
Catatan
kembali lagi Author sampaikan pada bagian bab ini menceritakan tentang Mike yang masih berada didalam kehidupan Alan. Kelanjutan Alan akan berlanjut pada episode-episode mendatang dan nantinya akan terhubung langsung dengan Mike namun masih cukup panjang.
(Pada bab ini adalah sambungan dari bab 33)
Ferdi tersenyum kepada Mike ketika Mike sedang mengoleskan obat merah pada luka-luka di wajahnya. Namun Ferdi masih merasa sedikit canggung terhadapnya Kemudian Mike langsung banyak mengajaknya berbincang-bincang karena Mike tidak ingin ada rasa canggung diantara mereka kepadanya setelah kejadian yang baru saja terjadi. Alhasil semuanya kini menjadi biasa saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Setelah Mike selesai mengoleskan obat merah pada wajah Ferdi ia pergi ke arah dapur. Sementara Yadi hendak langsung berangkat ke sekolah menyadari jam sudah semakin siang dan juga karena letak sekolahannya lumayan cukup jauh jarak tempuh dari rumahnya.
Mike masih berdiri di sebelah pintu melihat Ika sedang sibuk menata piring sehabis dia cuci dan Mike melihat Ika sedang sibuk mondar-mandir seorang diri mengerjakan seluruh pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Alan.
Disaat Ika sedang mondar-mandir ia melihat ada Mike berdiri sembari menyandarkan kepalanya di pintu tengah penghubung ke arah dapur sedang melihat ke arahnya.
Mike pun langsung cengegesan setelah mengetahui bahwa Ika sedang melihat ke arahnya.
"Hehehe"
"Sudah.. kamu istirahat saja dulu, tidak apa-apa, biar ibu yang mengerjakan ini semua" Ucap Ika.
"Yakin..?"
Mike mengetesnya karena terlihat ekspresi wajah Ika terlihat enggan untuk melakukan pekerjaannya itu. Mike berinisiatif untuk mencoba membantunya walau badan ia masih sakit dan juga ia belum pernah melakukan pekerjaan semacam itu sebelumnya.
Klotak plotak klotak
Mike langsung mencoba mengiris bahan masakan yang belum Ika selesaikan di atas meja dapur.
'Aiih orang macam apa Alan ini, masa iya cowok melakukan pekerjaan semacam ini sih tapi.. wait, apakah gua dulu mengerjakan semua pekerjaan semacam ini seperti yang orang-orang itu katakan? Aissh.' Gumam Mike secara terus-menerus didalam hatinya menanyakan pada diri sendiri karena hal tersebut terasa aneh baginya.
Plotak klotak plotak
"Awh Aiishhh!" Teriak Mike.
Mendengar itu Ika langsung berjalan mendekatinya
"Kenapa Alan, walah kok bisa sih hati-hati donk? sudah-sudah sini biar ibu saja yang melakukannya." Ika langsung mengambil pisau dapur yang berada di tangan Mike.
Ika langsung mengerjakan pekerjaan tersebut karena melihat Mike seperti tidak serius atas pekerjaan yang sedang dia kerjakan itu.
Mike cengengesan karena ia merasa tidak bisa melakukannya. Kemudian ia berjalan ke arah ruang tengah. Di sana ada Ferdi masih duduk di kursi sembari merokok dan minum secangkir kopi.
__ADS_1
Drap drap drap
Hentakan langkah kakinya menuju ruang tengah.
Ia langsung mengambil sebatang rokok milik Ferdi yang berada di atas meja, ia langsung bakar dan hisap rokok tersebut tepat di depan Ferdi duduk.
Crek crek crek
Wusssshh
Sontak membuat Ferdi terkejut dan terbesit rasa emosi kembali ketika melihat Mike secara barbar merokok di depannya karena sebelumnya ia tidak pernah melihat Alan merokok.
"Sejak kapan kau mulai merokok, hah!" Tanya Ferdi dengan nada sedikit tinggi.
Crek crek crek
Plotak
"Aiissshh! Ini kagak ada korek lain apa?"
Ucap Mike sembari menaruh korek kembali ke atas meja karena rokok yang ia bakar belum menyala dengan sempurna, ia hendak membakar kembali rokok di mulutnya itu tetapi koreknya tidak bisa menyala karena bensolnya habis.
"Hey! apa Kau tak dengar yang baru saja saya tanyakan, hah!"
Ferdi langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengambil rokok yang berada di mulut Mike secara langsung.
Seet!
Sontak membuat Mike langsung melihat ke arahnya.
"Hey apakah kau tidak mendengar yang baru saya saja saya ucapkan hah? sejak kapan kau mulai merokok!" ulang Ferdi lagi.
"Lah.. Mana saya ingat." jawab Mike ketus.
"Asal kau tau rokok itu tidak baik buat kesehatan dan menjadikan kau boros, paham!" ucap Ferdi dengan nada tinggi.
"iya memang itu benar lalu bagaimana dengan Anda?bukankah Anda melakukan hal yang sama saja?" jawab Mike kembali dengan ketus.
Sontak membuat Ferdi langsung emosi karena memang sejatinya ia memiliki tempramen yang tinggi yang sudah mendarah daging pada dirinya hingga ia tidak mampu untuk mengontrol emosinya, lalu ia hendak langsung menampar Mike. Tetapi, Mike langsung menangkis tangan Ferdi.
Seet!
__ADS_1
"Apa salahku sampai Ayah mau kembali memukulku apakah karena saya merokok? bukankah Ayah juga merokok?Ya.. ya.. iya memang merokok tidaklah baik, saya jua paham. Namun, jika anda memukul saya apakah itu benar? Atau perlukah saya melakukan hal yang sama seperti yang sedang Ayah lakukan?" Ucap Mike sembari menatapnya tajam dan langsung menghempaskan tangan Ferdi yang hendak memukulnya.
Seet!
"Berani kurang ajar kau anak sialan!" Pekik Ferdi secara langsung.
Kemudian ia langsung mengangkat tangannya hendak kembali memukul Mike. Namun lagi-lagi Mike langsung menangkisnya dengan tangan seraya melihat Ferdi dengan tatapan tajam.
"Wah Apakah anda akan kembali menganiaya saya, Ayah?" Tanya Mike.
"Itu memang sepantasnya yang kau terima untuk anak sampah yang tak tau diri macam kau, paham!"
"Hey, lantas bagaimana pengakuan dan permintaan maaf darimu di depan publik tadi pagi Ayah?" Lanjut Mike.
"Tak usah kau berbicara seperti itu! Itu hanyalah kiasan di mata publik! Tetapi bagi saya kau hanyalah anak sampah yang tak berguna!"
"Wow luar biasa, sungguh luar biasa saya memiliki keluarga sangat begitu pandai bersandiwara, baiklah. Sampah.. ya ya ya anak sampah.. anak sampah"
Ucap Mike mengulang-ulang kalimat yang Ferdi ucapkan itu sembari ia bertepuk tangan.
Prok prok prok
Seraya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian Mike melangkah pergi keluar dari rumah sembari masih terus mengulang-ulang kalimat yang Ferdi ucapkan tadi.
"Anak sampah ya ya ya anak sampah"
"Hey, Mau pergi kemana kau, Alan!" Ferdi berteriak-teriak memanggil-mangginya ketika Mike sudah pergi langsung begitu saja. Namun sudah tidak digubris oleh Mike.
***
Mike berjalan muter ke arah belakang rumah dan berjalan terus hingga ke ujung belakang rumah dan ia tiba di pinggir sungai.
Ia langsung duduk dibawah pohon rindang pinggiran sungai yang mana dibawah pohon tersebut adalah tempat biasa Alan duduk dan melamun jika dia sehabis dipukuli oleh Ferdi.
Mike duduk seorang diri di bawah pohon tersebut sembari merebahkan badannya di atas rumput menghadap ke arah atas pohon dengan menyilangkan kedua kakinya. Karena dibawah pohon tersebut memang cukup nyaman menjadikan ia dapat terlelap tidur di bawah pohon tersebut.
Mike bukanlah orang yang terlalu lama berpikir maupun memikirkan kejadian yang baru saja terjadi karena ia berperinsip netral seperti arus air yang mengalir. Ia tidak memikirkan yang baru saja Ayahnya sebutkan tentang kalimat Anak sampah kepadanya dan malah ia dapat tertidur dengan pulas di bawah pohon itu.
Gigitan nyamuk-nyamuk liar tidak ia pedulikan karena ia merasa masih sangat mengantuk karena ia tidur di rumah Verza tadi malam merasa masih belum terpuaskan. Dan di tambah pula ada masalah pada pagi harinya yaitu banyaknya para rombongan warga yang berkumpul di depan rumahnya membuat ia merasa sedikit pusing.
Beberapa jam kemudian.
__ADS_1
Mike masih terlelap tidur di bawah pohon rindang itu. Ketika ia menggeliatkan badan ke arah kiri Ia dikejutkan oleh sesuatu
"Buuaaaaaa!"