
Tentang Alan
Karena dahulu pernah ada kejadian pemuda-pemudi yang ketahuan tengah berbuat mesum di desa mereka, kemudian mereka langsung dihakimi dan ditel*njangi keduanya serta langsung diarak ke seluruh wilayah kampung.
Sebagai pelajaran akibat perbuatan yang tercela dan sebagai contoh kepada semua warga jika ada yang berani berbuat demikian di desa mereka maka akan mengalami hal yang sama seperti yang mereka berdua alami tanpa pandang bulu, baik itu anaknya orang kaya maupun miskin.
Para warga kampung tersebut bertindak demikian Semata-mata hanya untuk melestarikan lingkungan dan mensejahterakan rakyat supaya dapat memiliki moral yang baik. Dan menjadi sebuah Desa yang bersih dari segala tindakan kriminal dan asusila.
Dan ketika itu kebetulan mereka temui pemuda-pemudi yang tengah berbuat mesum itu bukanlah putra maupun putri dari warga desa itu sendiri. Melainkan dari kampung lain yang berani berbuat mesum di daerah mereka. Alhasil para pemuda-pemudi itu dibuat jera hingga sedemikian rupa karena berani berbuat demikian didesa mereka.
Namun di balik itu semua kenyataan yang ada tanpa mereka semua ketahui ada tindakan penindasan, penganiayaan dan kekejaman yang dilakukan oleh warga pendatang yang menetap di daerah mereka cukup lama yaitu pak Ferdi, telah menganiaya anaknya sendiri (Alan) sangat kejam bahkan terbilang tidak manusiawi, karena tidak seharusnya sebagai seorang Ayah melakukan tindakan kekerasan seperti itu.
Dan tindakan tersebut telah berlangsung cukup lama, hingga 17 tahun lamanya. Karena Alan sendiri memiliki kepribadian tertutup, pendiam dan sukar bergaul menjadikannya tidak pernah buka mulut untuk mengatakan kebenaran tentang penganiayaan yang ia alami selama hidupnya selain kepada teman terdekatnya. (Verza)
Warga sebelah rumah mereka memang semua mengetahui, namun tidak jelas terlihat secara langsung penganiayaan yang di lakukan oleh Ferdi kepada Alan. Karena Ferdi sering melakukannya di dalam rumah, dan di belakang rumah. Namun penganiayaan yang Ferdi lakukan dibelakang rumah jarang sekali ia lakukan, karena ia pun tidak ingin aksinya diketahui oleh para tetangga.
Tak bisa di pungkiri, dari suara teriakan Alan ketika sedang ditendang maupun dipukul oleh Ferdi terdengar oleh para tetangga sebelah rumah. Akan tetapi tiada suara jeritan maupun tangisan dari Alan, hanya terdengar suara "Aagghh" itupun sangat singkat saat Alan benar-benar merasakan sakit ketika perut ia ditendang dengan lutut oleh Ferdi, membuat warga sebelah rumah tiada menaruh curiga yang lebih kepada keluarga itu. (Ferdi)
Selama ini ika (ibu tiri) pun demikian, meskipun dia tidak menyiksa Alan dengan kekerasan fisik, tetapi dia melakukan penyiksaan terhadap Alan secara batin. Yaitu membedakan perhatian serta kasih sayangnya terhadap Alan dengan adiknya (Yadi) Dari segalanya, seperti membelikan pakaian, peralatan sekolah, aksesoris, membagi makanan dan lain sebagainya.
Bahkan Alan jarang sekali diberi uang saku ketika berangkat ke Sekolah. Ika sering sengaja memberikan uang jajan kepada Yadi ketika hendak berangkat ke sekolah, saat sedang ada Alan yang sama-sama hendak berangkat ke sekolah. Ika sengaja melakukan hal tersebut supaya Alan merasa iri.
***
Yadi pernah meminta dibelikan hape dengan merek keluaran terbaru, Ika menuruti keinginannya walaupun saat itu kondisi keuangan benar-benar sedang minim. Namun Ika tetap berusaha mewujudkan keinginan Yadi tersebut dengan berbagai macam cara (Meminjam uang) Hingga akhirnya menjadikan Ika memiliki banyak hutang.
__ADS_1
Sedangkan Alan tidak pernah meminta apapun baik itu hanya sekedar barang maupun apapun. Namun Ika pun samasekali tidak peka terhadapnya, justru membuatnya bebas akan sifat Alan yang pendiam dan penurut itu. Ya, bebas dalam artian memerintah Alan untuk melakukan segala pekerjaan rumah yang semestinya pekerjaan tersebut adalah tanggung jawabnya sebagai ibu rumahtangga. Seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju, mencari kayu bakar dan lain sebagainya.
Alan sekalipun tidak pernah menolak yang ibunya perintahkan, Karena didalam benaknya Ia hanya ingin di sayang oleh kedua orang tuanya. Dan di perhatikan seperti yang mereka lakukan kepada adiknya (Yadi) Bentuk perintah dari segala macam pekerjaan yang orangtuanya bebankan padanya, Alan anggap sebagai bentuk kasih sayang mereka, karena mereka membutuhkannya. Pikir Alan.
Tanpa Alan ketahui, pada sesungguhnya mereka hanya memanfaatkannya. Karena Alan terlihat sangat polos dan tidak pernah memberontak dari segala macam pekerjaan yang mereka perintahkan. Jikapun Alan menjawab dengan kalimat 'Nanti akan saya kerjakan Ayah, Ibu'
Ferdi langsung menganiayanya, karena apapun yang Ferdi perintahkan harus secepatnya Alan lakukan tidak peduli dengan keadaan Alan pada saat itu juga. Semua itu membuat hidup Alan menjadi tertekan. Karena apapun serba tetap salah meskipun ia melakukan dengan baik dan benar.
Meskipun hampir seharian waktu ia terbuang untuk mengerjakan segala pekerjaan yang orang tuanya perintahkan. Namun Alan memiliki inisiatif untuk tetap bisa belajar. Yaitu ketika ia sedang memasak ataupun sedang mengerjakan pekerjaan lain, ia selalu membawa buku, dan buku tersebut ia baca disela-sela waktu saat ia sedang mengerjakan pekerjaan tersebut.
Hasil dari susah payah ia membagi waktu pekerjaan rumah dengan belajar tidaklah sia-sia. Karena hasilnya sangat nyata yaitu ia kini menjadi murid tercerdas dan sangat pintar di sekolahnya.
***
Next
Beberapa menit kemudian,pak Toni telah sampai di kediamannya, ia duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Riska (istri Pak Toni) datang menghampiri pak Toni ke kursi sembari membawa secangkir teh.
"Ini ayah di minum dulu tehnya"
"Walah, kembung perut ayah, Ma. Tadi di rumah pak RT sudah minum secangkir teh"
"Yasudah Mama yang minum deh.. bagaimana tadi keperluannya Ayah, sudah selesai kah dengan pak RT?"
"Sudah Ma, tapi ada sesuatu yang Ayah dengar ketika Ayah sedang di rumah pak RT, kabar dari laporan dari para warga."
__ADS_1
"Laporan apa Ayah? kok ayah terlihat khawatir seperti itu?" Tanya Riska melihat ekspresi wajah pak Toni nampak cemas.
Ketika Riska dan Toni sedang berbincang-bincang, Naldo sedang berjalan menuju ke dapur untuk mengambil jus di kulkas, ia berhenti sejenak untuk menguping yang sedang orangtuanya bicarakan.
"Itu Ma, warga melaporkan ke pak RT dan mengatakan bahwa selama ini Ferdi telah menganiaya anaknya yang bernama Alan, Ma. Ayah melihat fotonya yang di tujukan pak Moza memang Alan terlihat lebam seperti habis di pukuli"
"Astaga Tuhan.. benarkah itu Ayah? Ferdi tega melakukan hal seperti itu?" Ika melotot terkejut karena tidak habis kira.
"Ayah juga masih belum begitu yakin, besok pagi pak RT akan kerumah beliau (Ferdi) dan akan menanyakannya langsung pada pak Ferdi serta kepada para saksi tetangga sebelah rumahnya"
"Ya ampun.. jika memang benar, Mama tidak habis pikir Ferdi Setega itu, oh iya ayah, Alan kan anak yang pendiam, apakah dia sendiri yang mengatakannya pada warga kalau dia dianiaya oleh ayahnya?"
"Satu hal itu Ma yang masih Ayah pertanyakan juga, tetapi laporan yang tadi pak Moza sampaikan, Alan kini Hilang ingatanya Ma,"
"Hilang ingatan? memang apa yang terjadi padanya ayah?"
"Papa juga tidak tahu, tentang ungkapan penganiayaan itu di sampaikan oleh anaknya pak Agus, itu lo.. teman terdekat Alan.." Pak Toni lupa akan namanya
"Si Verza..?" Jawab Riska.
"Sepertinya Iya Ma, Ayah kurang paham nama dia, besok pagi Ayah juga mau ikut pak RT ke rumah Ferdi, Ayah penasaran"
"Iya betul Pa, apapun itu Ferdi kan tinggal di rumah kita yang berada di sana cukup lama, dan dia juga bekerja sama kita sudah lama, jadi kita musti harus tau tentang rumor dari laporan para warga itu."
Mendengar pembicaraan kedua orang tuanya tersebut, Naldo terdiam karena ia sedang terpikir akan sesuatu.
__ADS_1
'Alan kini Hilang ingatan? apakah itu setelah kutemukan dia mengapung di sungai kemarin? dan apakah benar selama ini dia dianiaya orang tuanya? ataukah.. luka lebam yang dimaksud itu gara-gara kemarin aku yang memukulinya? oh tidak. Apa jangan-jangan dia tidak dianiaya oleh orang tuanya melainkan setelah ku bully dia kemarin, lalu dia bunuh diri dan kini hilang ingatan?' Batin Naldo.