
Catatan
Terdapat aksi kekerasan, bijaklah dalam menyikapinya. Segala adegan yang ada didalam bab ini, bukan untuk ditiru!
Disisi Jovan
Setelah usai merenungkan sejenak segala apapun yang telah berlalu didalam kehidupannya, Jovan kembali melanjutkan perjalanan. Tetapi saat ini ia tidak tahu harus ke arah mana, karena ia bukanlah lelaki rumahan yang memiliki kedisplinan diri untuk pulang ke rumah, ia memiliki hobi sama seperti Mike, yaitu keluyuran malam.
Niat hati ingin menolong Alan, namun apalah daya ia tidak mengetahui ke arah mana mobil yang membawa Alan pergi tadi, mengingat ia berbincang-bincang dengan temannya tadi cukup memakan waktu.
Alhasil ia tetap melaju sesuai yang ingin ia tuju, yaitu ke tempat teman-teman lain. Setelah kurang lebih 2 km ia berkendara, berhenti sejenak di pom bensin yang ada di sana untuk mengisi bahan bakar.
Ketika para petugas pom sedang mengisi bahan bakar, ia masih melamun sembari melihat mobil maupun motor yang mengantri di sana. Sontak lamunan ia terpecah ketika ia melihat salah satu mobil baru selesai mengisi bahan bakar tengah hendak melaju kembali. Ia pun tersadar akan sesuatu.
"Bang sudah bang, tidak perlu di isi penuh. Cepatlah, ini ambil," Pinta Jovan kepada petugas pom tersebut sembari memberikan beberapa lembar pecahan uang.
Kemudian ia langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh mengejar mobil yang ia lihat di pom bensin tadi yaitu mobil hitam dengan plat kendaraan yang ia ingat sangat jelas. Yaitu mobil hitam yang di kendarai oleh beberapa orang misterius membawa Alan.
Tetapi mobil hitam itu langsung melaju dengan kecepatan penuh mengingat pada waktu tengah malam jalan raya memang sepi dari para pengendara, membuat Jovan nyaris kewalahan saat mengejarnya. Tetapi ia tidak peduli berapa jauh jarak tempuh antara ia dan mobil itu, ia tetap mengejarnya. Karena jarang ada yang namanya sebuah kebetulan datang dua kali. Pikir Jovan.
Sudah puluhan kilo meter jarak tempuh Jovan mengejar Mobil itu hingga akhirnya melewati batas ibu kota ke-kota sebelah (Seperti jakarta-bekasi). Jovan tetap mengikuti dari jarak yang cukup jauh dari mobil itu hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah namun cukup sepi antara lingkungan kanan dan kirinya, yaitu sebuah markas.
Jovan berhenti nan bersembunyi di depan sebuah bangunan kosong nampak rollingdor yang sudah berkarat. Kebetulan di depan bangunan tersebut ada sebuah tanaman liar yang tumbuh cukup tinggi sehingga memudahkan ia untuk bersembunyi di sana.
Jovan bersembunyi lantaran di depan rumah tersebut terlihat ada beberapa kendaraan yang terparkir dan jua terlihat ada beberapa orang yang tampilan fisiknya seperti preman.
***
Disisi Alan
Setelah Mobil tersebut berhenti didepan rumah itu, mereka membawa Alan dalam posisi Alan belum sadarkan diri masuk ke dalam markas tersebut.
Ketika mereka baru melangkah kedalam, posisi Bos mereka masih duduk di kursi putar menghadap ke belakang sehingga dia belum mengetahui apa yang di bawa oleh beberapa anak buahnya tersebut.
"Apakah kalian sudah mendapatkan barang itu sesuai harga yang saya inginkan?" Tanya Bos tersebut.
"Sudah Bos, dan kali ini sangat fantastis, pastinya bisa sesuai harga yang anda inginkan." Jawab mereka sembari tersenyum dengan beberapa rekan-rekannya.
Perlahan-lahan, bos mafia tersebut menoleh ke arah mereka. Sontak ia langsung melotot tajam saat mengetahui ada pemuda remaja yang mereka bawa.
"Mana barang yang kalian bawa? Dan.. siapa pemuda cilik ini?"
"Ini barang yang kami maksud, Bos"
Bos itu semakin melotot tajam, berdiri dan langsung menghempaskan satu tangan ke meja.
Brak!
"Apa-apaan maksud kalian hah! Apa kalian akan mempermainkan saya!" Pekik Bos tersebut, emosi.
"Bukan bos, bukan begitu maksud kami. Tetapi ini.. adalah salah satu cara supaya dia bisa melepaskan barang itu dengan harga yang anda inginkan."
Bos itu masih melotot karena ia belum mengerti maksud dari para anak buahnya tersebut "Bisa kalian katakan dengan jelas?"
"Baik, jadi begini. Saya mendapat informasi bahwa Bonanza sedang mengincar anak ini, lalu saya berpikir jika kita tangkap anak ini lalu kita tukar anak ini dengan harga barang sesuai yang Anda inginkan, pasti Bonanza tidak akan menolaknya lagi."
Prok prok prok
"Wow, luar biasa hahaha kalian memang benar-benar jenius, yasudah tunggu apa lagi, cepat kalian bawa anak ini, lalu segera bawa barang itu ke saya." Perintah Bos tersebut sembari tepuk tangan.
__ADS_1
"Baik, kami akan segera membawa barang itu ke Anda."
Posisi Alan masih belum sadarkan diri sehingga ia tidak mengetahui situasi saat ini bahwa dirinya hendak dijadikan alat tukar barang oleh sekelompok orang-orang itu.
Orang-orang tersebut adalah sekelompok pengedar barang haram yang ada di kawasan itu, namun aksinya masih belum diketahui oleh polisi hingga saat ini, karena markas mereka selalu berpindah-pindah tempat.
Mereka mendapatkan barang haram untuk di edarkan tersebut dari berbagai sumber, termasuk dari Bonanza. Tetapi Bonanza sendiri paling enggan jika pembeli barang haram tersebut adalah kelompok itu, karena mereka selalu menginginkan barang itu dengan harga yang sangat murah.
Namun, didalam kehidupan orang-orang seperti ini tidaklah sulit mendapatkan informasi, apalagi mereka semua adalah orang-orang picik yang selalu menghalalkan segala macam cara untuk melancarkan tujuan mereka. Maka tidak heran jika informasi tentang Bonanza yang tengah mengincar Alan maupun Mike mudah mereka dapatkan.
Tetapi Informasi hanyalah sekedar informasi, pastilah tidak secara detile mereka dapatkan informasi tersebut bahwa Bonanza tengah mengincar dua pemuda yang memiliki paras sama yaitu Alan dan Mike. Para kelompok ini mendapatkan foto Mike, lalu mereka mencari Mike tetapi yang mereka dapatkan adalah Alan.
Usai berbincang-bincang dengan Bos mereka, mereka langsung membawa Alan masuk ke dalam kendaraan hendak membawanya ke markas Bonanza pada waktu itu juga.
Disisi Jovan yang tengah bersembunyi dibalik rumput liar didepan rumah kosong yang posisinya sedikit jauh dari markas tersebut, dari saat Alan dibawa masuk hingga kini Alan di bawa keluar dari markas itu lagi, pandangan Jovan tidak lengah sedikitpun ke arah markas tersebut.
Melihat Alan hendak dibawa pergi lagi oleh mereka, Jovan pun langsung bergegas membuntuti mereka dari jarak yang cukup jauh.
Jovan menyadari bahwa tidak mungkin bagi dia jika dia langsung memperlihatkan diri ke orang-orang itu untuk menolong Alan, maka jalan yang terbaik untuk ia lakukan saat ini adalah melihat situasinya terlebih dahulu.
***
Disisi Mike
Mendengar suara seseorang bertepuk tangan, Perlahan-lahan Mike menoleh ke arah seseorang tersebut, setelah mengetahui orang itu adalah Bonanza, Mike pun segera melangkah mendekat ke dia.
"Hei, kemana kau membawa pergi adik saya!" Seru Mike secara langsung mengingat ia sedang emosi.
"Apa kau bilang? Membawa adikmu?" Bonanza terheran namun ia memasang ekspresi wajah yang tidak sedap di pandang.
"Tidak usah bertele-tele, cepat katakan dimana kau menyembunyikan adik saya," Mike melotot.
"Tutup mulut kau, sekali kau sentuh adik saya, maka tiada ampun untuk kau, dan tentang adik mu, bukanlah saya yang membunuhnya. Lagipula tangan saya ini masih suci dari perbuatan keji semacam itu, paham?" Ucap Mike sembari mengangkat kepalan tangan setinggi bahu.
"Cuih! Pers*tan dengan ucapan kau baj*ngan Lunik!"
"Hei, ingat satu hal, Seberapapun kotornya tangan ini nanti tidak saya pedulikan jika kau berani menyentuh Adik saya."
"Besar mulut nian kau sanak Lunik! Apa kau tidak sadar posisi kau saat ini, hah! Kau berani datang ke sini maka berarti kau siap dengan ini" Bonanza langsung menyerang Mike karena dia jua emosi atas kematian Adik-nya (Deril)
Walaupun perbedaan usia yang cukup jauh antara Mike dan Bonanza, tetapi Mike mampu untuk menahan berbagai serangan Bonanza.
Plak! Seet! Plak!
Blug! Seet! Blug!
Ketika posisi mereka tengah berkelahi, beberapa jumlah orang yang berada disana hanya menyaksikan. Namun mereka siap jika Bonanza sampai terjatuh maka mereka langsung terjun menyerang.
Tidak selang waktu lama, ketika Mike balas menyerang, Bonanza langsung terjatuh karena Mike meninju tepat di area perut dia. Sebab pada area tersebut ada luka bekas di tikam oleh Alan pada beberapa hari yang lalu, maka tidak heran jika luka tersebut belum sepenuhnya sembuh.
Blug!
"Arrggh!"
Braak!
"Bedebah kau Baj*ngan kecil. Hei kalian, cepat ringkus dan ikat dia." Perintah Bonanza dalam posisi tergeletak di lantai sembari memegangi area perut.
Alhasil mereka langsung menyerang Mike. Walau Mike lihai dalam bela diri tetapi logika tidak bisa dipungkiri bahwa tidak mudah baginya melawan mereka dalam jumlah kurang lebih 10 orang, hanya seorang diri.
__ADS_1
Mike dalam posisi yang sangat sulit, alhasil ia mendapatkan pukulan-pukulan orang-orang tersebut dari berbagai arah. Hingga akhirnya membuat ia menjadi lemas nan terjatuh akibat sudah tidak mampu lagi melawan mereka.
Sesuai yang Bonanza perintahkan tadi, setelah Mike terjatuh mereka langsung mengikat kedua tangan Mike diantara kanan dan kiri bak seseorang yang hendak di hukum cambuk.
Mereka semua tertawa-tertawa bak psikopat terutama Bonanza. Ia merasa puas setelah melihat orang yang sangat ia benci kini berada di hadapannya dalam posisi tak berdaya. Mike menunduk merasa pusing akibat pukulan bertubi-tubi yang orang-orang itu lakukan mengarah ke area kepala.
Setelah posisi Mike sudah terikat tali, perlahan-lahan Bonanza mendekat lalu menjambak rambut Mike hingga kepala Mike mendongak ke atas.
Seet!
Bonanza mencengkram kedua pipi Mike dengan satu tangan sangat kuat.
"Hai, baj*ngan kecil, inilah akibatnya jika kau berani berurusan dengan gua! Sampai kiamat pun kau tidak akan pernah lepas dari incaran gua, paham!" Bonanza berbicara didekat wajah Mike dengan suara lantang nan melotot.
Maksud Kalimat yang Bonanza ucapkan tersebut adalah mengingatkan Mike saat awal mula permusuhan diantara mereka berdua.
Mike tidak mampu menjawab lantaran kedua pipinya tengah di cengkram kuat, alhasil ia langsung menendang bagian bawah Bonanza dengan sangat kuat.
Brak!
"Arggh, bedebah kau Baj*ngan tengik! Berani-beraninya kau masih bertingkah, kep*rat!" Bonanza merintih kesakitan Alhasil ia langsung menganiaya Mike hingga Mike berdarah-darah lantaran ia tidak bisa berkutik.
Brak! Brak! Brak!
Blug! Blug! Blug!
Tetapi, Mike masih saja tersenyum walaupun keadaan ia saat ini sangat memprihatinkan.
"Apakah kau bangga atas apa yang kau lakukan saat ini? Kau siksa tubuh saya hingga ratusan kali, bahkan membunuh saya sekalipun, saya tidak pernah takut wahai manusia tak beradab."
"Manusia tak beradab kau bilang? Cuih! Haha hei Mike, itu berarti kau telah pasrah atas hidupmu bukan? Haha" Bonanza tertawa bangga.
"Saya bukanlah manusia pecundang yang takut akan kematian. Tetapi hanya manusia pecundang seperti kau lah yang melakukan perbuatan keji seperti ini."
"Tidak usah banyak bacot begitu kau Mike, memohonlah saja jika kau ingin gua lepaskan, tapi.. eiitts tidak semudah itu, apa kau tau bahwa melihat kau sekarang ini, sungguh membuat gua puas, haha"
Bonanza memperlakukan Mike bak boneka mainan yang bisa ia permainkan dengan sesuka hati. Sementara Mike sendiri tidak mempedulikan fisik ia yang kini tengah diambang kehancuran melainkan ia hanya memikirkan keselamatan sang adik.
'Biarpun kini aku terluka, biarkanlah aku terluka karena aku tidak ingin jika keluargaku, teman-temanku dan seluruh orang-orang yang aku sayangi terluka karena perbuatanku.' Suara hati Mike.
Mike menyadari bahwa terlibatnya Alan dalam situasi bahaya ini semua disebabkan olehnya. Apalagi sekarang ini, ia sangat menyadari kesalahan yang ia perbuat saat ia pergi meninggalkan Alan di rumah sakit lalu akhirnya berujung menjadi seperti ini.
Mike berharap saat tadi sang adik belum pulang kerumah mungkin saja dia sedang tersasar saat perjalanan pulang, dan ia pun berharap kini sang adik sudah berada dirumah.
***
Bonanza sangat beringas dalam penganiayaan yang ia lakukan kepada Mike bak psikopat yang tidak memiliki hati. Ia masih terus-menerus memukuli Mike lantaran Mike sama sekali tidak bisa melawannya. (Kedua tangan Mike diikat tali)
Setiap kali ia memukul, terdengar Mike merintih akibat pukulan yang ia berikan tersdbut, disitulah ia merasakan sensasi kepuasan itu.
"Bro, ada yang mau gua bicarakan, penting." Ucap Satria datang mendekat.
"Aih, menganggu keasikan gua aja sih loe! Penting apa?" Bonanza tidak begitu menghiraukan Satria.
"Hei, bro. Berhentilah dulu karena nantinya akan jauh lebih asik lagi jika kau sudah dengar berita ini." Ulang Satria.
"Aihh, banyak cakap nian kau, berita apa! Cepat katakan." Bonanza melirik sengit merasa keasikannya terganggu.
"Ada yang akan menawarkan sesuatu, untuk di tukarkan dengan barang itu." Lanjut Satria.
__ADS_1
"Menukar sesuatu dengan barang, Siapa mereka?"