Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 93


__ADS_3

Mendengar suara seseorang yang memanggil nama Alan, kemudian mereka bertiga menghentikan langkahnya, dan menoleh kembali kearah belakang. Dan setelah melihat siapakah gerangan seseorang tersebut, Alan selaku ia yang tengah dipanggil oleh seseorang itu langsung tersenyum setelah melihat siapakah gerangan orang tersebut. Dan seseorang itu tak lain dia adalah Naldo.


Ya, dia adalah Naldo salah satu orang yang menyakiti Alan secara fisik dan jua menyakiti perasaannya atas segala hinaan yang pernah dia ucapkan kala itu. Naldo masih berada disana namun dalam jarak yang lumayan jauh dari arah mereka ketika mereka sedang bercakap-cakap dengan Verza.


Ketika Naldo memanggil nama Alan dan kemudian Alan menoleh kearahnya, ia langsung menunduk terlebih lagi ketika Naldo melihat Alan menoleh kearahnya langsung memberikan senyum kepadanya.


Naldo bingung hendak mengawali sebuah percakapan ketika mereka semua melihat kearahnya, ia masih berdiam diri sembari kepalanya menunduk. Melihat hal tersebut, kemudian Alan melangkah mendekatinya.


Setelah posisi Alan sudah didekatnya, berlahan-lahan Naldo menegakkan kembali kepalanya dan melihat langsung kearah Alan yang mana posisi dia berdiri tepat didepannya.


"Lan.. " Ucap Naldo singkat yang mana ia masih merasa ragu hendak mengucapkan sebuah perkataan. Melihat ekspresi Naldo seperti itu, Kemudian Alan langsung memegang pundaknya.


Plek!


"Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Saya tau dan saya mengerti."


"Sungguh tidak pantas aku mengatakan ini setelah apa yang telah ku perbuat kepadamu Lan. Akan tetapi, aku tetap akan mengatakannya. Maafkan Aku Lan, maafkan segala apa yang telah ku perbuat kepadamu selama ini."


"Sudah aku jawab tadi. Yang sudah berlalu biarlah berlalu." Jawab Alan singkat sembari tersenyum tipis, membuat Naldo ikut serta jua tersenyum, karena selama ini ia belum pernah melihat Alan secara langsung tersenyum kepadanya, yang mana selama ini Naldo hanya bisa melihat Alan tersenyum jika Dia bersama Verza, itupun ia melihatnya dari arah kejauhan.


Sesungguhnya ia iri akan hal itu, karena sesungguhnya Naldo sangatlah ingin menjadikan Alan sebagai sahabat selayaknya Verza, yaitu satu-satunya orang yang bisa berteman baik dengan Alan, namun apalah daya segalanya tidak bisa sesuai dengan keinginanannya karena ia sendiri tidak mampu untuk bisa melihat dan mengerti akan sifat dan karakter yang Alan miliki.


***


Kemudian, Mike melangkah mendekat kearah mereka dan langsung berdiri tepat disebelah Alan. Setelah Mike berdiri disebalah Alan, Naldo tersenyum Melihat Mike, yang mana ia sudah bisa langsung mengerti bahwa beberapa hari yang lalu ketika ia dengan para teman sekelompoknya membully Mike yang ia kira Alan, kini ia sudah paham dan mengetahui bahwa yang dia bully pada beberapa hari yang lalu bukanlah Alan, melainkan seseorang yang kini sedang berdiri didepan dia.


Sementara Mike jua langsung tersenyum ketika melihat Naldo tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Maafkan saya kawan, " Ucap Naldo secara langsung.


"Sudah saya jawab tadi, Hehe" Jawab Mike mengikuti kalimat yang Alan ucapkan tadi sembari melirik ke arah Alan. Membuat Alan meliriknya jua karena melihat lirikan Mike nampak sangat mengece.


Mengetahui hal tersebut, Naldo kembali tersenyum karena ia merasa jua ikut bahagia melihat ekspresi Alan kini terlihat bahagia, yang mana ia belum pernah melihat ekspresi itu sedari Alan masih kecil.


"Yasudah kawan, sampai berjumpa kembali pada lain waktu. Kami akan segera pulang" Pamit Mike menyudahi percakapan, karena hari sudah semakin senja.


"Baiklah kawan, btw terimakasih banyak kawan, karena segala yang kau ucapkan itu.."


"Sudah-sudah, tidak masalah. Yasudah kami jalan dulu ya"


Jawab Mike langsung memangkas kalimat yang hendak Naldo ucapkan. Karena Mike tidak ingin Alan mendengar dan mengetahui bahwa beberapa hari yang lalu ketika Mike sedang menjadi Alan, dia sempat di royok oleh mereka dan membuat Mike mengalami cedera pada bagian kepala ketika kepala ia dipukul menggunakan kayu balok oleh Naldo.


Bagi Naldo sendiri ketika kalimat ia dipangkas oleh Mike sesungguhnya ia hendak mengatakan bahwa ia sangat berterimakasih pada Mike, atas suatu pesan Mike yang Mike Ucapkan melalui kata-kata kala itu, karena yang Mike ucapkan memanglah benar, bahwa untuk mendapatkan seorang teman dengan bertindak seperti yang ia lakukan (Bully) adalah suatu kesalahan yang fatal. Yang mana alih-alih untuk mendapatkan perhatian supaya ia jadi disegani justru itu malah membuat ia dijauhi, dan sekalipun tiada pernah ia bisa menemukan seorang sahabat yang benar-benar tulus untuk menjadi sahabatnya meskipun ia memiliki banyak teman.


Namun banyaknya teman tetap hanyalah teman, akan berbeda jika dibandingkan dengan satu orang sahabat.


***


"Yasudah kalian hati-hati dijalan, dan hey kawan, jagalah Alan dengan baik-baik ya." Ucap Naldo sembari tersenyum.


"Yap, pastinya kawan, apakah kau tau? Alan ini adalah adikku, pastinya aku akan menjaga dan melindunginya bahkan, jika ada semut yang berani menggigit dia, pastilah semut itu kembali akan ku gigit" Jawab Mike.


"Lebay!" Sahut Alan sembari meliriknya. 🙄


"Aiish.. apakah kau tak percaya padaku wahai adik?" Lanjut Mike sembari mengangkat kedua alisnya seraya mendekatkan wajahnya ke Alan. ðŸĪŠ

__ADS_1


"Lebay!" Lanjut Alan mengulangi kalimatnya sembari menggeser wajah Mike yang berbicara terlalu dekat dengan wajah dia. ðŸ˜Ī


Seet!


"Ooooiiih!" Mike langsung meliriknya. 🙄


Sontak membuat Naldo langsung tertawa ketika melihat mereka bercanda seperti itu, begitupun dengan Alan dan disusul oleh Mike menjadi ikut tertawa. Kemudian setelah mereka usai bercakap-cakap, mereka melanjutkan kembali langkahnya menuju kearah Marvin.


Setelah sampai, Marvin kembali mengajak mereka hendak menuju ke kendaraannya berada, ketika mereka semua melangkah, mereka melambaikan tangan terlebih dahulu kearah Naldo, Naldo jua demikian ia melambaikan tangan sembari tersenyum.


Beberapa saat kemudian.


"Ah, Akhirnya kita sampai" Ucap Marvin sembari menghela napas ketika sampai pada tempat dimana kendaraannya berada. Karena jarak antara kendaraannya terparkir dengan titik tengah alun-alun tersebut terbilang cukup jauh jika berjalan kaki.


"Ayo nak, kita jalan sebelum petang" Lanjut Marvin mengajak sembari membuka pintu mobil. Kemudian Alan dan Mike saling mengangguk, dan mereka hendak menyusul masuk.


Mike membukakan pintu mobil untuk Alan karena Alan jua sedang ia tuntun. Namun, ketika pintu tersebut telah ia buka, Alan berhenti sejenak sebelum ia masuk kedalam kendaraan tersebut.


"Ada apa Lan, Mari kita masuk" Ucap Mike.


"Tunggu sejenak" Jawab Alan singkat sembari menoleh ke arah kanan dan ke arah kiri.


Mike diam sembari memperhatikannya, ia tau apa yang sedang Alan cari, namun ia enggan untuk bertanya maupun berkata. Dan setelah beberapa detik berlalu, Alan dengan sendirinya masuk kedalam kendaraan.


***


Setelah semuanya telah siap, Marvin langsung memacu kendaraannya hendak menuju kembali ke Ibu kota. Ketika mereka berjalan baru beberapa kilo meter, belum banyak percakapan diantara mereka, meskipun ada percakapan hanyalah percakapan tentang hal lain. karena Marvin dan Mike melihat saat Alan baru saja masuk kedalam mobil, ia masih saja terdiam bahkan ia menoleh kearah jendela terus.

__ADS_1


Ya, Mike dan Marvin sangatlah paham dengan yang saat ini tengah Alan rasakan yaitu tentang bagaimana rasanya meninggalkan tempat yang ditinggali dari masih balita dan segala kenangan yang ada didalamnya. Entah itu sebuah kenangan baik maupun kenangan buruk.


Karena kini Alan akan segera meninggalkan tentang itu semua dan kini ia memulai kehidupan yang baru dengan keluarga aslinya.


__ADS_2