Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 176


__ADS_3

Terlihat oleh-nya, Alan sedang diringkus oleh empat orang berciri-ciri badan besar dan tinggi, lengkap dengan jaket kulit berwarna hitam serempak khas kelompok penculik/pembunuh bayaran baru saja keluar dari dalam kendaraan.


Ke-empat orang tersebut lekas meringkusnya, Awal mula Alan masih melawannya dengan beberapa serangan. Namun, mengingat Fisik tidaklah sepadan dengan ke-empat orang itu dan jua ia minim pengetahuan tentang bela diri, maka dengan mudahnya ia diringkus oleh mereka.


Semasih Jovan lari ke arah mereka sembari berteriak, tampak olehnya Alan sedang dalam posisi di bekap mulutnya dengan sehelai kain yang sudah diberikan obat bius lantas hendak di masukkan kedalam kendaraan.


Tentu saja, sangatlah sulit bagi Alan untuk menangkis tangan yang sedang menutup mulutnya kuat dengan kain itu, hingga akhirnya ia sudah tidak lagi sadarkan diri.


"Berhenti disana!" Pekik salahsatu orang itu seraya mengeluarkan senjata api lekas mengarahkannya ke Jovan. Tak lupa jua mereka selalu waspada bila sampai aksinya diketahui oleh warga sekitar, maka tiada hentinya sembari menolah-noleh.


Sementara Jovan berhenti bak motor ngerem mendadak ketika orang itu mengarahkan senjata api tersebut.


"Lepaskan Dia!" Teriak-nya seraya menelunjukan jari ke arah Alan pertanda betapa khawatirnya ia melihat teman tak berdaya.


"Hei Anak muda, cepat pergilah atau timah panas ini menembus kepala kau." Jawab orang itu memandang tajam hingga membuat Jovan bimbang.


"Woi! Cepat pergilah sebelum timah panas ini benar-benar menembus otak kau, anak muda." Ancam orang itu lagi seraya perlahan mundur beberapa langkah menuju ke pintu mobil sesaat setelah Alan berhasil mereka amankan.


Jovan benar-benar bimbang apa yang harus ia lakukan hingga membuatnya berdiri disana tanpa bertindak apa-apa sampai kendaraan itu pergi dari sana.


Meski demikian dia cukup cerdas, ketika mobil itu perlahan pergi, Jovan melihat sekaligus mengingat nomor plat kendaraan itu lantas diambillah telephone genggam dari dalam sakunya untuk menghubungi seseorang. Yakni, menghubungi saudara kembar-nya Alan. (Mike)


Tut Tit Tat Tut … Tut …


"Aih, buruan angkat lah bro!" Gumam-nya kesal kala tidak di angkat-angkat oleh Mike.


Rasa Kepedulian tinggi terhadap teman yang belum lama ia kenali (Alan) membuatnya tumbuh inisiatif untuk menolongnya dengan cara lain, yakni setelah berulangkali menghubungi Mike tidak di angkat oleh dia, maka selanjutnya ia menghubungi pihak kepolisian.


Respon itu di tanggapi cepat, lantas Jovan bergegas memacu kendaraan bermotornya ke arah mobil itu pergi nan berharap tidak kehilangan jejak.


Bruum ... Bruum …


___


Disisi Mike


Mike sibuk mengotak-atik bagian Motor milik kawan-nya itu selama ban motor sedang di tambal. Telephone ia masih dalam mode senyap tanpa getar maka membuatnya tidak mengetahui kala Jovan berulangkali menghubunginya.


Setelah usai ban motor di tambal, ia bergegas langsung menuju kembali ke restoran.


"Haiyaa … Sudah tutup pula restoran ini." Gumam-nya melihat area parkir tampak sepi pertanda restoran itu hendak di tutup.


Sejenak menengok ke arah jam tangan, Waktu sudah memasuki pukul 01:00 dini hari, Lantas dipikirnya Ayah sekaligus Alan pasti sudah pulang bersama-sama maka membuatnya hendak memulangkan motor milik kawannya itu terlebih dahulu.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama ia berkendara menuju ke tempat kawan-nya, kini sudah sampai disana.


Jrug! jrug! jrug!


"Thanks bro." Sapa-nya sembari melangkah hendak memulangkan kunci motor kepada kawan-nya yang saat ini sedang duduk berkumpul disana.


"Oke, santai Men ..." Jawab Vidze meraih Kunci yang Mike berikan itu.


"Yaudah gua cabut duluan ya" Pamit Mike.


"Elah … tumben Kek buru-buru amat Loe Mike, ngopi-ngopi dulu lah kita" Sambung Jejen.


"Besok lagi kawan, Gua lagi malas berantem sama bokap." Jawab-nya.


"Jiah .. Okelah kalau begitu." Jawab Vidze lekas berdiri menghampirinya. "Kuy, jalan" Ucap-nya hendak mengantarkannya pulang.


"Loe ngapa mau ngintil?" Lanjut Mike seraya meraih telephone genggam dari dalam sakunya.


"Heleh kagak usah di tanya, emang loe mau terbang pulangnya hah?" Lanjut Vidze dalam candaan-nya.


"Iya, lihatlah bentar lagi sayap gua pasti tumbuh." Jawab Mike ngasal sembari jemari mengusap layar telephone-nya.


Dilihatnya ada 7 panggilan tidak terjawab yakni dari Jovan. "Bentar Bro." Ucap-nya kepada Vidze lekas menghubungi langsung si Jovan.


Bip!


"Ya hallo, Bro. Gawat!" Jawab Jovan secara langsung, terdengar bising suara kendaraan.


"Apa'an gak jelas banget Loe ngomong, apanya yang gawat? Ada apa loe nelpon gua tadi?" Lanjut Mike.


"Adik Loe Bro, Michealan." Jawab Jovan dalam suara tergesa-gesa hingga membuatnya bicara tidak jelas.


"Alan? Maksudnya apaan?" Jawab Mike santai lantaran yang dipikirnya sang adik sudah pulang bersama Ayah.


"Adik Loe diculik bro."


"Apa!" Mike terkejut nan reflek hingga membuat perhatian seluruh kawan-kawan-nya disana.


"Beneran Bro, Ini gua lagi ngejar mobil itu biar kagak ketinggalan jejak."


"Posisi Loe dimana sekarang!" Jawab Mike dalam suara lantang pertanda kehawatiran kian tumbuh membara.


"Posisi gua ... Aeh gua share lokasi nanti. Yang jelas loe cari saja nomor plat kendaraan 'XXXX' Nanti gua telpon loe lagi. Gua Keburu ketinggalan jejak mereka Bro." Jawab Jovan sangat tergesa-gesa lekas mematikan sambungan telephone itu.

__ADS_1


Bip!


"Aish Bedebah!" Mike mengutarakan rasa kesalnya sebabnya sudah mengira siapakah pelaku dibalik semua itu.


"Ada apa bro?" Ucap salahsatu kawan-nya lekas semua kawan yang ada disana berdiri semua.


"Adik gua jadi sasaran lagi" Jawab Mike singkat.


"Benar-benar pengecut main Culik macam ini. Oke, loe tenang saja Bro, kita semua Stay. Ayo kita ke markas mereka sekarang." Jawab Dimas sudah langsung mengerti lantas memimpin seluruh kawan-kawannya.


Semua Kawan-kawan saling mengangguk, kemudian bergegas bersama-sama menuju markas yang mereka tuju yakni, markas Bonanza.


___


Disisi Jovan


Ketika mengangkat panggilan telephone dari Mike tadi cukup memakan waktu, sebabnya ia sempat berhenti sejenak di trotoar jalan hingga akhirnya kehilangan Jejak mobil penculik yang sedang ia kejar itu.


Namun, antusias tinggi yang dimilikinya untuk melakukan kebaikan menolong teman, Tuhan pun menyertainya. Meski sempat kehilangan jejak Mobil penculik itu, kini ia dapat melihatnya lagi di pertigaan jalan.


Mobil itu melintas ke arah Barat, yakni menuju ke luar kota (Seperti Jakarta-bekasi) Jovan bergegas terus membuntuti mobil itu hingga ia kelupaan untuk mengirim lokasi kepada Mike.


"Kenapa setiap kali aku menjumpaimu selalu dalam kesusahan kawan?" Gumam-nya disaat melihat kembali mobil itu, lantas memacu kendaraannya untuk segera mengejarnya.


Brum ... Brum … Brum …


___


Disisi Mike


Tidak butuh waktu lama, Mike beserta Kawan-kawan berjumlah 5 orang (2 diantaranya teman-nya Dimas) telah sampai di lokasi markas Bonanza.


Lokasi rumah yang dijadikan markas oleh Bonanza tampak sepi. Tentu saja, semua karena kepala/pemimpin-nya (Bonanza) sedang tidak ada di lokasi melainkan sedang di rawat di rumah sakit.


Mike mengetahui itu kala dirinya sedang mengejar Zamry (Ayah-nya Bonanza) pada beberapa jam yang lalu. Namun, berhubung suasana hati Mike saat ini sedang Bimbang akibat rasa kehawatiran tinggi terhadap sang Adik, membuatnya lupa akan hal itu.


Jrug! Jrug! jrug!


Mereka berombongan berboncengan motor telah sampai di halaman rumah itu. Lantas masing-masing bergegas langsung menuju pintu.


Sementara salahsatu orang yang berada didalam Markas itu (Rehan) langsung membuka pintu lantaran penasaran kala terdengar suara motor berombongan berhenti di halaman markas mereka.


"Hei dimana adik gua?" Tanya Mike secara langsung.

__ADS_1


"Apa maksud loe?" Rehan tampak bingung sekaligus emosi mendengar nada bicara Mike.


__ADS_2