Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 23


__ADS_3

#Disisi Alan


Kini, Alan sudah dibawa oleh ayah kandung asli-nya yang bernama Marvin pulang ke rumah. Selepas tiba, Marvin memberitahukan segala hal yang ada di dalam hidupnya secara perlahan termasuk segala isi yang berada di dalam rumah itu.


Begitu Alan berpijak memasuki rumah, dia tertegun melihat seisi rumah bagaikan di dalam sebuah istana yang megah baginya, terdapat barang-barang antik dan barang berharga lainnya beserta seluruh hiasan yang ada di dalam rumah tersebut.


Tetapi, jauh didalam lubuk hatinya merasa sangat heran tak henti berkutat, kenapa rumah sebesar itu sangat sepi penghuni? hanya ada beberapa pembantu rumah tangga yang bekerja, tidak ada anggota keluarga yang lain seperti ibu maupun saudara?


'Apakah benar aku hidup didalam rumah sebesar ini? kenapa semuanya sangat asing bagiku dan kenapa hatiku merasa semua ini bukan milikku? Oh Tuhan ... siapa sebenarnya aku, dan ... siapa lelaki ini? apa dia benar ayahku?' Batinnya seraya menoleh sejenak ke arah sang Ayah.


Meski demikian, dia bukanlah tipikal pemuda yang kepo' ataupun cerewet untuk menanyakan hal-hal itu, lantaran sejatinya dia pendiam terlebih lagi kini tidak mengenali siapa dirinya.


Lantas Marvin menolehnya kemudian memanggilnya, "Nak, kenapa diam saja dan masih berdiri di sana? kemarilah duduk bersama Papa" Sedikit melambaikan tangannya.


Alan mengangguk kecil beranjak mendekat lantas duduk di kurai sofa tak jauh dari Marvin.


"Apa kamu bertanya-tanya dimana Mama kamu, Nak?" Tanya Marvin.


Alan mengangguk pelan.


"Baiklah, Papa akan mengatakannya, Mama-mu sudah tiada sejak saat kamu dilahirkan Nak. Sekarang Papa menjadi Mama sekaligus Papa kamu dari 17 tahun yang lalu, maafkan Papa ya Mike, selama ini kurang memperhatikanmu, Papa akui Papa salah, tetapi untuk sekarang ini Papa akan berusaha menjadi Papa yang terbaik untukmu"


Alan terdiam seribu bahasa lantaran apapun kalimat yang Marvin ucapkan dia samasekali tidak paham.


"Mulai sekarang Papa akan berusaha selalu ada untukmu, Papa pastikan mulai saat ini Papa akan lebih sering pulang ke rumah ya Mike" Ucap Marvin penuh kesungguhan seraya tangan mengulur-mengusap kepala Alan.


Alan lagi-lagi hanya sebatas mengangguk dan senyum tipis meskipun Marvin sudah banyak menjelaskan, tentunya dia tetap tidak paham.


__


Meski sudah cukup panjang lebar Marvin menjelaskannya, tetapi dia tetap tidak mengatakan bahwa Mike memiliki saudara kembar yang hilang ketika dilahirkan. Jangankan pada Alan yang kini menjadi Mike dan sedang hilang ingatan, Bahkan kepada Mike yang asli pun Marvin samasekali tidak pernah mengatakannya sejak dulu.


Kenapa demikian?


Lantaran selama yang Marvin ketahui, Mike sangat menginginkan memiliki saudara, Kususnya saudara laki-laki, bagi Mike bila memiliki saudara laki-laki pastilah asik untuk di ajak berkelahi (Berkelahi canda'an)


Marvin terpikir jika Mike mengetahui sebenarnya dia memiliki saudara, terlebih lagi saudara kembar (Laki-laki) Marvin takut bila sampai kehilangan Mike juga.


Kenapa demikian?


Lantaran Mike memiliki jiwa bebas dan pantang menyerah, serta solidaritas pertemannya sangat kuat, yang Marvin takutkan bila Mike mengetahui memiliki saudara kembar yang hilang, Mike bakal pergi mencari saudaranya yang hilang itu kemanapun sampai bisa dia temukan. Ibarat/seumpama sampai ke ujung dunia pun, Mike bakal terus mencarinya.


Ya, Itulah salah satu alasan dibalik mengapa Marvin tidak pernah bercerita tentang saudara kembar Mike yang hilang, Lantaran jika sampai Mike benar-benar pergi mencari saudaranya sampai merambah ke luar propinsi, lalu dia tak kunjung berhasil menemukan saudaranya yang hilang itu hingga berlarut-larut berakhir si Mike tak pulang,


Lantas siapakah dan bagaimanakah bakal penerus perusahaan Lawrence yang didirikan oleh mendiang ayah-nya itu? Begitulah pikir Marvin selama ini.


Perusahaan, Ya! masa depan Perusahaan-lah yang selalu Marvin pikirkan, alih-alih untuk kebaikan masa depan anak-nya, sampai-sampai dia lepas memikirkan kasih sayang sebagai anggota keluarga, tak memikirkan perasaan anak-nya yang selama ini kesepian, kurang kasih sayang dan perhatian darinya.


__


#Next Story


Selepas Alan berkata tanpa melalui kata, Marvin tersenyum, terasa ganjil tapi tak terpikir dan menduga bahwa seorang pemuda yang duduk tak jauh darinya ini adalah anak kembarnya yang hilang 17 tahun lalu.


"Ke-kenapa anda senyum ya?" tanya Alan singkat sedikit terbata.


"Tidak kenapa-kenapa Mike, Papa berbicara banyak dan panjang lebar, tapi papa lupa kamu gak bisa mengingatnya samasekali. hmmm ... baiklah, tidak apa-apa, Papa mengerti dan juga ... panggilah Papa dengan sebutan Papa ya Mike, jangan menyebut Papa dengan sebutan itu (Anda)" ucap Marvin merasa tidak nyaman Alan menyebutnya dengan kalimat tersebut. (Anda)


Akhirnya Alan senyum kemudian berkata, "Baiklah Ayah ... saya mengerti." Belum terbiasa bagi Alan hendak menggunakan kalimat permintaan Marvin yang baru saja dia ucapkan, (Papa) melainkan dia memakai kalimat yang selama ini dia gunakan dalam menyebut orangtua-nya. (Ayah)


"Yasudah baiklah, sebutan Ayah juga tidak apa-apa Nak, itu sama saja artinya hehe, yasudah kamu segera istirahat ya, supaya badanmu cepat pulih dan bisa secepatnya kembali ke sekolah" Marvin mengusap lagi rambut sang Anak.


"Iya, baiklah ayah" jawab Alan singkat dan mengangguk.

__ADS_1


Selepas perbincangan usai, Alan hendak masuk ke dalam kamar diantarkan oleh Bu Tiah, lantaran selepas berbincang tadi Marvin langsung menerima panggilan telepon, sehingga Bu Tiah-lah yang mengantarkannya sesuai perintah Marvin.


"Mari, Kak."


__


Begitu tiba didepan pintu kamar milik Mike itu, Bu Tiah lekas turun ke lantai bawah untuk melanjutkan aktifitasnya. Sementara Alan beranjak meraih gagang pintu kamar itu.


Cklek!


Lantas begitu pintu terbuka sempurna, membuatnya tercengang melihat apa yang ada didalam sana.


'Ya ampun Tuhan'


Pemandangan super Gila Tampak didepan matanya, begitu berpijak semakin kedalam ...


"Hm ... hak-Hakcim, Uhuk, uhuk," Alan langsung bersin.


Lantaran terdapat banyak Putung rokok serta tisu bekas pakai berada di asbak tapi abu-nya berserakan, buku-buku di meja belajar sangat berantakan tak beraturan, Seprei dan Bad Cover acak-acakan, Serta baju-baju milik Mike yang kotor berserakan di atas kasur, di kursi belajar dan diberbagai cantolan baju belum di cuci hingga berminggu-minggu.


'Astaga ... apa aku sejorok ini? penuh heran dan bertanya-tanya lantaran meski dia tidak mengingat apapun, dia merasa tidak mungkin kamar pribadinya seberantakan ini.


Meski badan masih teramat sakit, dia tidak bisa beristirahat didalam ruang seberantakan itu, maka lekas ia membereskan satu-persatu barang yang berantakan itu, hingga semua tertata rapih dan bersih serta menjadikannya harum semerbak didalam ruang kamar tersebut lantaran dia semprot menggunakan pengharum ruangan yang tersedia di sana.


Selepas usai, lekas duduk di kursi meja belajar sembari membuka segala isi buku-buku sekolah milik Mike.


Mata melotot, begitu mendapati salahsatu buku milik Mike itu, 'Astaga, kenapa aku sebodoh ini, apa aku benar-benar bodoh sampai materi so'al begini saja aku tak bisa?' Gumam didalam batinnya begitu melihat nilai Mike sangat buruk.


Lantas dia melihat ada sebuah lembaran materi soal, sebagian memang sudah ada yang di kerjakan, tetapi Alan melihatnya diisi dengan jawaban yang ngawur.


Menghela napas perlahan "Huff, Mike, Mike orang seperti apa sebenarnya kamu? Apakah aku seperti ini?"


Tak peduli badan masih sakit, dia gemas melihat itu, maka lekas ia kerjakan materi soal tersebut sampai selesai.


__


#Next


Pagi harinya.


Dia sudah terjaga sebelum mata hari terbit, lantaran memang sudah menjadi kebiasaan hidup aslinya bangun pagi.


Beranjak dari tempat tidurnya, hal utama yang dilakukannya adalah membersihkan diri di kamar mandi, setelah itu turun ke lantai bawah menuju ke arah dapur.


"Loh, kakak Mike sudah bangun, apa kakak sudah baikan?" tanya Bu Tiah sembari mengisi air panas kedalam tremos.


Alan hanya mengangguk.


"Kakak Mike mau ngapain dan cari apa kak?" tanya Bu Tiah, begitu melihat Alan tiba-tiba mengeluarkan berbagai macam bahan masakan dari kulkas.


"Masak." jawab Alan singkat.


"Hah, Ma-masak?" Bu Tiah melongo.


Teramat heran, lantaran Mike selama ini tidak pernah seperti itu, jangankan masak, merambah dapur saja dia nyaris jarang!


Bu Tiah sangat paham sekali dengan Mike yang mana Mike tidak suka dengan sayuran, apalagi dunia masak-memasak? Dunia bisa terbalik mungkin!


Bu Tiah beranjak mendekat hendak membantunya tetapi Alan lekas berkata, "Sudah tidak papa Bu, Ibu lanjutkan saja pekerjaan lainnya ya" Mata Fokus terhadap bahan masakan yang dia potong di atas talenan.


Klotak, klotak, Klotak.


"Am--Baiklah, Kak" Bu Tiah tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat Alan sudah memulai Aksinya. (Memasak) lekas Bu Tiah hendak pergi untuk melanjutkan pekerjaan yang lain sesuai Alan katakan tadi.

__ADS_1


"Bu, Tunggu" Panggil Alan.


"Iya kak, ada apa?" Bu Tiah menghentikan langkahnya, menoleh.


"Apa makanan kesukaan lelaki itu?" tanya Alan singkat.


"Hah? lelaki yang mana maksudnya kak?" Bu Tiah bingung.


"Em-maksud saya Ayah" Jelas Alan.


"Oh Tuan toh, Kalo Tuan biasanya suka dengan ayam masak mentega, Udang goreng tepung dan sapo tahu, Kak" Jelas Bu Tiah.


"Oke, baiklah. Terima kasih" singkat Alan lekas beraksi.


Alan sangat pandai memasak lantaran dia selalu di suruh memasak oleh orangtua angkatnya sedari kecil hingga besar. Tak heran jika kini dia menjadi pemuda yang sangat pandai dalam dunia masak-memasak.


Terlebih lagi Alan sangat gemar membaca buku apa saja, termasuk bacaan seputar resep masakan. Walaupun selama hidupnya tinggal di kampung, pengetahuan dia tentang hal ini (masak) cukup lihai.


Usai berbincang, Bu Tiah kembali melangkah pergi untuk melanjutkan pekerjaan lainnya didalam batinnya tak henti berkutat,


'Kok kakak Mike bisa berubah drastis begitu ya, apakah ... orang yang lupa ingatan bisa merubah segalanya? dari kanan jadi kiri, dari depan jadi ke belakang dan dari hitam jadi putih? wah ... bener-bener ajaib versi nyata!'


__


Sementara disisi Marvin dia beraktifitas seperti hari-hari biasanya yakni siap untuk berangkat ke kantor pada pagi hari.


Letak kamarnya di lantai bawah, sementara kamar Mike berada di lantai atas. Selepas berbenah diri menengok jam kini menempati pukul 06:20 am.


Beranjak keluar kamar, dilanjutkannya menuju ke kamar Mike tanpa melihat ke arah dapur. Begitu sampai dia tidak tengok pintu kamarnya sudah sedikit terbuka. Maka dia langsung mengetuknya dahulu hingga tiga kali.


Tok, Tok, Tok,


"Mike, Nak ... apa kamu sudah bangun?" Panggilnya, tidak ada jawaban apapun dari dalam.


'Lah, kok pintunya udah gak dikunci, sudah terbuka sedikit pula,' saat menyadari pintu tak sedikit terbuka.


Penasaran meski selama ini diketahui Mike paling "Anti" bila kamarnya di masuki, Marvin tetap masuk. Begitu pintu terbuka dengan lebarnya, serta satu kaki berpijak kedalam sana maka semerbak harum dari dalam kamar Mike merasuk dalam indra penciumnya.


"Wah ..." Terkejut, lantaran selama dia menerobos masuk ke dalam kamar tanpa pamit Mike dahulu, dia tak pernah mendapati aroma semerbak wangi seperti ini.


Tertegun, begitu mendapati keadaan kamar Mike yang kini terlihat sangat rapih dan bersih, dan lagi-lagi tidak pernah serapih itu sebelumnya, "Wah, tumben sekali kamar ini rapih begini"


"tapi ... dimana Mike, apa dia sedang di kamar mandi?" Duga-nya.


Menoleh ke kanan dan ke kiri tidak mendapati keberadaanya, bahkan pintu yang menuju Balkon juga masih tertutup rapat. Lantas menoleh ke kamar mandi, pintunya terbuka bertanda Mike tidak sedang berada di dalam kamar mandi. Maka dia langsung keluar lagi.


__


Melangkah menuju ke arah ruang makan, setelah mendekati meja makan yang tak jauh dari dapur tercium aroma masakan yang sangat sedap khas makanan favoritnya.


"Wah, tumben sekali Bu, belum saya suruh sudah tau apa yang ingin saya makan hari ini, oh iya, apa ibu melihat Mike?" Tanya Marvin secara langsung sebelum menoleh ke arah dapur.


"Bu ..." Marvin memanggil Bu Tiah lagi lantaran terdengar suara sedang memasak tapi tidak ada jawaban dari Bu Tiah. Lantas menoleh ke arah dapur sana.


Maka ...


"Loh, Mike Papa kira kamu kemana, sedang apa kamu di situ? dan kemana Bu Tiah?" tanya Marvin begitu melihat Alan sedang di dapur sana.


Alan belum langsung menjawabnya, Malahan berjalan ke arah meja makan sembari membawa piring berisi makanan yang telah usai ia masak.


"Apa yang sedang kamu lakukan Mike? Ke-kenapa--" Ulang Marvin bingung semasih Alan menaruh piring tersebut di atas meja makan.


"...."

__ADS_1


__ADS_2