
Perbincangan hangat diantara dua bersaudara ini berlangsung cukup lama, hingga tak terasa matahari kian terbenam. Alan jua berbincang cukup terbuka kepada saudara kembarnya ini nyaris seimbang dengannya. Yakni perbincangan seputar asmara kaum remaja.
Tak lupa jua Alan berbincang seputar petualangannya pada hari kemarin yakni berjumpa dengan sahabat masa kecilnya (Verza). Mike menanggapinya penuh tawa kala Alan menceritakan tentang pesan dari sahabatnya itu.
***
Kini sudah menempati pukul 20:00 pm.
Perbincangan mereka hentikan sementara. Yakni hendak makan malam, tetapi Alan sudah lebih dulu hengkang lantaran niat hati hendak beraksi di dapur.
Ya, keahliannya dalam bidang kuliner yang memumpuni, Alan dapat menyiapkan beberapa menu masakan dalam kurun waktu yang sangat singkat. Semua bisa ia lakukan sebabnya segala bahan masakan sudah tersedia disana.
"Haiyaa .. mana Ayam gorengku, Lan?" Tanya Mike kala dirinya sudah duduk di ruang makan sembari garuk-garuk kepala melihat makanan favoritnya tidak tersaji disana.
"Sekali-kali kamu coba tidak makan menu masakan itu Mike. Mari, cobalah saja yang itu dan yang ini" Jawab Alan seraya menelunjuk ke arah beberapa masakan yang sudah ia sajikan.
"Penyiksaan!" Gerutu Mike seraya menancapkan sendok garpu ke arah makanan tersebut seraya melirik Alan.
Alan hanya sedikit tersenyum nan tidak begitu ia hiraukan lantas ia pun segera menyantap makanan tersebut.
Di tengah-tengah santap malamnya berlangsung, Mike hanya makan sesuap, Lantas ia bergegas ke arah dapur nan mencari mie instan didalam beberapa lemari dapur.
"Apa yang sedang kamu cari Mike?" Tanya Alan.
"Nyari cinta" Celetuk Mike.
"Cih," Alan menggelengkan kepala lantaran Mike seringkali menjawab dengan kalimat semau dia sendiri.
"Huaaa! Para Cintaku udah pada kedaluwarsa! Apa apaaan ini!" Teriak Mike sembari melihat beberapa Stok Mie instan yang ada disana.
Lantas membuat Alan terkekeh dibuatnya lantaran ekspresi Mike tampak benar-benar lucu baginya. Namun na'as akibat tertawanya, membuat ia sendiri tersedak.
"Uhuk, uhuk, uhuk"
"Nah, Nah, Kualat itu namanya, Sukurin!" Ejek Mike.
Lantas Alan segera minum air nan berlanjut tertawa-tawa.
"Hilih, seneng amat liat kakaknya menderita, huh!" Mike masih saja menggerutu.
"Bukankah kamu sama saja? Melihatku tersedak malah di sukurin?" Jawab Alan masih terkekeh.
__ADS_1
"Itu namanya keadilan." Celetuk Mike.
"Benar, itu sangat Adil. Maka dari itu cepatlah makan ini setelah ini kita belajar bersama. Cepatlah hari sudah semakin larut malam." Pungkas Alan.
Alhasil walau bibir Mike manyun seumpama setinggi gunung merapi, akhirnya ia menyantap makanan yang sudah Alan sajikan tersebut. Sebab didalam rumah mereka memang sengaja tidak banyak menyediakan stok mie instan secara berlebihan.
Bahkan nyaris seluruh pengghuni rumah termasuk para asisten rumahtangga jarang ada yang hobi memakan makanan cepat saji tersebut. Maka tidak heran bila Mike menemukan mie instan yang sudah tidak layak konsumsi. (Kedaluarsa)
***
Selesai santap malam, mereka bergegas kembali kedalam ruang kamar hendak belajar bersama-sama. Kali ini Mike sedang memiliki mood yang baik bagaikan sedang tidak kesurupan akhirnya ia pun sudi untuk belajar.
Alan seringkali mengajari sang kakak dalam beberapa materi pelajaran nyaris bagaikan guru bagi Mike, sebab seringkali Alan membuatkan soal dari beberapa mata pelajaran tersebut untuk dikerjakan oleh Mike.
Mike menurutinya nan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Hingga waktu belajar mereka berlangsung nyaris dua jam lamanya.
Kini waktu sudah menempati pukul 22:00 pm.
"Huaaaaaam," Mike menggeliatkan badannya kala ia sudah selesai mengerjakannya sembari menguap.
"Bila menguap, biasakan mulut kamu di tutup Mike," Ucap Alan.
"Hilih, memangnya kenapa? Takut kamu tersedot kah?" Jawab Mike.
"Aiya ya ya, baiklah. Terserah kamu saja Lan, Guru memang selalu benar." Celetuk Mike berdiri dari kursi belajarnya.
"Aku hanya mengingatkan, Kak." Lanjut Alan.
Sontak Mike mendekatkan diri serya tersenyum dan menelunjuk jari setinggi bahu. "Tetapkan sebutan itu kepadaku. Apa kamu bisa lakukan itu mulai dari sekarang?" Pintanya.
"Baik, kakak Mike. Aku akan memanggilmu 'Kakak' mulai dari sekarang." Jawab Alan tersenyum hangat.
"Yap, bagus! Hehehe, Bercanda Lan. Panggillah aku semau kamu." Lanjut Mike melangkah pelan menuju ke arah Balkon hendak merokok. Lantas Alan semula tersenyum kini berekspresi asam kala melihat sang kakak kembali melakukan kebiasaannya tersebut.
***
Semula Alan membiarkannya sejenak, lantaran ia sendiri sedang merapikan kembali buku-buku di atas meja usai belajar. Lantas usai ia pun menghampiri sang kakak ke arah Balkon.
"Kak" Panggilnya dalam jarak kurang lebih tiga langkah darinya. (Menghindari asap rokok)
"Hum, ada apa? Duduklah sini" Jawabnya sembari masih menyemburkan kepulan asap dari Zat nikotin tersebut.
__ADS_1
Lantas Alan menghampiri nan meraih rokok itu langsung dari mulut sang kakak.
Seet!
"Oit, oit, Haiyaa" Gerutu Mike kala Rokok tersebut langsung Alan buang ke bawah, Lantas Mike pun lekas menyembunyikan rokok yang masih didalam bungkus kedalam sakunya, untuk antisipasi bila sang adik mengambilnya jua nan membuangnya.
Alan hanya meliriknya saja tanpa ada kalimat kata keluar dari mulutnya, tetapi tampak asam pada ekspresinya serta banyak kata-kata tanpa ia utarakan melalui lisan.
'Apa kenikmatan dari rokok ini, hingga kamu sangat sulit menghindarinya, Mike?' Batinnya.
"Oeh Lan, duduklah" Panggil Balik Mike kala ia sudah tidak menggerutu lagi nan sudah tidak mempermasalahkan rokok tersebut.
Lantas Alan duduk sembari memandang sejauh matanya memandang.
"Lan," Panggil Mike.
Alan menolehnya.
"Em .. berhubung papa sedang tidak ada dirumah, aku memiliki suatu rencana, kira-kira kamu setuju gak?" Ucapnya.
"Rencana apa?" Tanya Alan.
"Party" Mike mengangkat kedua alisnya.
Tuing tuing
"Maksudmu, Party apa Kak?" Tanya Alan masih belum mengerti.
"Kita adakan party bersama teman-teman sekolah dirumah, untuk menggantikan pesta ulang tahun kita yang gagal kemarin, gimana? Apa kamu setuju?"
"Aku tidak tau kak" Jawab Alan polos.
"Hilih, tinggal jawab setuju apa enggak kamu Lan, yaelah .." Mike melempar buntalan tisu ke Alan
Suut!
"Cih, itu urusanmu Kak, lakukan saja apapun yang ingin kamu lakukan." Jawab Alan penuh misteri bahwa sesungguhnya ia masih merasa tidak ada hak didalam kehidupan Mike. Apalagi setelah perkara tertukar posisi serta lika-liku saat ia menjadi kakaknya berujung pada kesalahpahaman layaknya dengan Ananta.
Ya, semua itu membuatnya kini tidak ingin ikut dalam urusan kakaknya selain urusan yang menyangkut keselamatan diantara keduanya yakni melawan para musuh. (Bonanza dan para gengester)
"Hilih, jawabannya masih aja misterius. Huaaam sudahlah mari kita istirahat, besok kita sekolah" Pungkas Mike bergegas masuk kedalam ruang kamar Lantas Alan jua menyusul masuk.
__ADS_1
Untuk Alan langsung memejamkan mata begitu ia sudah menata bantal dan selimutnya, namun sebaliknya dengan Mike. Usai melihat sang adik terlelap dalam tidurnya ia beranjak turun dari kasur bergegas mengambil jaket di tempat biasa ia taruh, lantas pergi keluar rumah.