
Mike menduga bahwa kartu kredit miliknya sudah di blokir oleh sang Ayah. Tetapi ia pun tidak ambil pusing tentang hal itu.
"Anu apaan?" Tanya Saga masih tampak polos.
"Loe ada duit kagak? Gua pinjem bentar" tanya Mike.
"Oh .. kirain apaan, ada kok. Tunggu bentar." Lanjut Saga seraya mengambil dompet lekas memberikan beberapa lembar uang kepadanya.
"Oke, thanks."
Usai membayar di karsir, Mike dan Saga melanjutkan kembali perjalanannya.
***
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan. Isak tangis dari keluarga teman melepas kepergian anggota keluarganya membuat Mike ikut larut dalam suasana.
Betapa tidak? Sebab dirinya sendiri merasakan kurangnya kasih sayang dari keluarga. Maka apapun yang menyangkut tentang keluarga pastilah masuk kedalam relung hatinya.
Tak tahan akan rasa bersalah yang membelenggu jiwa, lekas ia keluar dari ruang itu hendak menghirup udara.
"Mike, apa yang loe pikirkan?" Tanya Saga datang menghampiri kala Mike berdiri tampak melamun seorang diri pada suatu sisi.
"Katakan sama gua, apa semua yang gua lakukan berimbas kepada seluruh orang-orang didekat gua?" Balas Mike seraya memandangnya.
"Maksud loe?" Saga tidak mengerti.
"Kepergian dia (Kodar) adalah kesalahan gua."
"Wei .. berhentilah menyalahkan diri sendiri, kita semua menjadi saksinya, Mike." Lanjut Saga sembari menepuk pundaknya.
Plek!
"Yang menjadi incaran Bonanza adalah Gua, lantas kenapa harus nyawa kawan gua yang melayang ke syurga. Dan .. apakah" Mike hendak melanjutkan kata namun terpangkas langsung oleh Saga.
"Mike dengarlah, apa yang loe lakukan semasa hidupnya (Kodar) Adalah sifat asli kesetiaan loe terhadap kawan-kawan loe. Maka jangan heran jika kesetiaan dari seluruh kawan-kawan loe akan berbalik lagi sama loe. Pepatah mengatakan 'Apa yang kamu tanam maka itulah yang akan kamu tuai' Apa loe pernah dengar itu?"
Mike mengangguk. "Ya"
"Loe masih sangat muda dan pastinya loe masih dalam pencarian jati diri, jujur gua kagum sama sifat kesetiaan yang loe miliki kepada seluruh kawan-kawan loe. Tak terkecuali gua sendiri, Mike." Ucap Saga sembari Melangkah mondar-mandir di dekat Mike.
Sementara Mike pun diam sembari menyaring kalimat kata yang tengah Saga utarakan tersebut.
__ADS_1
"Didalam kehidupan seorang lelaki memang mayoritas seperti ini Mike, terlebih lagi kehidupan di dunia luar dan liar, mana yang tangguh dialah yang menang dan menjadi pemimpin, mana yang lemah pastilah tertindas, tetapi menjadi seorang pemimpin haruslah menjadi contoh baik untuk seluruh pasukan yang dibawanya walaupun itu hanyalah seorang Kawan, Mike."
"Tetapi, didalam sebuah hubungan pertemanan bukankah tidak ada yang namanya seorang pemimpin?" Jawab Mike disela-sela ucapan Saga.
"Ya itu benar, tetapi justru itulah keistimewaan yang loe miliki Mike. Tanpa disengaja maupun disadari, loe sudah menjadi pemimpin untuk semua kawan-kawan loe, karena loe tidak pernah membeda-bedakan kawan satu dan yang lainnya. Loe selalu bela mati-matian terhadap semua kawan-kawan loe dalam masalah apapun, maka jangan heran mereka pun melakukan hal yang sama. Kesimpulannya adalah Kematian Kodar suatu tebusan atas kesetiaan loe, percayalah Mike, dia sudah tenang di alam surga karena kematiannya untuk menyelamatkan loe."
"Tetapi .. gua tidak terima begitu saja, Bro." Jawab Mike menggengam tangan dalam artian dendam terhadap orang yang membuat nyawa kawan-nya melayang (Bonanza)
Lekas Saga kembali menepuk pundaknya.
Plek!
"Ya Mike, gua tau loe memang lelaki sejati, tetapi jangan sampai dendam menggelapkan hati loe. Gua yakin loe pasti sudah tau apa yang akan loe lakukan nanti. Tetapi ingat-ingat saran gua, boleh saja loe dendam sama orang itu, tetapi jangan sampai loe melakukan perbuatan keji sama persis seperti yang orang itu lakukan. Apa loe paham maksud gua?"
"Iya pak, saya paham" Balas Mike dengan candaan.
"Sue Loe, emangnya gua bapak loe, Kamvret! udahlah yuk kita masuk kedalam sepertinya sebentar lagi jenazah akan disemayamkan" Pungkas Saga lekas merangkul Mike kembali masuk kedalam.
***
Disisi Alan
Saat Guru datang jua memasuki ruang kelas, lekas perhatian siswa-siswi tertuju ke arah depan kala terdengar suara hempasan pintu ke dinding cukup nyaring.
"Och, Vantatku aw, aw," rintih salahseorang Siswa yang baru datang tampak tergesa-gesa yaitu Jovan.
"Hihi, pagi pak .. permisi .." Sapa Jovan kala masih dalam posisi terjatuh. Lekas berdiri nan bergegas kembali ke kursi.
Guru hanya meliriknya seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan barbarnya.
Kala melangkah menuju kursinya, Jovan pun mengedipkan mata ke arah Alan yakni tanda sapa tanpa melalui kata.
Tuing tuing tuing
"Cih, Konyol" Lirih Alan lekas menoleh ke arah Ananta tampak tak lepas pandang melihat Jovan.
"Ssst, hei Mike. Dia siswa baru kah?" Bisik Ananta.
Alan mengangguk seraya menoleh jua ke arah tempat duduk Jovan yang terletak di pojok paling belakang. Tetapi langsung beralih pandang lagi kala Jovan masih bertingkah seperti tadi, yakni Mengedipkan satu mata. (Sok Akrab)
Tuing tuing tuing
__ADS_1
"Cih"
Tak lama kemudian, pelajaranpun berlangsung.
Alan merasa bingung, entah Suatu kebetulan yang tengah melanda atau bagaimana? Saat semua siswa maupun guru sudah didalam ruang kelas, tidak ada satupun yang menanyakan keberadaan saudara kembarnya meskipun terpampang nyata kursi kosong berada di sebelahnya.
Tak terkecuali dengan Ananta sendiri, ia samasekali tidak bertanya tentang kursi kosong itu. Apalagi seksi absensi selaku yang mengabsen kehadiran siswa-siswi. Tetapi tidak ia sangka bahwa semua itu terjadi lantaran sudah perencanaan dari seluruh teman-temannya Mike, yakni Taro, Ivan, Al dan Kenji.
Tetapi untuk guru yang tengah mengajar saat ini, benar-benar murni tidak memperhatikan-nya.
***
Beberapa waktu kemudian, sudah tiba saanya jam istirahat. Ananta masih duduk di kursinya lekas menoleh ke arah Alan yang masih menata buku hendak ia masukkan kedalam tas. Sementara melihat para teman sekelompok Mike dari arah sebrang masih saling berbincang-bincang.
Ia sedikit heran, tidak seperti hari-hari biasanya para teman-teman yang lain tidak menghampiri ke meja Mike kala jam istirahat tiba.
'Kok tumben sekali para kunyuk gak pada heboh begini ya ..' Batinnya.
"Ssst, wei Mike" Panggil Ananta.
"Iya .. " balas Alan lekas menoleh kearahnya.
Ananta hendak memulai kata namun terhenti kala Jovan datang menghampiri.
"Wei bro," Seru-nya lekas menoleh ke arah Ananta "Eh, hai .." Sapanya seraya tersenyum nan melambaikan tangan setingi bahu lekas mengulurkan tangan.
"Tampaknya kita baru bertemu. Oh iya, aku Jovan" Ucapnya.
"Aku Ananta, kamu anak baru ya?" Balas Ananta lekas saling berjabat tangan penuh keramahan, seraya memperhatikan luka yang masih terbalut perban pada lengan Jovan.
Jovan menyadari, lekas melepasnya lagi. "Iya, aku anak baru tapi bukan baru dilahiran, hehe" Jawabnya penuh canda yang membuat gelak tawa seraya melihat Alan lekas menyadari sesuatu kala melihat nama pada bagian baju.
"Loh, Loe Mike ya, Aish sue! Bener-bener payah ngebedain kalian berdua, sumpah."
"Eerr …" Alan sedikit canggung sedikit melirik Ananta.
Sementara disisi Ananta sendiri bagaikan terdapat sebuah jarum jam yang tengah bergerak di atas kepalanya.
Tik tak tik tuk
"Kemana dia bro, kok gak masuk Sekolah?" Lanjut Jovan.
__ADS_1
"E .. Dia, Anu .."