Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 85


__ADS_3

Setelah ia selesai membuatkan teh hangat untuk Ika, kemudian ia langsung menyuguhkan teh hangat tersebut.


"Ibu, ini minumlah dahulu" Ucap Alan sembari menyuguhkannya.


"Terimakasih nak" jawab Ika sembari tersenyum dan menyapu air mata yang terus-menerus mengalir diantara kedua pipinya.


Ketika Ika sedang mengelap pipinya, Alan langsung memegang tangan Ika seraya menyapu air mata yang mengalir di pipi Ika.


"Sudah Bu, ibu jangan menangis. Masih ada saya dan Yadi. Ibu tidak sendirian Bu"


"Hiks hiks hiks, kemana engkau pergi kamarin nak, dan kenapa semalam kamu tidak pulang?" Tanya Ika.


Sontak membuat Alan terkejut ketika mendengar yang Ika ucapkan.


'Semalam? Kemarin? Oh Tuhan. Apa maksud semua ini, apakah benar Mike telah menjadi diriku dalam beberapa hari ini seperti layaknya aku menjadi dirinya?' Batin Alan bertanya-tanya.


"Nak, kenapa kau diam saja? Pergi kemana kau kemarin? Dan kenapa semalam engkau tidak pulang?" Ucap Ika mengulangi pertanyaan-nya.


"Oh, itu Bu.. saya anu." Alan ragu-ragu hendak menjawab. Dan sebelum ia mengucapkan kalimat yang hendak ia ucapkan, kalimatnya menjadi terhenti ketika terdengar ada suara orang-orang dari luar rumah.


"Hey Alan! Keluar kau! Jangan bersembunyi didalam kau!" Teriak orang-orang tersebut.


Brak! Brak! Brak!


Orang-orang itu langsung menggedor pintu rumah dengan pukulan-pukulan sangat keras.


**


Sontak membuat Ika dan Alan yang berada didalam rumah menjadi terkejut. Kemudian, mereka bergegas untuk melihat apa yang terjadi diluar rumah.


"Ada apa ya ini, bapak-bapak, ibu-ibu? Ada keperluan apa sehingga anda semua datang kesini secara berombongan?" Tanya Ika merasa heran ketika melihat diluar rumahnya terdapat beberapa jumlah warga yang datang secara berombongan.


"Tak usah kau banyak nanya Bu, apakah kau tahu bahwa kelakuan anak kau itu tak bermoral hah!" Jawab ibu-ibu yang ikut serta hadir disana.


"Apa maksud ucapan kalian? Kenapa kalian mengatakan anakku tak bermoral?" Jawab Ika mengerutkan keningnya.


"Tanyakan saja langsung kepada dia apa yang telah dia lakukan bu!"


"Aiih percumah pak, dia itu pura-pura bisu jika di tanya!" Sambung warga yang lain.


"Iya benar, ternyata dia sama bejadnya dengan Ferdi. Diam-diam tapi menghanyutkan!"


Ketika para warga sedang saling berbicara seperti itu, Ika menoleh kearah Alan yang berdiri tepat disebelahnya.

__ADS_1


"Alan.. apa maksud mereka? Memangnya apa yang telah kau lakukan?"


Alan hanya menggelengkan kepalanya saja, namun dia sudah bisa menebak, semua ini adalah ulah Jessi.


Karena Alan tidak menjawab dengan satu kalimatpun kemudian Ika kembali berkata kepada para warga.


"Kenapa kalian mengatakan kelakuan anakku bejad, memangnya apa yang telah dilakukan oleh putraku? Apakah kalian memiliki buktinya?"


"Anda mau bukti hah? Ini lihatlah!" Ucap para warga sembari memperlihatkan foto yang sama ketika Jessi memperlihatkan foto tersebut kepada ayahnya.


***


Ya, Jessi telah membuat rencana sedemikian rupa untuk menghancurkan Alan, karena rasa sakit hatinya tidak bisa memiliki Alan. Ia menggunakan cara sedemikian rupa supaya masa depan Alan hancur.


Ia menyuruh rekan-rekannya untuk memprovokasi para warga dengan cara seperti itu. Menyadari para warga kampungnya memanglah sangat primitif akan hal-hal demikian dan sudah bisa dipastikan kemarahan para warga setelah melihat hal-hal tersebut akan berdampak buruk terhadap Alan.


"Astaga Tuhan," Ika melotot setelah melihat foto tersebut.


"Apa maksud dari foto ini pak? Bu?" Tanya Ika sembari menoleh kepada para warga.


"Itu kelakuan tak bermoral yang dilakukan oleh putramu, dia telah memperkosa anaknya pak Johan, tapi dia enggan untuk bertanggung jawab."


"Iya benar, sungguh kelakuan tak bermoral! Sangat Menjijikan!"


"Tidak Bu, itu adalah fitnah, itu bukanlah saya, saya tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu."


Mendengar jawaban Alan nampak seperti memungkiri, kemudian Ika langsung menampar Alan.


Plak!


"Apa maksud kau dengan berkata itu bukanlah kau hah! Mata ibu ini tidaklah buta Alan!"


Alan menunduk sembari memegangi pipinya dengan tangan. Kemudian ia melihat ke arah mata Ika.


"Apakah ibu tidak pernah mengenaliku bu?"


Alan merasa sedih karena Ika selaku orang tua yang mengasuhnya sedari kecil dengan mudahnya langsung tenggelam dalam provokasi yang disengaja oleh seseorang yang sangat antusias untuk menghancurkannya.


Ketika Alan mengucapkan kalimat tersebut, Ika malah langsung kembali menampar Alan lebih keras dari sebelumnya.


Plak! Plak!


"Dasar Anak sampah tak tahu diri kau Alan! Sungguh menyesal aku telah merawatmu!" Ucap Ika secara langsung.

__ADS_1


Mendengar kalimat yang Ika lontarkan tersebut, hati Alan terasa sangat pedih bak tergores seribu badik yang berkarat. Tak kuasa ia membendung air mata, kemudian mengalir deras diantara kedua pipinya.


"Ibu.." Lirih Alan memandang kearah Ika.


***


Kemudian, kemarahan dari para warga sudah tidak bisa dibendung lagi. Dan Kemudian pula salah satu diantara mereka yang dibayar paling tinggi oleh Jessi, dia memulai aksinya.


"Sudah jelas ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, kelakuan iblis semacam ini jangan dibiarkan berkembang biak di kampung kita. Ayo, kita seret saja dia lalu kita bakar dia di alun-alun, supaya para para pemuda-pemudi dikampung kita tidak mencontoh perlakuan buruk dari pemuda bejad ini! Musnahkan dia dengan segera!"


"Setuju! Setuju! Setuju! Setuju! Bakar saja dia! Bakar saja dia!" Teriak para warga sangat berantusias.


Kemudian, sebelum Alan diseret menuju alun-alun, dia langsung dianiaya oleh mereka bersama-sama.


Alan meringkuk ketika tengah dianiaya oleh beberapa jumlah warga tersebut. Rasa sakit fisik yang dia rasakan akibat pukulan-pukulan dari orang-orang, tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya setelah mendengarkan kalimat dari mulut Ika.


Ya, hati Alan sangat terpukul ketika mendengar ucapan Ika yang mengatakan bahwa dia menyesal telah merawat Alan. Sebenarnya Alan hendak menjawab ketika para warga memfitnah dia.


Namun, hati dia sudah lebih dulu merasakan sakit lebih dari sakit pada fisiknya yang seakan-akan telah hancur setelah mendengar kalimat dari mulut Ika. Menjadikan ia diam seribu bahasa, bahkan Mati pun sudah tidak ia pedulikan.


Kemudian, Alan dibawa oleh para warga menuju alun-alun secara berombongan hendak dimusnahkan disana dan disaksikan oleh publik.


Kejadian semacam ini tidak hanya sekali saja didaerah tersebut. Namun kebanyakan kasusnya sangat jelas, seperti Pasangan kekasih kedapatan mesum, pencuri dan lain sebagainya. Tidak seperti yang Alan alami saat ini adalah fitnah.


***


Disisi Marvin dan Mike


Mereka berjalan sudah sampai didaerah tersebut, namun Marvin selaku yang mengendarainya lupa dimana dan apa nama desa tempat Alan tinggal. Sehingga ia kebablasan hingga sejauh lima kilo meter dari kediaman Ferdi.


Dan kebetulan jua ketika mereka sampai didaerah tersebut, Mike dalam posisi tertidur. Sehingga Mike tidak mengetahui bahwa mereka telah nyasar.


Kemudian, Marvin berhenti sejenak pada bahu jalan disana. Setelah berhenti kemudian ia turun untuk bertanya kepada para warga sekitar.


Namun karena jarak tempuh desa tersebut dengan kediaman Ferdi sangatlah jauh dan juga terbentang luas areal perkebunan industri yang dia lalui membuat orang yang ia tanyai tidak mengenal siapa Ferdi.


Saat Marvin sedang keluar dan sedang bertanya kepada salah satu warga, Mike terbangun dari tidurnya.


***


Catatan Author


Maaf sebelumnya pada episode 84 kemarin, bisa sampai terkirim dua, jujur saya sendiri tidak tahu kenapa bisa sampai ada dua bab dalam isi yang sama, saya harap anda memaklumi bahwa sistem pada aplikasi ini tidak mudah untuk menghapus bab ataupun membatalkan publish.

__ADS_1


Tentang cerita yang saya buat ini bukanlah berbelit, melainkan saya tulis dengan sedetail-detailnya. Terimakasih.


__ADS_2