Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 63


__ADS_3

Catatan author.


Pada bab berikutnya setelah bab ini sudah terhubung dengan bab bagian 41 yaitu tentang Alan dan ayahnya sesuai alur yang ada.


Terimakasih.


.


.


.


.


.


Ucap Wasis kepada Naldo, sementara Naldo masih terdiam dan ia ada rasa takut sekaligus khawatir karena ia merasa pukulannya sangat kuat ketika memukul kepala Mike.


Ia tak langsung menjawab Wasis, justru ia langsung kembali mendekat ke Mike serta menarik baju Mike hingga Mike dalam posisi duduk dan kepala Mike bersandar pada lengan Naldo serta mata ia masih terpejam.


"Wei! Anak bisu! Wei! Anak bisu!" Panggil Naldo secara berulang-ulang sembari ia menggoyang-goyangkan badan Mike sekaligus ia melihat kearah wajah Mike dalam posisi ia jongkok.


Ketika Naldo memanggil dia secara berulang-ulang nampak ekspresi diwajahnya sangat khawatir dengan keadaan Mike. Karena sejatinya ia sangat peduli dengan Alan walau rasa peduli itu kini tertutup oleh rasa kebencian karena rasa sakit hantinya yang telah salah tanggap dengan sikap dinginnya Alan sedari mereka kecil.


"Wei! Anak bisu! Mati apa kagak loe hah! Hey, jawab pertanyaan gua Alan!" Panggil Naldo mengulangi kalimatnya sembari menepuk-nepuk pundak Mike karena khawatir.


Namun ketika kalimat terakhir yang Naldo ucapkan adalah nama Alan, sontak membuat Mike langsung tersenyum dan langsung membuka kembali matanya.


Mengetahui hal tersebut membuat Naldo langsung kembali melepaskan Mike karena ia tak ingin rasa khawatirnya diketahui oleh Mike.


Ia langsung bergegas kembali berdiri sementara Mike masih dalam posisi tiduran dilantai karena langsung dilepaskan oleh Naldo yang sebelumnya ia memeganginya.


Mike masih tersenyum dan berlahan-lahan ia kembali berdiri.


"Aaiihh..aduh duh duh ah ah awwwh sakit nian nih rasa kepala gua tau." ucap Mike dalam ekspresi nampak sok akrab.


Melihat dan mendengar hal demikian, Naldo langsung berjalan mendekat kembali kepada Mike serta langsung memegang kerah Mike dan mendorongnya kearah tembok.


Brak!


"Oit, oit, awwh ahh!" Mike sangat mengece ketika tiba-tiba ia didorong ke arah tembok oleh Naldo.


"Hey! Kenapa kau melakukan hal seperti ini Alan! Kenapa kau hah! kenapa kau!" Ucap Naldo.


Sontak membuat semua teman-teman yang menyaksikan dan mendengarkan Naldo mengucapkan kalimat demikian merasa heran.


Begitupun dengan Mike namun Mike sudah bisa menilai dan melihat dari bahasa tubuh Naldo ketika ia mengucapkan kalimat demikian.

__ADS_1


Akan tetapi, ia ingin melihat ekspresi yang lebih detail dari Naldo sebelum ia memastikan apa yang sebenarnya Naldo rasakan sehingga ia sampai melakukan hal demikian.


Selanjutnya Mike langsung menyingkirkan tangan Naldo yang sedang memegang kerah bajunya sembari tersenyum.


Seet!


"Apanya yang kenapa hah? Aku sungguh tak mengerti apa maksud ucapanmu itu." Jawab Mike dengan santai sembari masih cengegesan.


"Biad*b! Kau!" Naldo melotot.


"Apakah kau Mau menghajarku hah? Oke, Lanjut saja hajar gak masalah kok bro." jawab Mike semakin ngece.


"Hentikan bac*t kau Alan!" Lanjut Naldo sembari kembali memegang kerah Mike serta melotot namun ia tidak langsung memukulnya.


Melihat tingkah Naldo seperti itu membuat semua teman-temannya merasa heran, namun mereka tak kuasa untuk ikut campur dalam obrolan diantara mereka alhasil mereka hanya diam dan menyaksikan.


"Kenapa kau tidak mengerti juga Alan! Kenapa kau berubah menjadi seperti ini hah!" Ucap Naldo karena kini Alan yang sedang dihadapannya menjadi sangat banyak berbicara dan nampak ekspresi wajahnya sungguh jauh berbeda saat ia bersama dengan Alan yang asli.


"Aku sungguh tak mengerti apa maksudmu, namun aku sudah bisa menilai bahwa kau sebenarnya sungguh mempedulikanku, bukankah benar begitu?" jawab Mike secara langsung sembari tersenyum.


Sontak membuat teman-teman Naldo merasa geram.


"Hey Alan! Memalukan sekali kau berkata seperti itu kepada Naldo! Sudah jelas-jelas bahwa kau sangat dibenci oleh Naldo! Bahkan hanya mendengar nama kau saja, darah dia langsung mendidih, ngerti kau!" Ucap Wasis.


"Oho! Benarkah? Apakah Kalian sungguh bodoh? Lihatlah betapa pedulinya dia kepadaku yang mana kalian tidak akan mengetahui dari cara ia memandangku." Jawab Mike dengan sangat percaya diri serta langsung berjalan menjauhi Naldo menuju pintu keluar.


Sontak membuat semua teman-teman yang disana terdiam sembari melirik kearah Naldo. Namun Naldo sendiri masih terdiam ketika mendengar kalimat yang baru saja Mike ucapkan karena memang benar adanya bahwa dirinya memang sangat peduli dengan Alan. Namun kepedulian itu tertutup oleh rasa benci yang terus-menerus menggelapkan hatinya dan menutupi rasa peduli itu kepada Alan menjadi sebuah kebencian.


"Hey! Berhenti kau Alan!" Teriak Naldo.


Mike langsung menghentikan langkahnya sembari menoleh kembali kearah mereka.


Ketika Mike menoleh, Naldo masih belum melontarkan perkataan apapun karena ia bingung akan mengucapkan kalimat apa kepadanya.


Mike langsung tersenyum.


"Hey kawan! Dengarkan, Jika kau ingin benar-benar mendapatkan seorang teman yang ingin berteman dengan kau, maka janganlah kau menarik perhatiannya dengan cara berbuat seperti ini. Mungkin engkau berpikir jika kau menjahilinya lalu orang itu akan tunduk maupun takut dengan engkau lalu ia akan menjadi teman kau hah? ingatlah ini, justru cara perlakuan kau yang seperti ini membuat tiada seorangpun teman yang akan tulus berteman dengan kau.


Lagi pula didalam sebuah pertemanan tidak ada yang namanya bos ataupun seorang pemimpin. semua sama rata dan akan bekerja sama dalam melakukan hal yang baik dan selalu mengingatkan satu sama lain jika salah satu temannya ada yang berbuat tercela, apakah engkau mengerti?" Ucap Mike.


Disaat Mike berkata demikian semua teman Naldo terdiam karena yang diucapkan Mike memang benar, namun mereka terheran-heran karena itu adalah pertama kalinya mereka mendengar kalimat panjang dari mulut Alan, karena yang mereka ketahui Alan sangatlah sedikit dalam bertutur kata.


Naldo sendiri terdiam dan terheran yang sama halnya dengan para teman-temannya rasakan.


'apakah benar engkau adalah Alan, tapi kenapa kau sangat asing sekali saat ini, tidak seperti Alan yang dahulu?' batin Naldo bertanya-tanya.


Selanjutnya usai Mike melontarkan kalimat demikian ia langsung berjalan keluar dari dalam ruang perpustakaan tanpa adanya tambahan kalimat karena ia sudah merasa sangat haus karena tadi belum jadi membeli air untuk ia minum. Dan jua ia merasa pusing setelah kepala ia dipukul keras oleh Naldo menggunakan kayu balok.

__ADS_1


Setelah Mike keluar, semua teman-teman saling berbisik membicarakan Alan, sementara Naldo sendiri terdiam dalam posisi jongkok dan menyandarkan kepalanya di tembok.


***


Mike berjalan kembali menuju warung sembako yang terdapat di pinggir jalan. Setelah ia selesai membelinya, ia langsung minum saat itu juga karena ia sudah merasa sangat kehausan terlebih lagi mendapat pukulan berkali-kali dari Verza dan juga dari rombongan Naldo.


Selanjutnya ia hendak berjalan kembali kearah asrama namun ia menghentikan langkahnya ketika mendengar ada seseorang yang berteriak-teriak memanggil nama Alan berulang kali dari arah kejauhan.


"Alan! Hey, Alan!" Teriak seseorang tersebut tak lain ia adalah Yadi, ia datang berboncengan motor bersama salah satu temannya dan nampak sangat tergesa-gesa.


"Ada apa, kenapa kau nampak khawatir begitu?" Tanya Mike ketika Yadi telah sampai tepat didepan ia berdiri.


"Loe buruan ikut gua balik Lan." Jawab Yadi nampak ekspresi cemas di wajahnya.


"Emang ada apaan? Kenapa kau nampak cemas?" Tanya Mike yang belum terjawab oleh Yadi.


"Ayah kita terkena stroke Lan! Ayo loe buruan balik!" Jawab Yadi.


Mendengar yang Yadi ucapkan selanjutnya Mike langsung bergegas ikut Yadi pulang berboncengan tiga orang menuju kerumahnya.


***


Setelah mereka sampai dirumah, benar adanya yaitu Ferdi mengalami stroke akibat penyakit hipertensi yang ia alami selama ini namun tidak ia periksa maupun ia obati.


Ferdi hanya dibawa ke klinik terdekat oleh Ika ketika Mike belum sampai kerumah dan posisinya kini Ferdi didalam rumah sehabis pulang dari klinik dan masih terbaring didalam kamarnya.


Mereka tidak cukup biaya untuk merawat Ferdi di rumah sakit, ketika Mike sampai dirumah, ia mendapati Ika masih menangis histeris disamping Ferdi berbaring.


Mike tidak banyak bertanya maupun berkata, ia langsung memeluk Ika untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau.


Mike terpikir sebuah kata yang ia lontarkan sendiri pada pagi hari ketika ia bertengkar dengan Ferdi.


'jagalah kesehatanmu ayah, janganlah anda terus-menerus marah-marah seperti ini, karena tak baik untuk kesehatanmu dan akan mudah terkena serangan darah tinggi jika engkau terus-menerus larut didalam emosi'


Itulah perkataan terakhir Mike sebelum Ferdi jatuh stroke dan Mike sungguh tak habis kira bahwa ucapannya sungguh kebetulan terjadi.


Karena memang Ferdi jatuh stroke setelah insiden pada pagi hari ketika ia marah-marah kepada Mike.


Bersambung..


***


Catatan author.


Lika-liku perjalanan Mike saat ia menjadi Alan akan segera usai, lalu bagaimanakah dirinya dapat kembali lagi kedalam kehidupan aslinya serta mengingat tentang siapa dirinya?


Akankah Mike segera bertemu dengan sang kembarannya yaitu Alan sementara saat ini Alan sendiri sudah mengingat siapa dirinya dan posisinya sedang dalam bahaya karena ia tertangkap oleh geng bonanza?

__ADS_1


Nantikanlah kisah berikutnya pada episode-episode mendatang.


Terimakasih.


__ADS_2