
Senjata tajam yang Alan lemparkan tepat sasaran yakni langsung menembus bagian perut, sontak Anwar tak berdaya hingga membuatnya tak mampu lagi mengejar.
"Aarrgh! berhenti kau baj*ngan Kecil!" Pekiknya perlahan melutut hingga akhirnya ia terjatuh. Lantas beberapa orang yang ikut serta mengejarnya terhenti.
"Apa loe baik-baik saja bro?" Tanya mereka.
"Baik-baik saja kepala Loe botak, kampang! kenapa kalian orang malah berhenti hah, cepat kejar dia! jangan biarkan dia lolos." Perintahnya seraya meringis kesakitan akibat luka itu.
Dua orang bergegas langsung mengejar Alan, sementara satu orang tidak ikut serta lantaran dia melihat kondisi Anwar sungguh memprihatinkan, yakni darah mengalir deras tiada henti dari bagian perutnya akibat senjata tajam itu masih menancap di perutnya.
Lantas satu orang itu perlahan mendekat nan langsung mencabut senjata tajam tersebut.
Sleet!
Dan meletakkan senjata itu begitu saja di tanah.
"Arrgggh!" Anwar masih mampu berteriak saat senjata itu di cabut dari perutnya, namun tak selang waktu lama sorot mata seakan meredup pertanda darah kian habis. Lantas satu teman yang kini disisinya langsung melepaskan baju miliknya hendak diperuntukkan menutup luka tersebut.
"Ap--apa ya--yang loe lakukan, it--itu tidak perlu" Ucap Anwar
"Diamlah." Jawab Dia seraya mengikat perut Anwar dengan baju miliknya, kemudian ia membantu Anwar berdiri nan melangkah menuju kembali ke gedung itu.
___
Sementara di gedung itu Mike beserta kawan-kawan sekaligus anggota kepolisian telah sampai disana. Terlihat oleh mereka diluar gedung itu ada beberapa kendaraan yakni satu mobil jenis Avanza berwarna hitam sisanya 3 motor jenis MOGE.
Mike selaku sang kakak dari Alan tampak sangat tergesa-gesa hingga membuatnya paling utama memasuki gedung itu dengan cara berlari, lantas kemudian disusul rombongan beserta polisi.
Penerangan didalam gedung itu cukup minim hingga Sesampainya ia didalam gedung itu tak terlihat ada siapa-siapa, namun begitu ia menoleh keseluruh penjuru arah terlihat dua orang berpakaian hitam duduk di pojok ruang sedang kesakitan akibat pergelangan tangannya putus.
Cepat-cepat Mike menghampirinya, namun sebelum ia bertanya langsung pada kedua orang itu, polisi dan beberapa kawannya sudah masuk jua kedalam sana. Maka, begitu polisi melihat paras kedua orang itu, tanpa basa-basi polisi langsung meringkusnya.
Betapa tidak? sebab kedua orang itu memang sudah masuk dalam kategori buronan akibat aksi kejahatan yang telah di lakukannya.
Begitu keduanya diringkus, selanjutnya mereka di introgasi sedemikian rupa detilenya oleh polisi atas segala perkara yang terjadi saat ini. Begitu jua dengan Mike, ia tidak sabaran kala polisi sedang mengintrogasi kedua orang itu hingga membuatnya ikut andil dalam segala pertanyaan tentang perkara tersebut.
Tentu saja, awal mula jawaban mereka sangatlah berbelit-belit cenderung berbohong.
"Tak usah kau banyak bicara yang tak penting, cepat katakan dengan jujur supaya tak memperberat masa hukumanmu."
Akhirnya, mereka berkata jujur nan menyebutkan bahwa semua yang terjadi disana adalah motif orang bernama Anwar hendak melakukan pembunuhan berencana kepada saudara kembar Mike.
"Paras Anak itu sama seperti wajah dia." Ucap mereka seraya menelunjuk ke arah Mike, dengan tangannya yang terdapat luka.
Sontak Mike sedikit melotot kala melihat tangan orang itu, namun meskipun ia sudah tahu tentang hal itu (Motif penculikan) tetap saja membuatnya semakin murka, maka ia hendak menghajarnya.
"Kurang ajar kalian orang, pengecut!"
Namun sebelum ia melakukannya sudah dihentikan langsung oleh beberapa anggota polisi. Kemudian perbincangan berlangsung sampai akhirnya mereka menyebutkan dimana posisi tersangka dan korban saat ini.
"Dia (Alan) Berlari keluar ke arah sana dan di kejar oleh kawan kami (Anwar)" Ucap kedua orang itu.
__ADS_1
Mendengar itu tanpa basa-basi lagi Mike bergegas langsung menuju pintu keluar gedung itu sesuai yang kedua orang itu sebutkan, disusul oleh Jovan maupun kawan-kawan, serta beberapa anggota polisi.
___
Next
Pada area keluar gedung itu terdapat tumbuhan liar jenis ilalang maupun lainnya, serta puing-puing bangunan yang berserakan di tanah serta penerangan yang minim.
Menyadari bisa saja mereka (Alan di kejar Anwar) berlari ke arah mana saja, maka membuat mereka yang mencarinya berpencar, baik anggota polisi, Kawan-kawan Mike seperti Dimas, Jejen, Vidze, maupun Jovan.
Sebelumnya Mike berlari seorang diri ke arah timur tergesa-gesa akibat khawatir tentang keselamatan Adiknya, namun Jovan selaku teman yang sangat peduli dengan Alan setara Mike, akhirnya menyusul-nya.
Kini mereka berdua berlari ke arah yang sama nan terhenti sejenak kala Mike menginjak sesuatu di kakinya.
Kletek!
Semula Mike tak mempedulikan dan tak mau tahu apa yang terinjaknya itu, namun berhubung melihat Jovan tampak kelelahan hingga akhirnya membuatnya berhenti sejenak.
"Huff .. Huff .." Deruan napas memburu pertanda lelah yang kini dirasakan oleh Jovan seraya dia memegang perut dengan tangannya.
Sementara Mike masih saja menolah-noleh keseluruh penjuru arah sebelum akhirnya perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang kini diinjak kakinya.
Karena penasaran, Perlahan ia membungkuk untuk melihat apa yang diinjaknya tersebut. Namun karena gelap ia tak dapat melihatnya melainkan mencoba menyentuh-nya dengan tangan.
"Awh"
"Loe Kenapa Bro?" Tanya Jovan melihat Mike kesakitan sehabis membungkuk itu. Sementara Mike jua penasaran karena tangannya kini terluka seperti tergores pisau.
"Astaga, Bro Lihatlah." Ucapnya. Lantas membuat Mike melihatnya hingga membuatnya terkejut.
"Astaga Tuhan"
Yakni, terdapat senjata tajam jenis samurai berlumuran darah terinjak kaki-nya serta terdapat darah yang berceceran di sekitar senjata tersebut.
"Oh tidak, Alan!" Mike reflek mengira darah tersebut Adalah darah sang adik maka membuatnya semakin tampak resah.
"Ayo Bro." Ajak Jovan, lantas akhirnya mereka berdua melanjutkan kembali langkahnya ke arah timur sebab tidak ada darah yang berceceran mengarah menuju kemana melainkan hanya ada di lokasi itu saja.
Sesungguhnya darah yang berceceran tersebut adalah darah Anwar yang terluka akibat tertusuk senjata tajam yang dilakukan oleh Alan. Kini dia (Anwar) dibawa oleh temannya menuju kembali ke gedung itu, namun ketika mereka sedang melangkah menuju kesana, mereka melihat ada anggota polisi hingga membuatnya bersembunyi.
Setelah keberadaannya aman tak di ketahui oleh polisi, mereka melalui jalan lain untuk kembali ke ibu kota dan meninggalkan kendaraan mereka di gedung itu. Namun nahas, ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju kembali ke ibu kota, Anwar menghembuskan napas terakhirnya akibat kehabisan darah.
___
Next
Sementara pada waktu yang sama disisi Alan masih terus berlari ke arah Timur dan masih di kejar oleh dua orang pesuruh Anwar.
Kini, Alan berlari keluar dari area sekitar gedung itu dan sudah sampai di pinggir jalan. Namun jalan yang Alan pijak saat kini bukanlah jalan besar maupun jalanan yang terdapat banyak rumah warga atau ruko-ruko.
Meskipun ada rumah dan roko hanyalah ruko kumuh yang sudah tidak beroperasi untuk jual beli. Waktu saat ini sudah memasuki dini hari dan jua suasana sangatlah sepi, wajar saja apabila tidak ada warga yang berlalu lalang melihat mereka sedang kejar-kejaran bak kartun Tom And Jerry.
__ADS_1
"Woi! Berhenti Loe!" Teriak Mereka kala Jarak mereka dengan Alan tidak begitu jauh kurang lebih 15 meter.
Alan tak mempedulikannya, ia terus berlari meskipun rasa sakit akibat di hajar Anwar sekaligus penculik tadi masih di rasakannya.
Kemudian, terdapat sorot lampu dari arah kejauhan yakni sebuah pengendara motor sedang melintas mengarah kesana.
Sorot lampu itu sangat tajam tepat ke wajah Alan, hingga membuat Alan sulit melihat Jalan, akhirnya ia sedikit menutupi keningnya dengan tangan supaya tidak terlampau silau.
Semasih ia dalam posisi itu, tiba-tiba inisiatif tumbuh dalam pikirannya, yakni hendak melangkah ke sisi jalan sebrang supaya mempersulit musuh dalam mengejarnya.
Namun, akibat ia masih menutupi kening dengan tangannya, tentu saja ia tidak bisa melihat dengan jelas sekaligus memprediksi jarak motor yang sedang melaju dari arah depan itu sudah sampai dimana.
Akhirnya sewaktu ia sedang melangkah hendak menuju ke sisi sebrang, motor itu sudah melaju sangat dekat dengannya.
"Oi, oi, oi, oi," Pengemudi pengendara itu terkejut sewaktu Alan berlari tepat di depannya nyaris tertabrak olehnya.
Namun beruntung Alan tidak tertabrak, justru pengendara motor itu oleng akibat terkejut hingga membuatnya terjatuh ke sisi pinggir jalan.
Glubrak!
Meskipun Saat ini posisi Alan masih sangat berbahaya, namun tidak membuatnya menjadi mati rasa akan kepeduliannya terhadap sesama manusia.
Setelah melihat pengendara motor itu terjatuh yang diketahui sudah bapak-bapak paruh baya, Alan bergegas hendak membantunya sejenak untuk membenarkan posisi motor tersebut yang saat ini menimpa kaki pengendara itu.
"Apa bapak baik-baik saja? maafkan saya pak." Ucapnya seraya menarik stang motor itu supaya kembali ke posisi Semula.
"Waduh, waduh, waduh … Sikilku .." Rintih bapak-bapak tersebut menggunakan bahasa daerah (Sikil \= Kaki)
Setelah Alan berhasil membuat motor tersebut ke posisi semula, Kemudian ia membantu bapak-bapak itu yang sedang kesusahan berdiri akibat kakinya sakit.
"Mari pak, saya bantu" Ucapnya, Ekspresi-nya samasekali tidak memperlihatkan bahwasanya saat ini posisi ia sendiri sedang dalam bahaya.
Setelah bapak-bapak itu berdiri, perlahan ia melihat paras Alan.
"Loh, kowe maneh bocah edan! Pancen edan kowe, siki nggawe aku kejengkang!" Gumam Bapak-bapak tersebut mengutarakan rasa kesalnya menggunakan bahasa daerah.
(Loh, kamu lagi anak gila! benar-benar gila kamu, sekarang membuat saya terjatuh!)
Alan sedikit tersenyum karena ia tahu arti bahasa itu dan jua ia sudah pernah berjumpa bapak-bapak tersebut beberapa waktu yang lalu semasih bersama Mike.
Lantas semasih semua itu berlangsung terdengar suara orang semakin dekat yakni kedua orang yang sedang mengejar Alan.
"Woi!" Teriak mereka seraya melemparkan senjata tajam ke arah Alan.
Senjata tajam yang mereka lemparkan melayang di udara namun tidak mengarah tepat ke Alan melainkan ke bapak-bapak tersebut.
Suut!
Secara sigap Alan menarik lengan bapak-bapak tersebut supaya tidak terkena sasaran mereka, hingga akhirnya Senjata tajam itu mendarat ke lengan kanan-nya sendiri.
Sreet!
__ADS_1
"Ya Ampun Gusti!" Bapak-bapak tersebut terkejut melihat apa yang terjadi.