Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 166


__ADS_3

Begitupun dengan Siswi itu, ia sangat terkejut kala sudah melihat paras pemuda yang sedang melerainya.


"Alan .." Lirih siswi itu tampak sangat bahagia, yang tak lain dialah Jessi.


"Ka .. kamu" Mike tergagu tampak seperti patung sebabnya ia benar-benar dalam suasana terkejut. Lantas tiba-tiba Jessi melangkah mendekat serta langsung memeluk Mike dengan sangat erat.


"Alan, maafkan aku Lan, maafkan Aku. Aku .. aku sungguh sangat merindukanmu Alan, aku bahagia bisa berjumpa denganmu lagi, Alan." Ucapnya mengulangi kalimat yang sama semasih didalam pelukan Mike.


Adegan yang sedang berlangsung ini bagaikan sebuah drama yang di putar lambat. Maka disisi Ananta sangatlah terkejut serta terpukul melihat paras pemuda yang ia sayangi berada didalam pelukan gadis lain.


Jessi masih terus mengutarakan kata melalui lisan selama masih didalam pelukan, tiada terpikirkan olehnya akan hal lain, selain bahagia dapat berjumpa dengan pemuda yang ia sayangi tersebut.


Sementara Mike jua terbuai akan suatu rasa yang pernah ia rasakan beberapa waktu yang lalu saat dirinya tertukar posisi dengan Alan, yakni mendapat pelukan dari gadis yang sama. (Jessi)


"Mike .." Lirih Ananta semasih adengan tersebut berlangsung. Alhasil membuat lamunan Mike terpecah Lantas ia melepaskan Jessi dari pelukannya.


Seet!


"Alan!" Teriak Jessi.


Sementara Mike masih menoleh Ananta, dilihatnya tampak berkaca-kaca tak ayal membuat Ananta bergegas pergi dari sana.


"Tata, tunggu!" Seru Mike, tangan kanan meraih tangan Ananta sementara tangan kiri dia diraih oleh Jessi. "Tunggu Alan, Aku mohon"


Lantas Ananta langsung melepaskan paksa tangan Mike kemudian dia berkata "Oh, jadi ini jawaban dari semuanya ya .. loe benar-benar luar biasa dalam bersandiwara wahai Tuan muda! Silahkan lanjutkan dan terimakasih!" Pekiknya melotot tajam tampak mata memerah akibat menahan air mata.


"Hei, Ta! Apa yang loe pikirkan Ta! Tunggu, Tata!" Seru Mike namun tiba-tiba saja tangan dia di tarik kuat oleh Jessi hingga tiada terpikirkan olehnya bahwa Jessi berani melakukan hal yang tidak baik disaksikan banyak siswa dan siswi disana, yakni dia terus memeluk tubuh Mike.


Seep!


"Alan, aku mohon. Maafkan kesalahanku Lan, aku salah, maafkan aku, Alan" Ucapnya semasih didalam pelukan Mike.


Lantas Mike perlahan menghela napas semasih Gadis itu memeluk tubuhnya. Namun, suatu pemikiran tiba-tiba muncul didalam benaknya.

__ADS_1


'Kamu .. Adalah seorang gadis yang nyaris membuat nyawa adikku melayang beberapa waktu yang lalu, maka tidak akan pernah ku biarkan hal buruk terjadi lagi dengan adikku oleh tipu daya wanita iblis macam kamu. Mari, kita Game Honey.' Batinnya.


Alhasil, ia langsung memiliki suatu rencana sedemikian rupa terhadap gadis itu, maka ia pun membalas pelukan itu dengan erat serta mengusap lembut rambut dia.


"Sudah, tidak apa. Masalalu biarlah berlalu, aku sudah memaafkanmu, sedari dulu." Jawab Mike, Lantas terasa berbungalah hati Jessi kala terdengar kalimat itu.


Dilepaskanlah pelukannya lantas memandang kedua mata Mike tak ayal tersenyumlah ia kepadanya.


"Alan .. sedang tidak bermimpikah aku saat ini?" Ucapnya.


"Tunggu sebentar," jawab Mike lantas menoleh ke arah siswa dan siswi yang masih menyaksikan mereka disana.


"Enak ya kek lagi nonton drama gratis, Kamvret kalian orang, Bubar woi bubar!" Serunya terhadap mereka, lantas merekapun akhirnya pergi dari sana.


***


Jessi tidak mengingat bahwa Alan memiliki saudara kembar serta tidak menyadari nama pengenal dibalik nama pengenal di baju Mike.


Ia menyelesaikan pendidikan sekolah menengah Atas di sekolahan ini tanpa suatu kesengajaan. Melainkan memang dia beserta keluarganya sudah pindah ke ibu kota sehabis insiden Fitnah yang dia lakukan kepada Alan beberapa waktu yang lalu semasih di kampung. (Lihat bab 86, 87 dan 88)


Dia sekolah disini berbeda ruang kelas dari Ananta, Alan dan Mike. (Dia Satu kelas dengan almarhum Andika) Maka tidak heran bila hari pertama ia masuk sekolah disini, Alan dan Mike tidak ada yang mengetahuinya hingga berujung terjadi perkara seperti ini.


***


Jessi sangat bahagia bisa menatap mata pemuda yang sangat ia sayangi dalam jarak dekat, serta memeluknya erat tanpa ia ketahui bahwa pemuda yang ia peluk ini bukanlah pemuda yang ia sayangi, melainkan kembarannya.


Mike jua sangat pandai memainkan drama. Tapi Sesunguhnya dia sangat geram teringat perkara kejadian kala adiknya hendak di bakar masa oleh para warga yang disebabkan oleh gadis ini.


Namun .. demi melindungi Adiknya dari tipu daya gadis ini lagi, maka dia memilih untuk melakukan drama ini semampu dia. Bila esok ataupun nanti Jessi mengetahui bahwa dirinya bukanlah Alan, dia tidak ambil pusing untuk kelanjutan setelahnya.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Mike penuh kelembutan.


"Belum, aku sangat lapar nih Lan." Jawab Jessi dalam tutur bahasa sangat manja.

__ADS_1


"Baiklah, jam masuk sekolah gua rasa .. eh aku rasa maksudnya masih cukup lama, mari kita keluar sekolah didekat sini ada kedai sushi yang rasanya sangat lezat." Jawab Mike sempat kebablasan menggunakan bahasa Non-formal.


"Waow benarkah?" Jessi sangat gembira hingga tidak memperhatikan detail perbedaan tutur bahasa, yang biasa Alan gunakan, yaitu lembut, pelan, dan sopan. (Kebalikan dari Mike)


"Hu um, kuy kita kesana sekarang, aku juga sudah sangat lapar, nih." Pungkas Mike meraih tangan Jessi lantas ia bergegas membawanya keluar dari lingkungan sekolah.


***


Disisi Alan


Pada waktu ini adalah masih didetik yang sama saat perkara di perpustakaan sedang berlangsung. Alan dan Jovan sedang melangkah pelan menuju perpustakaan.


Namun, ekspresi Alan benar-benar penuh suatu pemikiran yang tidak bisa di ketahui oleh Jovan meski Jovan sedikitnya sudah mulai mengerti tentang sifat Alan yang misterius ini.


"Oeh Bro, loe kenapa si, dari tadi kayak lagi mikirin apaaaaaa gitu. Sumpah kayak pejabat negara aja ekspresi loe," Celetuk Jovan semasih merangkul Alan. Lantas Alan melepaskan tangan Jovan dari pundaknya.


Seet!


"Tidak ada apa-apa. Bila kamu tidak berminat untuk membaca di perpustakaan silahkan kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Jov" Jawab Alan.


"Yaelah, ceritanya gua lagi diusir nih?" Jawabnya penuh canda.


"Cih," Alan hanya meliriknya saja.


"Wakakak, oke oke gua kagak bakalan ngoceh lagi dah. Sip nih mulut udah gua lakban Nih lihatlah, kreeeek. Kedengeran gak gua lagi buka lakban barusan?" Celetuknya bertingkah tidak jelas yang membuat Alan tersenyum melihatnya.


"Cih, konyol!"


"Huahahah Nah gitu dong, nyengir .. kagak di tekuk-tekuk mulu tu Muka dari tadi, sepet gua liatnya sumpah." Celetuknya lagi, lantas Alan kembali melirik asam kepadanya.


"Hap! Ini mulut udah ku tutup kok, tenang saja hap! Udah ku tutup ini mulut gua." Celetuknya lagi sembari mempratikkan kedua tangan menutup mulutnya sendiri tampak konyol.


Akhirnya Alan tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat Jovan benar-benar konyol sama seperti Verza. Lantas Alan bergegas jalan kembali ke arah perpustakaan.

__ADS_1


Namun, disaat mereka sudah sampai tepat didepan pintu perpustakaan, tiba-tiba saja Alan tertabrak seorang gadis yang sedang berlari keluar dari ruang perpustakaan tersebut.


Braak!


__ADS_2