
Keluh kesah Alan tidak pernah ia ungkapkan dengan siapapun. Ia gumamkan hanya di dalam batinnya saja. Tetapi Kali ini bukan atas masalah sepele yang tengah ia alami tersebut. Melainkan ia teringat akan segala hal yang ada didalam hidupnya tidak pernah lepas dari penderitaan dan kesusahan.
Alan masih terus melangkah sesuai kakinya melangkah. Meskipun ia tidak tahu ke arah mana ia harus melangkah, mengingat handphone ia tertukar dengan milik Jovan pastilah ia tidak bisa melihat lokasi dimana ia berada saat ini melalui GPS.
Ia menoleh kesana dan kemari, kebetulan ia berada di jalan yang saat ini benar-benar sepi sehingga tidak ada orang yang dapat ia tanya tentang lokasi tersebut. Namun, jikapun ada orang pastilah Alan tidak akan bertanya. Karena begitulah sifat dia.
Kurang lebih 500 meter dari tempat ia berdiri saat ini, adalah jalan keluar ke arah jalan raya. Tetapi Alan tidak begitu mengetahuinya lantaran jalan yang tengah ia pijak menuju kesana sedikit berkelok. Tetapi tidak bisa di pungkiri bahwa bisingnya suara kendaraan yang melintas terdengar dengan sangat jelas dari tempat ia berdiri saat ini. Alhasil, Alan bergegas menuju ke arah sana untuk mencari taksi.
Namun, kurang lebih baru 10 langkah ia melangkah, terdengar seru seseorang dari arah belakang tetapi masih dalam jarak yang cukup jauh.
"Hai, kamu. Tunggu!"
Meskipun Alan tidak mengetahui seru seseorang tersebut mengarah kepadanya ataupun bukan, tetapi cukup membuat ia menghentikan langkahnya lantaran ia jua penasaran. Perlahan-lahan ia menoleh ke arah belakang.
Setelah ia menoleh ke belakang, sungguh tak terduga ada sebuah mobil berwarna hitam baru saja berhenti tepat di belakang ia berdiri, sehingga suara seseorang yang memanggilnya tadi, tidak terlihat akibat tertutup badan mobil itu.
Dengan sekejap mata, seseorang yang mengemudikan mobil tersebut keluar bersama beberapa jumlah orang yang berada didalamnya. Alan dalam posisi yang tidak siap karena ia benar-benar tidak tahu bahwa beberapa jumlah orang itu bertujuan untuk meringkusnya.
"Apa yang Anda semua lakukan. Lepaskan saya!" Seru Alan ketika salah satu dari mereka langsung membekuk kedua tangan Alan ke arah belakang tanpa ada sebuah kalimat yang keluar dari mulut mereka.
Mereka semua memakai masker penutup wajah bak rombongan penculik yang tengah menculik seseorang. Namun kenyataannya memang benar adanya, mereka memang sedang ada misi untuk menculik Alan.
Misi mereka Semua berjalan dengan mulus karena mendapati Alan dalam posisi sendirian, dan jua sebelumnya mereka telah mengintai Alan saat posisi Alan sedang naik ojek online melintasi jalanan tersebut nyaris tiga kali putaran.
"Hei, lepaskan Saya!" Ulang Alan ketika mereka semua tidak menjawab sepatah katapun melainkan hanya mencengkram tangan Alan sangat kuat. Lalu salah satu diantara mereka ada yang memberikan kode supaya secepatnya membawa Alan masuk kedalam kendaraan.
***
Di sisi lain
Dari Arah belakang mobil itu berjarak kurang lebih 100 meter ada dua orang pemuda yang tengah menghentikan laju kendaraan bermotornya lantaran tiba-tiba motor yang mereka kendarai mati. Dan salah satu dari mereka adalah orang yang berteriak cukup lantang yang Alan dengar tadi. Mereka adalah Jovan dan temannya.
"Eh bro, memangnya Loe yakin, dia adalah orang yang hapenya tertukar sama loe tadi?" Tanya temannya tersebut sembari melihat ke arah Alan.
Sementara Jovan sendiri sedang mengotak-atik kendaraan bermotornya tersebut.
"Yakin dan tidak yakin juga si, tapi Gua ingat jaket yang di pakai sama dia tadi, tapi.. eh bentar-bentar itu dia sedang bersama rombongan siapa si? Kok adegannya seperti drama penculikan gitu, aneh." Jawab Jovan setelah ia selesai mengotak-atik motornya seraya melihat ke arah Alan juga.
"Tapi Bro, sepertinya itu bukan seperti drama penculikan deh. Lihatlah, Dia benar-benar di bekap begitu"
"Gawat, jangan bilang kalau dia memang benar-benar sedang akan di culik?" Jovan melotot.
'Tidak akan ku biarkan orang lain menghajarmu sebelum aku yang lebih dulu menghajar kamu, bocah belagu.' Gumam Jovan didalam hatinya seraya bergegas ke arah sana.
"Hey, Jov. Apa yang akan kamu lakukan, lihatlah situasinya dulu bro, kita kalah jumlah dari mereka dan kita juga tidak tahu mereka membawa senjata api atau tidak, hey jov. Tunggu!" Teriak temannya, tetapi dia tidak menyusul Jovan.
Sementara Jovan hanya mengangkat jari tengah ke arah temannya tersebut. Tanpa mendengarkan saran dari dia.
***
Disisi Alan
Alan terus mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman orang-orang itu. Tetapi apalah daya, tenaga mereka jauh lebih kuat, alhasil Alan tidak kuasa untuk melepaskan diri.
"Lepaskan saya! Apa tujuan anda membawa saya!"
Ketika Alan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman mereka yang tengah memaksa ia masuk kedalam kendaraan, tanpa ia sadari dan tanpa orang-orang itu jua sadari, handphone milik Jovan yang berada didalam saku jaketnya terjatuh.
__ADS_1
Prak!
Namun, mereka sedikit kesulitan untuk memaksa Alan masuk ke dalam kendaraan tersebut, lantaran Alan terus-menerus berusaha melawan mereka dengan cara menendang mereka dibagian area int*m
Blug!
"Arrgh! Bedebah kau!" Alhasil, mereka bersuara lantaran menahan sakit. Tidak hanya satu orang saja yang terkena tendangan Alan melainkan beberapa diantara mereka tidak luput terkena tendangannya juga.
Alan menyadari bahwa sulit baginya untuk bisa melawan mereka, yang mana ia memang minim pengetahuan tentang hal perkelahian. Tetapi ia adalah seorang lelaki, jauh lebih mengetahui betapa sakitnya jika bagian sensitif di tendang.
Ketika salah satu diantara mereka yang baru saja Alan tendang tengah merintih, terdengar suara seseorang berteriak cukup lantang yang tengah mendekat ke arah mereka.
"Hei, kalian! Berhenti! Lepaskan Sahabat saya." Teriak Jovan, diluar kendalinya ia menyebut Alan sebagai sahabatnya.
Sontak perhatian seluruh orang yang berjumlah 5 orang bertubuh besar tersebut mengarah ke Jovan. Begitupun dengan Alan, Perlahan-lahan ia pun menoleh ke arah dia.
'Sahabat? ka.. kamu..?' Batin Alan ketika mengetahui dia adalah Jovan.
Namun, disaat Alan tengah menoleh ke arah Jovan, kepala bagian belakang ia langsung di pukul oleh orang yang tengah mencengkram tangannya itu sangat kuat.
Brrak!
Sontak Alan langsung tidak sadarkan diri, alhasil mereka langsung memasukkannya kedalam kendaraan. Sementara Jovan yang mengetahui itu, semakin geram nan emosi.
"Woi Lepaskan dia, Bed*bah!" Pekik Jovan hendak melangkah mendekat ke arah mereka. Tetapi, baru dua langkah ia berpijak, salahsatu diantara mereka mengeluarkan senjata Api mengarahkannya langsung ke Jovan.
"Berhentilah disana anak muda, janganlah ikut campur. Jangan sia-sia kan nyawa kamu, paham?"
"Dasar pengecut!" Jovan bernyali besar, ia tetap melanjutkan langkahnya untuk menolong Alan. Namun, orang itu langsung melepaskan timah panas tersebut ke arah Jovan.
Duuoor!
Jovan langsung melutut sembari memegang legan tangan kirinya. Sementara orang-orang itu langsung bergegas pergi membawa Alan meninggalkan lokasi tersebut. Walaupun lokasi itu kini masih dalam keadaan sepi, namun mereka takut jika sampai ada warga yang mengetahui aksi mereka.
"Jov, hei Jov, Apakah loe tidak apa-apa? Suara apa itu tadi Jov, dan loe.. kenapa loe jongkok di sini?" Teman Jovan baru datang menemui Jovan disaat mengetahui orang-orang itu sudah pergi. Karena dia tidak memiliki nyali besar seperti Jovan sehingga ia kini baru berani mendekat ke lokasi itu.
Sementara Jovan masih diam saja. Satu tangannya memegangi tangan kiri sementara tangan kirinya mengepal sembari ia menghempaskannya ke paha.
Blak! Blak! Blak!
"Jov, kok loe diam saja si.. Loe tidak papa kan? Eh, itu ada handphone milik siapa di sana?" Temannya tersebut langsung bergegas mengambil handphonenya yang tergeletak di pinggir trotoar.
Usai dia mengambilnya, ia pun langsung memperlihatkannya ke Jovan. "Coba geh loe cek, mana tau ini hape loe," tetapi Jovan masih diam saja nan masih dalam posisi yang sama.
"Jov, Kok loe diam saja si, eh loh.. loh.. kok tangan loe berdarah begitu Jov, Loe kenapa sih Bro," temannya banyak sekali bertanya, tetapi Jovan sendiri masih terdiam lantaran tidak tahu apa sebabnya sehingga ia kini menjadi memikirkan keselamatan Alan.
"Berisik sekali kau."Jovan meliriknya tajam, merasa kesal temannya tersebut terus-menerus bertanya.
Tangan Jovan memang terluka akibat timah panas yang orang tadi lepaskan. Namun beruntung tembakannya meleset, alhasil jovan hanya tergores, namun cukup dalam sehingga membuatnya berdarah.
Jovan memang sebelumnya sangat membenci Alan akibat perkara kejadian yang telah berlalu ketika pertama kalinya ia berjumpa Alan di Mall, namun setelah kejadian sewaktu di sekolah bersama Alan kemarin, cukup membuat hatinya kini berubah bahwa suatu ikatan persahabatan sangatlah indah. Dan memiliki satu orang sahabat jauh lebih baik daripada memiliki ribuan teman.
Karena, Jovan menyadari bahwa ia samasekali tidak pernah memiliki seorang sahabat dari kecil.
***
Disisi Mike
__ADS_1
Mike masih terus melanjutkan perjalanannya untuk mencari sang Adik. Pikiran ia saat ini bercampur aduk hingga ketika ia hendak berbelok ke arah suatu jalan, nyaris menabrak mobil berwarna hitam yang melaju keluar dari arah jalan itu.
Ciiiiiit!
Kendaraan bermotor yang di kendarai oleh Mike nyaris terjatuh. Sementara pengemudi mobil hitam itu langsung membuka kacanya.
"Hei, Anak Muda. Jika kau sedang mabuk sebaiknya jangan berkendara. Tidurlah saja di rumah sambil minum susu" ejek pengemudi tersebut sembari tertawa bersama beberapa orang yang ada didalam mobil itu.
Mike diam saja, karena malas mengurusi orang yang tidak penting seperti itu yang pastinya akan lebih memakan waktu untuk mencari keberadaan adiknya. Tetapi tidak disangka bahwa sang adik berada didalam mobil itu bersama orang-orang tersebut.
Saat ini Mike memakai helm dan lengkap dengan masker penutup wajah, sehingga orang-orang itupun tidak mengetahui bahwa pemuda yang nyaris menabrak mobilnya tersebut adalah kembaran dari pemuda yang mereka culik.
Orang-orang itu masih saling tertawa mengejek Mike, walaupun Mike merasa geram, tetapi tidak ia hiraukan, alhasil ia pun langsung bergegas pergi.
***
Tepat pukul 23:55, Mike menghentikan sejenak perjalannya lantaran kedua handphone yang ia pegang yaitu milik Alan dan milik dia sendiri terus menerus berdering. Tetapi tidak saat ini saja, melainkan sudah dari beberapa menit yang lalu ketika ia tengah dalam perjalanan, kedua handphone tersebut terus-menerus berdering.
Yaitu panggilan dari Marvin dan panggilan dari Daniel selaku sahabat terbaik Marvin tengah membantu untuk menghubungi kedua putranya.
Bip!
"Ya, Pa." Mike menerima panggilan dari sang Ayah di hanphone milik ia sendiri.
"Dimana kamu Mike! Apakah kamu samasekali tidak memikirkan Papa mu ini, hah!" Ucap Marvin terdengar lantang. Lantaran ia merasa emosi akibat ia belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Sementara Mike semakin bimbang hendak menjawab apa, namun karena sang Ayah telah menelpon maka ia berpikir hendak sekalian menanyakan Alan.
"Anu Pa, apakah Alan.."
"Apakah apa hah! Apakah kamu akan mengajari adikmu untuk tidak bisa mengerti waktu seperti kamu hah! Kemana kamu membawa adikmu pergi, Mike. Sudah Papa ingatkan berulang kali, apapun yang kalian lakukan saat ini, maka lakukanlah lagi di hari esok. Tetapi, khusus malam ini adalah malam pesta ulang tahun kalian sendiri. Apakah kalian sama sekali tidak berpikir, hah!"
Marvin semakin emosi lantaran sebelumnya ia memang hidup hanya bersama Mike yang diketahui memiliki sifat keras kepala dan tidak bisa diatur.
Tetapi khusus malam ini banyak tamu orang-orang penting yang hadir. Maka ia pun akan malu jika pesta ulang tahun yang hendak diadakan menjadi berantakan akibat kedua putranya selaku yang berulang tahun tidak ada.
Mendengar kalimat dari sang Ayah, Mike merasa semakin bimbang lantaran kalimat tersebut yang berarti bahwa hingga saat ini sang Adik belum pulang ke rumah. Ia langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanpa menjawab sepatah katapun yang tengah sang ayah ucapkan tadi.
Selanjutnya ia pun langsung menonaktifkan kedua handphone tersebut supaya sang Ayah tidak terus-menerus menghubunginya. Ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan ini justru membuat sang Ayah semakin emosi, tetapi ia sudah tahu akan konsekuensinya nanti.
Pesta ulang tahun yang pertanda menambahnya usia ia sekaligus saudara kembarnya, untuk sementara kini tidak ia pedulikan. Yang menjadi pokok tujuan utama ia saat ini adalah menemukan sang Adik, bagaimanapun caranya, pikir Mike.
Selepas mematikan kedua handphone tersebut, ia terdiam sejenak, mendongak ke atas langit sembari menghela napas dalam-dalam.
'Tuhan, jika Engkau berkehendak. Tukarkanlah posisi saya untuk menjadi dirinya. Sungguh aku tidak ingin jika adikku mengalami penderitaan. Jika Engkau hendak memberinya luka, maka biarkanlah saya saja yang terluka.'
Mike menoleh ke kanan dan ke kiri, lantaran pada lokasi tersebut memang terlihat sangat sepi. Namun, dari sisi yang tidak jauh dari tempat ia berhenti, terlihat ada dua orang pemuda yang tengah jongkok di trotoar jalan. Alhasil ia segera bergegas ke sana untuk mencoba bertanya kepada mereka.
Ia menyadari bahwa mustahil jika Alan melintasi jalan itu lantaran arah yang terhubung ke jalan itu adalah jalan yang berbalik dari arah pulang. Namun, tidak ada yang mustahil di dunia ini jika ia tetap mau berusaha. Pikir Mike.
Jrug! Jrug! Jrug!
Ia menghentikan laju kendaraan bermotornya tidak begitu jauh dari kedua pemuda itu. Sejenak ia melepaskan helm dan membuka masker penutup wajahnya sebelum melangkah mendekat mereka.
Perlahan-lahan namun pasti, ia pun melangkah mendekat ke arah mereka.
"Permisi bang, apakah kalian ada yang melihat seseorang yang memiliki paras yang sama dengan saya?" Tanya Mike sengaja mengucapkan kalimat tersebut supaya memudahkannya dalam bertanya.
__ADS_1
Perlahan-lahan kedua pemuda itu melihat ke arah Mike, sontak salah satu dari mereka langsung berdiri setelah mengetahui seseorang yang datang itu Mike sembari ia masih memegang lengan kirinya. Yaitu Jovan.
"Puji Tuhan, kamu.."