
Mike beranjak kembali kedalam kamar. Sementara Alan melanjutkan kreatifitasnya di dapur untuk mencoba membuat kue, di bantu oleh Bu Tiah.
2 jam kemudian, Alan telah selesai membuatnya. Bu Tiah selaku asisten rumah tangga yang memiliki banyak pengetahuan dalam hal masak-memasak sungguh kagum terhadap putra majikannya tersebut.
Lantaran Alan mampu membuat kue yang teorinya cukup rumit tetapi ia mampu membuatnya dengan mudah. Tampilan kue tersebut nyaris terlihat sempurna, apalagi soal cita rasa.
"Baikah, eksperimen kali ini sudah selesai. Nantikan ekperimen selanjutnya dikemudian hari" Ucap Alan berbicara sendiri sembari melihat kue hasil buatannya tersebut. Membuat Bu Tiah sedikit menahan tawa.
"Xixixix"
"Ada apa bu? Kenapa ibu tertawa?" Alan menoleh.
"Tidak kak, tidak kenapa-kenapa kok. hehe" Bu Tiah tertawa lantaran sejak Alan datang, ia samasekali tidak melihat Alan berkata yang tidak berarti semacam ini.
"Yasudah, maaf bagian itu saya serahkan ke ibu ya?" Alan menunjuk ke arah cucian piring.
"Iya kak, biar ibu saja yang akan membereskan semua ini" Jawab Bu Tiah merasa sungkan lantaran semua itu memang sudah menjadi tugasnya tetapi malah Alan berkata seperti itu.
Namun bagi Alan sendiri tidak ingin merepotkan orang lain meskipun kepada asisten rumah tangganya sendiri (Karena belum terbiasa) Tetapi saat ini ia tengah memiliki sebuah rencana lain, maka tidak heran ia berkata demikian.
"Terimakasih, Bu" Alan tersenyum hangat seraya melangkah hendak kembali kedalam kamar.
Alan berencana hendak membereskan kamarnya terlebih dahulu sebab sebelumnya belum jadi ia lakukan lantaran ada sang kakak masih tertidur.
"Astaga.." lirih Alan kala sudah masuk kedalam kamar. Ia melihat sang Kakak kembali tidur dalam posisi yang tidak beraturan. Beberapa bantal jatuh ke lantai, Bad Cover berantakan, posisi kepala Mike nyaris terjatuh serta suara dengkuran yang cukup keras.
Grŕrrrr… grrrrrr
"Hufff" Alan menghela napas dalam-dalam melihat sang kakak seperti itu.
Ia tidak akan membangunkannya lantaran menyadari bahwa sang kakak pastilah sedang merasa kesakitan dibeberapa bagian tubuh usai kejadian dimalam hari. (Dianiaya oleh Bonanza)
Ia datang mendekat untuk membantu Mike membenarkan posisi tidur, supaya rasa sakit yang tengah Mike rasakan tidak semakin parah jika posisi tidurnya benar. Pikir Alan.
Setelah posisi Mike sudah baik, Alan berbenah diri, mengingat tadi ia memang sempat berkeringat saat sedang membuat kue.
Sejenak ia menoleh ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 09:45 am. Masih cukup pagi, pikir Alan, Sembari ia merapikan pakaian yang di kenakkan. Lanjut ia mengambil jaket dan meraih telepon genggam di atas meja.
'Maaf Kak, aku akan pergi sebentar.' Batin Alan menoleh sejenak ke arah Mike saat ia hendak membuka pintu.
Ia tidak berpamitan lantaran tidak ingin mengganggu Mike tidur.
***
Next
Canggihnya teknologi yang sudah berkembang pesat seperti sekarang kini membuat siapapun orang tidak kesusahan saat bepergian meskipun memiliki pengetahuan yang minim.
Layaknya seperti yang hendak Alan lakukan saat ini. Ia menyadari bahwa ia belum sepenuhnya paham arah jalan di ibu kota. Namun semua itu tidak menjadi penghalang baginya untuk menepati janji yang sudah ia buat kemarin. Yaitu berkunjung ke rumah sakit tempat Ananta dirawat.
Awal mula ia mengunakan jasa ojek online yang menjemputnya kedalam perumahan. Setelah sudah keluar dari perumahan, Dilanjutkannya dengan menaiki bus hingga transit beberapa kali.
Perjalanan masih cukup panjang, sebab jarak menuju ke rumah sakit yang tengah ia tuju tersebut masih cukup jauh, bahkan masih ada beberapa kali transit lagi.
Disaat tengah menunggu bus selanjutnya, ia merasa haus. Sejenak ia menoleh kesana dan kemari berharap ada pedagang asongan yang menjajakan minuman mineral dan beberapa cemilan yang biasa sedikitnya ada, namun kebetulan saat ini disana sedang tidak ada.
__ADS_1
Alhasil ia keluar koridor sejenak untuk mencari air mineral di minimarket ataupun di warung pinggiran jalan yang terletak di sebrang.
Setelah sampai disana, ia segera mengambil air mineral tersebut di warung pinggir jalan, lekas meminumnya di tempat itu juga.
Jrug! Jrug! Jrug!
Ada motor berhenti tepat di belakang dia.
"Bang, rokok satu bungkus" suara seorang pemuda terdengar tidak asing bagi Alan. Alhasil, ia pun menoleh.
"Loh, loe bro." Sapa dia saat dia juga melihat Alan, yaitu Jovan.
"Hum" Alan mengangguk sembari mengecilkan mata akibat silau.
"Darimana dan mau kemana Loe? Dan.." Lanjut Jovan seraya menoleh kesana dan kemari. Mungkin saja Alan bersama Mike, pikir Jovan.
"Ah, tidak. Aku sendirian dan hanya main saja." Alan sudah menebak yang Jovan pikirkan. Namun ia jadi salah terucap lantaran sebenarnya ia memiliki suatu tujuan, bukan untuk main saja.
"Oho, main? Em.. mendingan loe ikut gua saja deh, gimana, mau gak?" Lanjut Jovan seraya menyalakan korek api lekas membakar rokok di mulutnya.
"Main denganmu? Bukankah.." Alan mengangkat satu alis. Seraya melihat ke arah tangan Jovan.
"Hu um, Ah.. sudah kubilang Men, tubuhku tidak selemah itu. Kuy naik." Ajak Jovan bersikukuh.
"Tapi.."
"Aih, apa loe pikir gua akan melakukannya saat ini hah? Hei.. santai saja Men, itu ada saatnya nanti." Lanjut Jovan mengira Alan ragu dikarenakan ia akan memukul Alan.
"Bukan begitu maksudku, tapi.."
"Aiih, sudahlah santai saja, apa kamu takut diputuskan pacarmu hah?"
"Loh, bukannya loe mau main ketempat pacar? Atau.. Kagak punya pacar loe ya? Jiaah.. Senasip dah kita haha. Yaudah, cepat naik." Cetus Jovan.
Sejenak Alan melihat ke arah jam tangan untuk mengukur waktu. Ia menyadari bahwa ia pergi tidak berpamitan terlebih dahulu, yang mana jika sang kakak mengetahui ia tidak berada dirumah pasti akan sibuk menghkawatirkannya.
Itulah salahsatu sebab ia ragu atas tawaran Jovan. Ia tidak ingin jika kejadian seperti kemarin bisa terulang lagi.
"Woih, lama amat loe berpikir, udahlah buruan naik, sebentar lagi dia sudah sampai" Lanjut Jovan.
"Dia siapa maksudmu?" Alan tidak mengerti maksud Jovan, Namun akhirnya ia pun naik, meskipun ia tidak tahu kemana Jovan akan mengajaknya pergi.
"Nih, loe pakek." Lanjut Jovan memberikan helm nan tidak menjawab pertanyaan Alan tadi.
"Hum" Alan menerimanya, lekas memakainya.
***
Hari ini jalan raya ramai lancar, cuaca pun sungguh damai dan bersahabat layaknya seperti yang tengah Jovan rasakan. Yaitu merasa memiliki sahabat walau ia sendiri masih belum begitu yakin.
Sudah beberapa menit mereka berkendara, namun tidak ada kepastian hendak kemana Jovan membawa Alan pergi.
"Jov, kita sudah lama berkendara, memangnya kita mau kemana?" Tanya Alan.
"Hah? Loe ngomong apaan? Gua gak dengar bro, tapi gua bohong, huaaak" jawab Jovan bersuara lantang nan terdengar Konyol.
__ADS_1
"Cih, Konyol!"
"Huahaha, ini.. gua sebenarnya mau menjemput sepupu gua ke terminal" lanjut Jovan.
"Lantas kenapa kamu mengajakku jika kamu akan menjemput saudaramu? Lalu.. bagaimana dia nanti?" Tanya Alan.
"Aih, kalau itu mah masalah gampang bro, sebenarnya sebelum ini gua tadi masih molor, bahkan belum mandi hehe. Tapi loe tau sendiri kan semalam kita balik jam berapa? Nah, tadi bokap gua nyuruh gua untuk jemput sepupu gua sekarang." Lanjut Jovan berbicara lantang lantaran masih mengemudikan motor.
"Oh, begitu.. baiklah"
"Eh, loe nanti maklumi saja ya kalau udah bertemu sepupu gua, dia sering bertingkah konyol" Lanjut Jovan.
"Cih, bukankah kamu sama saja konyol?" Cetus Alan.
"Aish sue!"
***
Beberapa menit telah berlalu, mereka sudah sampai di lokasi yang sedang mereka tuju yaitu terminal. Jovan memakirkan kendaraannya didekat halte busway. Mereka berdua masih duduk diatas motor sembari menunggu.
Jovan menoleh ke kanan dan ke kiri sembari memperhatikan nama bus yang tertera dibagian depan dan belakang yaitu bus antar propinsi. Namun sudah beberapa menit mereka menunggu, ia masih belum melihat keberadaan sepupunya tersebut.
"Aih, kenapa gua bodoh sekali sih! gak kepikiran dari tadi, huh." Gumam Jovan berbicara sendiri ketika ia menyadari belum mengecek handphone miliknya di dalam saku.
Sesudah mengambilnya, lekas ia segera menghubungi sepupunya tersebut.
"Wei, bus yang loe naiki udah sampai apa belum si, gua udah stay dimari." ucap Jovan.
"Gua udah sampai dari tadi coeg, nomer loe tuh yang diluar jangkauan mulu dari tadi kamvret! ini gua barusan dari toilet. Loe buruan kesini gih, emak gua bawain oleh-oleh, berat."
"Hilih.. berat, satu ton kah? Posisi Loe dimana?"
"Loe lihat Bus Damri warna merah 5004, gua di samping situ"
"Oh, oke-oke gua lihat, Gua kesana sekarang." Pungkas Jovan mematikan sambungan telepon.
Bip.
"Bro, gua tinggal sebentar mau jemput dia, maklumlah dari kampung bawaanya banyak, hehe" Pamit Jovan.
"Iya, yasudah cepat kamu temui dia." Pungkas Alan.
Setelah Jovan melangkah pergi, Alan beralih pandang ke arah jalan melihat banyak bus antar provinsi yang berlalu lalang membuatnya teringat akan kehidupannya dulu.
Teringat saat-saat berangkat ke sekolah bersama sahabat kecilnya (Verza) dan berbagai momen yang menyenangkan saat bercanda ria dengan sahabatnya tersebut.
'Semoga kamu selalu sehat dan baik-baik saja disana Ver,' Batin Alan seraya tersenyum.
Tidak selang waktu lama, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Yaitu Jovan.
Pluk!
"Hoih Bro, melamun aja loe, kenalin nih sepupu gua, dari kampung" Ucapnya.
Perlahan-lahan Alan menoleh, namun ia belum melihat sepupu Jovan tersebut lantaran masih tertutup badan Jovan.
__ADS_1
Setelah Jovan sudah sedikit bergeser, Alan melotot terkejut penuh gembira, sungguh ia tak habis kira saat melihat seseorang yang berdiri dibelakang Jovan tersebut.
"Ve.. Verza..?"