Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 51


__ADS_3

Mereka telah sampai di rumah Verza, kemudian mereka masuk bersama-sama melalui pintu belakang rumah.


"Loh.. Alan kenapa pakaianmu basah kuyup begitu, Nak?" tanya ibunya Verza.


"Tuh si Verza nakal Bu, saya dijeburin ke sungai" jawab Mike nyeplos sembari melirik arah ke Verza.


"Sue kau." bisik Verza ketika Mike melirik ke arahnya.


"Walah, Jitak aja kepalanya Lan, kebiasaan tuh si Verza selalu nakal" jawab sang ibu.


"Hilih emak mah.." sambung Verza mendengus.


"Tak usah Hilah-hilih, Kamu mah memang kebiasaan! Yasudah cepat kamu ambilkan kaosmu dan berikan padanya nanti Alan bisa masuk angin. cepatlah!" perintah ibunya.


"Iya Bu, iya Bu " jawab Verza.


Verza langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambilkan salah satu kaos dan celana miliknya. Sementara Mike sendiri masih berdiri di dekat pintu diantara dapur dan ruang tengah menyadari baju ia masih basah kuyup maka ia sungkan jika langsung duduk di kursi.


"Apakah kamu sudah makan, Nak?" tanya ibunya Verza.


"Belum Bu. Ini saya kesini mau sekalian minta makan, hehe" jawab Mike nyeplos sembari cengegesan tanpa rasa malu dan sungkan kepada ibunya Verza.


Sontak membuat ibunya Verza tersenyum lebar karena baru kali ini ia mendapati Alan dengan begitu percaya diri berkata demikian. Namun ibunya Verza sangat senang mendengarnya dan ia langsung mempersiapkan makanan untuk mereka berdua karena jam jua sudah sore hari yaitu pukul 16:45 pm.


Verza keluar dari dalam kamar dan langsung memberikan pakaiannya untuk Mike pakai. Sesudah Mike pakai ia langsung kembali ke arah meja makan untuk makan bersama dengan mereka yang sudah ibunya siapkan di atas meja.


Disaat mereka hendak mulai makan bersama-sama pak Agus yaitu ayahnya verza pulang dari ladang. Mendapati mereka hendak makan bersama-sama dia ikut serta makan bersama dengan mereka.


Disaat mereka kumpul bersama-teman ibunya Verza sangat merasa senang ketika Alan mau makan di rumahnya karena selama ini Alan sama sekali tidak mau di ajak makan di rumahnya ketika dia sedang ke rumah Verza untuk belajar bersama ataupun ada keperluan sesuatu.


Karena meskipun hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya, Alan sangat jarang sekali datang kerumah Verza jika tidak ada sesuatu hal yang penting. Karena yang diketahui selama ini Alan memiliki kepribadian yang sangat pendiam terlebih lagi karena ia terkekang oleh orang tuanya yang mana semua itu baru diketahui baru-baru sekarang ini.


Kedua orang tua Verza merasa heran ketika mereka kumpul makan bersama-sama melihat Mike sangat lahap makan dan sembari banyak berbincang-bincang ketika sedang makan.

__ADS_1


Mike sangat lahap makan masakan ibunya Verza karena memang rasanya sangat enak dan masakan tersebut adalah masakan khas daerah yang mana di kehidupan Mike sebelumnya ia sangat jarang sekali makan masakan daerah seperti sekarang ini.


***


Beberapa saat kemudian mereka telah usai makan bersama dan waktu pun sudah semakin petang. Mike belum jua ingin pulang ia masih duduk bersama Verza didalam ruang televisi sembari banyak berbincang-bincang. Hingga jam menunjukkan pukul 19.00 pm.


"Ver, anu"


"Anu apaan?"


"Loe ada duit gak? gua mau pinjem."


"Hah? Duit? oh iya, ada kok, nih."


Verza langsung mengambilkan beberapa lembar uang. Ia merasa heran ketika Mike nyeplos mau meminjam uang kepadanya karena Alan tidak pernah seperti itu sebelumnya.


Bahkan Verza sendiri yang sering menawarkan uang kepada Alan jika mendapati Alan tidak memiliki uang saat bersekolah. Meskipun ia merasa sangat heran namun ia enggan untuk bertanya untuk apakah gerangan uang tersebut yang Mike pinjam.


Setelah Mike mendapatkan uang yang dipinjamkan oleh Verza, Mike langsung bergegas berdiri hendak pergi keluar.


"Keluar sebentar" jawab Mike singkat langsung bergegas pergi.


***


Mike berjalan mencari sebuah warung sembako terdekat untuk membeli rokok dari uang yang ia pinjam kepada Verza karena memang ia sudah pecandu rokok dari usia sangat dini. Alhasil menjadikan kini sangat susah baginya untuk bisa berhenti merokok secara langsung meskipun ia tidak mengingat kehidupan ia sebelumnya.


Ia berjalan cukup jauh dari kediamannya namun ia tidak mendapati warung sembako terdekat yang terbuka karena ia belum mengetahui letak warung sembako terdekat di perkampungan tersebut.


Didalam perkampungan itu sebenarnya terdapat banyak warung sembako rumahan yang tidak nampak dari luar alias warung tersebut berada didalam rumah milik warga bukan didalam sebuah ruko. Alhasil Mike belum jua menemukannya hingga ia berjalan sangat jauh sampai ia melewati perbatasan Desa.


Setelah ia melewati perbatasan desa baru nampak ada sebuah warung sembako yang terbuka dan terdapat didalam sebuah ruko, ia pun langsung bergegas menuju ke sana.


Didalam warung tersebut cukup ramai pembeli karena memang warung itu adalah warung terbesar yang berada di perkampungan itu alhasil membuat para pembeli mengantri untuk berbelanja kebutuhan pokok bulanan pada warung tersebut.

__ADS_1


Kebetulan saat Mike datang sedang tidak begitu ramai pembeli hanya ada beberapa pembeli yang sedang mengantri dan salah satu pembeli yang sedang mengantri ada Ani.


Dia sedang berbelanja sesuatu di warung tersebut. Ani adalah siswi culun teman satu sekolah namun berbeda kelas dari Alan.


Mike masih berdiri di depan ruko tersebut menyadari masih ada beberapa orang yang mengantri dan kebanyakan adalah kaum wanita, ia merasa sungkan jika langsung nimbrung ke dalamnya.


Bruuk!


"Eh, maaf"


Ucap Ani ketika ia telah selesai berbelanja pada warung tersebut dan tak sengaja menabrak Mike karena ia tak melihat ada Mike yang sedang berdiri menghadap ke arah jalan.


Mike berbalik badan ke arah dia, setelah Ani mengetahui orang yang ia tabrak adalah Mike yang ia kira adalah Alan kemudian ia langsung menundukkan kepala karena ia tidak berani menatap mata Mike.


"Hey, apakah kamu tidak papa?"


Tanya Mike ketika melihat Ani langsung menunduk, sembari Mike langsung memegang ke pundak Ani. Kemudian Ani langsung melepaskan tangan Mike yang tengah berada di pundaknya.


"Tidak. Saya tidak papa, maaf saya tidak sengaja"


Jawabnya dengan kalimat sedikit gugup lalu dia langsung bergegas pergi tanpa melihat ke arah Mike sedikitpun. Mike tercengang karena merasa heran melihat ekspresi tingkah gadis itu terlihat percaya dirinya sangat minim. Namun karena ia belum mengenalinya Mike tidak terlalu menghiraukannya dan lanjut menyelesaikan apa tujuannya di warung tersebut.


***


Beberapa menit kemudian, ia telah selesai membeli apa yang ia butuhkan, ia kembali berjalan hendak kembali pulang.


Di daerah perkampungan tersebut masih sangat minim penerangan pada jalan meskipun sudah tersalur listrik. Membuat Mike sering beberapa kali tersandung bebatuan yang ia pijak karena memang jalanan aspal di daerah perkampungan tersebut terdapat banyak lubang di karenakan sering dilintasi oleh mobil-mobil truk besar bermuatan barang dari area industri.


Disaat Mike berjalan ia mendengar suara-suara pemuda kampung sedang berkumpul di salah satu gorong-gorong sembari bermain gitar dan bernyayi-nyayi ria. Membuat suasana terasa sangat damai dan terasa khas didalam suatu daerah perkampungan.


Mike masih terus-menerus berjalan hendak pulang dan ketika ia sudah berjalan beberapa ratus meter dari arah pemuda-pemuda kampung yang sedang bermain gitar tadi. ia mendengar sesuatu yang membuat ia terkejut dan penasaran.


"Arrghhh"

__ADS_1


"Eh, apa itu ya?" Ucapnya sembari melotot.


__ADS_2