Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 128


__ADS_3

Disisi Alan


Jarak tempuh antara markas mereka menuju ke markas Bonanza cukup jauh, mengingat lokasi markas orang-orang itu berada di luar kota. Namun pada waktu tengah malam seperti sekarang ini jalan raya yang mereka lintasi sangatlah lancar. Sehingga hanya berapa menit mereka menempuh perjalanan, kini sudah nyaris sampai.


Sementara Jovan masih terus mengikuti mereka dari belakang hingga kini sudah memasuki wilayah menuju ke markas Bonanza.


Perlahan-lahan Alan kembali sadarkan diri, ia terkejut ketika menyadari posisi ia kini masih berada didalam kendaraan bersama 3 orang yang tidak ia kenali.


"Tenang Anak Muda, kami tidak akan menyakitimu." Ucap mereka seraya tersenyum ketika Alan melihat tangan ia masih terikat tali.


Alan tidak berkata apapun, namun jauh didalam lubuk hatinya banyak sekali kalimat-kalimat pertanyaan yang ia gumamkan tentang segala yang ia alami saat ini.


"Bro, melihat fisik dia, pasti dia anaknya orang kaya, bagaimana jika.." cetus orang yang menyetir memiliki pikiran buruk.


"Maksudnya?" Jawab orang yang duduk disebelah Alan, tidak mengerti.


"Aih, duit bro, duit" Lanjut dia memiliki rencana hendak menjadikan Alan sebagai sandra untuk mendapatkan sejumlah uang dari orangtua-nya Alan.


"Halah, jangan melenceng dari tugas utama, bro. Loe tau kan konsekuensinya?"


"Ya gua tau, tapi.. bukankah itu menguntungkan buat kita? Lalu kita bisa bagi rata hasilnya, bagaimana? Apakah kalian setuju?"


"Aissh, tutup mulut mu, fokuslah menyetir sebentar lagi kita sampai." Pekik salahsatu diantara mereka tidak menyetujui tentang rencana lain yang dibuat oleh yang sedang menyetir tersebut.


Karena tidak ada yang menyetujui rencana buruk itu, alhasil dia yang sedang menyetir tidak melanjutkan lagi perencanaan tersebut, mengingat bos mereka tergolong manusia yang kejam. Alhasil ia pun menyadari konsekuensi jika sampai rencana tadi mereka lakukan.


Sementara Alan hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka karena ia benar-benar tidak mengerti maksud mereka semua. Bahkan kini ia hendak dibawa kemana oleh mereka pun ia tidak mengerti.


***


Disisi Mike


Bonanza masih belum mengerti maksud dari yang Satria sampaikan tersebut. Alhasil, Satria langsung berbicara didekat telinga Bonanza mengenai orang yang hendak menukarkan sesuatu dengan barang haram yang Bonanza miliki.


Setelah Satria usai menyempaikan secara detail sesuatu yang hendak orang itu turkarkan tersebut, Bonanza pun langsung tertawa terbahak-bahak sembari bertepuk tangan.


Prok prok prok


"Haha, luar biasa. Lalu mana orang itu, suruh secepatnya bawa dia kepadaku, haha" Tanya Bonanza tidak sabar sembari masih tertawa-tawa.


"Sepertinya mereka masih berada di perjalanan menuju ke sini."


"Oke, hei Mike, kau lihatlah sebentar lagi, ada sesuatu yang akan gua perlihatkan kepada engkau. Haha"


'Sesuatu.. apa maksud dia' Batin Mike bertanya-tanya sembari meliriknya tajam. Tetapi ia tidak menjawab satu kalimatpun yang Bonanza ucapkan tersebut.


***


Disisi Alan


Mereka berhenti tepat di halaman depan markas Bonanza. Sementara Jovan berhenti jua dalam jarak yang masih cukup jauh, ia meninggalkan kendaraannya di sana, lalu ia menyusul mereka berjalan kaki sembari bersembunyi diantara rumput liar yang berada disekitar sana.


Rumah yang dijadikan Markas oleh Bonanza adalah rumah biasa. Dan jua rumah tersebut bukanlah suatu markas perkumpulan orang-orang mafia, melainkan hanya untuk berkumpul bersama teman-temannya saat berpesta barang haram maupun hanya sekedar minum minuman keras. Maka tidak heran jika tidak ada orang yang menjaga di sekitar rumah itu. Alhasil, Jovan melangkah mendekat ke rumah itu dari arah lain supaya ia mengetahui ada perkara apa didalam sana.

__ADS_1


"Tunggu, apa maksud kalian membawa saya ke sini?" Tanya Alan ketika mereka sedikit mendorong tubuh Alan keluar dari kendaraan.


"Tidak usah banyak cakap. Patuhlah." Jawab mereka sembari tetap mendorong Alan keluar.


Alan bertanya sebab ia paham dengan rumah itu, bahwa rumah tersebut adalah markas orang-orang kejam yang pernah menganiaya-nya saat ia masih tertukar posisi dengan Mike. Yaitu Bonanza.


Setelah ia sudah keluar dari dalam mobil, ia melotot ketika melihat ada sebuah Motor jenis MOGE yang terparkir didepan rumah tersebut.


'Oh tidak. Mike, apakah kamu berada didalam sana?' batin Alan penuh tanya.


"Hei anak muda, jangan paksa kami menggunakan kekerasan untuk membuatmu patuh. Cepatlah ikut kami" perintah orang-orang itu ketika melihat Alan masih berdiam diri sembari melihat ke arah motor itu.


Alhasil Alan berjalan tanpa paksaan memasuki rumah tersebut, setelah ia mengetahui ada motor seperti milik Mike di sana.


***


Setelah mereka semua sudah masuk kedalam rumah itu, mereka di sambut langsung oleh Bonanza.


"Bagaimana dengan barang yang kami bawa ini? Apakah kau sudah setuju dengan harga yang kami inginkan?" Ucap orang-orang itu sembari tersenyum.


"Haha tentu saja, uang tidak begitu penting bagi saya, jika untuk mendapatkan sesuatu yang sedang saya inginkan. Haha" Bonanza merasa puas atas kehadiran Alan yang orang-orang itu bawa.


"Hei, cepat kalian bawa barang itu kesini, lalu kalian pegang anak kecil ini" Perintah Bonanza kepada rekan-rekannya.


"Tunggu! Apa maksud semua ini, apa kalian pikir saya adalah barang yang dapat kalian perjual belikan? Lalu Apa hak kalian melakukan semua ini?" Ucap Alan emosi ketika ia memahami maksud mereka semua yang mempergunakan ia sebagai alat tukar barang.


"Aissh! Tidak usah banyak cakap kau, baj*ngan kecil!" Pekik Bonanza sembari melotot tajam.


Alan merasa geram, namun saat ini ia tidak bisa berkutik lantaran tangan ia masih terikat tali sangat kuat. Ia belum mengetahui bahwa didalam rumah tersebut ada Mike, karena posisi Mike berada didalam salahsatu ruang.


Anwar (kakak-nya Andika) salahsatu orang yang terbilang cukup kejam setara dengan Bonanza, ia pun langsung menendang Alan tepat dibagian lutut belakang, sehingga Alan langsung tersungkur.


Brakk!


"Haha, Salam Jumpa kembali wahai pemuda lemah! masih ingatkah engkau akan rasa ini hah? Hahaha" Anwar merasa puas ketika berjumpa kembali dengan Alan mengingat ketika ia menangkap Alan kala itu bersama Rehan, ia merasa belum puas menganiaya Alan sebelum Alan diserahkan kepada Bonanza. (Kisah tersebut berada pada bab 68 & 69)


"Manusia Laknat!" Alan melotot sembari kembali dalam posisi berdiri.


"Hei Anak kecil, tidak perlu kau melotot macam itu, atau.. mata kau ingin gua colok hah! Hahaha" Anwar nampak mengece merasa jadi manusia paling hebat didunia atas penindasan yang ia lakukan tersebut.


Alan sendiri merasa sangat geram karena ia ingat orang-orang yang tengah berada di hadapannya tersebut adalah orang-orang yang telah merusak masa depan Ananta.


"Apakah anda berpikir, seseorang yang terlihat lemah dia pasti lemah?" Jawab Alan.


Usai Alan mengucapkan kalimat tersebut Bonanza datang sembari bertepuk tangan.


Prok prok prok


"Woah, hebat nian kau punya mulut berbicara macam itu, tapi sayang seribu sayang hanya mulut kau saja yang besar, Baj*ngan kecil!" Pekik Bonanza seraya langsung menampar Alan sangat kuat.


Prak! Prak!


"Haish!" Alan nampak semakin emosi.

__ADS_1


"Woi! Kenapa kau melotot macam itu hah! Mau melawan kita hah? Haha" Bonanza dan rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak karena mereka mengetahui bahwa Alan berbeda dari Mike dalam hal bela diri.


Sementara Alan sendiri hanya melirik mereka disaat mereka tengah menertawakannya, lalu ia menoleh ke seluruh ruangan tersebut tetapi ia tidak melihat keberadaan sang kakak disana.


'Apakah hanya perasaanku saja Mike berada di sini juga? Tetapi.. dia tidak terlihat samasekali.' Batin Alan penuh tanya.


"Hei kalian orang, cepat bawa dia masuk kedalam ruang itu, permainan yang mengasikkan akan segera kita mulai." Perintah Bonanza.


"Yep,"


Mereka langsung membawa Alan memasuki salahsatu ruang yang berada didalam sana. Sebelumnya Alan sempat memberontak, tetapi tenaga mereka jauh lebih kuat sehingga Alan susah menghindari cengkraman mereka.


Ketika sudah berada didepan pintu ruang tersebut, mereka langsung mendorong badan Alan hingga ia langsung jatuh tersungkur tepat didepan Mike, posisi Mike saat ini tengah berdiri nan terikat tali diantara tangan kanan dan kirinya.


Braak!


Mike masih menunduk akibat rasa perih sekaligus pusing oleh penganiayaan yang Bonanza lakukan, sehingga ia belum menegakkan pandang ke arah depan.


Mereka semua langsung tertawa-tertawa ketika Alan tersungkur dalam posisi tangan ia masih terikat tali.


"Hei Mike! Apakah kau tidak ingin melihat siapakah orang yang gua bawa ini hah? Haha" Ucap Bonanza seraya mendekat ke Alan.


Sontak Alan langsung melotot mendengar Kalimat yang Bonanza ucapkan tersebut. 'Mike..?' Batin Alan seraya ia hendak kembali berdiri. Namun, ketika ia hendak berdiri, Bonanza langsung menginjak punggungnya.


Breek!


Kemudian Bonanza menarik kerah-nya Alan dari belakang sehingga membuat Alan tercekik.


"Errgh, uhuk uhuk"


Mendengar seseorang seperti sedang kesusahan napas, perlahan-lahan Mike meluruskan pandang melihat apa yang sedang terjadi didepan-nya.


Sontak Mike sangat terkejut ketika mengetahui seseorang yang tengah dalam kesusahan napas tersebut adalah sang Adik.


"Woi, Bedebah! Apa yang kalian lakukan, lepaskan adik saya!" Teriak Mike, emosi sembari mengibas-ngibaskan tangan-nya yang masih terikat tali tersebut.


"Hahaha" Bonanza langsung tertawa iblis disusul oleh semua rekan-rekan yang menyaksikan ekspresi Mike nampak emosi melihat saudara kembarnya berada dalam cengkraman Bonanza.


"Saya bilang lepaskan Adik saya kepar*t! Sungguh kau manusia yang licik!" Pekik Mike tiada henti-hentinya mencoba melepaskan diri walaupun semakin ia bergerak maka tali yang mengikat tangannya tersebut membuat tangannya semakin terluka.


"Haha, baiklah gua juga belum ingin melihat adik kau ini mati akibat kehabisan napas sebelum gua memainkannya, paham! Haha" Jawab Bonanza sembari melepaskan kerah Alan.


***


Disisi Jovan


Ia masih belum mengetahui ada perkara apa yang sedang terjadi didalam rumah tersebut. Namun ketika ia melangkah semakin mendekat, terdengar suara teriakan dari dalam maka membuatnya semakin penasaran. Alhasil, ia langsung mencari celah-celah jendela melalui samping rumah tersebut.


Kebetulan didalam rumah itu terdapat jendela kaca yang ukurannya tidak begitu besar nan terpasang tidak terlalu tinggi kurang lebih 100 cm. Ia pun langsung mendekat ke arah jendela tersebut. Ia mengendap-ngendap bak maling yang tengah mengintai isi didalam rumah orang.


Beruntung dari arah dalam jendela kaca tersebut tertutup triplek sehingga seseorang dari dalam tidak mengetahui keberadaannya melalui jendela itu. Namun ia masih bisa melihat ke arah dalam melalui celah kecil dari triplek yang menutupi jendela tersebut.


Sontak ia langsung melotot melihat adegan yang sedang terjadi didalam ruangan itu.

__ADS_1


'Astaga Tuhan, mereka berdua? Oh tidak, Itu perlakuan yang tidak benar.' Batin Jovan merasa geram ketika melihat kedua saudara kembar sedang dianiaya oleh seseorang yang tidak manusiawi.


Alhasil Jovan berinisiatif untuk ikut campur dalam urusan yang ia tidak ketahui asal-usulnya tersebut. Namun untuk sementara ini ia masih melihat situasinya terlebih dahulu sebelum ia ikut terjun menyerang.


__ADS_2