Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 145


__ADS_3

Catatan


Bijaklah dalam menyikapi cerita ini sebab bagian ini Mengandung aksi kekerasan yang cukup tinggi, bagi yang tidak berkenan baca, silahkan lompati saja part ini. Dan sekali lagi saya ingatkan segala aksi kekerasan yang ada, bukan untuk ditiru!


"Sudah saya bilang diam kau Mike! Saudara kembar kau ini harus menerima pembalasan yang setimpal atas apa yang dia lakukan kepada adik saya!" Pekik Anwar melotot.


"Cih, lantas … bukankah semua itu sudah sepantasnya yang dia terima bahkan kamu sendiri pun demikian?" Sahut Alan. Tampak ekspresi khas tersirat dari sorot mata tajam nan senyum menantang.


"Tutup Mulut kau, Anj*ng!" Anwar emosi kala melihat ekspresi Alan seperti itu.


"Lan, apa maksud dia?" Bisik Mike penuh tanya, sebab ia benar-benar tidak mengetahui ada permasalahan apa sebelumnya.


"Ananta," Lirih Alan singkat.


"Ananta, jadi ... Apa!" Seru Mike melotot emosi, ia bisa langsung menyimpulkan maksud dari kalimat singkat tersebut.


Ya, kalimat singkat itu sudah menyimpulkan semuanya yakni mengartikan tentang masalah yang belum tuntas ia ketahui bahwa merekalah pelaku yang menghancurkan masa depan Ananta.


Darah terasa bagaikan mendidih lekas ia melangkah hendak menyerang, namun saat ia melangkah mendekat Anwar, Anwar langsung di tarik mundur oleh ketua gengster yang berdiri di belakang dia.


Seet!


Sontak Mike pun berhenti bak motor ngerem mendadak.


"Jangan membuang-buang waktu saya dengan mengalihkan topik utama, cepat katakanlah siapa orang yang menikam Bonanza!" Seru ketua gengster tersebut seraya berbalik arah, yakni ke arah depan (kelompok Dimas) maupun ke arah belakang (kelompok Bonanza)


Lekas Anwar selaku yang menyaksikan saat kejadian tersebut berlangsung (Alan menikam Bonanza) menunjuk ke arah Alan "Dia lah orang yang menikam Bonanza." Ucapnya saat ketua gengster tersebut sedang berbalik ke arah mereka.


Alhasil, ketua gengster tersebut Melotot mendengar pernyataan tersebut. Walaupun hingga saat ini ia samasekali tidak percaya, tetapi mengetahui pernyataan tersebut terucap langsung oleh Anwar selaku kelompok utama Bonanza maka ia pun tidak bisa lagi memungkiri.


Ia menoleh ke arah Alan maupun Mike lekas bertepuk tangan nan tertawa-tawa.


Prok prok prok.


"Hahaha Fantastis ini benar-benar legenda yang sangat fantastis! Seorang Mafia memanggil saya hanya untuk menyelesaikan urusan dengan bocah kecil semacam ini hah? hahaha"


"Aish, Tutup Mulut anda! Jangan anda kira kami semua dapat ditakut-takuti oleh nama gelar yang anda miliki itu hah, Cuih!" Sahut Dimas. Disusul teman-teman lain tertawa menantang.


"Hahahaha"


"Aeh .. diam kau!" Pekik ketua gengster tersebut kepada kelompok Dimas, lekas ia mengarah lagi ke Alan dan Mike.


"Baiklah, jika memang benar bocah ingusan ini yang telah melakukan penikaman terhadap Bonanza, maka saya sendiri yang akan langsung mencoba kemampuan kedua bocah kecil ini" Ucapnya penuh misteri akan tujuan lain yang ia miliki.


Sontak seluruh orang yang disana terkejut, terutama para anggota gengnya, Bagaimana tidak? sebab mereka melihat baru satu kali ini ketua gengster tersebut mau bermain-main dengan Anak kecil pikir mereka. Namun keputusan dari sang ketua tidak dapat di ganggu gugat maka mereka hanya bisa diam dan menyaksikan.


Namun sebaliknya dengan ketua gengster itu sendiri, ia sengaja hendak melawan Alan dan Mike bukan tanpa alasan, melainkan secara pribadi ia kagum nan memiliki rencana lain dibalik itu.


Bagaimana mungkin seorang Bonanza yaitu seorang anak dari Mafia terkenal, dan jua Bonanza sendiri sudah cukup terkenal akan aksi kejahatannya bisa ditikam oleh anak kecil seperti itu, pikirnya.


"Dengarkan semuanya, saya ketua ngu cnxang akan memberikan gelar kepada kedua pemuda cilik ini apabila mereka dapat mengalahkan saya." Serunya seraya mengarah kepada seluruh orang-orang yang berada disana.


"Cih, gelar apaan?" Lirih Mike santai tampak ekspresinya tidak sedap di pandang oleh sebagian lawan.


"Ya, mereka berdua akan saya juluki sebagai The Master oF Twins apabila mereka berdua mampu menjatuhkan benda dikedua tangan saya ini, akan tetapi ... apabila mereka tidak bisa menjatuhkan benda ini dalam kurun waktu 5 menit, maka saya akan mengambil kedua mata mereka hahaha. Hei lekas majulah kalian berdua bocah manis .. " lanjutnya seraya mengambil dua badik berukuran sedang pada tangan kanan dan kirinya lekas mengarahkannya ke arah depan. Seraya menyuruh sebagian anak buah untuk mengukur waktu.


Mike melirik ke arah Alan, sebab yang ia khawatirkan tidak lebih dan tidak kurang hanyalah keselamatan sang adik saat ketua gengster tersebut memberikan sebuah tantangan seperti itu. Menyadari Alan kurang pandai dalam tak-tik penyerangan, Pikirnya.


Namun, tidak demikian dengan Alan. Kala Mike meliriknya ia pun langsung mengangguk yang berarti bahwa ia siap maju.

__ADS_1


"Cih, hei dengarlah tidak ada julukan apapun bagi kami apalagi julukan tersebut dari orang seperti anda, dan ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa merubah julukan kami sampai kapanpun.


Tetapi baiklah, jika anda ingin memberi julukan maka kenanglah saja kisah kami ini dengarlah baik-baik, saya akan mengucapkannya dengan lantang bahwa inilah julukan kami 'Story Of The Lives Twins' " Balas Mike dari ucapan ketua gangster tadi, lekas ia maju menyerang nan disusul langsung oleh Alan.


Begitu Mike menyerang, ketua gangster tersebut sangat lihai mengayunkan kedua badik di tangannya ke arah Mike maupun Alan.


Seet!


Seet!


Mike sangat lihai dalam menghindari serangan senjata tajam itu lekas ia selalu menangkisnya dari lengan ketua gangster tersebut. Sementara Alan sendiri selalu nyaris terkena senjata tajam itu, namun Mike selalu saja berhasil menangkisnya.


Seet!


Seet!


Alhasil, ketua gangster itu langsung bisa menebak bahwa kedua bocah yang sedang melawannya ada yang tidak mengerti tentang tak-tik penyerangan, maka ia pun dengan sengaja mengarahkannya sering ke arah Alan nan menendang Mike sebelum ia mengayunkan senjata tajam itu ke Alan.


Seet!


Brak!


Mike terjatuh, lekas ketua gangster tersebut langsung mengayunkan senjata tajam itu ke Alan.


Seet!


Dan benar saja, saat serangan lebih sering ke arah Alan dan posisi Mike tidak sigap, maka Alan pun langsung terkena senjata tajam tersebut tepat pada pipi sebelah kanan.


Seet!


Sret!


Alan mundur lekas memejamkan mata saat pipi kanan tergores cukup dalam hingga darah pun langsung membanjiri pipinya.


***


Disisi lain


Saat perkelahian mereka sedang berlangsung, Saga mendekat ke arah Samuel dan Dion.


"Sam, Jika keadaan ini nanti sudah tidak bisa terkendali, loe bawa kedua bocah kembar itu pergi dari area sini. Mereka masih pelajar Masa depan mereka bisa hancur jika melawan dan berurusan dengan ketua gangster itu. Gua sudah kenal baik dengan Mike, tetapi gua tidak tau sifat saudara kembar dia." Ucap Saga.


"Oke" Jawab Samuel.


"Dan Loe Dion, saran gua loe tidak usah ikut serta di arena perkelahian ini. Lebih baik loe pergi ke area keluar sana untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu tempat ini dikepung oleh polisi, paham?"


"Oke bro, gua ngerti." Jawab Dion menerima baik keputusan Saga, karena Saga jauh lebih pengalaman tentang hal itu dibanding mereka berdua.


"Dan Loe sekalian bawa ini. Jika nanti keadaan ini sudah tidak bisa terkendali loe bakar benda ini lalu lemparkan benda ini ke arah sana, maka bantuan akan siap datang." Lanjut Saga menunjuk ke suatu Arah yakni tempat dimana kelompok gengster yang ia bawa berada, sembari memberikan benda tersebut yakni sebuah petasan kecil.


"Wei, kenapa gak gua samperin aja langsung mereka kesana, ribet amat pake ginian?" Jawab Dion.


"Mereka kagak kenal Loe G*blok! Bisa-bisa salah sasaran loe udah keburu di tebas oleh mereka saat loe datang kesana, udah buruan loe keluar dari sini." Lanjut Saga sembari menimpuk kepala Dion.


Plak!


"Awh … Oke, siap laksanakan kapten!" Pungkas Dion.


Maksud Saga tentang menyuruh Samuel untuk membawa pergi Alan maupun Mike adalah karena ia sudah paham sekali maksud ketua gangster itu mencoba dulu kemampuan kedua saudara kembar itu.

__ADS_1


Sebab yang ia ketahui selama ini, dalam aksi ketua gengster itu dia selalu mencoba bermain-main terlebih dahulu dengan anak seusia Mike dan Alan untuk dijadikan anak buah mereka kelak.


Jika pemuda remaja yang pernah dicoba oleh ketua gengster tersebut lolos, maka suatu saat nanti dia pasti akan mengejar (menculik) pemuda remaja itu untuk dijadikan anggota mereka. Dan jika pemuda itu menolak untuk dijadikan anggota gengster tersebut maka pemuda itu akan dibunuh oleh mereka.


Namun cara semua itu tidak diketahui oleh anggota gengster baru, melainkan mereka lakukan bersama dengan para ketuanya. Maka tidak heran jika anggota geng yang sedang ketua gangster tersebut bawa saat ini merasa terheran-heran saat melihat ketuanya mau bermain-main dengan Alan dan Mike.


****


Next


Saat Alan tengah mundur sembari memegangi pipi, Mike langsung maju menyerang menggunakan tak-tik yang biasa ia lakukan yakni meraih tangan dari sang lawan lekas hendak ia patahkan lengannya hingga benda tajam yang tengah di pegang oleh lawannya tersebut bisa jatuh.


Namun kali ini sungguh jauh lebih sulit, sebab lawan saat ini bukanlah sembarang lawan yang bisa dengan mudah ia raih. Mengingat perbedaan pengalaman yang signifikan dari keduanya.


Tetapi Mike bukanlah pemuda yang gampang menyerah, ia tetap maju meskipun tangan ia sering kali terkena ayunan badik dari sang lawan.


Sreet!


"Aish!" Mike meringis kesakitan saat tangannya tergores.


"Hahaha, nyalimu sungguh besar anak muda, saya sangat menyukainya. Ayo, Majulah lagi cepat mendekatlah bocah manis … Kedua mata kalian sangatlah indah Saya sudah tidak sabar ingin segera mengambilnya em .. lekaslah mendekat anak manis .. "


Mike melirik Alan, sementara Alan pun langsung mengangguk. Alhasil keduanya langsung maju lagi. Kali ini Mike masih menggunakan tak-tik yang sama yakni membuat tangan lawan terkilir. Sementara Alan menangkis tangan lawan satunya lagi supaya Mike bisa berhasil.


Dan benar saja, Mike berhasil membuat tangan lawan terkilir nan membuat satu badik di tangan kiri lawan terjatuh.


Seet!


Klotak!


"Arrgh!"


Teriak ketua gangster tersebut yang membuat seluruh lawan menjadi siaga hendak menyerang. Begitupun dengan kelompok Dimas.


Setelah satu badik dari tangan kiri tersebut jatuh, sungguh membuat semua orang disana tercengang kala menyaksikan apa yang terjadi.


Yakni Alan langsung meraih badik itu dari tanah lekas menancapkan badik tersebut ke arah mata kiri ketua gangster itu.


"Kenanglah julukan kami 'Story Of The Lives Twins' tanpa anda bisa melihat kami lagi" Ucapnya seraya tersenyum.


Seet!


Jleb!


Spontan Darah pun langsung muncrat membanjiri wajah Alan Lekas Alan mencabut badik itu lagi dan menancapkannya lagi ke mata kanan ketua gangster tersebut.


Seet!


"Mata adalah karunia Tuhan yang di berikan kepada kita supaya kita bisa melihat betapa indahnya Dunia ini, dan supaya kita bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Maka jangan sekali-kali kamu mengambil hak mutlak dari setiap manusia seperti ini, sudah berapa banyak hak manusia yang telah kamu renggut itu? maka inilah pembalasan untuk mereka semua, yaitu hak mutlak yang telah kamu renggut." Ucap Alan seraya menancapkan badik itu berkali-kali.


Jleb!


Jleb!


Jleb!


"Arrrggh! Tidaaak! Mataku Arrgggh!"


"Alan!" Seru Mike melotot melihat sang Adik sangat beringas melakukan aksi tersebut. Namun Alan samasekali tidak menolehnya.

__ADS_1


"Oh tidak, Michealan!" Seru Mike lagi.


Alhasil Alan pun langsung menoleh seraya tersenyum.


__ADS_2