
"Anu.. itu hehe" Mike cengegesan ketika hendak mengucapkan apa yang hendak ia tanyakan ke Alan.
"Tanya apa, Mike?" Ulang Alan.
"Tadi siang kan.. kamu belum menjawab pertanyaanku, anu ku kamu taruh di mana, Lan?" Lanjut Mike sembari meletakkan dua jari ke bibirnya sendiri (kode merokok)
"Cih, Sudah ku buang" Jawab Alan secara to the poin
"What? dibuang? Semuanya?" Mike melotot sembari garuk-garuk kepala menggunakan kedua tangan.
"Iya"
"Alamak.. aiihh"
"Apakah kamu tidak bisa menghentikan kebiasaanmu itu, Mike?" Tanya Alan sembari meliriknya.
"Hehe hey Lan, setelah makan paling nikmat tuh Smoke." Mike mengeluarkan satu bungkus rokok dari dalam saku celana sembari mengangkat kedua alisnya seraya tersenyum.
Mengetahui itu sontak Alan langsung hendak merebut bungkus rokok tersebut dari tangan Mike.
Seet!
"Eitz, Aha gak kena"
Alan antusias hendak merebut lagi bungkus rokok tersebut.
Seet!
"Eitz no, no, no. Aku smoke di luar Tuan muda, santai Men.. tidak akan ku cemari ruangan ini" Ucap Mike bergegas menuju balkon.
"Tunggu Mike," Alan beranjak mendekat ke Mike.
"Apa?"
"Aku ingin mencobanya lagi" jawab Alan.
"Benarkah?"
Alan hanya mengangguk seraya tersenyum sembari menunggu Mike memberikan bungkus rokok tersebut.
"Ah.. baiklah." Mike sempat merasa ragu mengingat kejadian pada siang hari ketika Alan mencoba smoking lalu Alan hendak membuang rokoknya, terlebih lagi setelah mendengar pengakuan dari Alan yang menyatakan bahwa seluruh stok rokoknya di buang oleh dia.
__ADS_1
Namun melihat ekspresi Alan sama sekali tidak bisa ditebak oleh Mike, Alhasil Mike langsung memberikan bungkus rokok tersebut ke Alan.
Setelah bungkus rokok itu sudah berada ditangan Alan, Alan langsung berlari menuju wastafel yang letaknya di dekat kamar mandi. Lalu dia langsung membuka kran seraya menyiram bungkus rokok tersebut dengan air.
"Alamak aiya.. matilah" Mike bingung hendak berkata apa ketika melihat rokoknya di siram air oleh Alan. Dan sungguh tidak terduga kini untuk pertama kalinya ia gagal dalam menebak ekspresi/gelagat dari seseorang melainkan saudara kembarnya sendiri.
Setelah Alan selesai membuat rokok Mike basah, ia menoleh ke arah Mike seraya tersenyum. Sementara Mike sendiri hanya bisa merenges karena dia bingung hendak berkata apa. Dia sudah tidak bisa merokok lagi malam ini karena stok rokoknya habis selain rokok yang kini sudah basah di siram air oleh Alan.
Alan masih saja tersenyum sembari menggelengkan kepala ketika melihat ekspresi wajah Mike yang sedang kebingungan hendak berkata apa kepadanya.
"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan, Mike. Daripada kamu berpikir yang tidak-tidak lebih baik segeralah kamu beristirahat karena esok pagi kita sudah ke sekolah." Pungkas Alan sembari membuang rokok yang telah basah ke tong sampah lanjut beranjak kembali ke tempat tidur.
Sementara Mike sendiri masih saja terbengong sembari melihat ke arah tempat sampah tersebut hingga beberapa menit, mengingat hasratnya untuk menghisap zat Nikotin memanglah tinggi karena ia sudah kecanduan zat adiktif tersebut dari saat dia masih duduk di pendidikan tingkat pertama. Maka tidak heran jika Mike susah sekali untuk bisa langsung menghentikan kebiasaan tersebut.
***
Sepuluh menit telah berlalu, posisi Mike masih berdiri di tempat yang sama dan menghadap ke arah yang sama (tong sampah) sementara Alan sendiri sudah rebahan di tempat tidur dan sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
'Kok tidak ada suara hentakan kaki dia ya, apakah dia keluar dari kamar sembari ngesot? tapi tidak ada pula suara pintu terbuka maupun tertutup.' Batin Alan penuh tanya. Karena penasaran ia pun langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya hendak melihat dimanakah Mike berada.
Ketika sudah membuka selimut tersebut ia langsung menolah-noleh, ia merasa sedikit terkejut ketika melihat Mike masih berada di posisi yang sama dari sepuluh menit yang lalu.
"Mike, kenapa kamu masih berdiri di situ? Apakah kamu tidak mengantuk? Lalu apakah kamu hendak terjaga di sana sepanjang malam?" Tanya Alan.
Drrrt drrrt ddrrrt
Mike tidak langsung menjawab pertanyaan Alan, melainkan langsung menggapai hapenya yang terletak di atas meja sebelah kasur. Setelah ia mengecek isi didalam chat hapenya tersebut ia beranjak ke arah lemari, lalu mengambil jaket. Setelah jaket sudah ia dapatkan ia langsung menyampirkannya di atas pundak bergegas hendak keluar dari dalam kamar.
"Mike, kamu mau kemana tengah malam begini?" Tanya Alan melihat Mike nampak terburu-buru.
"Ah, tidak kemana-mana hanya mencari angin segar sejenak. Kamu istirahatlah dulu, esok pagi kita berangkat ke sekolah bersama-sama." Jawab Mike sembari tersenyum. Setelah itu Mike langsung beranjak pergi.
"Tapi Mike, Tunggu."
"Hanya sebentar kok, kamu tenang saja. Kamu Istirahatlah dulu" Mike tersenyum sebelum ia menutup kembali pintu kamarnya.
***
Waktu berputar sangatlah cepat, detik demi detik, menit demi menit telah berlalu Alan masih belum bisa memejamkan mata. Ia berkali-kali menoleh ke arah pintu lalu menutupi dirinya sendiri dengan selimut, membuka selimutnya lagi dan lagi. Hingga akhirnya ia beranjak turun dari atas tempat tidur melangkah ke arah balkon.
Ia berdiri di sana sembari berkali-kali melihat ke arah pintu gerbang menanti Mike yang tidak kunjung pulang. Terbesit rasa khawatir yang saat ini Alan rasakan mengingat kejadian saat pertama kali ia berjumpa dengan Mike. Yaitu saat Mike hendak dijadikan budak oleh kelompok Bonanza. Yang mana saat itu Bonanza salah menangkap seseorang (dirinya yang dikira Mike)
__ADS_1
'Pergi Kemana dia, bilangnya hanya sebentar tetapi sudah satu jam lamanya dia tidak juga pulang.' Gumam Alan didalam batin.
Alan terbayang saat ia sedang ditangkap oleh kelompok Bonanza, mengingat Bonanza sangat beringas ketika menyiksa dirinya yang dikira Mike. Membuat Alan menjadi merinding.
'Saudaraku selalu terlibat dalam masalah yang berujung pada kekerasan. Oh Tuhan, akankah aku mampu untuk membantunya kala terjadi sesuatu padanya?' Batin Alan seraya melihat kedua lengan tangannya. Setelah itu Alan beranjak kembali masuk ke dalam, langsung melihat hapenya.
"Ah, nomor Mike belum ada pula,"
Alan menaruh hapenya kembali di atas meja. Ia menoleh ke arah jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul 2:30 dini hari. Alan langsung bergegas untuk beristirahat walaupun ia masih merasa khawatir namun ia mencoba untuk meredam sejenak rasa kekhawatirannya tersebut.
***
Pagi hari kemudian.
Ngeooq.. Ngeooq.. ngeooq
Suara jam alarm yang telah di setel sedemikian rupa oleh Mike sebelumnya sehingga berbunyi ngeooq-ngeooq cukup membuat bising didalam ruang kamar. Menjadikan Alan dapat kembali terbangun dari tidurnya.
Pada sebenarnya tanpa suara Alarm pun Alan dapat bangun pagi, namun karena ia sangat lelah setelah berjalan cukup lama pada hari kemarin (ke Mall) membuat pagi ini ia tidak mampu bangun pagi, terlebih lagi waktu istirahat Alan terpangkas saat ia menunggu Mike pulang.
Rasa kantuk masih sangat membelenggu, namun tidak sebanding dengan rasa semangatnya karena pagi ini adalah hari pertama ia kembali menimba ilmu di sekolahan yang sama dengan saudara kembarnya.
Ketika Alan duduk, ia langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.
'Kemana dia pagi-pagi begini, apakah?'
Alan penuh tanya didalam batin karena Mike masih tidak berada di ruang kamar. Tanpa berpikir lama-lama ia segera bergegas untuk membersihkan diri hendak berangkat ke sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul 6:30 Am. Alan sudah rapi memakai seragam sekolah dan lain sebagainya. Ia diam sejenak ketika bercermin karena Mike masih belum terlihat antara berada di ruang lain ataukah masih belum pulang dan tengah terjadi sesuatu pada dia. Pikir Alan.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya sekaligus karena jam jua sudah semakin siang, ia bergegas turun ke lantai bawah. Setelah ia tiba di lantai bawah ia masih tiada henti-hentinya menoleh ke sana dan kemari.
Ia melihat ada Bu Tiah sedang sibuk di dapur serta melihat beberapa asisten rumah tangga yang lain sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan Mike.
Sejenak ia berpikir hendak bertanya kepada Bu Tiah, dan kepada sang Ayah yang mungkin saja masih berada di dalam kamar namun tidak jadi ia lakukan, Ia langsung bergegas untuk sarapan dengan beberapa roti yang tersedia di atas meja makan.
"Em.. anu maaf ini kakak Mike atau kak Michealan?" Tanya bu Tiah datang menghampiri Alan.
"Micheal" Jawab Alan singkat sembari mengunyah roti.
"Anu.. itu kak, Ibu mendapat pesan dari Tuan"
__ADS_1
"Pesan?"