
Semua para siswa-siswi penuh tanya nan berbisik dengan teman sebelahnya ketika sang guru mengucapkan kalimat yang belum tuntas dikatakan itu. Termasuk Alan dan Mike, mereka berdua tidak saling berbisik melainkan hanya saling tatap penuh tanya.
"Dia adalah seorang siswa yang prestasinya cukup baik, sungguh tiada duga Tuhan lebih sangat menyayanginya" sesal guru.
"Hah? Apakah maksudnya itu si Deril?" Bisik diantara siswa.
"Eh kawan, bukankah siswa yang prestasinya cukup baik di kelas kita hanya Deril ya?"
"Iya benar juga, tetapi.."
"Ssst.. hei diam dulu kawan, kita dengarkan penyampaian guru dulu." Pungkas salah satu diantara mereka memangkas ucapan mereka-mereka supaya tidak banyak yang asal menduga.
Sementara guru sempat diam sejenak ditengah kalimat yang sedang ia ucapkan. Ekspresinya nampak sedih sebelum ia melanjutkan kembali apa yang hendak ia sampaikan itu.
"Siapakah siswa yang Bapak maksud itu, Pak?" Tanya salah satu siswa yang tidak sabar mendengar berita yang hendak guru sampaikan itu.
"Bapak mendapatkan kabar berita bahwa salah satu siswa di kelas kita yaitu Deril telah meninggal dunia pada dini hari kemarin. Tetapi penyebab pasti akan kematiannya belum diketahui, kini dia masih berada di salah satu rumah sakit. Dan pihak keluarga akan segera melaksanakan pemakamannya langsung pada hari ini. Hanya itu berita yang bapak dengar. Baiklah marilah kita semua berdoa untuk beliau supaya tenang di alam Surga" Lanjut Guru melangkah kembali duduk di tempat duduknya untuk memanjatkan Do'a. Disusul semua siswa-siswi langsung khusuk dalam Do'a.
Usai memanjatkan Do'a, Alan menoleh ke arah Mike.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu Lan? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Mike lirih.
Alan masih terdiam namun ia masih menatap Mike nampak banyak pertanyaan didalam benaknya tanpa melalui kata.
"Hei, kenapa kamu masih saja menatapku seperti itu Lan? Apakah kamu berpikir kakakmu ini adalah seorang pembunuh?" Lanjut Mike sembari menata beberapa buku ke dalam tas. Mengingat jam pelajaran memang telah usai.
"Aku bahkan belum mengucapkan perkataan apapun terlebih lagi untuk menduga-duga. Kenapa kamu malah berkata seperti itu Mike? Apakah memang telah terjadi suatu perkara? Apakah semua ini ada hubungannya denganmu?" Tanya Alan.
"A..aiiya ti.. tidak. Tidak ada apapun. Sudahlah jangan dipikirkan, cepatlah kamu segera bereskan juga buku-buku mu, sebentar lagi kita pulang. Sepulang ini aku akan mengajakmu pergi ke Mall langsung untuk mencari pakaian dan aksesoris yang akan kita pakai untuk nanti malam, bagaimana? Apakah kamu setuju?" Mike langsung mengalihkan topik pembicaraan supaya Alan tidak melanjutkan pertanyaannya.
Sementara Alan sendiri masih diam dan tiada henti-hentinya menatap Mike dalam posisi yang sama seperti tadi. Ia tidak menghiraukan apa yang sedang Mike bicarakan tentang pesta ulang tahun yang belum ia ketahui tersebut. Alan masih dalam pemikiran yang sama sesuai apa yang sedang ia pikirkan.
"Wei, berhentilah membuat ekspresi seperti itu Lan, berhentilah berpikir yang bukan-bukan. Sinih biar aku bantu untuk membereskannya." Lanjut Mike meraih buku-buku di depan Alan langsung ia masukkan ke dalam tas.
Alan mengangguk-anggukkan kepala seolah-olah percaya dengan yang Mike katakan saat ini. Walaupun sebenarnya terdapat banyak pertanyaan yang hendak ia tanyakan ke Mike.
***
Teng.. teng.. teng..
Lonceng sekolah telah dibunyikan.
__ADS_1
"Baiklah Semuanya, Bapak ingatkan kembali tingkatkanlah fokus belajar kalian. Jangan malas, Ingatlah bahwa prestasi kalian adalah penentu untuk bisa meraih cita-cita kalian ke jenjang pendidikan berikutnya." Ucap guru sebelum ia keluar dari ruang kelas.
"Baik, Pak.." jawab siswa-siswi secara serentak.
Begitu guru keluar, masing-masing dari siswa-siswi menyusul keluar untuk pulang. Sementara Mike juga langsung berdiri. Namun tidak demikian dengan Alan, ia masih duduk pada posisi yang sama yaitu menoleh ke arah Mike.
"Wei Lan, kok malah masih diam saja. Ayo kita pulang sesuai yang aku katakan tadi, kita langsung pergi ke Mall, yuk." Ajak Mike. Kemudian para teman-temannya langsung datang mengumpul ketika Alan belum menjawab apapun.
"Wei Mike, hei Mike. Dan.. loe Mike yang kedua, hehe" Ucap Al langsung duduk di atas meja Alan sembari tersenyum ke arah Alan.
Bersama dengan Taro, Ivan dan Kenji langsung berkumpul. Kenji sendiri langsung menarik kursi dari tempat lain. Ia langsung duduk di sebelah Alan.
Alan melirik Kenji dengan tatapan tajam, karena Alan paling risih dengan tingkah Kenji yang sangat Alay itu. Sementara Mike langsung menimpuk kepala Al.
Plak!
"Wei, Mike yang kedua mulu loe memanggilnya, adik gua tuh punya nama kunyuk!"
"Awh, sakit sue! Aiyaya maaf hehe" Al cengegesan seraya mengangguk ke arah Alan, ia merasa sungkan.
"Widih.. sang kakak tanduknya langsung nongol. Sangar nian coy, haha slow Men.. kita-kita kagak bakalan nyenggol adik loe, santai-santai, tenanglah kawan." Ejek Taro.
"Ampun pangeran ampun, haha" Taro langsung menutupi kepalanya dengan tangannya begitu Mike mengangkat tangan.
"Lagian loe bukannya ngenalin adik loe dulu ke kita-kita, bro." sambung Ivan.
"Iya ayang akoh.. eike kan ingin kenal juga ama ci ganteng satu ini.." Lanjut kenji dalam bahasa alay-nya sembari mendekat ke Alan.
"Cih," Alan meliriknya nampak asam sembari sedikit bergeser menjauh darinya.
"Hey bro, perkenalkan Gua Taro." Ucap Taro mengawali perkenalan sembari mengulurkan tangan hendak berjabat dengan Alan.
Alan jua langsung mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Michealan." Jawab Alan singkat.
Kemudian disusul oleh teman-teman yang lain saling berjabat dengan Alan. Ketika terakhir Alan berjabat tangan dengan Kenji, Kenji mulai bertingkah yaitu ketika dia berjabat dengan Alan, tangan Alan hendak ia tempelkan ke pipinya sendiri.
"Tangan kamu sungguh terasa lembut sekali," Lirih Kenji.
Sontak Alan langsung melotot dan langsung menarik tangannya sebelum Kenji melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Seet!
"Idih, menjijikan." lirih Alan nampak kesal.
"Awh.. Buset! galak amat. Eike cebel deh ah, ganteng-ganteng tapi galak, huh." Kenji langsung bergeser posisi nan memalingkan wajah.
Sontak membuat semua teman termasuk Mike saling tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Kenji. Yang mana Kenji memang selalu bertingkah seperti itu.
"Haha santai Bro, maklumi saja kawan kita yang satu ini, dia memang seperti itu. Kelak loe pasti akan memahaminya." Ucap Ivan sembari memegang pundak Alan.
Alan hanya mengangguk, nan melepaskan langsung tangan Ivan dari atas pundaknya. Walau jauh didalam benaknya ia paling risih dengan orang yang memiliki sikap Alay seperti Kenji. Jangankan Kenji, Verza sang sahabat ia saja jarang sekali merangkul Alan meskipun mereka bersahabat lama bahkan dari kecil. Ya, begitulah seorang Alan.
"Bro, sudah selesai kenalannya kan? Kita mau balik duluan" Lanjut Mike setelah usai menertawakan Kenji.
"Yaelah, buru-buru amat Loe Mike. Nanti dulu lah.." jawab Ivan.
"Iya Mike, bentar dulu napa, et dah" Sambung Taro.
"Kita mau pergi dulu bro karena ada keperluan, maklumlah.." Mike mengedipkan mata kepada teman-temannya karena sebelumnya Mike telah mengundang mereka untuk datang ke acara pesta ulang tahunnya nanti malam. Dan sudah mengatakan bahwa jangan membicarakan seputar itu jika sedang ada kembarannya.
"Oh.. oke-oke" Semua teman langsung mengerti.
"Sip. Lihatlah langitnya pun sudah mulai mendung tuh. Kita balik duluan ya, yuk Lan." Lanjut Mike sembari meraih tangan Alan hendak membawanya pergi keluar kelas.
***
Setelah sudah keluar kelas, mereka berjalan bersama-sama hendak menuju pintu gerbang. Namun ketika mereka tengah berjalan, Mike berkali-kali melihat ke arah hp dan mencoba menelpon seseorang tetapi selalu gagal tersambung.
"Aissh, kemana lah si dia, kenapa tidak bisa-bisa di hubungi sih. Aneh, tumben sekali dia menghilang begini." Gumam Mike. Ia sedang menghubungi seseorang untuk mengajak dia dalam acara pesta ulang tahunnya yaitu Ananta.
Mengetahui itu Alan tidak banyak bertanya siapakah gerangan seseorang yang tengah dihubungi oleh Mike. Tetapi ada hal lain yang ingin segera ia tanyakan.
"Tunggu Mike,"
"Hum, ada apa?" Mike langsung menghentikan langkahnya begitu Alan meraih pundaknya.
"Aku ingin bertanya, jawablah dengan jujur."
"Yup, katakanlah saja"
"Apakah kematian siswa itu tidak ada hubungannya dengan kamu?" Tanya Alan mengingat Mike tidak pulang semalam.
__ADS_1