Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 182


__ADS_3

Jovan merasa gembira dalam keadaan sangat lapar nan terdesak seperti sekarang ini ia menemukan kue didalam stoples kecil yang tak disengaja terinjak pelan oleh kakinya.


Tentu saja tidak mungkin baginya mencari makanan saat ini, apalagi kehawatiran yang dirasakan oleh Mike sesungguhnya sama saja seperti dirinya. Lantas tanpa ia pikir darimana asalnya dan kenapa ada kue di sana, lekas ia membuka stoples kecil itu "Tuhan, Engkau memang sangat baik" kemudian dimakanlah kue tersebut.


"Wuaaah unik bet bentuknya, Nyam … Buset! enak bener nih kue."


Sementara Mike yang kini sedang bimbang akibat nomor Alan di luar jangkauan tidak mempedulikan Jovan yang kini sedang kegirangan menemukan makanan.


"Wei bro, Loe cobain gih ni kue. Sumpah rasanya enak bener dah manis dan legit." Ucap Jovan menghampirinya seraya menyodorkan kue itu ke depannya.


Sontak ia meliriknya tajam tanpa mempedulikan apa yang sedang diperlihatkan oleh si Jovan.


"Buju buset, lirikan mata loe serem amat bro kek mau makan gua aje elah … Santai Men, Gua ngerti kok apa yang loe rasakan karang. Yakinlah Michealan pasti bak-baik aja. Loe tenanglah dikit. Sebaiknya loe cobain juga gih kue ini, sapa tau bisa nenangin pikiran loe."


"Ngaco loe Akh." Ia masih tak mempedulikannya cenderung kesal. Lantas Jovan tak ingin memaksakannya karena ia paham sekali apa yang sedang dirasakan oleh Mike saat ini.


Suasana sepi dan hening, membuat Mike tak ingin berlama-lama disana dan tak ingin bila sampai terjadi hal buruk terhadap sang adik, maka lekas ia melanjutkan kembali perjalanannya.


"Oit Bro, tungguin gua. Ett dah main ngacir aja loe. Hoiih … tungguin gua Coey." Jovan berlari mengejar Mike sembari masih memakan kue itu.


Akibat mata fokus terhadap kue yang di pegangnya, menjadikan Jovan tak begitu memperhatikan langkahnya, Maka ….


Bluug!


"Oit, Astaga Bro, ngomong kek kalu loe mau berhenti, Sue bener dah." Gumamnya kala ia menambrak Mike yang kini berhenti mendadak sembari meliriknya.


Melihat ekspresi Mike benar-benar tampak kesal menjadikan Jovan salah tingkah dibuatnya.


"Hehehe, Oke bro oke, kuy kite jalan cari Adik loe, em tapi … itu … anu … mata loe jangan melotot aje ngapa bro, serem bet suer, hehehe" Ucapnya seraya mengangkat dua jari setinggi pipi.


Lantas semula ekspresi Mike kesal, tiba-tiba berubah kala perhatian tertuju kepada benda yang kini di tangan Jovan.


"Itu … Dimana loe dapet toples itu?" Tanya-nya lantaran benda itu tak asing baginya.


"Ini … dari sonoh tadi." Jovan menoleh dan menelunjuk ke tempat tadi.


Segera Mike meraih benda itu dari tangan dia, lekas ia perhatikan baik-baik benda tersebut.


"Ini ... Bukankah … Oh Tidak! Mungkinkah … ini?"


"Hah, Loe ngomong apaan? kagak jelas amat." Sahut Jovan tidak mengerti. Mike jua tidak menjawabnya melainkan bergegas langsung pergi dari sana lantaran menduga benda tersebut adalah benda yang ada di rumahnya, lantas ia berkesimpulan semua itu ada hubungannya dengan keberadaan sang adik.


Semasih berjalan tergesa-gesa lantas beberapa rekan-rekan diantaranya Dimas, Vidze dan Jejen tiba jua di jalan tersebut.


"Wei Mike," Panggil mereka.


"Gimana?" Tanya Dimas secara to the Poin.


Mike hanya menggelengkan kepala dalam artian tidak menemukan keberadaan sang adik, serta tatapan mata tanpa melalui kata kepada mereka semua sudah cukup dimengerti, lantas mereka menggelengkan kepala juga sebagai tanda sesama tidak menemukan keberadaan Alan.


"Sabar Bro, gua yakin adik loe baik-baik saja." Ucap Dimas seraya mengusap pundak Mike, menenangkan.


"Hum, Btw kalian orang balik saja duluan" Jawab Mike bereskpresi sangat khawatir.

__ADS_1


Tentu saja ia sangat menghawatirkan Alan, lantaran sejak 17 tahun lamanya ia terpisah dengan sang adik (Saudara kembar) Alan selalu saja mengalami hal yang berbahaya. Apalagi sekarang ini, segala perkara yang terjadi dengan Alan semua terlibat dengan urusan pribadinya. (Liar)


"Santai aja bro, seperti yang sudah kita katakan tadi, kita semua stay buat loe." Jawab Dimas mewakili kawan-kawannya.


Mike tersenyum nan mengangguk, ia bangga memiliki banyak teman yang sangat setia seperti mereka, lantas didalam perbincangan tersebut mereka menyusun rencana hendak mencari Alan ke arah mana.


"Oke, oke, Kita hubungi loe nanti kalau kita menemukan jejaknya." Ucap Dimas.


"Oke" Mike menunjuk ibu jari sebelum ia melangkah pergi.


Lantas baru saja mereka semua hendak berpisah, beberapa anggota polisi datang menghampiri, mereka (Anggota Polisi) mengatakan pencarian terhadap Alan tidak dapat mereka teruskan lantaran pelaku penculikan yang terdiri dari empat orang usai mereka introgasi lantas ke'empat orang tersebut mengatakan bahwa dua diantaranya sudah kembali ke ibu kota (Anwar dan teman-nya) yang tidak disengaja menghubungi mereka sewaktu mereka sedang di introgasi.


"Apa? Jadi Adik saya …" Mike terkejut semakin bimbang.


"Benar, para pelaku sudah kami amankan, dua tersangka sedang menuju kembali ke ibu kota, kami akan segera mengamankan para pelaku ini dan akan secepatnya menangkap 2 pelaku lainnya." Jelas sang polisi.


"Baik Pak, terima kasih." Pungkas Mike mengakhiri perbincangan lantas bergegas melanjutkan langkahnya.


Ia pergi masih bersama Jovan, Semasih mereka berjalan, Mike tiada henti bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


'Dimana Alan? Apa dia udah pulang ke rumah? Apa ... Sebaiknya aku telpon papa aja ya? Tapi ... Ah, tidak-tidak. Ngomel pula nanti papa kalau tau aku dan Alan belum pulang, Aissh!'


___


Disisi Alan


Pada waktu yang sama dengan Mike yang saat ini sedang mencari keberadaanya, ia masih berkendara membonceng bapak-bapak yang terluka akibat menjadi sasaran para penculik itu menuju ke klinik. Tidak selang waktu lama, kini mereka sampai disana.


Jrug! Jrug! Jrug!


Lantas mereka langsung ditangani oleh dokter, Luka yang berada di pundak bapak tersebut akibat badik kecil yang tertancap tidak terlampau dalam, namun cukup membuat banyak darah yang keluar. Maka, dokter pun menjahit luka tersebut.


Sementara goresan luka yang berada di lengan Alan jua demikian, namun ia menolak untuk di jahit, alhasil luka tersebut hanya di berikan obat merah dan tutup perban. Lantas usai dokter meracikan obat luka, mereka bergegas keluar dari klinik tersebut.


Selama didalam klinik, hingga kini mereka keluar tersirat senyum kagum dari bapak-bapak tersebut kepada Alan, yang membuat Alan bertanya-tanya.


"Maafkan saya, Pak." Ucapnya singkat lantaran ia bingung hendak merangkai kalimat yang tepat untuk berbincang kepadanya.


"Wes … Ndak papa Nak, saya juga pernah muda seperti kamu, Hehe" Jawab-nya tersenyum hangat seraya menggelengkan kepala.


Namun, Sungguh semua itu justru tidak di mengerti oleh Alan kala bapak tersebut menggelengkan kepala.


Ternyata, bapak itu mengira saat ini sedang bersama pemuda yang dua kali berjumpa dengan-nya semasih bekerja di ibu kota. Yakni, berjualan es dawet keliling.


Ya, bapak ini ialah seorang penjual es dawet keliling yang tak disengaja menjumpai pembeli seorang anak muda (Mike) Namun, kejadiannya selalu berseteru akibat bahasa yang digunakan berbincang tidak menyambung.


Dua kali berjumpa dengan Mike, posisi Mike sedang bersama Alan, namun bapak-bapak tersebut samasekali tidak memperhatikan mereka berdua kembar, cenderung tidak begitu ingat, Maka ia mengira Alan adalah Mike.


Tentu saja, semua terjadi akibat bapak-bapak tersebut memang sudah berusia cukup senja kurang lebih 65 tahun.


Mendengar dan melihat bapak tersebut ikhlas dengan perkara yang tak sengaja berimbas kepadanya, Alan merasa sangat tidak enak, tapi lain daripada itu sejatinya ia jua memang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap sesama.


"Dimana rumah Bapak? biarkan saya menghantarkan bapak Pulang." Ucapnya bergegas langsung menaiki motor tanpa menunggu jawaban bapak itu terlebih dahulu serta langsung menyalakannya.

__ADS_1


Brumm .. Brumm …


"Mari, Pak." Ulang-nya.


Bapak tersebut tersenyum lekas melangkah menaiki motor sembari tangan kiri memegangi pinggang yang sakit akibat terjatuh tadi.


___


Selama di perjalanan, Alan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan pelan menuju ke arah sesuai petunjuk yang bapak-bapak tersebut ucapkan.


Pemukiman sana jua padat penduduk nyaris sama persis seperti di ibu kota, Ia menyusuri gang-gang sempit untuk tiba di kediaman bapak-bapak tersebut.


Kini, mereka nyaris sampai disana.


Yakni sebuah rumah kost-kosatan atau biasa di sebut kontrakan. Berdiameter lebar depan 5,5 Meter dengan panjang ke belakang 9 meter, hanya ada 2 pintu namun disebelahnya kebetulan kosong tak berpenghuni dan pada area depan/sebrang jalan terdapat lahan kosong milik pemerintah.


"Nah, itu gubuk bapak, eh bukan ding tapi yang bapak sewa hehe." Ucapnya semasih Alan sedang berkendara menuju kesana.


Jrug! Jrug! Jrug!


Ia menghentikan kendaraannya tepat di bawah pohon rambutan yang tumbuh rindang tepat di sebelah kostan bapak tersebut.


"Mari, Nak. Masuk dulu." Ucapnya.


"Tapi pak, anu …" Alan ragu, lantaran terpikir Ayah sekaligus Sang kakak pastilah sedang mencari keberadaanya apalagi keadaan ponsel sudah kehabisan daya.


Namun, untuk menghargai bapak-bapak tersebut, ia ambil langkah untuk menurutinya sejenak.


Ia berdiri tepat di belakang bapak itu, disaat bapak tersebut sedang membuka kunci pintu. Lantas, begitu pintu terbuka terdengar suara seorang gadis yang menyambut kepulangan Bapak tersebut dari dalam.


"Yeyee bapak pulang yeye …"


"Walah, urung turu kowe nduk?" Tanya bapak tersebut. (Artinya; Wah, belum tidur kamu, Nak?)


"Belum ngantuk Pak, eh .. Siapa itu di belakang bapak? wah …. ganteng banget …." Ucap dia langsung mendekat ke Alan dan tiba-tiba saja bertingkah yang tidak sewajarnya, yakni langsung memeluknya.


"Em .. Amu ganteng banget, amu juga wangi banget. Em …" Dia memeluk Alan erat seraya menikmati harum dari tubuh Alan.


Sontak Alan terkejut hingga membuatnya diam mematung.


"Ya Ampun Gusti, Nduk. Ojo koyo ngunu," Ucap bapak-bapak tersebut langsung menarik sang Anak supaya menjauhi Alan. Lantas segera memanggil istrinya. "Bu … Ibu, genduk'e iki bu .." (Bu ... Ibu, Anak-nya nih Bu.)


Sang istri pun keluar lantas meraih tangan sang anak. "Walah, cah iki kebiasaan tenan." Lantas dia menoleh ke Alan. "Loh, ada tamu tho, Maafkan anak saya, Nak. Mari silahkan masuk." Sapa dia mempersilahkan Alan Masuk.


Alan meringis tipis lantaran masih terkejut saat anak gadis itu bertingkah tidak wajar baginya, seraya melangkah memasuki rumah kost tersebut.


Kini, Alan sudah duduk dengan rapi, Minuman teh hangat sedang dibuatkan oleh istri bapak itu. Ekspresi Alan sungguh tampak ketakutan kala posisi anak gadis itu berdiri tak jauh darinya nan tiada henti memandangnya seakan hendak menerkamnya.


Sementara posisi Bapak tadi masih berada di toilet belum menghampirinya di ruang tamu.


Sehingga Bagaikan terdapat jarum jam di kepala Alan, saat menoleh ke gadis itu dan gadis itupun cengegesan seraya melambaikan tangan ke Arahnya.


"Hai ..."

__ADS_1


Tik! Tuk! Tik! Tuk!


'Ya Tuhan, Kok seram sekali ini'


__ADS_2