
Catatan Author.
Pada bab bagian ini telah terhubung langsung dengan bab bagian 48.
Terimakasih.
"Alan, apakah engkau baik-baik saja, ataukah kita mampir kerumah sakit terlebih dahulu?" Tanya Joy merasa khawatir ketika Mike terus-menerus berteriak. Namun setelah beberapa menit berlalu, rasa sakit yang tengah dirasakan oleh Mike, berangsur-angsur membaik.
"Tidak perlu, lanjutkan saja perjalanannya bro." Jawab Mike telah melepaskan tangannya dari atas kepala.
"Seriusan engkau tidak apa-apa, kau nampak terlihat sedang sakit." Lanjut Joy sembari masih fokus menyetir.
"Tidak, tidak papa, lanjutkan saja perjalanannya." Jawab Mike dengan kalimat yang sama untuk meyakinkan Joy.
"Baiklah jika memang seperti itu, jarak tempuh masih cukup lama nih sebelum sampai di tempat tujuan, jika kau mau istirahat, kau istirahat saja dahulu. Duh mana hujan pula ini huh!" Pungkas Joy.
Selanjutnya Mike kembali menyandarkan kepala seraya menghadap kearah jendela kaca serta kembali memejamkan kedua matanya.
**
Jalan raya didalam ibukota tidak luput dari padatnya arus lalulintas, terlebih lagi masih terbilang cukup sore yaitu sekitar pukul 19:30 pm. Dan jua cuaca hari itu tidak bersahabat yaitu terjadi curah hujan sedang, namun terdapat banyak kilat petir diiringi suara gemuruh Guntur yang menggelegar. Dan jua tiupan angin berhembus cukup kencang.
Joy hendak mengisi bahan bakar pada salah satu pom bensin yang terdapat pada sekitar kawasan yang ia lalui. Karena ia tidak melalui jalan tol didalam kota.
Ketika Joy masih mengisi bahan bakar, Mike kembali membuka matanya, ia merasa haus, ia mengecek pada seluruh tempat didalam mobil, stok air minum yang Joy bawa kian habis. Selanjutnya ia turun dari dalam mobil.
"Mau kemana kau Lan?" Tanya Joy
"Nyari air minum sebentar,"
"Oh yasudah, hey, tapi sedang gerimis ini lho, awas nanti kau bisa flu jika hujan-hujanan. Oh iya selesai ini nanti gua mau ke toilet dulu, kebelet gua hehe." Jawab Joy.
Mendengar celotehan tersebut, Mike tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Hujan itu anugrah bro, jangan kau sangkut pautkan dengan penyakit, tidak masalahlah hujankan hanya air yang jatuh dari lagit, bukan kerikil hehe." Jawab Mike melucu.
"Haha, iya, iya, ah Ada-ada saja kau Lan," Pungkas Joy sembari tertawa.
__ADS_1
Selesai ia bercakap-cakap sebentar dengan Joy, Lalu ia melangkah hendak menuju warung sembako yang biasanya terdapat dipinggir jalan didekat pom bensin. Karena kebetulan diarea pom bensin yang sedang mereka singgahi tidak terdapat mini market yang mana biasanya pasti ada.
Namun ketika ia sudah berjalan sampai di pinggir jalan, ia tidak mendapati ada warung sembako yang biasanya ada dipinggir jalan.
Selanjutnya ia melihat kearah seberang jalan, disana terdapat mini market, namun jaraknya sekitar 200 meter dari ia berdiri. Karena ia merasa haus yang teramat sangat membelenggu di tenggorokan, iapun melangkah hendak menuju ke mini market tersebut, walau ia harus menerabas rintikan air hujan yang kian mulai deras dan telah membasahi rambutnya.
Ketika ia sudah menyebrang, letak mini market tersebut masih lumayan jauh, Iapun masih berjalan dipinggir jalan, ia sedikit sempoyongan karena ia masih merasakan pusing pada kepalanya ditambah rintikan air hujan yang sudah mulai membasahi keseluruhan area rambutnya.
Pinggiran jalan yang sedang ia pijak lumayan sepi dari aktifitas jual beli diantara ruko-ruko yang terpampang di pinggir jalan itu, dan jua lampu penerangan sedikit minim diarea yang sedang ia pijak, karena banyak diantara ruko-ruko tersebut sudah tertutup.
Ketika ia masih berjalan, terdengar ada dua suara seorang lelaki yang berteriak dari arah belakang dan mengucapkan kalimat
"Itu dia disana! Ayo Cepat kita tangkap bed*bah kecil itu!" Teriak kedua orang tersebut.
Mike sedikit penasaran dengan suara kedua orang tersebut, lalu ia hendak menoleh untuk melihat siapakah gerangan suara orang tersebut, namun sebelum tuntas ia menoleh kearah belakang, orang tersebut sudah berada tepat dibelakang Mike, lalu mereka langsung memukul Mike pada area kepalanya.
Brak!
"Arrggh!"
Mike berteriak dan Sontak membuat Mike langsung jatuh tersungkur dan langsung tidak sadarkan diri.
"Ayo, Cepat kita bawa dia kepada Bonanza!" Ucap orang tersebut yang tak lain mereka adalah Satria dan Andika.
Mereka menemukan Mike yang asli saat mereka telah berpencar arah dari kedua temannya yaitu Rehan dan Anwar ketika tengah mengejar Alan bersama Ananta.
Andikalah yang memukul kepala Mike sangat kuat karena ia memang sangat membenci Mike sedari dulu dan berkeinginan kuat untuk bisa melumpuhkan Mike, yang mana selama ini ia tidak bisa melakukan itu.
"Seret dia bro, biar gua carikan taksi dahulu." Ucap satria.
"Sip!"
Lalu Satria segera mencari taksi yang lewat untuk segera membawa Mike ke markas Bonanza, setelah mobil taksi ia dapatkan, Mike langsung diseret masuk kedalam mobil taksi tersebut hendak menuju markasnya.
**
(Bagian Ini adalah Sambungan dari bab 48)
__ADS_1
Pada sisi Alan
Ketika Alan ditarik kembali oleh Anwar saat setelah ia berhasil menyelamatkan Ananta, posisinya jatuh tersungkur ketanah, ia langsung dihajar oleh Anwar dengan pukulan bertubi-tubi.
Brak! Brak! Brak!
"Arrgh!"
Ia ditendang dan dipukul hingga beberapa kali khususnya oleh Anwar seorang diri, namun Rehan tidak ikut serta menghajarnya, walau ia bersamanya karena sedikitnya ia masih memiliki hati nurani.
"Sudah-sudah bro, hentikanlah lebih baik secepatnya kita bawa dia ke markas." Ujar Rehan ketika melihat Anwar menghajar Alan dengan sangat beringas.
"Hahaha hey bro, santai sajalah dulu, sangat menyenangkan sekali ini, ternyata dia lemah sekali bro." Jawab Anwar karena ia sangat hobi menyiksa seseorang yang sudah lemah tak berdaya.
"Bukan begitu bro," lanjut Rehan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa sih loe! Kenapa loe tak ikut serta menghajar bed*bah cilik ini hah!" Jawab Anwar.
"Mata kau lihatlah bro, kita sedang berada ditempat umum woi!" Jawab Rehan dengan nada tinggi.
"Aiisshh! Tak asik nian kau bro! Jika bed*bah ini sudah kita bawa ke Bonanza, pastilah sudah menjadi mainannya, dan sebelum dia resmi jadi mainannya Bonanza, akan lebih dulu gua yang mainkan bed*bah cilik ini." Jawab Anwar bersikukuh.
"Aiissh! Tak usahlah kau mainan disini, nanti juga ada saatnya giliran kau yang memainkan dia, serakah juga kau ternyata."
"Aiish! Res*k kali loe! Ganggu keasikan gua aja huh! Yasudah sana cepat loe cari taksi." Perintah Anwar menyudahi keinginannya untuk terus-menerus menganiaya Alan.
Anwar langsung menarik kerah baju Alan hingga ia berdiri disaat Rehan tengah mencari taksi.
"Hey, bed*bah cilik! mana kehebatan kau selama ini hah! Kau nampak jadi pahlawan saat kau berada diantara kawan-kawan kau! Tapi apa ini hah! Kau nampak layaknya tikus got yang tersiram air, hahaha!" Anwar mengejek.
Alan masih terdiam dan melihatnya dengan tatapan tajam.
Plak!
Ia langsung kembali ditampar oleh Anwar karena sejatinya Anwar sama seperti adiknya yaitu Andika yang mana mereka sesama berwatak keras dan kejam.
"Hey! Tak usah kau melotot macam itu! Kau pikir selama ini gua takut sama kau hah! Tanpa Bonanzapun gua bisa menghabisi kau saat ini juga ngerti kau! Jadi, Tak usah berlagak belagu dihadapan gua kau!" Teriak Anwar tepat didepan wajah Alan.
__ADS_1
"Tubuh kau memang Manusia, tetapi engkau gagal memiliki hati sebagaimana mestinya menjadi seorang manusia." Ucap Alan menatapnya penuh sengit.
"Woi! Apa yang kau bilang hah!"