Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 81


__ADS_3

Catatan


Terdapat kata umpatan.


Selesai ia mengucapkan kalimat tersebut didalam batinnya, Kemudian ia langsung menaiki pagar tersebut. Dan ketika ia hendak melompat ke sungai itu karena depresi yang sangat berat menimpa hidupnya, kemudian ada tangan seseorang yang menariknya dari arah belakang.


Seet!


"Lepaskan! Lepaskan tangan saya!" Teriak Ananta sembari memejamkan mata belum mengetahui siapakah gerangan tangan seseorang yang menariknya.


"Hentikan! Apa yang akan kau lakukan." Jawab seseorang tersebut.


Kemudian, secara perlahan-lahan Ananta meluruskan pandangannya tepat kepada seseorang tersebut. Dan setelah ia melihat siapakah gerangan orang itu, ia langsung melotot tajam penuh emosi. kemudian ia langsung menampar orang itu sangat keras.


Prak!


"Dasar Iblis jahanam! Baj*ngan tengik kau!" Umpat Ananta sembari ia menampar seseorang tersebut.


Orang tersebut terdiam tanpa mengatakan apapun ketika mendengar Ananta mengumpat karena Ananta nampak sangat marah ketika melihatnya. Dan seseorang tersebut adalah Rehan. Ya, dia adalah Rehan Salah satu anak buah Bonanza yang tidak ikut serta melecehkan Ananta kala itu. Namun ia membiarkan Ananta dilecehkan oleh semua teman-temannya pada kala itu.


"Pergi dari hadapanku kau manusia laknat!" Umpat Ananta kembali sembari melotot tajam.


Namun Rehan masih terdiam tanpa kata karena ia merasa sangat bersalah. Kemudian, Ananta kembali melangkah kearah pagar jembatan tersebut hendak melakukan kembali aksinya. Namun, sebelum Ananta melakukannya kembali, Ia langsung ditarik kembali oleh Rehan.


Seet!


"Hey, Hentikan, saya mohon." Pinta Rehan ketika ia berhasil menarik kembali tangan Ananta. Dan kemudian ananta langsung kembali menampar Rehan hingga beberapa kali.


Prak! Prak! Prak!


"Kau yang berhenti bed*bah! Kenapa engkau menghalangiku baj*ngan! Puas kau hah! Puas kalian semua hah! Setelah apa yang kalian semua lakukan padaku!" Teriak Ananta sembari masih menamparnya hingga beberapa kali.


Ketika Ananta tengah menamparnya, Rehan langsung menunduk dan langsung berlutut didepan Ananta.


"Saya mohon, hentikanlah niatmu, jangan engkau melakukan itu. Yang sepantasnya melakukan itu adalah aku. Aku tidak akan mengucapkan kalimat maaf kepadamu karena permintaan maaf itu sungguh tidak pantas untukku lakukan." Ucap Rehan nampak sangat menyesal terlihat diwajahnya.

__ADS_1


"Hey, Bed*bah busuk! Apa yang kau lakukan ini hah? Hahahaha kau lucu sekali ya, eh nampak tampan pula ternyata kau ya hahaha" Ananta tertawa ngekek bak orang yang tidak waras ketika mendengar Rehan mengucapkan kalimat tersebut.


Kemudian Ananta mendekat kearah wajah Rehan yang tengah berlutut didepannya. Setelah posisi wajah ia memandang wajah Rehan sangat dekat, Kemudian ia langsung tertawa-tertawa bak orang gila.


"Hahaha hey, sudahlah Pergilah kau sana saya sudah sangat lelah nih hahaha aku mau nemuin dia di surga. ya disurga.." Ucap Ananta pikirannya sudah tidak bisa dikendalikan. (Gila)


Kemudian Ananta melangkah hendak pergi dari hadapan Rehan.


"Tunggu!" Seru Rehan dan langsung meraih tangan Ananta.


"Lepaskan tangan saya iblis tampan hahaha eh, apakah kau tampan, apa aku yang tampan.. eeeh kok aku yang tampan ya hihihi hahaha" Ucap Ananta yang sudah tidak bisa menyambung diajak berbicara dan ia berbicara sendiri yang tidak jelas maksudnya apa alias ngawur.


Kemudian ia langsung mengibaskan tangan Rehan yang tengah memeganginya. Setelah tangan ia terlepas ia langsung berjalan kearah jalan.


Ketika Ananta tengah melangkah kearah jalan tersebut, ada sebuah minibus yang tengah melintas dengan kecepatan penuh.


"Hey! Berhenti jangan terus melangkah hey! Lihatlah berhenti hey, Awaaasss!" Teriak Rehan melihat mobil yang melintas terlihat sangat kencang dari arah kejauhan.


Tin... Tin...


Brak!


Ananta langsung tertabrak mobil tersebut hingga ia langsung terseret sejauh 10 Meter.


"Oh Tidak!" Seru Rehan nampak sangat khawatir.


Mobil yang telah menabrak Ananta langsung melarikan diri. Mengetahui hal tersebut Rehan secara langsung berlari menuju ke Ananta yang sudah tergeletak bersimbah darah.


"Oh tidak, gadis ini Ya Tuhan.."


Bersambung..


***


Disisi Mike

__ADS_1


Sementara Mike sendiri sudah melangkah sangat jauh. Dan ketika ia melangkah pergi, ia samasekali tidak menoleh lagi kearah belakang. Karena ia tidak berpikir yang tidak-tidak terhadap Ananta. Karena, ia sudah paham sekali dengan Ananta menyadari mereka memang bersahabat dekat, bahkan persahabatan tersebut sudah berlangsung sangat lama.


Ia masih melanjutkan perjalanannya mencari keberadaan Alan. Kemudian, ditengah-tengah perjalanannya terjadi hujan lebat yang berlangsung dalam hitungan menit. Ia meneduh sejenak di depan salah satu ruko yang terpampang di pinggiran jalan yang sedang ia lalui.


Ia berdiri sembari menyandarkan kepalanya di folding gate ruko tersebut sembari melamun, menunggu hujan mereda.


'Oh Tuhan, sesulit inikah aku hanya ingin bisa berkumpul bersama-sama dengan saudaraku. Engkau tahu Tuhan, aku sangatlah menginginkannya. Temukanlah aku kembali kepadanya Tuhan..' Batin Mike seraya berdo'a.


Kemudian, ditengah lamunannya ia terbayang jua kala terakhir ia berada di kehidupan Alan saat ketika ia hendak berangkat ke sekolah bertengkar dengan ayah angkatnya Alan yaitu Ferdi. Kemudian ia melotot.


'Oh Tuhan, jangan-jangan selama ini, Alan telah mengalami segala penganiayaan yang dilakukan oleh orang itu? Aiish! Alangkah bodohnya aku tidak menyadari akan hal itu, padahal sudah jelas-jelas aku sudah pernah hidup didalam kehidupannya.'


Pikir Mike menyadari bahwa saat ini begitu sulitnya bagi Alan jika Alan dapat secara langsung menerima kenyataan bahwa dia adalah anak dari ayahnya. Kemudian Mike langsung bergegas untuk melanjutkan perjalananya dan ia sudah tau akan kemana untuk mencari Alan ketika hujan mereda, ia melanjutkan kembali berjalan kearah barat.


***


Disisi Alan


Pada jam yang sama dengan Mike yaitu pada saat hujan turun lebat. Alan meneduh disalah satu ruko juga, yang mana posisi ruko tempat ia berteduh hanya berjarak 200 meter dari keberadaan Mike. Namun diantara mereka tidak saling mengetahui. khususnya Mike yang mana ia sedang mencari keberadaan Alan.


Alan jongkok diantara beberapa orang yang tengah meneduh jua di depan ruko tersebut, sembari menutup mukanya dengan kedua lengan tangan yang ia tekuk diantara kedua lututnya.


Hingga tiba saatnya hujan mereda. Alan melangkah kembali kemanapun langkah kakinya melangkah. Karena ia tidak tau harus kemana dan ia tidak tau hendak menuju kemana. Kemudian ia melangkah kearah Timur.


Walaupun hujan sudah mereda, namun masih terdapat tetesan air hujan dalam volume kecil mengiringi langkah Alan yang tidak tahu tengah menuju kemana. Ia berjalan pelan, sembari sesekali ia melihat kearah langit.


Begitu banyak kalimat didalam hati Alan yang ia ucapkan,namun tidak ia utarakan kalimat tersebut menjadi sebuah kata-kata melalui lisan.


Kemudian disaat ia tengah melihat kearah langit sembari berjalan di pinggir jalan, menjadikan ia tidak melihat kearah depan sehingga ia menabrak seseorang yang berada didepannya. Hingga ia sendiri hampir terjatuh.


Brak!


"Aaaiih.. macam mana pula kau, jalan tak pakai mata!"


Bentak seseorang tersebut ketika tertabrak Alan, walaupun sebenarnya dia sendiri yang berjalannya terlalu terlalu buru-buru.

__ADS_1


Kemudian ketika Alan dan seseorang tersebut sudah saling pandang satu sama lain, orang tersebut langsung tersenyum lebar penuh gembira.


"Kau rupanya Lan, aha Akhirnya, ketemu juga kau."


__ADS_2