Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 112


__ADS_3

Mike masih saja terdiam nan menunduk ketika Alan mengulangi kembali kalimatnya.


"Mike" panggil Alan lagi.


Perlahan-lahan Mike menegakkan kepalanya, lalu ia langsung tersenyum.


"Apakah kamu tidak mendengar yang baru saja aku ucapkan Mike?" Alan lagi-lagi mengulangi kalimat yang sama.


"Aku mendengar dengan sangat jelas, Tuan muda." Jawab Mike seraya tersenyum.


"Lalu.. kenapa kamu tidak menjawab pertanyanku? Dan.. kenapa kamu malah tersenyum seperti itu, apakah ada yang lucu? Apakah pertanyaanku ini konyol?" Lanjut Alan nampak serius dan lebih banyak berbicara.


"Hihihi" Mike langsung terkekeh


"Hei, Mike!" Alan sedikit melotot akibat kesal melihat Mike yang sukar sekali di ajak berbicara serius. Namun memang begitulah kebiasaan Mike yang suka cengegesan tanpa melihat situasi dan kondisi.


"Ah tidak-tidak, tunggulah sejenak aku mau menyelesaikan tertawaku dulu, hihihi." Mike semakin tertawa sampai memagang perutnya sendiri.


Melihat itu Alan langsung terdiam nan mengerutkan kening serta tiada henti-hentinya melihat Mike yang sedang tertawa-tertawa tersebut, namun Alan bingung entah apa yang membuat Mike tertawa sampai seperti itu.


"Terimakasih Dik, teruskanlah kamu seperti ini" ucap Mike ketika ia berhenti tertawa menyadari ekspresi Alan sungguh tidak bisa ia tebak.


"Apa maksudmu?" Alan nampak bingung.


Mike langsung mendekat ke Alan seraya memegang kedua pundaknya.


Plek!


"Alan, ah bukan, kamu bukan lagi Alan. Namun kamu sekarang ini adalah Michaelan. Ya, kamu Michealan adikku dengarkanlah, Apapun yang aku lakukan di luar sana, untuk sekarang ini tidak lebih dan tidak kurang semata-mata hanya untuk melindungimu."


"Melindungi? Apa maksudnya Mike, aku sungguh tidak mengerti."


"Kamu tidak perlu mengerti jauh tentang semua ini, cukup kamu fokus belajar yang giat. Dan teruskanlah sikapmu seperti ini kepada kakakmu ini, Michel."


"Mike, bukankah seorang saudara memilki hak untuk saling melindungi satu sama lain, baik itu kakaknya yang melindungi adiknya maupun sebaliknya. Namun, kenapa kamu berkata seperti itu, lalu.. apa sebenarnya maksud untuk melindungiku? Melindungi yang bagaimana? apakah kamu bisa memperjelas itu, Mike?" Lanjut Alan berkata dengan banyak kalimat pertanyaan sekaligus.


Mike terdiam sejenak karena terbesit rasa takut didalam dirinya jika ia mengatakan kejadian yang sesungguhnya. Karena apapun itu saat ini Mike belum mengetahui sifat dan karakter dasar yang dimiliki oleh Alan, walaupun Mike mampu untuk bisa melihat bahasa tubuh seseorang dalam sekali pandang, namun ia tidak mampu mengetahui tentang saudara kembarnya sendiri, mengingat betapa misteriusnya seorang Alan.


"Mike."

__ADS_1


"Eh iya, hehe" Lamunan Mike terpecah ketika Alan kembali memanggilnya. Membuat Alan merasa kesal karena Mike menjawab pertanyaannya dengan sebuah perkataan yang membuat Alan malah semakin bertanya-tanya.


"Baiklah. Lewatkan sejenak segala pembicaraan yang tidak aku pahami tadi, dan sekarang jawablah pertanyaanku. Aroma apa dari mulut kamu itu, Mike?"


"Aroma mulut?" Tanya Mike langsung meniup-niup kedua telapak tangannya lalu ia cium sendiri.


"Fuah, Fuah, eh.. tidak bau apapun kok? Coba gih kamu cium lagi nih" Mike menyodorkan telapak tangannya ke Alan.


"Aiih, Apa yang kamu lakukan Mike, jorok!" Alan menghindar sembari menangkis tangannya.


Seet!


"Oit, haha kali saja kamu ingin menciumnya lagi untuk memastikan aroma apa, eh btw aku belum sikat gigi tadi, bahkan tidak mandi juga hehe" Mike cengegesan sambil garuk-garuk kepala.


"Cih, kebangetan sekali, melindungi diri dalam hal kecil semacam ini saja kamu malas, lalu kamu bilang segala apa yang kamu lakukan untuk melindungiku? Melindungi macam apa itu?" Alan berkata lirih.


"Kamu berbicara apaan Micheal? Lirih sekali, coba ulang sekali lagi, Aku tadi tidak mendengarnya."


"Kaku." Jawab Alan langsung beralih topik pembicaraan.


"Hah.. Kaku? Apanya yang kaku?" Tanya Mike seraya mendekat lagi ke Alan.


"Hehe, eh benar juga ya, kenapa bisa kebetulan sekali ya?"


"Lalu?"


"Lalu apanya, Lan?"


"Lalu kenapa kamu berbicara muter-muter terus tidak segera menjawab pertanyaanku tadi, Mike?"


"Oh iya hehe maaf, itu.. aku hanya meminumnya sedikit kok," jawab Mike langsung sedikit menunduk.


Alan tiada henti-hentinya melihat ke arah Mike, alhasil reaksi Mike menjadi salah tingkah karena sebenarnya ia telah berbohong. Membuat Alan menggelangkan kepala karena apapun itu jika Alan sedang melihat Mike, ia seperti sedang melihat dirinya sendiri di cermin.


"Mike, dengarkanlah. Aku tahu segala apa yang kamu lakukan itu adalah hak kamu. Namun kamu juga pasti tahu bahwa minuman yang kamu minum itu tidaklah baik untuk kesehatanmu, terlebih lagi di usia kita yang masih pelajar."


"Siap Tuan Muda, laksanakan." Jawab Mike.


"Memangnya apa telah ku perintahkan kepadamu?"

__ADS_1


'Astaga, ini bocah sekalinya mau berbicara tapi samasekali tidak bisa di ajak bercanda, buset." Batin Mike.


"Ah, tidak-tidak hehe"


***


Ketika mereka berdua masih saling berbincang-bincang di dekat wastafel toilet, selanjutnya ada salah satu siswa yang memasuki toilet juga yaitu Jovan. Begitu dia melangkah masuk, perhatiannya langsung tertuju ke arah Alan dan Mike.


Namun, ketika Alan melirik ke arahnya, dia langsung buang muka dan bergegas menuju ke tempat yang dia tuju. Jovan merasa geram akibat dendam yang masih membara didalam hatinya terhadap Alan. Namun kini melihat Alan ada dua, apalagi saat ini posisi Alan sedang bersama-sama dengan kembarannya maka Jovan enggan untuk mendatanginya karena dia tidak tahu yang manakah yang dia musuhi diantara Mike dan Alan.


"Eh, anak baru kah dia? Tapi.. Kenapa ekspresi dia asam sekali saat melihat ke arah kita?" Ucap Mike belum menyadari bahwa Jovan satu kelas dengan dirinya mengingat saat tadi di kelas perhatian dia hanya tertuju pada urusannya.


Sementara Alan masih diam saja tanpa menjawab pertanyaan Mike tadi. Kemudian ketika Mike hendak melanjutkan kembali perbincangannya dengan Alan, hape dia bergetar di saku celana.


Drrrt.. drrrt.. drrt


Bip!


"Ya halo, ada apa Pa?"


"Mike, maaf tadi Papa tidak bisa mengantar kalian, tadi kamu berangkat bersama Michealan 'kan?" tanya Marvin melalui media telepon.


"Oh iya anu iya Pa, tadi Mike berangkat bersama dia" Jawab Mike berbohong. Sembari melirik ke arah Alan.


"Cih." Alan pun meliriknya jua.


"Baiklah, kalian belajar yang giat dan selalu kompak ya nak? Oh iya Mike, apakah kamu tidak ingat besok hari apa?"


"Besok hari sabtu Pa, memangnya ada apa, Pa?" Lanjut Mike nampak bingung.


"Haha, haduh dasar kamu Mike, bisa-bisanya kamu lupa. Apakah kamu juga tidak ingat besok tanggal berapa?"


"Lah? Papa kenapa sih malah tertawa," Mike nampak bingung kemudian ia menoleh ke arah Alan.


"Sst hei Lan, memangnya hari ini dan besok tanggal berapa sih?" Tanya Mike mengingat ia memang kurang begitu memperhatiakan tanggal, sehingga ia sering membawa buku yang salah dan sering mendapatkan hukuman.


"Sekarang tanggal 20 januari dan besok tanggal 21 januari." Jawab Alan secara jelas.


"Astaga. Oh Tuhan, halo Pa." Mike kembali ke hapenya nampak sangat gembira.

__ADS_1


"Haha apakah sekarang kamu sudah ingat, Nak?"


__ADS_2