
Kemudian sang provokator tersebut langsung memperlihatkan foto yang diberikan oleh Jessi.
"Lihatlah ini!" Jawab orang itu sembari menyodorkan foto tersebut.
Kemudian Mike langsung mengambilnya dan langsung melihatnya. Setelah ia melihat foto tersebut, ia langsung melotot karena ia ingat foto itu adalah foto dirinya kala itu bersama Jessi.
"Loh, foto ini... hey, Lantas, apa maksud dari isi foto ini. Apanya yang aneh? Dan fitnah apa yang telah kalian lakukan pada dia sehingga kalian semua menghakiminya?" Lanjut Mike. Sembari ia menelunjuk kearah Alan.
"Hey, kau tengoklah foto itu dengan baik, sudah sangatlah jelas membuktikan bahwa Entah dia atau malah kau sendirilah yang telah memperkosa gadis itu."
"Iya benar, itu benar! Ngaku saja kau, antara kau atau dia yang memperkosa gadis itu. Ngaku kau! " Sambung teman-teman sesama provokator yang lain.
"Hah? Memperkosa? Memperkosa macam apa pula maksud kalian semua hah! Ow, Ataukah Gadis yang didalam foto ini yang mengatakannya." Lanjut Mike.
"Iya benar! Dia yang mengatakannya dan dia yang telah mengalaminya, assudahlah ngaku saja kau! Dia atau kau yang telah melakukannya, cepatlah jawab!" Ucap sang provokator itu semakin memprovokasi para warga.
'Aihh, ****** juga ternyata wanita itu.' gumam Mike.
"Hey, kenapa kau masih diam saja. Ngaku saja kau. Jika diantara kalian tidak ada yang mau mengakuinya maka benar adanya bahwa kalian berdua lah salah satu pelakunya."
"Iya benar, itu benar. Mana ada didunia ini maling mau mengakuinya kalau dia sendiri adalah maling." Lanjut para warga ikut andil dalam berbicara.
Kemudian, ketika para warga masih mengucapkan Gono gini, Mike menoleh kearah Alan yang posisinya masih berdiri dipegangi Marvin.
"Mike.."
lirih Alan yang telah berpikir yang bukan-bukan tentang foto itu, menyadari bahwa bukan dirinyalah yang berada di foto itu, alhasil sudah bisa dipastikan bahwa yang berada didalam foto tersebut adalah Mike.
Kemudian Mike langsung menggelengkan kepala ketika menatap mata Alan, kode kata tanpa melalui kata yang artinya (janganlah berpikir yang tidak-tidak, tetap yakinlah bahwa saya tidak melakukannya)
__ADS_1
Kemudian, Alan mengangguk. Ia langsung mengerti dan langsung percaya arti kode dari tatapan mata Mike. Karena Alan sendiri sudah mengetahui bagaimana tentang Jessi dengan segala kelicikannya.
Kemudian, Mike tersenyum ketika Alan telah yakin kepadanya. Namun, ketika ia sedang menoleh kearah Alan, Mike langsung di pegang kerah bajunya oleh sang provokator tersebut.
"Hey! Ngaku saja kau!" Ucap orang itu sembari melotot tajam ketika ia memegang kerah Mike.
Sontak membuat Marvin selaku orang tua Mike merasa geram namun ia masih memilih diam karena ia yakin, bahwa Mike dapat menyelesaikan masalah yang sedang berada dihadapannya.
Dan jua orang-orang disana terutama kepala desa merasa geram dengan sang provokator tersebut, karena sangat terlihat dari awal sang provokator tersebut sangat berantusias untuk memusnahkan Alan, akan tetapi apalah daya, sebijak bijaknya ia berkata dan bertindak, sang kepala desa tidak mampu melerai amukan masa yang telah tenggelam dalam provokasi yang dibuat oleh orang itu. Menyadari betapa mudahnya warga desanya terprovokasi.
**
Kemudian, Mike langsung menangkis tangan sang provokator tersebut yang tengah memegang kerah bajunya dengan sangat kuat sehingga leher dia terasa tercekik dibuatnya.
Seet!
"Hendak Main-main rupanya kau denganku, hey! Telah dibayar berapa kau sama gadis itu hah!" Jawab Mike.
"Cih, sanak macam kau sudah nampak terlihat ada nominal uang pada matamu!"
"Hey Cukup! Cakap macam apa pula kau sembarangan sekali. Mau mengelak rupanya kau hah!" Jawab sang provokator tersebut semakin emosi namun ia sudah merasakan takut pada Mike. Kemudian ia menoleh kearah warga dan berkata
"Hey para warga sekalian, jangan dengarkan anak ini berbicara, dia mau memutarbalikkan sebuah fakta, lihatlah betapa iblis-nya dia. Dia telah memperkosa seorang gadis dan dia enggan untuk bertanggung jawab lalu kini dia berkata yang tidak-tidak kepadaku. Saya sungguh berkata benar. Percayalah, demi keamanan lingkungan kampung kita dari manusia laknat macam dia, kita musnahkan saja mereka berdua dengan segera. Setuju!"
Teriak sang provokator tersebut kepada para warga dan mencoba meyakinkan kembali para warga supaya tenggelam dalam provokasi yang dibuatnya.
Namun, tiada satupun warga yang menjawab (setuju) ketika sang provokator tersebut mengucapkan kalimat tersebut. Karena mereka bingung dengan keadaan yang ada yaitu kini Alan ada dua, walaupun mereka semua mudah terprovokasi, namun sesuatu hal yang real nampak didepan mata pastilah itu yang lebih mereka percayai.
Sementara Mike sendiri langsung tertawa terbahak-bahak ketika tiada satupun warga yang menjawab (setuju)
__ADS_1
"Hahaha, uang telah membutakan matamu. Haha Miris nian."
"Tutup mulut kau! Brengs*k!"
"Hupp, nih lihatlah sudah ku tutup mulutku" jawab Mike sembari menutup mulutnya sendiri dengan tangan alias ngece.
Membuat sang provokator tersebut semakin emosi, kemudian ia langsung berkata kembali kepada para warga dengan kalimat-kalimat sedemikian rupa, namun setiap kali kalimat terakhirnya berkata (setuju) lagi-lagi tiada satupun para warga yang menjawab dengan kalimat tersebut. Sontak membuat Mike langsung kembali tertawa-tertawa.
***
Sementara Verza selaku sahabat terbaik Alan dan posisinya jua sedang berada disana ia terkagum-kagum dengan pemuda yang memiliki wajah sama persis dengan sang sahabatnya yaitu Alan, dia terkagum-kagum dengan ketegasan Mike dalam menghadapi permasalahan yang terlihat publik, dan jua ia kagum betapa santainya Mike dalam menghadapi sang provokator tersebut, menyadari betapa susahnya untuk meretas kata demi kata yang diucapkan oleh sang provokator tersebut ketika berbicara.
Disisi lain, didalam alun-alun desa tersebut sangatlah banyak pemuda-pemudi maupun para warga yang berkumpul, tak luput para gerombolan Naldo jua ikut serta berada disana.
Namun, ia tidak ikut serta nimbrung dalam seputar permasalahan yang sedang terjadi disana, terlebih lagi ketika Mike muncul keluar dari dalam kobaran api bersama Alan, Naldo langsung menarik seluruh teman sekelompoknya untuk menyaksikannya dari arah kejauhan.
Naldo pun sama saja seperti Verza, ia terkagum-kagum dengan Mike. Walaupun permasalahan yang terjadi adalah seputar Jessi, yang mana Jessi sendiri memiliki ikatan kekasih dengan dirinya, namun Naldo sendiri malah enggan untuk mengurusinya. Justru ia sendiri samasekali tidak mempercayai bahwa Alan melakukan hal itu seperti fitnah yang saat ini sedang merajalela.
Ia enggan untuk mengurusinya Karena ia sudah sangat paham sekali dengan sifat Jessi, karena Jessi bertipe wanita yang bisa melakukan apapun sesuai apa yang ia inginkan bagaimanapun caranya. Bahkan, Naldo selaku kekasih Jessi sendiri sering melihat Jessi ketika Jessi tengah bercumbu dengan lelaki lain. Dan sudah berkali-kali membuat mereka bertengkar akan hal itu, namun Jessi tetap melakukannya lagi dan lagi, membuat Naldo kini malas dengannya.
***
Mike tertawa terbahak-bahak ketika sang provokator tersebut tidak berhasil untuk kembali memprovokasi para warga. Dan jua terlihat dari ekspresi wajah dari sang provokator tersebut ketika berbicara nampak terlihat sangat cemas itulah yang membuat Mike tertawa. Karena pergaulan Mike sendiri cukup luas, alhasil ia sudah sangat paham sekali dengan tipe orang semacam provokator itu.
Kemudian, Mike melangkah mendekat kearah sang provokator tersebut yang tengah berdiri menghadap kearah para kerumunan warga. Ketika ia sampai tepat disebelah dia, Mike langsung memegang pundak orang itu secara santai.
Plek!
"Hey Sudahlah bro, begini saja, Jika kau tetap bersikukuh dengan segala apa yang kau ucapkan itu benar, maka cepat kau bawa gadis itu kesini. Sekarang juga." Ucap Mike.
__ADS_1
"Untuk apa, itu tidak perlu" jawab orang tersebut nampak semakin gugup.
"Hahaha hey, kenapa kau nampak cemas? Bukankah lebih mudah menyelesaikan segalanya jika yang bersangkutan berkata langsung dihadapan publik tentang segala apa yang telah dia ucapkan kepadamu?"