembari ia manggut-manggut.
"Aiiisshhh!" Rintih Mike sembari memegang kepalanya.
Melihat hal tersebut Joy langsung mengecilkan volume musiknya.
"Kenapa dengan kepala mu Lan, apakah karena gua menghidupkan musiknya terlalu kencang?" Tanya Joy.
"Oh, enggak kok bukan itu masalahnya." Jawab Mike singkat sembari masih memegangi kepalanya.
Mike merasakan sakit dibagian kepalanya setelah ia dipukul oleh Naldo menggunakan kayu balok cukup keras menjadikan terdapat sedikit benjolan dibagian kepala belakangnya.
"Yasudah loe istirahat aja gak papa bro." Ucap Joy sembari mematikan musiknya.
"Iya bro eh, hey Joy awas lihat didepan Joy, banting kiri Joy awas." Teriak Mike ketika ia melihat ada mobil pribadi dari arah berlawanan Melintas dengan kecepatan penuh.
Sontak membuat Joy terkejut lalu ia langsung membanting setir kearah kiri untuk menghindari tabrakan.
__ADS_1
Siiiiiiiiiiiiiiittttttt!!
Namun beruntung ia masih cukup terkendali dalam berkendara serta ia menginjak remnya tepat sehingga mobilnya tidak oleng dan terguling mengingat ia sedang membawa muatan.
Setelah mobilnya berhenti, ia langsung keluar dari dalam mobil.
"Woi kamp*ng! Biad*b loe mentang-mentang mobil loe bagus seenaknya mengambil jalan milik orang woi! Orang kaya Kep*rat Loe!" Teriak Joy emosi ketika mobilnya berhenti keluar dari jalan aspal saat menghindari tabrakan. Dan hampir saja mobilnya masuk kedalam jurang yang tepat berada didepannya hanya berjarak satu langkah dari mobilnya terhenti.
Mike menyusulnya keluar mobil sembari masih memegang kepalanya, karena ia sempat terbentur namun tidak begitu kuat.
"Hey bro, hentikanlah percumah loe teriak-teriak, mobilnya udah sangat jauh juga tuh." ucap Mike berjalan mendekati Joy.
"Kesel aja gua! Tuh orang punya mata apa enggak bisa nyetir apa enggak sih! Seenaknya nyerobot jalan gua! Mentang-mentang orang kaya, mobilnya bagus lalu seenaknya begitu." Gumam Joy merasa kesal.
"Ah sudahlah..mungkin dia sedang ada keperluan yang mendesak atau lagi kebelet hehe jangan berburuk sangka begitu yuk ah kita lanjut kembali jalan saja, mobil loe juga gak papa kok tuh." ucap Mike mengajak sembari menenangkan Joy yang sedang larut didalam emosi.
Selanjutnya mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka, Mike tertidur ketika mereka mulai melanjutkan perjalanannya karena kepalanya sangat pusing.
***
Catatan: bagian ini adalah menyambung dari bab bagian 41 yaitu tentang Marvin muangka Lawrence. Sang Ayah dari Mike dan Michealan.
.
.
.
.
.
Ketika Marvin telah berpamitan dengan Alan untuk segera pergi ke bandara ia langsung keluar rumah sembari membawa koper kecil dan sudah menaiki mobil taksi yang sudah menunggunya diluar gerbang rumah.
Ketika ia telah masuk kedalam mobil, ia langsung mengambil handphonenya didalam saku untuk segera menelpon Daniel.
"Iya Vin, ada apa?" Ucap Daniel melalui telpon ketika baru ia angkat panggilan Marvin.
"Dimana posisimu saat ini Daniel? Apakah kau bisa temui saya sekarang juga ditempat biasa kita bertemu?"
"Ada apa Vin, tidak biasanya kau mau bertemu dengan saya pada jam segini?"
"Ada sesuatu hal yang sangat penting Daniel."
"Baiklah saya akan segera kesana." Jawab Daniel singkat.
__ADS_1