
Mike terdiam sejenak sembari memperhatikan wajah Alan yang terlihat nampak serius ketika hendak melontarkan sebuah kalimat. Kemudian ia langsung melihatnya dengan tatapan serius.
"Aku anu, itu anu eh hey.. hentikanlah kenapa kamu menatapku seperti itu?" Ucap Alan kalimatnya menjadi terpecah ketika Mike melihatnya dengan tatapan yang serius.
Plek!
Ia kembali merangkul Alan dengan tangannya.
"Enggak, sudahlah.. eh, ini kok Aduh awwh ini kepalaku sakit nian, aaahhhh sakit nian kepalaku!" Mike berpura-pura, semata-mata hanya untuk menghentikan kalimat yang hendak Alan ucapkan.
"Kamu kenapa Mike, hey, apakah kamu baik-baik saja?" Alan merasa khawatir kemudian ia langsung membantu Mike untuk mengistirahatkan ia di atas kasur.
Setelah Mike sudah berada diatas kasur, Mike langsung merebahkan badannya.
"Apakah kamu tidak papa Mike, tunggulah sebentar." Ucap Alan melangkah pergi hendak mengambilkan air hangat untuk Mike.
Ketika Alan sudah melangkah pergi keluar dari kamar, Mike langsung tertawa.
'Haha, Ya Tuhan, aku sungguh tidak sabar menanti ayah pulang, semoga dugaanku ini benar bahwa dia adalah saudaraku, dia sangat begitu perhatian kepadaku, aku sudah sangat lama menginginkan perhatian semacam ini Tuhan..' Batin Mike seraya berdo'a mengharapkan memiliki saudara yang mana ia sangat menginginkan itu dari ia masih kecil.
Beberapa saat kemudian, Alan sudah mengambil air minum hangat tersebut, dan sedang berjalan kembali menuju kedalam kamar. Ketika Mike melihat Alan hendak masuk kedalam kamar, ia langsung kembali berpura-pura lemas walaupun sebenarnya ia asli merasakan sakit namun rasa sakit yang tengah ia rasakan bagaikan menghilang tanpa bekas.
"Ini minumlah, sini mari ku bantu." Alan memberikan air minum hangat tersebut seraya membantu Mike dalam posisi kembali duduk.
"Hu um, terimakasih"
Setelah Mike sudah meminum air hangat tersebut, ia langsung kembali dalam posisi berbaring sembari menata selimut di badannya dan langsung memejamkan kedua matanya.
Sementara Alan masih duduk disebelah Mike. Ia masih terdiam karena sejatinya ia memang pendiam, ia berniat untuk kembali mengucapkan kalimat yang belum jadi ia ucapkan. Karena kalimatnya selalu terpotong dengan adanya perkara. Yang mana tidak ia ketahui bahwa Mike dengan sengaja melakukan itu.
Kemudian ia memberanikan diri untuk kembali mengajak Mike berbicara.
"Mike, anu.. Mike, Anu.. itu anu.." Ia masih ragu-ragu sembari melihat kearah Mike yang mana Mike sudah langsung memejamkan mata.
"Mike.. apakah kamu sudah tertidur?"
Kemudian ia memastikan Mike sudah tertidur atau belum, karena Mike sama sekali tidak menjawabnya kemudian ia melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Mike.
__ADS_1
"Ssstttt, hey Mike. Ssstt apakah kamu sudah tertidur?" Bisik Alan secara terus-menerus memanggil-manggilnya dengan suara lirih.
Ketika ia masih melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Mike, tangan ia langsung dipegang oleh Mike.
Seet!
Kemudian Mike kembali membuka matanya sembari tersenyum.
"Ona anu ona anu Mulu, si anu sudah tidur. Lihatlah itu, kasurnya masih longgar, segeralah kamu juga istirahat dan lihatlah kearah jarum jam disana ini sudah lewat tengah malam." Jawab Mike kembali melepaskan tangan Alan dan langsung menarik selimut untuk menutup seluruh badannya beserta kepalanya.
"Tap..i hey Mike, aaiihh." Alan merasa kesal ketika Mike langsung menutup seluruh badan dan kepalanya dengan selimut tersebut. Karena kalimat yang hendak ia pertanyakan belum jadi ia ucapkan.
Kemudian Alan menyusul jua merebahkan badannya disebelah Mike yang sudah menutup seluruh badannya dengan selimut tersebut. Namun Alan masih belum tertidur karena masih terasa janggal didalam hatinya sebelum ia melontarkan kalimat pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Mike.
Karena rasa penasarannya masih membelenggu pikirannya sehingga rasa kantuk belum jua ia rasakan, kemudian ia langsung membuka selimut yang menutupi kepala Mike.
Sreet!
Setelah selimut tersebut sudah terbuka, ia mendapati Mike masih memejamkan mata.
"Mike, ssst hey, Mike"
"Aku mau berbicara sesuatu."
Kemudian Mike membuka satu matanya dan nampak terlihat sangat mengece.
Plek!
Alan langsung menimpuk pundak Mike ketika Mike melihat kearahnya hanya dengan satu mata.
"Hey, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu terlihat konyol seperti itu" Ucap Alan sembari tersenyum tipis.
"Mike, hey Mike, tengoklah kesini."
Seet!
Alan menarik bahu Mike yang mana posisi ia miring membelakangi Alan.
__ADS_1
"Aiisshh, ada apa kamu manggil-manggil terus, berisik tau" jawab Mike langsung mengambil earphone yang terletak di meja samping dia.
"Eiit, tunggu Mike, aku ingin berbicara, dengarkanlah dulu Mike,"
"Aku sudah tidak dengar yang kamu ucapkan, lihatlah nih telingaku sudah tertutup, sudahlah esok pagi saja berbicaranya, aku sudah berada di alam mimpi nih." Jawab Mike sembari menghadap kearah Alan dengan mata yang terpejam.
"Aaiih" Alan mendengus.
Kemudian Alan menghentikan sementara niatnya untuk menanyakan hal yang masih janggal didalam benaknya kepada Mike. Karena Mike selalu menghindar. Namun Alan tidak mengetahui kenapa Mike selalu menghindar ketika ia hendak bertanya.
Mike sudah langsung tertidur dengan pulas karena sebenarnya ia merasakan sakit dibagian kepalanya setelah beberapa kali terkena pukulan oleh kejadian yang sudah terjadi ketika berkelahi dengan kelompok Naldo dan juga kelompok Bonanza.
Kemudian Alan jua langsung menyusul Mike untuk beristirahat jua, karena seluruh badannya sakit dan juga terdapat luka-luka lebam dibeberapa bagian tubuhnya, khususnya bagian wajah.
***
Disisi Marvin.
(Bagian ini sambungan dari bab 67)
Marvin, Daniel dan pak Tarman langsung berjalan menuju ke rumah pak Ferdi saat setelah pak Tarman selesai berbincang-bincang dengan beberapa jumlah warga yang hendak mengurus perlengkapan jenazah beliau.
Ketika mereka telah sampai, banyak dari para warga yang sedang berbelasungkawa dirumah pak Ferdi melihat kearah Marvin dan Daniel sembari berbisik-bisik satu sama lain. Karena dari segi tampilan Marvin dan Daniel begitu rapih dan jua sangat asing yang menjadi pusat perhatian dari para warga tersebut.
Kemudian, Marvin langsung menuju kedalam rumah seorang diri untuk bertemu istri pak Ferdi yaitu Ika, sementara Daniel duduk di luar rumah yang sudah terpasang tenda biru dan terdapat beberapa kursi plastik yang tertera disana.
Ketika Marvin masuk kedalam, ia langsung berdo'a didepan jenazah pak Ferdi yang terbaring tertutup kain jarik. Kemudian setelah ia selesai, ia langsung berjalan langsung bersalaman kepada semua warga yang berada didalam ruangan tersebut.
Ketika Marvin masuk dan langsung berdoa didepan jenazah Ferdi. Semua warga merasa heran dan bertanya-tanya, siapakah gerangan orang yang tampilannya terlihat sangat berwibawa tersebut.
Ketika ia bersalaman dengan Ika, ia melihat Ika masih menangis dan nampak sembab akibat terlalu lama dia menangis, kemudian Marvin menduganya bahwa dialah istri dari pak Ferdi karena sebelumnya ia tidak bertanya kepada warga maupun kepada pak Tarman yang manakah istri dari almarhum pak Ferdi.
"Saya turut berduka cita atas kepergian beliau Bu, tenangkanlah hati ibu, beliau telah bahagia di Alam Surga."
"Terimakasih banyak pak. Tetapi, sungguh tidak saya sangka beliau akan berpulang secepat ini, hiks hiks hiks" Jawab Ika sembari menyapu air mata yang masih terus mengalir deras.
"Oh iya, bapak siapa ya? Dan darimana? Apakah anda kenal dengan almarhum suami saya sebelumnya?" Lanjut Ika bertanya sembari masih mengelap air matanya.
__ADS_1
"Nama saya Marvin, saya berasal dari ibu kota, sebenarnya tujuan saya datang kemari ada sesuatu hal yang penting dan ingin segera saya bicarakan ini kepada anda dan suami anda, namun siapa sangka, setelah saya sampai disini beliau sudah berpulang."
"Sesuatu hal yang penting?"