
Mendengar kalimat yang Mike ucapkan, sontak membuat sang provokator tersebut nampak cemas dan kebingungan. Karena sebelumnya Jessi telah berpesan kepadanya bahwa ia telah dibayar tinggi untuk segera musnahkan Alan dengan cara memfitnahnya dan sebisa mungkin jangan sampai melibatkan Jessi secara langsung untuk dihadapkan publik.
Namun tiada duga bahwa kejadiannya menjadi seperti ini yaitu ada Alan lain yang muncul ketika ditengah-tengah aksinya hendak berhasil. Dan jua sungguh tidak disangka kemunculan seseorang yang memiliki rupa sama dengan orang yang sedang ia fitnah sungguh memiliki nyali yang sangat besar. Bahkan membuat dia kewalahan sendiri ketika menghadapinya dengan tutur kata.
***
Melihat ekspresi wajah dari sang provokator tersebut nampak cemas dan belum mengucapkan satu kalimatpun, membuat Mike langsung tersenyum.
Kemudian, kepala desa setempat ikut berbicara ditengah-tengah sang provokator tersebut sedang kebingungan hendak menjawab ucapan Mike. Kemudian sang kepala desa pun langsung menyetujui apa yang Mike ucapkan tadi, yaitu tentang gadis tersebut.
"Benar yang diucapkan oleh pemuda ini, Cepatlah Panggilkan gadis itu, bawalah dia kesini dengan segera" perintah kepala desa kepada salah seorang warga yang berada disana.
Mendengar perintah dari sang kepala desa, Kemudian salah satu warga yang berada disana hendak berangkat langsung menjemput Jessi, akan tetapi ketika mereka hendak melangkah ada suara seseorang yang menghentikannya.
"Tunggu."
Alhasil semua mata langsung mengarah kepada seseorang yang datang tersebut dan seseorang yang datang itu tak lain dia adalah Naldo. Ia datang dari arah kejauhan yang mana ia sendiri memang sedang menyaksikan apa yang sedang terjadi disana.
Kemudian, Naldo langsung melangkah kearah Mike. Setelah ia sudah sampai tepat berdiri didepan Mike, lalu ia pun langsung tersenyum.
"Biar saya saja yang akan menjemput dia." Ucap Naldo.
"Hem, oke Baiklah" jawab Mike langsung menyetujuinya sembari mengangkat kedua alisnya seraya tersenyum.
Setelah Mike menyetujuinya, Kemudian Naldo langsung bergegas pergi untuk segera menjemput Jessi dan segera untuk membawanya kesana.
Kemudian, setelah Naldo sudah pergi untuk menjemput Jessi, Mike kembali melangkah kearah Marvin yang sedang bersama dengan Alan. Setelah Mike tiba didekat mereka, Marvin langsung menepuk pundak Mike seraya tersenyum namun tanpa mengucapkan kalimat apapun. Mike jua tersenyum karena tatapan mata tanpa melalui kata sudah cukup jelas bahwa ayahnya bangga kepadanya.
***
Beberapa menit kemudian, Naldo telah berhasil membawa Jessi dengan segala macam cara yang telah dia lakukan ketika menjemput Jessi.
Ya, ketika Naldo berkata kepada Mike bahwa dia saja yang akan menjemput Jessi karena jika orang lain yang menjemputnya dan berkata hendak dibawa ke alun-alun pastilah Jessi menolak, Pikir Naldo.
Dan Naldo berinisiatif untuk menjemput Jessi karena dia telah menyesali segala perbuatan yang telah ia lakukan kepada Alan kala itu. Dan ia pun telah geram dengan perlakuan Jessi yang sudah melampaui batas telah melakukan fitnah sedemikian rupa sehingga mengancam nyawa Alan.
Akan tetapi, ketika Naldo menjemput Jessi sangatlah tidak mudah, karena ikatan hubungan kekasih antara dia dan Jessi pun kini telah renggang. Alhasil ia menggunakan berbagi macam cara serta bujuk rayu sedemikian rupa sehingga ia kini berhasil membawa Jessi keluar dari rumahnya.
***
Jrug jrug jrug
Ia langsung menghentikan mesin kendaraan bermotornya masih berjarak lumayan jauh dari warga yang berkumpul. Dan Naldo sedang berakting kepada Jessi bahwa dia kini sedang membawa Jessi ke suatu tempat yang indah dan menutup mata Jessi dengan kain.
Kemudian, ia mengajak Jessi untuk segera turun dari atas motornya dengan memegangi tangannya.
"Tempat indah seperti apa si do yang kamu maksud, apakah kita sekarang sudah sampai? Aku buka ya penutup matanya?" Ucap Jessi.
"Oit, jangan dulu dibuka, tempatnya masih lumayan jauh, mari ku tuntun kamu kesana ya.." Ucap Naldo dengan suara lembut.
__ADS_1
Kemudian, Naldo menuntun Jessi dalam posisi mata Jessi masih tertutup kain menuju ke kerumunan warga yang berada di alun-alun.
"Do, kok terdengar suara banyak orang si?"
"Aiih, Namanya juga di tempat indah, pastinya banyak pengunjung di tempat ini, kamu sabar ya.. sebentar lagi sampai di titik tempat indah itu" jawab Naldo berbohong.
"Oke baiklah." Jawab Jessi merasa yakin.
Ketika Naldo sedang menuntun Jessi telah sampai di kerumunan para warga, semua mata warga melihat kearah mereka berdua. Akan tetapi Naldo langsung memberikan sebuah kode kepada para warga supaya jangan berisik, sebelum ia sampai pada titik tengah keberadaan Alan dan Mike.
"Sssttt" Bisik Naldo kepada seluruh warga.
Kemudian, setelah ia sampai pada titik tengah, Naldo masih menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri menghadap ke seluruh warga yang berkumpul disana dan juga mengarah kepada Mike.
Sontak membuat Mike tertawa ketika melihat ekspresi Naldo seperti itu. Begitupun dengan Alan, ia tersenyum tipis ketika melihatnya.
"Do, kok lama banget sih! Aku buka ya penutupnya sekarang." Ucap Jessi.
"Tunggu, biar aku saja yang akan membukakannya" jawab Naldo mengarahkan Jessi tepat didepan Mike, Alan dan Marvin.
Namun, Mike meminta Naldo untuk mengarahkan Jessi kearah kerumunan warga menggunakan kode tangan. Alhasil Naldo pun mengangguk dan mengikuti permintaan Mike.
Setelah kain penutup mata Jessi tersebut telah Naldo buka, berlahan-lahan Jessi membuka kedua matanya. Setelah mata ia terbuka sepenuhnya, ia sungguh sangat terkejut ketika melihat apa yang ia lihat didepannya.
"Apa-apaan ini, Naldo!" Ucap Jessi nampak marah dan cemas.
***
Ketika Naldo mundur, Jessi langsung menengok ke seluruh penjuru arah dan dia nampak semakin cemas karena semua mata warga yang berada disana melihat semua kearahnya.
Kemudian, ia melihat sang provokator berada disebelah kiri, mereka semua diam dan sedikit menunduk. Membuat Ia pun langsung melotot tajam nampak semakin cemas, kemudian ia berputar arah ke arah belakang.
Betapa terkejutnya dia ketika ia berputar kearah belakang, ada Mike berdiri tepat dibelakang dia.
"Alan." Ucapnya lirih ketika melihat Mike yang berdiri dibelakang dia.
Namun Jessi belum melihat ada Alan yang asli karena posisi Alan tertutup badan Mike yang mana posisi Mike berdiri tepat dibelakang jessi sehingga Alan belum terlihat olehnya.
"Alan.." Ucap Jessi kembali menyebut namanya.
Kemudian, disaat Jessi kembali menyebut nama Alan, Mike masih berdiam diri seraya melihatnya dengan tatapan khas, sehingga membuat Jessi sendiri nampak semakin kebingungan dan cemas. Lalu ada Verza selaku sahabat terbaik Alan yang paling tidak terima sahabat terbaiknya telah difitnah, iapun langsung melangkah ke depan ke arah Jessi.
"Hey Jessi! Apa yang telah kau lakukan semua ini, kenapa engkau tega memfitnah Alan sampai separah ini!" Ucap Verza seraya melotot.
"Iya benar, iya benar. Hey gadis, katakanlah yang sejujurnya didepan kami semua, apakah engkau sedang memfitnah dia hah! Katakan!" Sambung para warga.
"Tidak! Saya tidak memfitnah dia, yang saya ucapkan itu memang benar-benar nyata. Dia telah berbuat yang tidak-tidak kepada saya. Itu benar, percayalah." Ucap Jessi seraya gemeteran ketika mengucapkan kalimat tersebut kepada para warga karena semua itu memang ia hanya mengada-ngada belaka.
Kemudian, Mike langsung melangkah satu langkah kearah Jessi dan langsung menarik pundak Jessi sehingga dia langsung berputar arah kembali ke arah Mike.
__ADS_1
Setelah Jessi melihat kembali kearah Mike, Mike langsung memperlihatkan foto itu tepat didepan wajah Jessi dengan jarak yang sangat dekat nyaris ia tempelkan foto tersebut pada wajah Jessi. Kemudian Jessi langsung mengambil foto tersebut.
Ia masih terdiam ketika foto tersebut telah ia ambil, dan Mike pun masih terdiam namun dia telah merasa teramat sangat geram dengan wanita yang berada didepannya itu. Kemudian, Mike langsung menarik tangan Jessi untuk membawanya dihadapkan langsung ke depan Alan.
Seet!
Setelah ia sudah berdiri tepat didepan Alan dan Marvin, kemudian ia bergeser sehingga Jessi langsung berdiri tepat didepan Alan.
Betapa terkejutnya Jessi ketika melihat Alan, ia langsung melotot dan nampak gugup dan berulang kali ia menoleh kearah Mike dan juga kearah Alan. Karena tidak habis kira ada dua pemuda yang memiliki rupa wajah yang sama diantara keduanya.
"Ka.. kamu.." Jessi terheran-heran sembari menelunjukkan jari kearah Alan dan Mike.
Kemudian, Mike tersenyum, sementara Alan sendiri ekspresi wajahnya tidak bisa di tebak antara marah atau tidak karena nampak biasa-biasa saja ketika dihadapkan langsung oleh orang yang memfitnah dia.
Kemudian, Mike melangkah kembali kepada Jessi.
"Kenapa engkau melakukan semua ini?" Tanya Mike.
"Aku.. aku.. aku.. tidak! Tunggu, Kenapa, kenapa kalian ada dua! Yang mana Alan! Yang mana Alan ku!" Ucap Jessi nampak semakin depresi ketika melihat kenyataan bahwa pemuda yang ia sukai ada dua.
"What? Hey, Setelah apa yang telah kau lakukan semua ini, kini kau masih bisa menyebut Alan adalah Alan-mu hah? Cih, Sungguh memalukan nian kau." Jawab Mike.
"Aku.. aku.. " Jessi kebingungan hendak mengatakan apa.
"Sudahlah. Sekarang kau ungkapkan saja kepada seluruh warga yang berada disini, bahwa engkau telah memfitnah Alan."
Mendengar kalimat yang baru saja Mike ucapkan, Jessi langsung menatap kearahnya. Kemudian menatap jua kearah Alan. Karena Mike menyebutkan nama Alan otomatis bukan dia yang bernama Alan. Setelah itu Mike melanjutkan kembali ucapannya.
"Ya, saya bukanlah Alan. Dialah yang bernama Alan. Dan yang berada didalam foto itu adalah saya bukanlah Alan."
"Apa!"
Sontak membuat Jessi langsung melotot tajam. Begitupun semua warga yang berada disana, mereka langsung saling berbisik-bisik ketika mendengar penjelasan Mike.
Kemudian Mike langsung melangkah kearah warga, sembari mengambil foto yang berada ditangan Jessi itu, lalu ia memperlihatkan foto tersebut kearah para warga.
"Para bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mohon Dengarkanlah sejenak. Yang berada didalam foto ini adalah saya, bukanlah Alan saudara kembar saya. Suatu kejadian telah menimpa keluarga kami, ketika itu ada sebuah kejadian yang menimpa saya dan saudara kembar saya sehingga kami saling tertukar posisi."
"Maaf dik, maksudnya tertukar posisi gimana ya? Dan.. bukankah dik Alan adalah anaknya pak Ferdi?"
Sambung ketua RT setempat. Dan para warga yang lain jua nampak keheranan karena yang mereka ketahui selama ini, Alan adalah anak sulung dari pak Ferdi menyadari Ferdi datang ke daerah tersebut sudah membawa Alan sedari Alan masih bayi.
Mendengar kalimat tersebut, kemudian Marvin melangkah mendekat kearah Mike dan berdiri tepat disebelah Mike berada.
"Begini pak, Bu, saya akan menjelaskannya, Suatu kejadian yang telah lama terjadi telah menimpa keluarga saya. Kejadian tersebut sudah dari 17 tahun yang lalu. Jadi, Ketika mereka berdua dilahirkan, ada suatu insiden dirumah sakit tempat istri saya bersalin, ketika itu ada wanita yang sedang mengalami depresi akibat bayi yang telah dia lahirkan meninggal dunia, sehingga beliau mengambil salah satu bayi saya yaitu Alan. Karena pada saat itu jua saya sendiri sedang berduka karena ayah saya sekaligus ibunda mereka meninggal dunia saat setelah melahirkan mereka berdua. Dan jua atas kelalaian pihak rumah sakit sehingga wanita tersebut berhasil lolos membawa salahsatu putra saya dari kejaran para petugas keamanan di rumah sakit tersebut." Ucap Marvin menjelaskan kepada seluruh warga desa yang berkumpul disana dengan sedetail-detailnya.
Mendengar penjelasan Marvin, kemudian Alan langsung melangkah kearah Marvin dengan deraian air mata yang sudah mengalir deras diantara kedua pipinya.
"Ayahku..."
__ADS_1