
Catatan dan peringatan
Terdapat konten dewasa.
Bonanza tertawa lepas setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, disusul Andika jua ikut serta tertawa.
"Hahahaha yup, cusss segera kita mainkan kawan" pungkas Andika.
Bonanza dan Andika kembali ke arah gerombolan orang yang sedang bermain-main dengan Ananta. Ketika mereka mendekat, Ananta menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hentikan, apa yang akan kalian lakukan, berhenti disana! jangan mendekati saya, berhenti!" Ananta terus-menerus berteriak.
Andika langsung menampar pipi Ananta, hingga Ananta terjatuh.
Prak!
"Pers*tan dengan kau gadis sialan! hahaha" pekik Andika sembari tertawa dan disusul oleh orang-orang saling tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha"
Andika kembali mendekat ke Ananta, Ia langsung menarik baju Ananta hingga robek, setelah itu ia langsung mel*mat bibir Ananta secara paksa.
"Emmphh!
"Apa yang kau lakukan baj*ngan!"
Ananta langsung menghindar lalu berdiri dan kembali mendorong Andika supaya menjauh darinya
Seet!
"Aiissh brengsek! banyak nian bacot kau!" Pekik Andika dan lagi-lagi ia langsung menampar Ananta.
Prak!
Akhirnya Ananta kembali terjatuh, Ananta langsung menangis sembari memegangi pipinya.
"Lelaki jahanam! Sungguh Laknat! terlahir dari batu kah kalian hah! berani-beraninya mempermainkan seorang wanita, Sungguh kelakuan bejad tidak bermoral!"
Mendengar kalimat yang Ananta ucapkan tersebut, Bonanza langsung bertepuk tangan sembari berjalan ke arah Ananta. Dia langsung menggeser Andika yang posisinya berada tepat berdiri didepan Ananta.
__ADS_1
Prok prok prok
"Yo.. yo.. yo.. Latiih kelunyih nian mulut Mulei Lunik ni, waow sungguh waow kimbang gasik berkata tentang Moral, hey Mulei Lunik! tau apa engkau tentang sebuah Moral hah? asal kau tau di otak kami para kaum lelaki hanya ada tiga perkara yaitu Harta, Tahta dan Wanita. Hahaha" Ucap Bonanza sembari tertawa dan kembali disusul oleh teman-teman lainnya saling tertawa terbahak-bahak.
"Betul itu bro, hahaha"
"Sungguh lelaki baj*ngan! tidak semua lelaki berpikiran busuk seperti otak kau! engkau pikir wanita itu sebuah barang yang dapat engkau mainkan sesuka kau hah! Kau pikir Tuhan tidak melihat apa yang tengah kalian lakukan saat ini, terkutuk kalian semua!"
"Hey! tutup mulut busukmu Mulei Lunik! Tidak usah kau bicara tentang Tuhan, Kenapa engkau tidak menyadari bagaimana posisi engkau sekarang ini hah?" Lanjut Bonanza sembari membelai-belai pipi Ananta.
Ananta menghindar sembari menangkis tangannya.
"Berhenti, hentikan, kampang!"
Kemudian tanpa basa-basi lagi Bonanza langsung memainkan aksi bejadnya disusul oleh anggota kelompoknya termasuk Andika.
"Oh Tuhan, tidak! Jangan lakukan! lepaskan saya! Tidak, Aaarrggh" teriak Ananta sembari menangis ia sudah tidak bisa berkutik ketika ia mulai digagahi oleh beberapa jumlah lelaki yang berada di sana.
SENSOR !
***
Namun tidak semua orang yang berkumpul di sana ikut serta dalam aksi bejad yang mereka lakukan terhadap Ananta dan salah satu orang tersebut adalah Rehan yaitu teman sekelompok utama geng Bonanza yang tidak suka bermain dengan wanita meskipun ia sesama br*ngsek namun dia tidak baj*ngan seperti teman-teman sekelompoknya.
Namun ketika mereka bermain dengan wanita, mereka lebih sering membeli wanita bayaran, tidak seperti sekarang ini yang sedang mereka lakukan adalah tindakan melanggar hukum. Ketika mereka melakukan aksinya, Rehan keluar dari rumah tersebut menyadari dia juga memiliki seorang adik perempuan yang tak lain dia adalah Maria teman Ananta.
Akan tetapi, Rehan tidak mengetahui bahwa adiknya berteman dengan wanita malang yang sedang digagahi oleh teman sekelompoknya karena dia sendiri jarang sekali pulang kerumah dan tidak begitu mengetahui dengan siapa saja adiknya berteman.
Dia keluar dari rumah itu bersama teman-teman lain yang tidak ikut serta dalam perlakuan mereka, dia duduk didepan rumah tersebut sembari merokok dan minum kopi bersama teman-temannya.
Rehan merasa merinding dan kasihan terhadap Ananta ketika mendengar suara jeritan Ananta terdengar cukup keras dari luar rumah itu. Namun apalah daya ia tidak bisa mencegah perlakuan teman-temannya, ia merinding karena baru satu kali ini ia mengetahui teman-temannya bermain dengan wanita hingga wanita tersebut menjerit, karena sebelumnya tidak pernah demikian. (Main paksa)
***
Setelah mereka selesai melakukannya, Ananta lemas tak berdaya pakaiannya robek dan compang-camping serta rambutnya sangat acak-acakan nampak sangat memprihatinkan. Ia masih tiduran meringkuk di lantai sembari terus menangis.
'Oh Tuhanku.. apakah salahku, apakah dosaku kenapa nasib buruk ini menimpa hidupku, hidupku telah hancur Tuhan, kesucian ku direnggut oleh para baj*ngan tak bermoral itu, akankah aku mampu menjalani hidup dengan tubuh bernoda ini Tuhan, ambillah nyawaku saja Tuhan, Ambillah nyawaku, aku tidak ingin hidup dengan tubuh kotor ini' rintih Ananta didalam batin.
Disisi Para kelompok yang tengah usai melakukan aksinya, mereka masih duduk-duduk di kursi sembari merokok dan meminum-minuman beralkohol.
__ADS_1
"Hey Andika, atau siapapun di sini, adakah yang tau nomor telepon Mike?" tanya Bonanza.
Semua teman menggelengkan kepala, namun ada salah satu diantara mereka yang menjawab.
"Gua si kagak ada nomornya Mike, tapi gua ada nomor temannya Mike, si Dimas"
Kemudian salah satu dari mereka disuruh oleh Bonanza untuk langsung menghubungi Dimas dan menyampaikan pesannya bahwa ia menyuruh Mike menemuinya untuk kembali bertanding balap liar. Dan jika Mike tidak datang memenuhi keinginannya, teman terdekat wanitanya akan segera dibunuh.
Disisi Dimas sendiri Ketika menerima panggilan telepon tersebut, Dimas sempat menolak dan tidak ingin memberitahukan kepada Mike, karena pertandingan adu balap belum lama diadakan, kenapa mendadak cepat Bonanza ingin menantangnya kembali bertanding. Akan tetapi ketika Dimas mendengar ada sesuatu dibalik tantangan Bonanza tersebut, ia pun langsung menghubungi Mike.
Selesai salah satu orang tersebut menghubungi Dimas, Bonanza kembali berjalan ke arah Ananta. Dia angsung menjambak rambut Ananta sembari berbicara sangat dekat dengan wajah Ananta.
"Hey Mulei Lunik, dengarkanlah kau pasti sedang berharap lelaki yang kau cintai hendak menyelamatkan engkau bukan?gua akan lihat bagaimana reaksi lelaki yang sok jadi pahlawan itu ketika melihat kau dengan kondisi seperti ini hahahaha" Bonanza tertawa iblis.
"Dengan caramu seperti itu, kau tak lebih hina dari sampah! dan lebih menjijikan daripada kotoran! dasar biadab, keparat, baj*ngan kalian semua!" Pekik Ananta secara terus-menerus karena depresi menimpa pikirannya.
***
Disisi Alan
Alan merasa bingung karena ia tidak mengenali teman Mike yang baru saja menelponnya itu, ia kembali menaruh hapenya di kasur, ia masih berdiam diri nan terbengong hingga beberapa menit, setelah itu ia hendak kembali melepaskan pakaiannya yang tadi sempat tertunda namun sebelum ia melepaskan bajunya ada suara bel rumah berbunyi hingga beberapa kali.
Ting.. tong.. Ting.. tong..
Suara bel rumah masih terus-menerus berbunyi membuat kebisingan di dalam rumah. Membuat Alan jadi penasaran lalu ia mengintipnya melalui kaca jendela terlihat ada tamu yang tak dikenal dari luar gerbang, ia melihat ada Bu Tiah sedang berlari untuk melihat siapakah gerangan yang memencet bel rumah secara terus-menerus itu.
Ketika Bu Tiah membuka pintu gerbang.
"Bu, apakah Mike ada dirumah? tolong cepat panggilkan dia ya?" Ucap tamu tersebut yaitu Dimas bersama Vidze dan Jejen.
Mereka sudah tiba lebih cepat sampai di kediaman Mike karena mereka kebetulan sedang melintas tidak begitu jauh dari kawasan perumahan itu, alhasil baru selang beberapa menit setelah ia menelpon Alan, mereka sudah sampai di depan rumahnya, sebab mereka memacu kendaraannya pun cukup kencang.
"Iya ada, tapi mas-mas ini siapa ya?" Tanya Bu Tiah karena ia tidak mengenali mereka semua, karena mereka semua adalah teman nongkrong Mike saat malam hari.
"Kami temannya Mike Bu, anu.. bisa minta tolong cepat panggilkan dia? ada sesuatu yang penting" lanjut Vidze.
"Baiklah, tunggu sebentar ya.." Bu Tiah hendak berjalan kembali untuk memangil Alan yang sedang berada di dalam kamarnya, namun ketika Bu Tiah baru saja hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Alan sudah berdiri di dekat pintu.
"Anu.. itu kakak Mike" Bu Tiah hendak berkata namun Alan sudah langsung berjalan menuju gerbang tanpa menjawab maupun bertanya kepada Bu Tiah.
__ADS_1
Ketika Alan sedang berjalan belum sampai tepat di depan pintu gerbang, Vidze, Dimas dan Jejen sudah langsung memanggil-manggilnya.
"Hey Mike, Mike, Mike"