Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 60


__ADS_3

Catatan author.


Sesuai alur yang ada yaitu masih didalam kehidupan Mike.


Terimakasih.


***


Selanjutnya mereka berombongan telah sampai di toilet, mereka melihat Naldo masih dalam posisi berdiri sembari menyiram-nyiram lengannya dengan air yang mengalir di wastafel.


Mereka bersama-sama mendekat kepada Naldo.


"Hey Naldo! Loe kenapa sih jadi aneh banget begini." ucap Yudha langsung.


"Aneh? Maksud loe apa hah?" Jawab Naldo sembari menoleh kearah Yudha dalam posisi masih terus membasuh lengannya.


"Tadi loe kenapa gak langsung menghajar Alan."


"Loe punya mata sama otak di pakek sedikit buat mikir Yud." jawab Naldo.


"Maksud loe apa bilang begitu Do." jawab Yudha mengerutkan kening.


"Mata loe dipakek buat melihat tadi itu kita sedang berada dimana coy! Otak loe buat mikir kalo kita berkelahi disana bisa berbuntut yang gimana woi!" Jawab Naldo berteriak.


Mendengar yang Naldo ucapkan sontak membuat Yudha terdiam dan berpikir karena yang dikatakan oleh Naldo memang benar jika sampai mereka ribut disana otomatis akan terlihat oleh guru dan akan berbuntut ke pihak sekolah serta berujung pada hukuman.


"Lalu apakah loe mau diam saja melihat kelakuan Alan tadi, dia berani menampik tangan loe sampai tangan loe jadi begini, Dan loe juga kenapa belum merespon dan bertindak setelah apa yang gua katakan kemarin sih!" Lanjut Yudha.


"Hey! Gua tanya sama loe, Loe itu udah kenal gua berapa lama hah? masih aja banyak ngoceh loe!" Jawab Naldo.


Mendengar yang Naldo ucapkan, Yudha langsung menganggukkan kepalanya karena ia memang sudah paham dan mengerti dengan Naldo. Yang mana sudah diketahui bahwa Naldo memiliki sifat yang licik dalam segala tindakan nakalnya. Terlebih lagi tentang tindakan untuk membully Alan adalah nomor satu baginya dalam merencanakan segala aksi nakalnya untuk menganiaya Alan.


"Jadi gimana nih kita nanti bro." sambung Wasis.


Naldo menengok kearah Wasis sembari tersenyum.


"Seperti biasa dan di tempat biasa." Jawab Naldo singkat.

__ADS_1


"Oh, Oke bro." Jawab Wasis dan Dodi sudah langsung mengerti dan sudah paham maksud Naldo.


***


Pada sisi Mike.


Mike langsung berjalan kearah Riki yang mana posisinya berada dipojok kantin. Mike berjalan Sembari ia merapikan kerah bajunya sehabis ditarik oleh Naldo.


"Hey, apakah kau tidak papa kawan?" Tanya Mike.


Riki hanya mengangguk sembari memperhatikan wajah Mike.


"Hey, kenapa kau melihatku dengan ekspresi wajah seperti itu..Apakah ada yang aneh di wajahku?" Tanya Mike sembari tersenyum dan memegang pipinya sendiri.


Sementara Riki hanya menggeleng sembari tersenyum ketika Mike berkata demikian. Karena Riki merasa ada yang aneh dengan sikap Alan sekarang. Karena ia memang tahu Alan, namun ia tidak dekat dengannya dan diketahui bahwa Alan adalah sosok yang pendiam.


Dan jua Alan pula pernah mengalami hal yang baru saja akan dialami olehnya walau ia tidak melihatnya secara langsung pada waktu itu ketika Naldo akan menyiramkan kuah panas pada Alan.


Ia hanya mendengar dari saksi mata dari para siswa-siswi yang berada di kantin waktu itu bahwa Naldo pernah akan melakukan hal yang sama yang baru saja akan dilakukan kepadanya yaitu menyiramkan kuah bakso panas nan pedas pada Verza namun mengenai tangan Alan.


***


Mike langsung memegang kedua pundak Riki dengan tangannya seraya memandang kedua matanya.


"Hey kawan, dengarkanlah hidup ini terkadang memang bagaikan sebuah drama dan ada yang namanya hukum rimba, mana yang lebih kuat dialah yang menang, mana yang lemah pastilah tertindas. Namun itu ada didalam sejarah kehidupan binatang karena memang sudah digariskan sebuah rantai makanan, namun tak bisa dipungkiri bahwa dikehidupan manusia memang seperti itu jua. Aku hanya mau memberikan sedikit saran pada engkau kawan, jadilah engkau manusia yang kuat, lawanlah segala tindakan yang tidak benar seperti yang baru saja mereka lakukan." ucap Mike.


"Akan tetapi Alan.." jawab Riki langsung menundukkan kepalanya.


"Tidak ada tetapi, itu semua berawal dari diri sendiri kawan, ingatlah saja itu saranku." Pungkas Mike sembari tersenyum.


Riki tersenyum sembari mengaguk jua kepada Mike sembari menoleh kearah sekitar. Disusul Mike menoleh jua kearah sekitar, yang mana masih terdapat sejumlah siswa-siswi yang berada di kantin masih berkumpul melihat mereka sembari saling berbisik-bisik satu sama lain.


"Hey, apa yang sedang kalian lihatin hah?apakah ini sebuah tontonan drama? sudah-sudah bubar-bubar semua!" Ucap Mike dengan nada sedikit keras.


Mendengar Mike berkata demikian, selanjutnya masing-masing para siswa-siswi tersebut langsung bubar dari dalam kantin sembari saling berbisik, karena itu baru pertama kalinya mereka mendapati sikap Alan seperti itu.


Selanjutnya Riki dan Mike duduk bersama di meja kantin sembari banyak berbincang-bincang, namun ketika mereka berbincang-bincang Mike tidak mengetahui nama dia dan Riki pula tidak menyadari bahwa Alan yang sedang berada dihadapannya bukanlah Alan, dan ia juga tidak banyak bertanya karena sejatinya ia sama seperti Alan yaitu memiliki kepribadian yang pendiam.

__ADS_1


Namun Riki merasa sedikit heran, ketika duduk bersama Mike, karena yang ia ketahui tentang Alan ia sangat jarang sekali berbicara dengan banyak kalimat, terlebih lagi kalimat-kalimat yang tiada arti alias obrolan kosong. Namun apapun itu, Riki tidak terlalu mempedulikan hal tersebut justru ia merasa kagum akan perubahan Alan walaupun ia dulunya tidak pernah dekat dengan Alan sama sekali.


***


Beberapa menit kemudian, lonceng sekolah telah kembali dibunyikan. Mike dan Riki menyudahi obrolan dan berpisah masing-masing karena mereka berbeda kelas.


Mike berjalan kembali kedalam kelas. Setelah ia sampai ia mendapati Verza sudah berada didalam ruang kelas dalam posisi seperti saat ia masuk pada pagi hari, yaitu ia menyandarkan kepalanya dimeja dan menghadap kearah tembok.


Selanjutnya ia melirik serta kearah rombongan Naldo. Ketika ia melihat kearah mereka, Mereka semua melihat jua kearah Mike ketika Mike berjalan masuk dan sedang berjalan hendak menuju ke bangkunya.


Namun Mike tidak terlalu menghiraukan mereka walau terlihat dari ekspresi wajah maupun sorot mata diantara mereka nampak sengit melihat kearahnya.


Setelah Mike duduk, ia menoleh kembali kearah Verza namun Verza lagi-lagi berpaling kearah tembok, Mike masih belum usai bertanya-tanya didalam batinnya yaitu pertanyaan yang sama, ada apakah dengan Verza kenapa ia tiba-tiba berubah sikap kepadanya.


Namun Mike mencoba untuk diam sejenak untuk tidak mencoba memanggilnya lagi maupun kembali bertanya kepada Verza tentang perubahan sikapnya tersebut.


***


Beberapa menit kemudian, pelajaran telah usai dan sudah waktu saatnya untuk pulang. Ia melihat Verza masih terdiam seribu bahasa kepadanya dan jua nampak ekspresi wajahnya belum berubah masih terlihat ada sesuatu yang ia sembunyikan.


Mike lanjut menata buku-buku pelajarannya kedalam tas untuk segera bergegas pulang. Namun ketika ia sedang menata buku-buku pelajarannya kedalam tas, ia dikejutkan oleh sesuatu.


Braak!


Sontak membuat ia langsung melihat kearah seseorang yang tiba-tiba menggedor mejanya, yang tak lain mereka adalah rombongan Naldo. Yang menggedor mejanya adalah Yudha karena rasa dendam kesumat didalam hatinya masih membara kepada Mike.


Mengetahui hal tersebut Mike merasa geram, ia langsung berdiri dari tempat duduknya sembari tangannya menggedor jua keatas meja.


Brak!


Mike melotot tajam kepada rombongan mereka.


"Apa loe melotot begitu hah! Mau jadi sok jagoan sekarang loe anak miskin!" Teriak Yudha sembari langsung memegang kerah Mike.


Seet!


Mike langsung menangkis tangan Yudha yang berada dikearahnya sembari ia melotot kearahnya dan disusul ia melotot jua kearah rombongan Naldo yang berdiri tepat dibelakang Yudha.

__ADS_1


"Alan!"


__ADS_2