Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 172


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai pada restoran yang mereka tuju. Kini, mereka sudah duduk bersama pada nomor meja sesuai yang mereka pesan bak sebuah anggota keluarga yang lengkap. Makanan pun usai mereka pesan, lantas sembari santap malam mereka saling berbincang-bincang.


Semasih mereka saling berbincang, tanpa Marvin dan Alan perhatikan gerak-gerik Paulina kian terlihat Aneh. Hanya Mike-lah yang mengetahuinya lantaran ia memang pandai dalam melihat bahasa tubuh, lantas ia pun menoleh keseluruh penjuru ruangan seraya memperhatikan ke arah yang Paulina lihat, akan tetapi Paulina tidak mengetahui bahwa Mike sedang memperhatikannya.


Terlihat oleh Mike pada sisi meja yang terletak di pojok tepatnya didekat jendela ada 3 orang pria bertubuh besar dan tinggi dalam rentang usia setara Marvin.


Mike sudah berkecimpung lama didunia luar, maka ia sudah cukup paham dari sorot mata salahsatu pria yang duduk disana dan saat ini sedang memperhatikan Paulina adalah seorang lelaki yang tidak baik atau bisa dikatakan liar.


'Wah, Tampaknya ada yang tidak beres dengan orang itu.' Batin Mike menduga-duga.


Semasih Mike memperhatikan Paulina maupun salahsatu ketiga Orang tersebut, tiba-tiba saja Paulina mengutarakan apa yang dirasakannya.


"Em .. Saya permisi mau ke toilet dulu ya, Vin." Pamitnya tampak tergesa-gesa. Namun Marvin maupun Alan tidak begitu memperhatikannya.


"Baiklah, silahkan." Jawab Marvin disusul Alan mengangguk diiringi senyum.


Baru beberapa langkah Paulina memijakkan kaki ke arah Toilet, Mike masih tidak lepas memperhatikan ketiga orang itu.


"Mike, kamu sedang melihat siapa?" Tanya Marvin seraya menoleh ke seluruh ruangan.


"Ah, tidak Pa." Jawab Mike tampak tergesa-gesa sewaktu bersama'an melihat Salahsatu pria tersebut berdiri nan melangkahkan kaki ke arah yang sama dengan Paulina.


"Em .. Mike ke toilet bentar ya Pa, Lan, udah tak tahan, nih .. auuh .. mules." Pamit Mike dalam tutur kata yang tidak sopan hingga membuat Marvin maupun Alan lekas menggelengkan kepala.


"Halah .. kamu Mike, kebiasaan sekali!" Gumam Marvin sesaat setelah Mike sudah mulai memijakkan kaki menuju ke toilet.


***


Duga'an Mike memang benar bahwa lelaki yang dilihatnya tersebut ada hubungannya dengan Paulina. Semasih ia melangkah menuju ke arah Toilet Pria, dilihatnya lelaki itu meraih tangan Paulina kemudian dibawanya kesuatu arah.


Tidak ingin lepas mengetahui apa yang terjadi dengan calon ibu-nya, maka Mike mengikuti mereka dan bersembunyi dibalik dinding yang berada disana.


"Lepaskan tangan saya, Zam!" Pekik Paulina namun dalam nada yang tertekan karenanya tidak ingin menjadi pusat perhatian publik.


"Baik, saya akan melepaskan tangan anda, tapi tidak dengan hidup anda." Jawab pria tersebut dikenal dengan nama Zamry.


"Cukup Zam, sudah cukup anda terus membayang-bayangi hidup saya, saya memiliki hak untuk hidup bahagia Zam. Tolong, jangan lagi anda mengusik kehidupan pribadi saya."


"Jangan lagi anda bilang? Bukankah sudah saya katakan jelas pada anda sebelumnya, saya tidak akan pernah melepaskan anda, apa anda ingat itu?" Jawab Zamry.

__ADS_1


"Zam dengarlah, masa lalu itu sudah sangat lama. Anda pun sudah berumahtangga, anak-anak anda tentunya sudah dewasa. Lalu kenapa anda masih terus mengusik kehidupan pribadi saya?"


"Cih, saya tidak akan mengulangi lagi kata-kata yang pernah saya ucapkan dulu, tapi intinya siapapun lelaki yang dekat dengan anda maka dia-lah korban berikutnya."


"Cukup Zam!" Pekik Paulina tampak emosi sekaligus depresi tak ayal membuat Mike yang sedang memperhatikan mereka kian mengepalkan kedua tangannya.


"Haha, lelaki dengan dua pemuda kembar yang sedang santap malam dengan anda, bernama Marvin Muangka Lawrence bukan?" Ucapnya.


Paulina terdiam karenanya ia takut akan suatu hal mengerikan dalam hidupnya terulang kembali.


"Kenapa anda diam saja .. Apa yang saya katakan ini salah? Hahaha, saya memang tidak kenal dengan lelaki itu, tapi .. saya tahu saat ini dia calon suami anda bukan? Ketahuilah, tidak sulit bagi saya untuk mengetahui siapa orang itu." Ucapnya.


"Lantas bila benar dia calon suami saya, memangnya kenapa? Itu hak saya, dan saya ingatkan pada anda, jangan lagi anda mengusik kehidupan pribadi saya, mengerti?!" Pungkas Paulina menutupi rasa takut didalam hatinya sebelum akhirnya ia melangkah pergi dari sana.


Akan tetapi, baru beberapa langkah kakinya berpijak lantas Zamry mengemuka'kan suatu kata kepadanya. "Ingat-ingat saya tidak akan pernah berubah untuk tetap menghancurkan siapapun orang yang dekat dengan anda, Paulina."


Paulina enggan untuk mendengarkan walau didalam hatinya kini di penuhi rasa bimbang. Sementara Mike yang menyaksikan percakapan tersebut kian terbakar emosi hingga membuatnya tidak lagi terpikir akan hal lain selain menelusuri siapakah gerangan lelaki ini.


***


Ya, lelaki tersebut bernama Zamry yakni seorang Mafia cukup terkenal dikalangan kehidupannya. Dia adalah mantan kekasih Paulina yang ditolak oleh Paulina saat dia hendak mengajaknya melakukan hubungan int*m di luar Nikah.


Zamry tidak terima akan hal tersebut, lantas berbagai macam cara dia coba untuk mendapatkan hati Paulina kembali, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Paulina kukuh dalam pendirian, sekalinya dia tidak mau maka selamanya tidak akan pernah.


Lantas Zamry depresi hingga membuatnya memutuskan untuk menikahi wanita lain, tetapi dendamnya tertinggal pada Paulina. Yakni, dia selalu mencelakai siapapun lelaki yang menjadi kekasih Paulina sedari dulu.


Cara mencelakai setiap lelaki yang dekat dengan Paulina ia lakukan berbeda-beda. Ada sebagian yang diculik lalu di bunuh, ada juga yang dibuat seolah-olah lelaki tersebut meninggal dalam kecelakaan.


Paulina mengetahui itu tetapi ia tidak dapat berkutik lantaran bukti-bukti sangatlah susah ia dapatkan, hingga Aksi yang Zamry lakukan samasekali tidak tercium oleh polisi bahwa dialah pelaku utama dibalik meninggalnya lelaki yang dekat dengan Paulina.


Ya, Inilah misteri dibalik Paulina belum menikah hingga Kini dan jua misteri dibalik ia tidak ingin tinggal di Ibu Kota. Karena di luar kota jua dia di intai oleh mata-mata Zamry, tetapi masih mending baginya tinggal di sana timbang dia berjumpa lagi dengan Zamry di ibu kota ini.


Lain daripada itu, dibalik masa lalu antara Paulina dan Zamry tersebut semuanya rekat ada hubungannya dengan Keluarga Lawrence yang mana peran utamanya adalah Mike. Karena .. Zamry ini adalah ayah kandung musuh terbesar Mike yaitu Bonanza.


Masing-masing diantara semuanya saling tidak mengetahui bahwa semua ini terhubung menjadi satu didalam satu konflik.


Layaknya pada malam ini, bertemunya mereka didalam satu restoran yang sama adalah murni tanpa unsur kesengaja'an. Zamry benar-benar tidak mengenal Marvin namun sedikitnya dia sudah paham lantaran Marvin memang salahsatu orang ternama.


Sementara kepada Mike maupun Alan, Zamry benar-benar tidak mengetahui tentang mereka berdua sekalipun dia pernah mengutus anggota Gengster sadis untuk membalaskan dendam atas kejadian tertikamnya Bonanza beberapa waktu yang lalu yang disebabkan oleh Alan.

__ADS_1


***


Next


Walaupun dalam suasana hati yang bimbang, Paulina sudah kembali lagi ke meja Marvin dan melanjutkan santap malamnya, sementara Mike masih mengintai ketiga orang itu dibalik salah satu ruang yang berada disana.


Lantas dilihatnya ketiga orang itu pergi dari restoran, hingga menumbuhkan keinginan untuk mengikutinya. Diraihlah telephone genggam didalam sakunya, kemudian segera menghubungi salahsatu rekannya.


"Bro, loe sudah jadi antar motor ke alamat yang udah gua kirim tadi belom?" Tanya-nya Via telephone kepada salahsatu rekannya, Vidze.


"Gua udah nongkrong di seberang jalan restoran sesuai alamat yang loe kirim tadi, Bro .. Chat gua kagak masuk kah? Ini gua kesini bareng Jejen, buruan gih loe ambil nih motor, gua lagi mau pergi, buru loe ambil sekarang."Jawab dia.


"Oke." Jawab Mike mematikan sambungan telephone tersebut lekas keluar restoran tanpa diketahui oleh Marvin, Alan maupun Paulina.


Mike bergegas keluar cenderung terburu-buru lantaran dia tidak ingin tertinggal jejak laki-laki itu. Karena jarak antara ketiga orang itu keluar restoran dengan dirinya kurang lebih 3 menit.


***


Sesudah Mike keluar dari restoran tersebut Lantas Marvin menyadari bahwa Mike belum juga kembali sejak tadi.


"Nah, mana si Mike?" Ucap-nya seraya menolah-noleh.


"Saya susul kakak sebentar ya, Yah .." Pengertian Alan semasih Marvin mengatakan kalimat tersebut hendak menyusul sang kakak ke Toilet.


"Baiklah," Marvin mempersilahkannya.


Setelah Alan sudah sampai area sana, tiada satupun jejak keberadaan sang kakak disana, lantas akhirnya memijakkan kaki hendak kembali ke Ayahnya, namun terhenti kala melihat Mike sedang berjalan pada area luar melalui jendela kaca.


Sebelumnya Alan berminat hendak memberitahukan Marvin bahwa ia hendak memanggil sang kakak di luar, namun melihat situasi sang ayah sedang berbincang hangat dengan Paulina maka tidak ingin baginya merusak suasana tersebut.


Akhirnya ia bergegas langsung keluar dari restoran tersebut untuk menyusul sang kakak, sesudahnya ia di area luar terlihat olehnya Mike mulai memacu kendara'an bermotor pergi dari area sana.


Lantas Alan berlari hendak memanggilnya hingga kini ia tiba tepat di pinggir jalan raya cukup jauh dari area restoran kurang lebih 200 meter. Namun, sang kakak tampak sangat terburu-buru memacu kendara'an bermotornya cukup kencang hingga membuatnya tidak sempat memanggil namanya.


Ia pun bimbang, semasih berdiri di pinggir jalan tersebut, ia mengambil telephone genggam untuk segera menghubungi sang kakak.


Semasih dalam posisi memegang telephone genggam yang ia letakkan di telinga, tiba-tiba saja ada sebuah mobil jenis 'Odyssey' berwarna silver berhenti tepat di belakang dia sebelum akhirnya ada seorang wanita keluar dari mobil tersebut yang tak lain dialah Ananta.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2