Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 31


__ADS_3

"Fer, bangun itu dengarlah ada apa ya di luar, kok banyak suara orang-orang?" Ika membangunkan Ferdi yang posisinya masih tertidur. Ferdi langsung terbangun karena terkejut mendengar suara gaduh orang-orang berteriak menyebut namanya.


Sementara Yadi baru saja selesai memakai seragam sekolah langsung membukakan pintu rumah karena letak kamar dia tidak begitu jauh dari pintu keluar.


"Hey Yadi, dimana ayahmu? cepat kau panggilkan dia keluar." Ucap salah satu orang yang datang tersebut. Yadi bingung karena ia tidak tahu menahu tentang ada urusan apa sehingga banyak warga yang berbondong-bondong mengumpul di depan rumahnya.


Ketika Yadi hendak beranjak memanggilkan sang Ayah, Ferdi sudah lebih dulu datang keluar.


"Ada apa ini?" Tanya Ferdi sembari melangkah ke arah mereka.


"Hey pak Ferdi, katakan yang sejujurnya apakah benar selama ini engkau melakukan penganiayaan terhadap Alan?" Tanya para warga secara langsung.


"Iya benar, cepat katakanlah!" Sambung warga yang lain.


"Apa maksud pertanyaan kalian, kenapa kalian semua menuduh saya pagi-pagi begini, hah!" Jawab Ferdi nampak marah, karena ia memang bertrempamen tinggi.


"Aih, tak usahlah kau mengelak, katakanlah saja yang sesungguhnya!"


"Maaf ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, ada apa ini ya.. kok kalian semua mengumpul ke rumah kami pagi-pagi begini?" sambung Ika baru keluar dari dalam rumah seraya mendekat ke Ferdi.


"Tidak perlu lagi engkau bertanya lagi, cepat jawablah saja pertanyaan kami"


Ferdi dan Ika langsung terdiam seribu bahasa karena memang benar selama ini mereka telah melakukan intimidasi terhadap Alan.


"Kenapa kalian diam saja hah! Berarti memang benar kalian telah menganiaya anakmu sendiri selama ini, kami semua tidak mengetahui bahwa warga kami ada yang berbuat keji semacam kalian!"


***


Para warga berbondong-bondong ke rumah pak Ferdi karena sudah diberitahukan oleh salah satu orang yang berada di pos ronda pada malam hari, sehingga pada pagi hari ini sebelum pak RT datang kerumah pak Ferdi, mereka sudah lebih dulu tiba di rumah pak Ferdi secara berombongan.


Namun yang memberitahukan kepada para warga bukanlah ketiga orang yang datang kerumah pak RT semalam, karena orang yang ke rumah pak RT semalam telah sepakat dengan pak RT untuk tidak memberitahukan dahulu kepada para warga.


Kini Warga semakin banyak mengumpul di depan rumah pak Ferdi, para warga pun ada yang langsung menanyakan kepada para tetangga sebelah rumah pak Ferdi, karena mereka semua (tetangga sebelah rumah) ikut serta berkumpul untuk menyaksikan perkara apa yang sedang terjadi di sana (rumah pak Ferdi)


"Bu, Pak, apakah kalian pernah mendengar ataupun melihat anak pak Ferdi yang bernama Alan dianiaya oleh beliau? (Ferdi dan Ika)" tanya para warga kepada tetangga sebelah rumah pak Ferdi.


"Iya benar, katakanlah saja yang sesungguhnya kepada kami" Sahut warga yang lain.


Tetangga yang tepat di samping rumah pak Ferdi membenarkan dari pertanyaan para warga, bahwa mereka memang sering mendengar teriakan dari Alan walaupun mereka tidak pernah mendengar Alan menangis.


Mereka (tetangga sebelah rumah) membenarkannya lagi tentang hal itu karena mereka sering melihat tubuh Alan terdapat luka lebam dan babak belur. Akan tetapi, jika mereka (tetangga sebelah rumah) bertanya langsung kepada Alan, Alan tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal itu. Alan selalu mengalihkan topik pembicaraan ataupun menghindar secara perlahan jika tetangga sebelah rumahnya ada yang bertanya tentang hal itu.


"Aaiish, benar-benar tidak bisa di biarkan manusia laknat macam mereka! haruslah segera kita musnahkan saja mereka (Ferdi dan Ika) dari kampung kita!" Lanjut para warga setelah mendengar pengakuan dari warga sebelah rumah-nya pak Ferdi


"Iya benar, iya benar, kita musnahkan saja manusia keji seperti mereka!" Sambung para warga yang lain secara serentak.

__ADS_1


"Kita hajar saja dia, biar dia tau rasa seperti apa sakitnya jika dianiaya" para warga semakin emosi.


Kemudian tanpa basa-basi lagi Ferdi langsung ditarik oleh para warga tersebut serta langsung di hakimi oleh mereka.


Blug! blag! Blug!


Brak! brak! brak!


Ferdi tidak bisa berkutik ketika dia sedang di hajar oleh para rombongan warga. Hingga dia (Ferdi) babak belur dan berdarah-darah.


Sementara Ika sendiri hanya diam dan menyaksikan suaminya sedang di amuk massa, ia hanya bisa menangis di samping Yadi.


"Stop! bapak-bapak, tolong hentikan!" teriak pak RT baru saja datang ke rumah pak Ferdi bersama dengan pak Toni, pak Moza, pak morik dan pak Tarman selaku orang-orang yang semalam berunding.


Mereka langsung melerai para warga yang tengah memukuli pak Ferdi. Kemudian Pak Ferdi langsung di bantu berdiri oleh pak Moza. Sementara pak RT sendiri langsung berbicara kepada para warga.


***


Disisi lain


"Eh, ada apa tuh rame-rame orang di sana ya, Do?" Ucap Wasis sedang berboncengan motor bersama Naldo hendak berangkat ke sekolah.


"Entahlah" jawab Naldo singkat walau sebenarnya ia sudah mengira-ngira apa yang sedang terjadi disana mengingat ia telah mendengar sebelumnya ketika kedua orang tuanya sedang membicarakan masalah seputar Alan dan keluarga.


"Bukankah itu di rumah si kunyuk Alan ya? Tapi.. ada apa sih kok ramai sekali orang-orang berkumpul disana? kita lihat sejenak kesana yuk" Ajak Wasis.


Jrug! jrug! jrug!


"Lah.. kok loe malah berhenti disini sih, Do?" tanya Wasis ketika Naldo mematikan mesin motornya di bawah pohon rindang yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Alan.


"Ngapain juga kita langsung ke sana? loe lihat tuh ada bokap gua di sana, kalau sampai liat gua yang harusnya udah berangkat sekolah tiba-tiba nongol di sana, loe kagak perlu nanya lagi deh akibatnya gimana.." jawab Naldo.


"Oh, oke, oke gua paham maksud loe, eh sepertinya sedang ada masalah yang serius deh di sana. Tapi ngomong-ngomong, si kunyuk Alannya kemana? kagak keliatan dia?" Lanjut Aasis.


"Cih, ngapain pula loe nyariin dia?" Naldo melirik ke Wasis.


"Bukan begitu bro, maksud gua tuh itu kan dirumah Dia (Alan) di sana sedang banyak rombongan orang yang datang pastinya sedang ada masalah sesuatu dong..? Jadi, yang gua pikir kok Alan sendiri malah kagak keliatan. Begitu coy ah loe mah sensitif banget jadi orang buset dah!" Wasis melirik jua ke arah Naldo.


"Aissh, Berisik kau!"


"Eh, gua jalan duluan ya Do, gua pinjem motor loe bentar, cewek gau minta di jemput nih.." pinta Wasis.


"Halah, yaudah sana kau bawa, tapi inget jemput gua lagi di sini, dan sekalian di isi bensinnya"


"Yaelah.. segitunya amat loe sama temen"

__ADS_1


"Jaman sekarang kagak ada yang gratis, ngerti loe!"


"Aissh, ya baiklah juragan muda yang tampan dan pelit bye..bye.." jawab Wasis mengejek sembari memacu kendaraan bermotornya pergi.


"Kamvret loe!" Umpat Naldo.


***


Next


Ibunya Verza ikut serta mengumpul melihat apa yang tengah terjadi, ketika dia sudah paham tentang pokok permasalahan yang sedang di ributkan tersebut adalah Ferdi, kemudian dia segera kembali masuk k edalam rumahnya.


"Ver, Verza, Ver.." dia langsung memanggil-manggil Verza nampak tergesa-gesa.


"Iya Bu, ada apa Bu.. itu rame-rame di luar sedang ada apa ya Bu..?" Tanya balik Verza sebelum ibunya mengatakan yang hendak dia katakan.


"Justru itu, Ibu mau bilang, em.. lebih baik cepatlah kamu segera bangunkan Alan, saat ini para warga sedang memukuli pak Ferdi, Ver."


"Apa? pak Ferdi di pukuli?" Verza melotot.


'Waduh.. jangan-jangan ini gara-gara aku bongkar mulut semalam, wah.. gawat nih.'' Gumam Verza didalam batinnya.


"Iya Ver, cepat kamu segera bangunkan Alan" ulang ibunya Verza.


"Iya baiklah, Bu" jawab Verza sembari mengancingkan kerah bajunya.


Setelah ibunya Verza mengatakan kepada Verza untuk segera membangunkan Alan, dia bergegas kembali ke kerumunan para warga yang sedang berkumpul di luar rumah.


"Lan, Alan.. bangun Lan, cepat bangun Alan!" Verza menepuk-nepuk pundak Mike.


"Hem, 5 menit lagi"


"Astaga, si kunyuk ini buset deh, woi Alan! buruan bangun, keadaan sedang darurat nih!" Ulang Verza sembari masih menepuk pundak Mike.


Plek plek


Kemudian, suara gaduh dari luar rumah terdengar semakin bising, karena para warga sudah terbakar emosi, mereka langsung menerobos pak RT yang sedang melerai mereka bersama dengan sejumlah orang yang berunding semalam.


Namun karena mereka kalah jumlah dari para segerombolan warga yang tengah emosi tersebut, sehingga pak RT dan sejumlah orang itu tidak mampu lagi untuk melerai mereka.


Maka para warga tersebut langsung kembali memukuli pak Ferdi.


Brak! brak! brak!


Blug! Blug! Blug!

__ADS_1


"Pak! tolong hentikan ini pak, cukup! tolong dengarkan saya!kita bicarakan masalah ini secara baik-baik, pak!" Teriak pak RT di tengah kericuhan para warga yang sedang memukuli pak Ferdi.


Namun, ucapan pak RT sudah tidak di gubris lagi oleh para warga yang sedang memukuli pak Ferdi.


__ADS_2