Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 96


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, perjalanan mereka sangatlah lancar, karena pada waktu tengah malam tentunya jalan raya telah sepi dari para pengendara yang melintas.


Kini mereka telah sampai di kediamannya tepat pada pukul 00:30 dini hari. Setelah pintu gerbang telah di buka oleh bu Tiah, dan kendaraan mereka telah masuk kedalam garasi, kemudian mereka masing-masing bergegas turun.


Kemudian, Mike masih menuntun Alan untuk berjalan menuju ke ruang tengah. Setelah sampai pada ruangan tengah dan bu tiah telah usai menutup kembali garasi mobil beserta pintu, ia tercengang melihat anak dari majikannya benar-benar ada dua, yang mana ia telah melihat sebelumnya kala itu.


"Ah.. akhirnya kita telah sampai di rumah." Ucap Marvin sembari menghela napas.


"Oh iya, bi tolong besok bereskan kamar atas yang berada di sebelah kamar Mike ya.." perintah Marvin. Namun, bu tiah tidak langsung menjawabnya melainkan masih terbengong melihat anak dari sang majikannya ada dua.


"Bi Tiah.." panggil Marvin kembali.


"Ah iya tuan, maaf gimana tuan, ada apa?" Bu Tiah menjadi gagal fokus sembari tersenyum ia merasa tidak enak. Mengetahui hal tersebut Kemudianan Marvin jua tersenyum.


"Hm, ya saya tau apa yang sedang bibi pikirkan, baiklah Perkenalkan dia adalah Michealan putra saya, dan dia adalah kembaran Mike"


"Iya tuan, tapi.. oh iya baiklah besok akan segera saya bereskan ruangannya tuan." jawab bu Tiah yang tidak ingin lancang untuk bertanya-tanya lebih banyak tentang keluarga majikannya, walaupun ia sendiri sudah bekerja di sana dari Mike masih balita, namun ia sendiri sangatlah jarang bercakap-cakap dengan sang majikan terlebih lagi tentang seputar urusan pribadi.


"Ya" jawab Marvin singkat, kemudian ia menoleh kembali kearah Mike dan Alan sembari tersenyum. Setelah itu ia melangkah kearah mereka dan langsung kembali memeluk mereka berdua. Ia merasa sangat bahagia karena kini ia dapat kembali hidup bersama dengan kedua putranya yang mana salah satu diantaranya telah terpisah dari saat dilahirkan.


"Yasudah nak, kini hari sudah larut malam, kamu segera istirahatkan badanmu, dan jangan lupa di minum obatnya ya.."


Alan mengangguk.


"Oh iya, untuk sementara kamu istirahat dahulu di kamar Mike ya." Lanjut Marvin.


"Tidak perlu sementara pa, biarkan saja dia selalu beristirahat bersamaku, kamarku juga masih sangat luas, dan jua selama ini kamar itupun selalu kosong hehe" Jawab Mike sembari cengengan menyadari betapa jarangnya ia tidur dirumah.


"Hmph, yaudah Terserah kalian saja, mau di kamar manapun sama saja, semuanya milik kalian." Jawab Marvin sembari tersenyum.


"Oke baiklah, yup kita come on Lan, molor." Lanjut Mike sembari menuntun Alan hendak melangkah kearah anak tangga.


"Tunggu Mike." Panggil Marvin nampak ekspresi wajahnya heran sembari sedikit tersenyum.


"Ada apa pa?" Jawab Mike jua nampak terheran ketika menoleh ke arah Marvin.


"Ah, tidak jadi. Yasudah kamu segera istirahat juga ya." pungkas Marvin ia menghentikan niatnya hendak bertanya kepada Mike.


Mike mengangguk.

__ADS_1


'Aneh sekali dia, bahkan saya sendiri jika masuk kedalam kamar dia pasti dia langsung mengomel, namun kini.. ah yasudahlah semoga tingkah laku Mike dapat berubah menjadi lebih baik.' Batin Marvin terheran-heran sembari tersenyum.


***


Kemudian, Mike dan Alan telah sampai kembali kedalam ruang kamar.


"Tunggu sejenak" Ucap Mike, kemudian ia langsung melangkah menuju lemari pakaian.


"Nih, kamu ganti dulu pakaianmu. Pakaianmu Sudah kotor sekali dan juga bau sangit" Lanjut Mike setelah ia mengambilkan pakaian tersebut untuk Alan.


"Baiklah" Alan langsung mengambil pakaian yang Mike berikan itu.


"Eh, tapi tunggu, ataukah kamu ingin mandi dahulu? Atau mau ganti pakaian saja, atau mau cuci muka, Atau?"


Alan masih terdiam sembari menatapnya ketika melihat Mike banyak sekali bertanya.


"Hey, kenapa kamu malah melihatku seperti itu?"


Kemudian Alan tersenyum tipis sembari sedikit menggelengkan kepalanya.


"Oeh, tatapanmu dan senyumanmu penuh itu lho terlihat anu aaaiish! hey sedang ngomong apa kamu didalam hatimu ha?" Lanjut Mike bertanya ketika Alan menatap ke arahnya.


jawab Alan singkat sembari melangkah pelan menuju ka arah kamar mandi. Ketika Alan melihat Mike, ia seperti sedang melihat dirinya sendiri di kaca cermin, namun yang membuat Alan menggelengkan kepalanya adalah karena dari tingkah laku, nada bicara dan lain sebagainya yang berada dalam diri Mike, sangatlah jauh berbeda dengan dirinya sendiri.


Namun apapun itu, ia tetap menyadari bahwa perbedaan tetaplah sebuah perbedaan akan tetap berbeda meskipun memiliki rupa yang sama.


***


Setelah Alan usai membersihkan diri dan berganti pakaian, ia kembali lagi kedalam ruang kamar, kemudian ia melihat Mike sedang sibuk mondar-mandir dan sesekali jongkok sembari membuka beberapa laci dan lemari yang berada disana.


Alan hendak bertanya, namun tidak jadi ia lakukan, kemudian ia langsung berbaring diatas kasur untuk segera beristirahat, karena ia masih merasakan sakit didalam tubuhnya walaupun ia sudah meminum obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter.


Greeek greek


Klek klek klek


klotak klotak


Suara bising saat Mike masih saja mondar-mandir sembari membuka dan menutup beberapa laci dan lemari, membuat Alan belum bisa memejamkan mata dengan sempurna.

__ADS_1


"Kamu sedang apa, dan sedang mencari apa Mike?" Tanya Alan sembari menoleh ke arah dia.


"Anu." Mike masih saja membuka dan menutup beberapa laci yang berada dihadapannya.


"Lihatlah sudah jam berapa ini. Apakah kamu tidak merasa lelah? Segera istirahatlah." Lanjut Alan dengan suara lirih.


"Rasa mulutku tidak enak kalo enggak anu dulu" Lanjut Mike.


"Kamu sedang berbicara apa Mike..? Apa hubungannya rasa mulut dengan tidur?" Lanjut Alan.


"Aiissh, kemana sih itu, eh tunggu dulu" kemudian Mike bergegas berdiri dan mendekat ke Alan.


"Hey Lan,"


"Hem"


Kemudian Alan menoleh kearah Mike yang mana sebelumnya posisi tidurnya menghadap kearah kanan.


"Apa?"


"Anu ku dimana ya, kamu melihatnya tidak? Ataukah kamu yang memindahkannya? Soalnya biasanya aku menaruhnya disana. Ataukah.. wah apakah jangan-jangan kamu telah menghabiskan semuanya?" Mike menelunjuk ke arah laci.


"Maksudnya apa Mike?" Alan masih belum mengerti.


Kemudian, Mike mengangkat tangannya dan menempelkan kedua jari ke mulut dia sendiri (kode menghisap rokok) sembari mengangkat kedua alisnya.


Melihat hal tersebut sontak membuat Alan langsung mengerti, kemudian ia menarik selimutnya dan langsung menutup seluruh badan sekaligus kepalanya dengan selimut tersebut.


"Aisssh, hey Lan ayolah jawab dulu dong.." Mike merengek. Kemudian ia menepuk pundak Alan ketika Alan langsung menutup seluruh badannya dengan selimut tersebut.


Plek plek


"Aih, sakit Mike." Rintih Alan, namun ia tidak membuka selimutnya.


"Upps, sorry gua lupa, eh tidak. Tapi Aku maksudnya, aku lupa hehe" jawab Mike yang telah kebablasan menggunakan bahasa non formal, karena ia sudah bertekat ingin berbicara dengan saudaranya menggunakan bahasa yang baik.


"Lan, aisssh." Mike mendengus karena pertanyaannya tidak di gubris oleh Alan. Kemudian ia menoleh kearah Jam. Dan jam jua kini sudah menunjukkan tepat pukul 02:15 dini hari, alhasil ia meredam sejenak rasa keinginannya untuk menghisap zat nikotin tersebut, karena ia jua tidak ingin memaksa untuk bertanya kepada Alan menyadari kondisi Alan saat ini. Kemudian ia langsung menyusul untuk beristirahat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2