
Terbayang sesuatu didalam pikiran kala melihat kenyataan yang masih mengambang. Fakta belum terlihat nyata sebab keduanya tak tampak hadir bersama-sama.
Hasrat hati ingin membuktikan sendiri tetapi kenyataan tidak bisa ia pungkiri, walau gurau ejekan dari ketiga gadis ini cukup menyayat hati, tetapi ia mampu menahan diri untuk tidak mendedas tanya langsung kepadanya saat ini. (Alan)
'Cih, haluan tak bertepi akibat kehabisan amunisi, parah sekali kalian ini.' Batin Ananta mengira mereka semua hanya berhalusinasi atau bisa disebut jua dengan bicara yang tidak berdasarkan fakta.
Lekas ia kembali ke tempat duduknya semula, seraya meraih tangan Maria hendak pergi dari area sana.
"Awh, kita mau kemana An?" tanya Maria kala tengah di tarik pergi olehnya.
"Penging rasanya kuping gue Mar, mendengar ocehan-ocehan mereka. Mengejek sih silahkan aja, tapi kagak perlu juga bersandiwara yang enggak-enggak macam itu" Jawabnya seraya terus melangkah ke suatu arah.
"Maksud loe apaan?" Lanjut Maria seraya terus melangkah menurutinya.
"Hilih emang tadi loe kagak denger percakapan gue sama mereka hah? mereka pada nge-halu kalau Mike memiliki saudara kembar? Aih, tampaknya mereka kehabisan amunisi untuk menyerang gue" Lanjut Ananta.
"What! Amunisi … Memangnya mau ada peperangan?" Gurau Maria berlagak polos menutupi fakta.
"Lah, mereka dari dulu juga memang selalu mencari-cari celah buat nyerang gue, loe juga tau sendiri kan?" Lanjut Ananta.
"Iya, deh iya .. " Jawab Maria singkat, lantaran ia sendiri heran kenapa Ananta bisa berpikir demikian.
Tetapi lain dari pada itu, Ananta sendiri sudah merasakan perbedaan yang signifikan. Tetapi ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk meredam rasa keingintahuan yang membelenggu pikiran sebelum kenyataan langsung yang membuktikan.
Lanjut mereka berdua masuk kedalam ruang perpustakaan sebelum lonceng sekolah kembali dibunyikan.
***
Beberapa waktu kemudian, lonceng sudah kembali dibunyikan. Seluruh siswa maupun siswi telah kembali masuk kedalam ruang kelasnya masing-masing termasuk Alan, Jovan beserta seluruh rombongan.
Sementara Ananta sudah lebih dulu berada didalam ruang kelas bahkan sebelum lonceng sekolah dibunyikan.
Alih-alih sedang membaca buku di tangan, ia memandang sejenak untuk memperhatikan Alan beserta seluruh rombongan.
Alan sekilas menoleh ke arahnya, lekas Ananta kembali memalingkan wajah ke arah bukunya berada.
'Tidak, aku tidak percaya ini.' Gumamnya kala menyadari memang banyak perbedaan secara keseluruhan.
Rasa keraguan kian membelenggu pikiran, kala suasana sudah tidak seperti dulu. Yang mana biasanya saat guru belum hadir, Mike bagaikan burung berkicau yang membuat kebisingan didalam ruang kelas bahkan tak pernah luput selalu membual kepadanya.
__ADS_1
Namun kali ini tidak demikian, bahkan seluruh rombongan pun terdiam yang membuatnya penuh tanya berujung geram.
'Tidak, tidak, please Ananta tenanglah .. Dia Mike yakinlah dia tetap Mike, Okay?' Batinnya meyakinkan diri sendiri seraya mengepalkan tangan akibat ucapan tadi masih tergiang-ngiang dalam pikiran bahwa Mike memiliki kembaran.
Disisi Alan sendiri tidak begitu memperhatikan kala Ananta terdiam, ia menoleh ke arahnya hingga berkali-kali, tetapi Ananta samasekali tidak berpaling dari bukunya.
Pikiran positif yang Alan miliki saat ini ialah sekolahan tempatnya untuk menimba ilmu, alhasil wajar saja jika Ananta fokus membaca bukunya lantaran beberapa hari dia tidak masuk sekolah, pikirnya.
Tidak selang waktu lama guru hadir kedalam ruang kelas lekas pelajaran selanjutnya pun berlangsung.
Skip
***
Disisi Mike
Setelah upacara pemakaman selesai, Mike beserta seluruh kawan-kawan satu rombongan yang hadir disana masing-masing berpamit pulang.
"Mike, loe mau langsung balik kah?" Tanya Vidze saat mereka semua sudah keluar dari dalam rumah itu.
"Ho oh, gua mau mandi dulu bentar serasa udah setinggi 5 cm nih daki gua, nih uumm aromanya udah luar biasa dahsyat, kalian cobain gih" Cetusnya seraya mengendus jaketnya sendiri nan mendekatkan diri ke arah Vidze beserta rombongan.
"Bajigurr! Nih anak parah amat jujurnya" Cetus Jejen.
"Sompret dah ini bocah!" Sambung yang lain.
"Hahaha, wei jangan salah Men .. Jujur itu ada berbagai macam loh contohnya ada jujur ayam, jujur kacang ijo, dan .. jujur-lah padaku .. bila aku ini tampan, hahaha" Cetus Mike dalam kekonyolannya yang membuat gelak tawa seluruh teman-temannya.
"Jujur Ayam, jujur kacang, Itu mah bubur kamfret!" Seru Dimas.
"Ya ya ya, jujur loe emang tampan Mike, saking tampannya sampek kagak laku ama cewek, hayo .. jujur loe masih jomblo kan?" Cetus Vidze.
"Woih Gua bogem juga loe anj*r, bongkar kartu segala loe, sue!" Jawab Mike seraya hendak menyepak kaki Vidze tetapi dia langsung menghindarinya seraya terkekeh.
"Hahaha"
"Haiyaa .. Ejek aja teros, udahlah balik duluan gua" lanjut Mike, menyalakan mesin motornya.
Gruum .. Grumm ..
__ADS_1
"Wei Bro, habis loe udah selesai berbenah, kita mau ada kumpul di tempat biasa, bisa ngikut kagak loe?" Ajak Dimas.
"Okelah Sip bisa di atur, Gua jalan dulu" Pungkasnya melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh cenderung ugal-ugalan.
Gruum .. Gruum
Ngoengg ... wuussh.
"Halah-halah Dasar anak muda," Gumam beberapa diantara mereka saat Mike sudah pergi.
***
Tidak lama kemudian, ia nyaris sampai kedalam komplek perumahan, namun saat ia barusaja berhenti di pos satpam tengah menunggu sang satpam membukakan palang pembatas, ada mobil yang mengantri di belakangnya yang tak lain ialah mobil sang Ayah.
Mike tidak mengetahuinya lantaran samasekali tidak menoleh ke arah belakang. Sementara tidak demikian dengan Marvin, sekalipun Mike tidak menoleh ke arah belakang nan masih lengkap menggunakan helm beserta jaket, Marvin pastilah tau bahwa dia putranya (selain melihat dari plat nomor kendaraan yang dikendarai oleh Mike)
"Ternyata mau pulang juga kamu" lirih Marvin kala Mike hendak melajukan kembali kendaraan saat palang pintu sudah terbuka.
"Maksudmu apa Vin?" Tanya salahseorang yang duduk disebelahnya yakni Daniel.
Marvin tidak menjawabnya lekas melaju untuk menyusul masuk.
Ya, Marvin pulang sejenak ditemani Daniel lantaran ada keperluan hendak mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di rumah, namun tiada sangka ia bebarengan dengan Mike.
Saat Mike berhenti tepat didepan pintu gerbang, lekas ia turun dari atas motor melangkah ke sisi pojok pagar gerbang. Sementara Marvin pun sudah sampai lekas menghentikan kendaraannya tepat di sebelah motor milik Mike seraya langsung memencet klakson (Kode memanggil asisten)
Driinnnn .. driinnn
Sontak membuat Mike terkejut yang semula belum menyadari kehadiran ayah lantaran tengah sibuk mencari kunci serep di tempat persembunyian yang terletak disisi pojok gerbang itu.
Ia menoleh sejenak sembari memperhatikan siapakah gerangan orang yang memencet klakson didepan pintu gerbang rumahnya, tanpa ia memperhatikan plat kendaraan maupun ciri-ciri dari mobil itu sendiri.
"Sedang apa kamu disitu Mike, cepat masuk!" Ucap Marvin saat ia baru saja keluar dari dalam kendaraan.
"Pa .. papa, loh kok .. kok .."
"Kok, kok, Apa? Cepat masuk!" Seru Marvin tampak Marah.
'Haiyaa matilah aku ..'
__ADS_1