
Dia menabrak Alan cukup kuat, namun beruntung Alan dalam posisi Sigap sehingga tidak menjadikan keduanya terjatuh, justru gadis itu kini berada dalam dekapannya.
"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya-nya perlahan membenarkan posisi gadis itu. Maka perlahan pula gadis itu melihat orang yang di tabraknya walau sedikit malu akibat dia sedang dalam menangis.
Sontak diantara keduanya saling merasa canggung saat sudah saling tatap pandang.
"Em, aku tidak apa-apa. Maaf" Jawab gadis itu tak lain ialah Ananta, ia langsung melepaskan tangan Alan dari kedua lengannya lantas menunduk sembari menyapu air matanya.
Sementara Alan tak lepas pandang namun ia sendiri masih terbelenggu dalam rasa bimbang sehingga mulut bagai terkunci untuk mengutarakan banyak pertanyaan kepadanya.
Lantas Ananta mengambil langkah seribu untuk segera hengkang dari hadapan Alan, namun secara sigap Alan meraih tangannya sembari berkata walau tidak bisa banyak berkata-kata. "Tunggu Ananta, Aku .. Aku .."
"Plis lepaskan tanganku." Jawab Ananta tak mampu memandangnya. Alhasil Alan tidak bisa mencegahnya lantas dilepaskan lagi tangannya.
Sesudahnya tangan terlepas, lantas Ananta melangkah pergi.
"Hoi bro, ayo kejar dia! Buruan!" Celetuk Jovan sedikit menimpuk pundak Alan kala melihat Alan tidak lepas memandang Ananta kala melangkah pergi dari sana.
Plek!
Alan menolehnya sejenak namun ia bimbang hingga membuatnya masih diam di tempat.
"Halah, polos jangan kebangetan ngapa bro. Udah buruan kejar dia sana! Buruan Akh, lola Loe!" Seru Jovan sedikit mendorong Alan.
Suut!
"Udah buruan, jangan melotot ke gua dulu, melototnya nanti aja, udah cepat sana kejar dia!" Antusias Jovan mendukungnya lantaran dia benar-benar menyaksikan dan memperhatikan hingga menumbuhkan kekuatan pada diri Alan untuk bisa mengejarnya.
Alan mengangguk kemudian melangkah untuk segera menyusul Ananta.
"Oihh! Baru kali ini gua liat temen sepolos ini, untung gua sudah sadar, kalo belum bisa gua tikung tu cewek, huahahaha" Jovan bergumam sendiri seraya menggelengkan kepala tampak Konyol.
"Aha, jiwa kepo gua tumbuh semakin bleder-bleder booum didalam sini, ah .. Sepertinya gua harus intip tu temen polos. Yeaha, ya .. itu harus!" Gumamnya sendiri sembari meletakkan telapak tangan ditengah dada lantas akhirnya bergegas menyusul Alan.
__ADS_1
***
Sementara Ananta melangkah sedikit lebih cepat menuju ke arah taman belakang. Posisi Alan kini mengejarnya dalam jarak yang tidak begitu jauh darinya, namun ia tidak menyuarakan suara ketika mengejarnya, hingga akhirnya ia dapat langsung meraih tangannya dari belakang.
Sepp!
"Tunggu, Ananta."
Ananta menghentikan langkahnya seraya perlahan membalikkan badan untuk menolehnya, namun dalam tatapan sedikit sinis.
"Aku tidak akan memaksamu apabila kamu benar-benar tidak ingin melihatku maupun berbincang denganku. Tetapi, bila ada sedikit ruang dalam dirimu untuk bisa membukanya untukku maka .." Alan belum tuntas berkata-kata lantaran dirinya tidak pandai berkata, Namun sudah langsung dijawab oleh Ananta.
"Baiklah." Dia telah menyetujuinya. Lantas membuat Alan sedikit tersenyum nan melihat tangan masih menggengam tangan Ananta, akhirnya ia menariknya menuju ke arah kursi pada area taman belakang sekolah itu.
***
Sementara dari sisi lain tepatnya dari arah barat dibalik dinding ada Maria yang sedang diam-diam mengintai keduanya lantaran sewaktu Ananta tidak sengaja menabrak Alan didepan ruang perpustakaan tadi, Maria sempat menyaksikan dari kejauhan.
Dia memiliki rasa keingintahuan tinggi setara Jovan (Kepo) namun ada perbedaan diantara keduanya yakni Jovan hanya sekedar 'Kepo' belaka tanpa ada 'Sesuatu' didalamnya, sementara Maria kian sebaliknya.
Disaat ia sedang mengintip Alan dan Ananta dibalik dinding itu, kemudian melihat Alan dan Ananta hendak melangkah menuju kursi taman, niat hatinya hendak mendekat supaya ia bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka (menguping) namun, baru satu langkah ia berpijak, lantas ada yang meraih tangannya dari belakang sekaligus menariknya.
Seeet!
Tarikan itu cukup kuat hingga membuatnya membalikan badan secara sepontan, akhirnya suatu insiden secara tidak sengaja pun terjadi yakni tepat mengecup seseorang yang meraih tangannya tersebut yang tak lain ialah Jovan.
Seep!
"Emmph! Hei, kau!" Maria terkejut, sementara Jovan pun demikian lantaran semuanya tidak ada unsur kesengajaan.
"Em .. Maafkan aku, jangan salah paham, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." Ucap Jovan kala melihat Maria tampak marah seraya menyapu bibirnya sendiri.
Maria sudah mengenggam tangannya lantaran emosi akibat ciuman pertamanya di renggut oleh pemuda yang belum dikenal dekat. Lantas akhirnya mereka saling berbincang menyelesaikan sedikit kesalahpahamannya itu hingga tujuan awal mereka (kepo terhadap Alan dan Ananta) dapat teralihkan.
__ADS_1
***
Next
Sesudahnya Alan dan Ananta duduk bersama di kursi taman itu, mereka masih terdiam lantaran canggung.
Disisi Alan tidak mengetahui hendak memulai percakapan, tak ayal membuatnya diam seribu bahasa. Sementara disisi Ananta ribuan pikiran sedang membelenggu dalam benaknya, salahsatunya kejadian didalam perpustakaan tadi.
Namun, detik demi detik mereka masih saja terdiam, akhirnya Ananta-lah yang membuka belah bibir untuk mengutarakan sebuah kata.
"Jadi .. itu alasan Mike mempergunakanmu menyamar menjadi dirinya untuk semua itu?" Ucapnya.
"Em .. Apa maksudmu?" Tanya Alan sebab dirinya benar-benar tidak mengetahui maksud Ananta yang sedang mengatakan tentang kejadian tadi didalam perpustakaan. (Jessi dan Mike)
"Buat apa kamu mau melakukannya untuk saudara kembarmu. Aku sudah lama berteman dengan Mike. Tapi .. tidak pernah ku sangka dia sangat pandai memainkan drama hingga separah ini."
"Drama? Tidak Ananta. Dalam hidup kami tidak ada sebuah drama, semua yang terjadi ini murni." Jawab Alan masih berpikiran tentang tertukarnya dia, bukan Masalah yang menyangkut Jessi.
"Lalu kenapa kamu harus menyamar menjadi Mike hah! Bila semua yang dia lakukan hanya untuk cewek itu, tidak harus berdrama seperti ini juga kali! Gue sadar diri kok, kalau Mike tidak pernah menganggapku lebih dari sekedar teman. Tapi gak harus begini caranya!" Jawab Ananta dalam nada sedikit tinggi.
"Ananta, tolong redamkan sejenak amarahmu. Aku bisa menjelaskannya secara perlahan" Jawab Alan bernada pelan, sebab dirinya tidak pandai berkata-kata apabila dalam keadaan yang tergesa-gesa.
"Mungkin bila seisi dunia melihatku, mereka menilai aku cewek yang tidak tahu malu, tapi .. itu terserah penilaian orang terhadapku menilai Aku cewek yang tidak tahu malu, sudah jelas-jelas dia tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. Tapi, aku tetap saja seperti ini. Ya, aku ini memalukan! Bahkan dia sampai menggunakanmu untuk menjadi dia, aku benar-benar cewek yang sangat kasihan, memalukan!" Lanjutnya seraya menangis. "Hiks, hiks, hiks"
"Ananta, dengarlah. Aku memang tidak pandai berkata-kata dalam hal ini, karena aku sangat minim pengetahuan tentang ini. Tapi .. sedikit yang aku ketahui bahwa sebuah rasa tidak pernah salah dan tidak pernah bisa memandang siapapun, baik wanita yang lebih dulu maupun pria yang lebih dulu. Semua yang terjadi ini murni, Mike samasekali tidak pernah menggunakanku untuk menjadi dirinya, dan segala hal yang pernah kita lalui adalah mutlak diriku, bukan dia."
"Apa maksudmu, bukankah jelas-jelas kalian saling sekongkol hah!"
"Ananta, tolong redamkan sejenak amarahmu, coba kamu ingat-ingat dengan jelas, bila memang benar kamu berteman dengan Mike sudah lama serta sudah mengetahui banyak tentangnya, apa kamu pernah mengetahui tentangku selama ini dalam kehidupan dia?"
Sontak Ananta terperangah dalam kejutan, pikirannya langsung teringat akan masa-masa dulu sejak awal kenal Mike maupun hari-hari yang sudah terlewati bersama seluruh teman-temannya, bahwa yang ia ketahui Mike adalah anak tunggal, tidak memiliki saudara dan oleh sebab itulah Mike selalu keluyuran, bolos sekolah dan lain sebagainya.
"Ya Tuhan" Lirih Ananta tak lepas memandang mata Alan dalam berjuta pikiran dalam benaknya.
__ADS_1