
Verza masih merasakan keheranan yang tak kunjung usai melihat Mike yang dia pikir adalah Alan sang sahabat dari masa kecil telah berubah secara drastis.
"Wei Lan, bangun Lan, Loe mau masuk sekolah apa kagak hari ini." ucap Verza sembari kembali menepuk-nepuk pundak Mike.
Plek! Plek! Plek!
"Hem, iya lima menit lagi." jawab Mike singkat.
"Astaga.. hey Alan, ini sudah siang Lan, keburu angkutan umum sudah gak ada yang lewat Lan, ayo cepat buruan bagun Alan!" lanjut Verza sembari masih menepuk-nepuk pundak Mike.
Sementara Mike hanya merenggangkan badan ke kanan dan ke kiri tetapi ia belum jua terbangun dari tidurnya.
"Astaga Alan, mau sekolah apa kagak sih loe hari ini Lan, ini loe apa bukan sih heran gua, buset!" Gumam Verza merasa kesal ketika membangunkan Mike sangatlah susah untuk dibangunkan.
Terpaksa Verza langsung menarik tangan Mike hingga ia terbangun dalam posisi duduk.
Seet!
"Woi melek Lan! buset deh loe!" Ucap Verza ketika posisi Mike sudah dalam keadaan duduk namun mata ia masih terpejam.
Mike hanya menganggukkan kepalanya berulangkali ketika mendengar Verza banyak berbicara saat membangunkannya. Tanpa menjawab ucapan Verza yang masih terus-menerus mengomel, Mike langsung bergegas bangun dari tempat tidur dan langsung mengambil handuk milik Verza yang berada di kursi belajar sehabis dia pakai.
"Oi! Loe mau ngapain Lan, itu handuk gua." Ucap verza.
Mike hanya meliriknya tanpa menjawabnya lalu ia langsung bergegas pergi keluar kamar sembari menyampirkan handuk tersebut diatas pundaknya.
"Walah.." Verza merasa heran, karena sekalipun dia tidak pernah mendapati Alan mau memakai barang yang tidak seharusnya di pakai bersama dengan orang lain yaitu handuk. Namun dia tidak terlalu memikirkannya karena melihat waktu jua sudah begitu cepat berputar.
***
Beberapa menit kemudian
Mike telah usai mandi, ia mandi di tempat Verza selanjutnya ia berjalan langsung kembali pulang kerumahnya hanya memakai handuk setengah pinggang tanpa pakaian, alias telanj*ng dada. Ia sangat percaya diri tidak begitu memiliki rasa malu seperti Alan meskipun ia sedang tidak memakai pakaian diluar rumah.
Sesampainya ia dirumah, posisi keadaan rumah sedang sepi, Ika sedang sibuk mencuci pakaian di sungai, Yadi tidak berada dirumah karena dia tidur di asrama sekolah dari hari kemarin, sementara Ferdi sedang ada kesibukan lain yang tidak nampak dari belakang rumah.
__ADS_1
Mike bergegas masuk ke dalam kamar untuk mencari seragam sekolah milik Alan yang mana ia tak tau letak posisinya berada dimana.
'aiiih! Mana pula seragam sekolahnya nih ah!' batin Mike Sembari terus mencari-cari seragam sekolah didalam lemari milik Alan dengan cara menarik-narik pakaian yang lain dan ia lemparkan pakaian yang ia tarik itu ke belakang sehingga menjadikannya berantakan tak karuan. Karena ia merasa kesal sudah beberapa menit belum jua ia temukan di lemari tersebut.
Seet! Seet! Seet!
"Aha! Ini dia Akhirnya." ucapnya ketika menemukan seragam sekolah yang tertata rapi didalam lemari yang lain.
Selesai ia mengenakkan pakaiannya dan menata beberapa keperluan sekolah yang lain, ia langsung bergegas untuk segera pergi ke sekolah tanpa merapikan kembali kamarnya yang masih sangat berantakan sehabis mencari-cari seragam sekolahnya itu.
***
Setelah semuanya usai, ia berjalan keluar dari kamar sembari membawa handuk milik Verza yang terbawa ketika ia selesai mandi tadi, hendak ia kembalikan lagi kepadanya sekalian jalan hendak berangkat ke sekolah. Pikir Mike.
Setelah ia keluar dari dalam kamarnya ia mendapati Ferdi sedang duduk dikursi biasa dia duduk sembari meminum secangkir kopi dan merokok.
"Hey! Dimana kau semalam!" Tanya Ferdi secara langsung ketika Mike melangkah keluar dari dalam kamar.
"Main, kenapa?" jawab Mike singkat dalam posisi jongkok didepan pintu kamarnya sembari membenarkan tali sepatunya yang belum rapih. Setelah selesai ia kembali dalam posisi berdiri
Brak!
"Aiisssh!"
Mike hampir terjatuh ketika langsung ditampar oleh Ferdi cukup keras dan tubuhnya sedikit didorong ke arah tembok. Sontak membuat Mike langsung terkejut dan melotot tajam ke arah Ferdi ketika ia tiba-tiba langsung ditampar oleh Ferdi.
Namun Mike masih diam sembari memegang pipinya. Kemudian Ferdi hendak mengayunkan kembali pukulan kepadanya.
"Hey! Apa maksud dari yang anda lakukan ini Ayah? Kenapa tiba-tiba anda hendak memukul saya?" Ucap Mike sembari menangkis tangan Ferdi yang hendak memukulnya lagi.
Seet!
"Tidak usah kau bertanya! Kau memang benar-benar anak yang tak tau diuntung! Tidak tau diri!" Pekik Ferdi seraya melotot tajam.
Sementara Mike masih terdiam ketika Ferdi mengucapkan kalimat demikian, karena ia sendiri tidak mengerti maksud ucapan Ferdi dan apa maksudnya tiba-tiba ia langsung ditampar oleh dia.
__ADS_1
"Hey! Jawab pertanyaan saya, Dari mana kau semalam hah! Tidur dimana kau! Kau pikir setelah saya mengucapkan kalimat 'maaf' didepan semua orang lalu engkau dapat hidup seenak kau sendiri dirumah ini hah!" Lanjut Ferdi.
"Oho, itu toh maksudnya, aha! Anu, semalam saya tidur dirumah Verza kenapa memangnya Ayah? Apakah ada yang salah? Sementara letak rumah Verza kan hanya di sebelah rumah kita." jawab Mike dengan jawaban yang sangat santai sembari cengegesan.
Ferdi semakin emosi ketika melihat ekspresi Mike terlihat tidak seperti Alan yang biasanya ketika sedang dia marahi. Terlebih lagi mendengar jawaban sangat santai yang baru saja Mike jawab itu.
Karena Alan yang biasanya hanya menjawab satu atau dua kata saja jika sedang dimarahi olehnya dan Alan pasti menundukkan kepalanya. Namun tidak nampak untuk Alan yang sekarang ini. Justru Mike terlihat menantang atas segala macam kalimat yang sedang dia ucapkan tersebut.
"Benar-benar anak sampah tak berguna kau Alan! Anak Tidak tau diuntung kau!" Lanjut Ferdi hendak kembali mengayunkan pukulannya. Tetapi Lagi-lagi Mike menangkis ayunan tangan Ferdi yang hendak kembali memukulnya.
Seet!
"Hey! Hentikanlah Ayah! Kenapa anda sangat antusias untuk terus-menerus menganiaya Saya. Lantas beginikah perlakuan yang anda lakukan kepada saya selama ini Ayah, apakah anda selalu melakukan hal seperti ini kepada saya?" Ucap Mike sembari melotot.
"Itu memang sudah sepantasnya yang kau terima untuk anak sampah tak tau diri macam kau Alan!" Lanjut Ferdi.
"Sampah? kenapa telinga saya sering sekali mendengar kalimat ini dari ucapan anda Ayah? Kenapa anda sering sekali menyebut saya anak sampah?" Lanjut Mike bertanya.
Mendengar kalimat pertanyaan itu, Ferdi langsung terdiam sejenak.
"Hey, Kenapa anda diam saja Ayah, bisakah anda menjelaskan kenapa anda selalu menyebut saya dengan sebutan anak sampah?" Lanjut Mike.
"Kau itu memang anak sampah yang tidak berguna Alan! Sudah beruntung kau sudah ku besarkan hingga sekarang ini, dan sudah sepantasnya kau balas kebaikan kami yang sudah membesarkan kau. Hey, kenapa tak kau kerjakan segala kerjaan yang sudah biasa kau lakukan hah!" Lanjut Ferdi.
Mike terdiam sejenak ketika mendengar kalimat yang baru saja Ferdi sebutkan, namun ia masih belum mengerti dari maksud ucapannya itu.
"Pekerjaan?"
"Ya! Kenapa tidak kau kerjakan pekerjaan yang saya suruh hah! Malah seenak kau pergi main tanpa pulang semalam, jika kau mau pergi, pergilah saja kau tidak usah pulang lagi!"
"Assudahlah saya mau berangkat!" Jawab Mike singkat tidak menggubris yang sedang Ferdi ucapkan tersebut. Karena bising baginya untuk menanggapi ucapan Ferdi, walaupun Mike tidak mengingat dan tidak mengenal Ferdi, namun ia sudah bisa menilai dan mengerti tentang sifat dan karakter yang dimiliki orang semacam Ferdi jika ucapannya diladeni
Mike langsung bergegas menjauh dari hadapan Ferdi menuju pintu keluar.
"Hey Alan! Tak dengarkah kau yang baru saja saya ucapkan hah! Dasar anak sampah kau!" Teriak Ferdi terus-menerus mengumpat.
__ADS_1
Mendengar Ferdi masih teriak-teriak, Mike langsung menghentikan langkah kakinya.