
Seorang wanita tampak dewasa kurang lebih berusia 38 tahun, namun masih sangat muda nan anggun keluar dari mobil tersebut. Lantas dilanjutkanlah kakinya berpijak mendekat ke arah Mike dan Alan.
"Permisi adik-adik .." sapa-nya dalam kelembutan seraya tersenyum penuh keramahan. Sontak membuat Alan dan Mike tertegun karenanya kagum akan paras anggun yang dimiliki oleh wanita itu.
"Adik .." panggilnya lagi kala Alan dan Mike masih terdiam. Lantas lamunan mereka tercabik hingga membuat mereka salah tingkah.
"Eiya." Jawab Mike seraya menoleh ke Alan.
"Maafkan sopir saya bila nada bicaranya terlalu kasar dan juga .."
"Ah, baiklah. Tidak apa-apa bu, saya maklumi." Celetuk Mike kala wanita itu belum usai berbicara. Maka membuat dia tersenyum melihat kedua pemuda tampan penuh keramahan didepannya tersebut. Lantas ditengoklah tangan Mike yang ada luka itu, lekas ia mengambil sesuatu dibalik tas-nya yakni sebuah pembalut luka beserta tisu.
"Maaf membuat tangan adik terluka, dan .. maaf sebelumnya" ucapnya mengulurkan tangan seraya senyum (meminta tangan Mike) tak ayal membuat Mike lekas menyodorkan tangan yang terdapat luka tersebut.
Wanita itu segera menyapu darah Mike dengan tisu kemudian di letakkanlah pembalut luka pada tangannya. "Yaps .. sudah selesai, tidak terlalu parah. Sekali lagi maafkan kesalahan ini ya .."
"Iya Bu." Jawab Mike sementara Alan hanya mengangguk. Lantas Wanita itu hendak melanjutkan kalimatnya namun terhenti kala ponselnya berdering.
Kring .. kring .. kring ..
"Em, maaf saya sedang banyak urusan, bila Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu lagi, maka saya akan tebus kesalahan saya kepada kalian Dik" Ucapnya tampak tergesa-gesa hendak segera mengangkat ponselnya.
"Jangan sungkan Bu, bila Tuhan berkehendak, kita pasti akan berjumpa lagi." Jawab Mike tersenyum mempersilahkan Wanita itu masuk kembali kedalam kendaraannya.
Setelah Mobil itu melaju pergi, lantas Mike dan Alan saling menghembuskan napas tak sengaja secara bersamaan.
"Huuufff"
"Eh, hehe"
Alhasil, mereka saling menoleh dan tertawa namun mereka jua tidak mengerti apa yang membuat mereka berdua tertawa, lantas dilanjutkanlah perjalanan mereka hendak pulang menuju kediamannya.
***
Next
Setelah sampai pada kediamannya, aktifitas mereka seperti biasanya, yakni santap siang dan lain sebagainya. Namun, usai santap siang masing-masing diantara keduanya memiliki rencana yang hendak dilakukan pada malam hari.
__ADS_1
Yakni, Alan hendak bertemu Ananta, sementara Mike hendak menemui Jessi. Mereka tidak membicarakan seputar itu masing-masing sehingga tidak saling mengetahui bahwa mereka sesama memiliki rencana.
Khusus Mike yang biasanya sibuk keluyuran baik siang maupun malam, tidak memiliki rencana keluar pada siang ini, terlebih lagi mengingat pesan Marvin yang mengatakan selama dia belum pulang dari luar negri, Mike dimohon untuk tidak banyak keluyuran melalui pesan yang tertulis pada kertas kemarin.
Alhasil, ia menghabiskan waktu siangnya untuk tidur. Sementara Alan tidaklah demikian. Ia menyibukkan dirinya sendiri di dapur hendak membuat kue spesial yang hendak ia berikan untuk Ananta nanti malam.
"Bu .. apa ada cetakan kue yang bentuknya Love?" Tanya Alan kala dia sedang beraksi didapur ditemani oleh Bu Tiah.
"Lope lope?" Celetuk Bu Tiah tampak konyol.
Sontak membuat Alan tersenyum. "Hihi Love bu, apa itu lope lope?" Jawabnya tertawa. Tak ayal membuat Bu Tiah jua lekas tertawa. "Hehe, maaf ini lidah kebanyakan makan gaplek kak." Jawabnya seraya memberikan cetakan yang diinginkan oleh Alan.
"Gaplek apa itu, Bu?" Tanya Alan meraih cetakan tersebut lantas sembari melanjutkan aksinya.
"Gaplek itu ubi kayu/singkong yang di jemur dibawah terik matahari kak." Jawabnya.
"Oh .. bahan dasar pembuat tiwul ya?" Jawab Alan sembari mengangguk nan mengingat sesuai apa yang sedang dipikirnya.
"Loh, kakak Michealan tau tiwul juga to?" Tanya Bu Tiah kagum.
Alan mengangguk nan tersenyum, dalam pikirannya terngiang semasa kecil di kampung halaman. Sebabnya ia sering melihat Ibu-nya Verza membuat nasi tiwul untuk di konsumsi sendiri sekaligus penambahan mata pencahariannya. Namun tadi dia kurang paham nama 'Gaplek' yang disebutkan oleh bu Tiah yakni bahan pembuat tiwul tersebut.
Semasih ia melihat baju-baju tersebut, perhatiannya sering teralihkan kala dengkuran sang kakak sangat menganggunya. Namun apalah daya ia hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun akhirnya demi telinganya nyaman lantas ia mendengarkan musik lirih melalui earphone supaya tidak mendengar dengkuran sang kakak.
***
Sungguh suatu hal yang kurang lumrah bagi sebagian besar seorang remaja yang sedang kasmaran seperti mereka berdua ini. Yakni masing-masing diantara keduanya tidak memiliki nomor telephone dari orang yang hendak mereka temui nanti malam.
Ya, Mike tidak memiliki nomor Jessi sementara Alan jua demikian. Sesungguhnya dengan mudah bagi Alan mendapatkan nomor Ananta dari ponsel Mike, namun samasekali tidak terpikirkan olehnya.
Tepat pukul 16:45 pm. Alan sudah beda aktifitas, yakni masih belajar, sementara Mike sudah bangun dari tidurnya namun tubuh masih bermalas-malas ria diatas kasurnya.
Tok .. tok .. tok ..
Suara ketukan pintu dari luar kamar, tak ayal membuat keduanya saling tatap pandang. Lantas akhirnya Alan yang bergegas membukakan pintu tersebut lantaran sang Kakak tampak tidak mood.
"Kak, kakak berdua diminta oleh Tuan turun kebawah sekarang." Ucap Bu Tiah langsung menyampaikan pesan kala Alan sudah membukakan pintu tersebut.
__ADS_1
Sontak baik Mike maupun Alan terkejut sebabnya yang mereka ketahui sang Ayah sedang pergi keluar negri selama 5 hari.
"Hah Papa? Gak salah Bu?" Celetuk Mike sembari turun dari atas kasur.
"Iya Kak, Tuan barusaja sampai rumah dan meminta saya untuk menyampaikan pesan ini, Kak." Jelas Bu Tiah.
"Haiyaa .. Emang kebiasaan si Papa, pulang dan pergi semaunya sendiri, kayak jaelangkung saja. Huh! Yasudah yuk Lan, kita turun" Ajak Mike seraya merangkul sang Adik.
"Tapi Kak, Anu .. itu .." Ucap bu Tiah semasih dia berdiri didepan pintu kamar seraya melihat badan Mike lantaran Mike hanya memakai celana boxer beserta kaos dalam.
" Em .. Kenapa Bu?" Tanya Mike seraya melihat sekujur badannya sendiri.
" Tuan juga berpesan supaya kakak Mike berpakaian yang rapih" Jelas Bu Tiah lagi lantaran Marvin sangat paham bila Mike dirumah sering hanya berpakaian seperti itu.
" Haiyaa .. memangnya ada tamu apa? Nyuruh memakai pakaian segala." Tanya Mike.
"Iya kak Mike, di bawah ada tamu."
" Haish! Paling malas dah ah! Tamu penting apa pula .. minta aku ganti baju." Gumam Mike.
" Sudah kak, jangan mengomel terus. Cepat ganti pakaianmu sana, segera kita turun. Terimakasih Bu." Sambung Alan ditengah Mike sedang garuk-garuk kepala tampak kesal seraya mempersilahkan Bu Tiah untuk melanjutkan aktifitasnya.
" Yaudah iya iya iya" Jawab Mike sewot lantas bergegas memakai pakaian santai seperti biasa.
***
Setelah selesai ia memakai pakaian yang sopan lantas mereka berdua turun dari lantai atas hendak menemui siapakah gerangan tamu ayahnya tersebut.
"Itu mereka, kedua putra saya." Ucap Marvin di kursi sofa semasih Alan dan Mike melangkah pada anak tangga menuju ke arah mereka.
Perlahan tamu tersebut menoleh ke arah yang Marvin maksudkan, begitu pula dengan Alan dan Mike tak lepas pandang melihat ke arah kursi sofa.
Tampak seorang wanita dewasa namun masih sangat muda dengan ciri-ciri rambut lurus sepinggang, kulit bersih dan badan ramping.
Kala mereka sudah saling tatap pandang sontak Mereka pun kembali tertegun lantaran mereka sudah saling berjumpa sebelumnya pada beberapa jam yang lalu yakni sewaktu Alan dan Mike pulang dari sekolah, wanita tersebut adalah orang yang memberikan pembalut luka pada tangan Mike.
Lantas .. siapakah gerangan wanita tersebut? Simak selengkapnya pada episode mendatang. Terimakasih
__ADS_1
100% Original Story
By : @Kapten1868