
Catatan
Mengandung Adegan kekerasan dan kata umpatan. Segala reka adegan, bukan untuk di tiru!
Hari sudah semakin petang yakni pukul 18:30 pm.
Masih didalam keadaan yang sama seperti saat ia berangkat tadi yakni memakai jasa transportasi umum. Beruntung arus lalu lintas sudah sangat lancar nan bus yang ia naiki jua kian longgar. Ia dapat duduk dengan nyaman di temani musik lirih dari earphone yang ia gunakan.
Hingga tiba saatnya bus di halte terakhir, lekas ia bergegas turun untuk melanjutkannya menggunakan jasa roda dua yakni ojek online. Sebab jarak tempuh antara halte tersebut menuju rumahnya masih cukup jauh.
Ia berdiri di pinggir jalan menunggu driver ojek online yang ia pesan datang sembari berselancar di dunia maya nyaris membuatnya lupa dengan lingkungannya berada. Namun tak lupa pula ia menggunakan masker untuk menjaga kesehatannya.
Ia baru tersadar kala handphone di tangan bergetar, yakni panggilan masuk dari sang Ayah.
Drrrttt.. drrtt..
Ia hendak mengangkatnya lekas menempelkannya di telinga, namun tidak di sangka kala belum sampai di telinga, tiba-tiba ada tangan lain yang meraihnya.
Seet!
Sontak ia terkejut, nan langsung tertuju pada orang itu. Namun orang itu langsung berlari sesudah dia meraih handphone itu.
Ia tersadar bahwa yang meraih handphonenya adalah penjahat jalanan yang biasa di sebut 'jambret' maka ia pun langsung mengejarnya.
Kekuatan berlari antara dirinya dan si penjahat itu nyaris setara sebab ciri-ciri fisik dari pejambret itu nyaris sama dengannya.
Ia tidak berteriak kala sedang mengejarnya, namun cukup membuat sang pejambret itu menggila akibat takut di terkamnya sehingga dia tidak memperhatikan langkah didepannya, alhasil dia menabrak salah seorang yang hendak menaiki motor di bahu jalan.
Brak!
Dia terjatuh beserta orang yang dia tabrak juga terjatuh. Bahkan handphone milik Alan yang dia rampas terlepas dari tangan.
Klotak!
Alan terkejut kala melihat rupa dari sang pejambret itu saat posisi dia sedang terjatuh. Sebab rupa itu sangatlah tidak asing baginya.
'Oh Tidak, Yadi!' Serunya didalam batin.
Ia hendak melanjutkan lari untuk mendekat kepadanya, namun si dia langsung bergegas pergi tanpa meraih lagi handphone miliknya.
(Dia tidak mengetahui seperti apa rupa Alan, sebab Alan masih menggunakan masker)
Alan tidak fokus mengarah ke handphone itu, justru malah fokus mengarah ke si penjabret itu. Ia hendak mengejarnya namun ia tidak memperhatikan langkahnya, Alhasil ia menabrak orang yang habis di tabrak oleh si pejambret tadi.
Brak!
Alhasil Alan tersungkur begitupula orang itu, dia tersungkur lagi saat dia hendak berdiri.
"Woi, dasar Anj*ng!" Orang itu marah sebab di tabrak hingga dua kali. Yakni oleh si pejambret itu dan kini terulang oleh Alan.
Orang itu sangat emosi, Alhasil sebelum Alan menoleh ke arahnya, dia langsung menyerang Alan tepat ke wajahnya.
"Mata loe di pakek buat jalan, Gobl*k!" Pekik orang itu seraya memukul.
Brak! Brak! Brak!
Posisi Alan samasekali tidak siap, maka ia pun mendapatkan banyak pukulan tanpa perlawanan.
Namun beruntung, kala orang itu masih membabi buta memukuli Alan, ada beberapa orang yang melerainya yakni para pedagang disekitar maupun para pejalan kaki.
"Woi, woi, berhenti, bang!" Teriak orang-orang itu.
Alan dibantu berdiri oleh orang-orang itu, sementara orang yang memukuli Alan langsung dipegangi tangannya, supaya tidak terus-menerus menyerang.
Ketika Alan menoleh ke arah orang yang memukuli itu, ia pun langsung melotot tajam sebab ia sangat ingat dengan wajah orang itu. Yaitu Andika. (Mantan kekasih Ananta)
"Terimakasih pak, saya kenal dengan orang ini" Ucap Alan kepada orang-orang yang membantunya berdiri.
Sontak Andika semakin melotot nan mengibaskan tangannya supaya orang-orang itu melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
"Siapa loe hah!" Pekiknya melotot.
Perlahan-lahan Alan melepaskan masker penutup wajah. Setelah Andika melihatnya maka ia semakin melotot geram nan mengepalkan tangan.
Sebab tersimpul khas senyuman Alan kala melepaskan masker tersebut yakni senyum menantang, yang membuat siapapun lawan pasti akan semakin geram.
"Oho, loe rupanya brengs*k!" Pekik Andika.
"Hei Anak muda, jika kalian sedang ada masalah pribadi, selesaikanlah. Tapi jangan membuat kerusuhan di tempat umum begini!" Sahut orang-orang yang menyaksikan.
"Baik!" Jawab Andika kepada orang-orang itu, lanjut tertuju lagi ke Alan.
"Hei, Ikut gua kalo loe memang jantan!" Ucapnya seraya menunjuk jari tengah.
Alan mengepal tangan kala terdengar kalimat itu. Alhasil ia pun mengikuti tantangan Andika yaitu melangkah menuju ke suatu arah yang sepi yakni di lorong selebar 10 langkah orang dewasa yang terhimpit diantara dinding bangunan kanan dan kiri yang terletak tidak jauh dari tempat tadi.
***
"Gua tidak tau loe Mike atau kembarannya," Ucap Andika seraya melangkah memutari Alan.
"Tetapi saya tahu siapa kamu, dan kelakuanmu." sahut Alan langsung.
"Oho, si letoy kembarannya Mike rupanya, sudah gua duga! Haha" Balasnya tertawa seraya bertepuk tangan.
Prok! Prok! Prok!
Andika langsung menebak bahwa Alan bukanlah Mike melalui jawaban Alan tersebut, sebab yang mengetahui tentang 'kelakuan' yang Alan sebutkan itu hanyalah Alan, saat tertukar posisi dengan Mike kala itu.
"Tutup mulut kamu!" Alan melotot geram.
"So.. kenapa? Loe sakit hati hah? Memang faktanya loe kagak jantan bukan? Dasar Lelaki lemah alias Letoy, Haha" Ucap Andika penuh hina.
Alan masih terdiam namun tersirat sorot mata memerah tajam nan mengepalkan kedua tangan.
"Woah, tampaknya si letoy ini mulai emosi, so.. loe ingin menghajar? Mau pura-pura jadi pahlawan kesiangan lagi hah?" Lanjut Andika menghina yang mengingatkan lagi pada kejadian malam itu saat Alan telat menyelamatkan Ananta.
"Wiss sadis.. apa gua tidak salah dengar hah? Seorang letoy macam loe mau apa tadi? merenggut hah? Haha. Ngaca woi ngaca! Gak cuma mulut aja yang loe gedein." Jawab Andika penuh ejek sehingga ia lenggah tak mengetahui saat Alan meraih sebuah kayu balok dari belakang tempat ia berdiri.
Tanpa aba-aba, ia langsung mengayunkan kayu balok tersebut ke arah wajah Andika.
Brak! Brak!
Andika langsung terjatuh. Sebab Alan memukulnya dengan kekuatan penuh.
Setelah itu, Alan menarik kerahnya hingga Andika berdiri namun Andika jauh lebih mengerti tak tik perkelahian, sehingga dia pun langsung menyerang balik Alan melalui tendangan hingga Alan mundur nan terjatuh.
Brak!
"Wow mau main tanpa aba-aba rupanya kau letoy!" Pekik Andika emosi, seraya mendekat ke Alan yang posisinya masih terjatuh.
Saat Andika mendekat hendak memukul, Alan pun langsung mengayunkan kembali kayu balok yang masih berada ditangannya jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Brak! Brak! Brak!
Alan melakukannya bertubi-tubi sebab ia menyadari bahwa ia memang tidak banyak mengetahui tentang tak-tik perkelahian. Ia memukul sembarang. Namun yang jadi incaran utamanya adalah area kepala.
Brak! Brak! Brak!
Andika tidak bisa menangkisnya lantaran Alan benar-benar Lihai dalam melakukan serangan menggunakan benda.
Spontan darah Andika muncrat kala Alan memukul ke area wajah dia. Namun itu malah yang membuat Alan semakin antusias untuk melakukan yang ia sudah nyatakan tadi. (Merenggut)
Ketika Andika terlihat lemas (pusing) akibat kepalanya dipukul bertubi-tubi, Alan meraih kerahnya lekas menariknya ke arah dinding.
Breek!
Tanpa pikir panjang ia pun langsung melakukannya, Yakni menendang Andika pada area int*m menggunakan lutut hingga berkali-kali.
Brak! Brak! Brak!
__ADS_1
"Arrgh!" Andika menggeram, merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Siapapun lelaki pasti tidak bisa berkutik, sebab area itu adalah kelemahan yang mutlak. Alan mengetahui rasa sakit itu sebab ia sendiri pernah mengalaminya kala di hajar oleh Naldo dulu.
Namun kali ini ia melakukannya lantaran sangat muak terhadap Andika, sebab Andika selaku sesama menjadi seorang lelaki tidak berpikir bagaimana rasa sakit hati kala di hina mengenai hal itu.
"Ampun, tolong hentikan, Arrgh!" Rintih Andika kala Alan belum menghentikannya. Alhasil Alan mengakhirinya dengan tendangan terakhir.
Brak!
Alhasil, Andika langsung tidak sadarkan diri akibat tidak bisa lagi menahan sakit. Disaat itu pula ada suara seseorang semakin mendekat ke area itu.
"Hei, ada apa disana!"
Mendengar itu, Alan langsung pergi meninggalkan Andika yang tengah terkapar tak berdaya disana.
Setelah Alan pergi, orang-orang itu semakin mendekat ke arah Andika, yakni hanya seseorang yang melintas. (Bukan warga sekitar)
"Astaga Tuhan, mengenaskan sekali pemuda ini" Ucap dia merasa ngilu melihat Andika terkapar penuh darah pada area wajah dan area bawah.
"Ih.. ngeri bener, sumpah gua ngilu lihatnya, pasti dia habis berantem, yaudah lebih baik kita bawa dia" pungkas salahsatu diantara mereka hendak menolongnya.
***
Next
Alan lari sekencang-kencangnya meninggalkan area itu hingga tak disadari sudah nyaris sampai di jalan yang mengarah ke perumahan yakni rumah dia.
Sebab jarak tempuh antara tempat tadi hingga di jalan yang ia pijak kini hanya sekitar 1,15 km.
"Huff.. huff.. huuff.." Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas.
Setelah terasa sedikit lega, ia kembali berlari menuju ke arah perumahan yang masih cukup jauh hingga sampai ke dalam perumahan itu.
Setelah sampai, ia tidak memencet bel rumah lantaran ia membawa kunci serep. Begitu ia sudah masuk, langsung menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin lekas meminumnya.
Glug glug glug
Kebetulan Bu Tiah melihat saat usai merapikan disalah satu ruang yang tidak jauh dari area dapur.
Bu Tiah merasa heran melihat Alan bercucuran keringat nan terdengar napas yang masih ngos-ngosan. Namun ia tidak banyak bertanya lantaran ia sendiri sungkan jika berhadapan dengan Alan. Hingga Alan sendiri yang memanggilnya.
"Bu,"
"Iya, kak" Jawabnya mendekat.
"Apa Mike dirumah, dan apakah Ayah sudah pulang?" Tanya-nya lantaran melihat dalam rumah tampak sepi.
"Tuan tadi menelpon rumah, karena menghubungi kakak Mike dan kak Micheal tidak di angkat-angkat katanya, Tuan menyampaikan kalau nanti Tuan pulangnya malam, lalu meminta saya untuk memasak untuk kakak berdua"
"Oh, begitu.. lalu dimana Mike? Apa dia pergi keluar?"
"Walah.. maaf kak, Ibu tidak memperhatikan hehe" Jawab Bu Tiah tidak mengetahui.
"Baiklah" pungkas Alan singkat seraya melangkah menuju anak tangga.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia diam sejenak sembari melihat tampilan diri dia sendiri, yakni melihat pada area tangan.
"Oh Tuhan.." Batin Alan kala melihat ada bercak darah di lengan.
Alhasil ia langsung menyapunya dengan kain yang ia peroleh dari ruang sebelah kamar. Untuk menghilangkan jejak. Pikir Alan.
Setelah bersih, ia pun langsung masuk kedalam kamar. Namun Saat ia baru saja memasuki ruang kamar, ia terkejut ketika mendengar suara yang sama saat ia hendak pergi tadi.
Yaitu suara dengkuran dari sang kakak yang masih tidur.
Grrrrr.. grrrr.. grrrr…
"Astaga Tuhan, Mike.."
__ADS_1