
Pagi hari kemudian, jam masih menunjukkan tepat pukul 05:00 pagi. Alan sudah bangun terlebih dahulu karena memang sudah menjadi kebiasaanya bangun pagi. Namun untuk kali ini sedikit berbeda, selain dari memang sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi, ia terbangun karena berkali-kali ia tertimpa kaki Mike.
Brek!
"Aiish! Geser kaki mu Ver." Gumam Alan ketika kaki Mike menimpa dirinya. Kemudian ia langsung menggesernya untuk menjauh dari perutnya.
Seet!
"Kenapa kamu kebiasaan sekali Ver, tidurmu seperti kerbau." Gumam Alan ketika ia beranjak duduk dan masih belum membuka kedua matanya. Kemudian, setelah ia kembali membuka matanya, ia menoleh kearah Mike.
'Astaga Tuhan.' Alan sedikit terkejut karena yang ia ingat ia masih didalam asrama bersama sahabatnya. Kemudian ia mengucek-ngucek kedua matanya ketika ia melihat Mike, kemudian, ia bergegas berdiri dan melangkah ke arah balkon, ia berdiri disana sembari memandang sejauh matanya memandang. Terdengar suara ayam jago berkokok dari arah kejauhan (dari perkampungan sebelah perumahan) dan semilir angin yang berhembus ringan nan sejuk menambah suasana khas pagi itu membuat Alan terbayang akan hari-hari yang telah usai ia lalui didalam kehidupan ia sebelumnya.
'Ibu.. disaat hari terakhirpun engkau tidak menampakkan dirimu untuk datang kepadaku, begitu bencikah engkau kepadaku ibu..'
Lamunan Alan terbayang ketika saat-saat terakhir ia meninggalkan daerah itu. Yang mana kala itu ia berhenti sejenak sebelum masuk kedalam kendaraan yaitu untuk mencari ibu angkatnya, namun karena ia tidak melihatnya sama sekali, ia pun berpikir bahwa sang ibu angkatnya benar-benar membencinya dan ia merasa benar-benar tidak diinginkan.
Kemudian Alan mendongak kearah langit sembari menghela napas dalam-dalam.
'Huuff.. yeah Baiklah. Kini saatnya untuk Aku memulai segalanya, ya Alan, Selamat tinggal untukmu. Dan selamat datang wahai Michealan.' Batin Alan yang kini antusias untuk bisa berubah menjadi diri dia yang sekarang.
Beberapa menit ia berdiri disana, kemudian ia kembali masuk kedalam ruang kamar, dan berdiri tepat didepan kaca cermin berukuran besar yang berada disana. Ia melihat dirinya sendiri sembari sesekali menoleh ke arah Mike yang masih tertidur pulas di atas kasur. Ia tersenyum ketika melihat dirinya sendiri didalam kaca cermin tersebut. Karena ia jua merasa sangat bahagia seperti yang Mike rasakan setelah mengetahui bahwa dirinya ternyata memiliki seorang saudara, dan terlebih lagi saudara kembar.
Ia bahagia ketika melihat Mike sangat peduli kepada dirinya, yang mana rasa kepedulian itu terasa sangat tulus yang Mike berikan sebagaimana mestinya menjadi seorang saudara. Karena, sebelumnya ia tidak pernah merasakan itu dari saudara yang ia kira adalah adik kandungnya yaitu Yadi. Karena, betapa bencinya Yadi kepadanya kala ia hanya ingin sekedar berbincang-bincang dengan dia, namun sering kali Yadi justru selalu membentak dan mencacinya.
Dari segala kalimat yang keluar dari mulut seluruh anggota keluarga angkatnya kala itu, tidak pernah lepas dari nada membentak maupun sebuah kalimat cacian, sehingga membuat hidup Alan menjadi tertekan dan membuat ia enggan untuk banyak berbicara, alhasil ia tumbuh menjadi seorang yang memiliki kepribadian pendiam dan tertutup bahkan cenderung misterius.
Ya ia cenderung misterius karena dibalik sifatnya yang pendiam itu, semua orang tidaklah tau bagaimana asli jalan pemikirannya.
***
Selesai ia melihat dirinya sendiri di kaca cermin, Kemudian ia segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah usai, ia berjalan ke lantai bawah, ia merasa badan dia sudah membaik setelah meminum beberapa obat yang di resepkan oleh dokter. Alhasil ia pun sudah dapat berjalan seperti sediakala.
"Bu.." sapa Alan sembari tersenyum kepada Bu Tiah ketika ia sampai didapur. Bu Tiah jua tersenyum, namun bu Tiah merasa bingung yang sedang berada di hadapannya itu Mike ataukah bukan karena mereka benar-benar serupa.
Kemudian, Alan langsung melihat kedalam kulkas untuk mencari beberapa bahan masakan yang hendak ia masak.
"Lah, kok kosong?" Gumamnya lirih setelah ia melihat-lihat isi didalam kulkas tersebut.
"Anu kak, Ibu belum ke pasar, tapi untuk ayam goreng yang sudah berbumbu siap goreng sudah ada kok, apakah mau langsung ibu goreng sekarang?"
"Tidak, nanti saja jika Mike sudah bangun."
"Oh, iya Baik kak," Jawab bu Tiah sedikit sungkan setelah sudah mengerti bahwa yang sedang berada dihadapannya tersebut bukanlah Mike yang ia rawat dari balita.
"Oh iya, apakah Mike selalu makan masakan ayam dengan cara di goreng?" Lanjut Alan bertanya sembari minum air mineral.
"Benar kak, kakak Mike selalu makan ayam goreng saat dia ingin makan dirumah."
"Apakah dia tidak suka dengan menu makanan lain? Sayur ataupun yang lainnya?" Lanjut Alan yang sudah antusias untuk merubah diri menjadi banyak berbicara.
"Tidak kak, kakak Mike tidak menyukai sayur"
__ADS_1
"Kenapa tidak ibu kolab saja cara memasaknya? Supaya dia tetap bisa makan sayur?"
"Kolab? Maksudnya bagaimana ya kak?" Bu Tiah kurang paham.
"Emh, biar nanti saya coba masak untuknya, tolong nanti ibu siapkan saja bahan masakannya, nanti akan saya berikan catatan" Jawab Alan sembari masih berkali-kali meminum air mineral dalam botol yang sedang ia pegang.
"Iya, Baik kak" Jawab bu Tiah sembari tersenyum karena ia merasa kagum dengan anak Majikannya yang satu ini, karena sifatnya sangat jauh berbeda dengan anak yang ia rawat dari kecil yaitu Mike.
Kemudian, Alan melangkah ke arah ruang tengah, ia duduk di kursi sofa sembari langsung menyalakan televisi yang berada disana. Kemudian, ketika ia mengganti channel televisi, ia melihat berita yang memberitakan seputar kejadian yang ada didalam kota pada hari kemarin.
Namun, ketika ia belum tuntas melihat isi berita tersebut, Marvin keluar dari dalam kamar dan langsung duduk disebelahnya, alhasil ia menjadi tidak fokus melihat berita yang sedang disiarkan didalam televisi tersebut.
"Kamu sudah bangun nak.." Sapa Marvin langsung duduk disebelahnya seraya tersenyum dan mengusap kepala Alan.
"Hu um" Alan mengagguk sembari tersenyum.
"Bagaimana dengan kondisi badan mu nak? Apakah sudah baik?"
"Saya sudah baik ayah, sudah tidak terasa kaku."
"Syukurlah.." Jawab Marvin tersenyum sembari tetap memandang ke Alan, sementara Alan sendiri menoleh kesana dan kemari khususnya ke arah dinding dan ke arah beberapa lemari bufet yang berada disana.
"Kamu mencari apa nak..?"
"Anu.."
"Baiklah, papa mengerti apa yang sedang kamu cari, mari ikut papa sejenak, masuk kedalam kamar papa, papa telah menyimpanya dengan hati-hati dan sangat rapih didalam sana" Ajak Marvin sembari bergegas berdiri.
Ia terdiam sembari memperhatikannya. Kemudian Marvin berdiri di sebelah Alan sembari bersama-sama menghadap ke arah foto tersebut, kemudian Marvin mengusap lembut kepala Alan.
"Lihatlah, Wanita cantik dengan senyuman yang sangat manis mempesona itu adalah mama kamu nak, ini yang sedang kamu cari-cari bukan?"
"Benar ayah."
Alan mengaguk sembari tersenyum dan tiada henti-hentinya ia memandang kearah foto tersebut.
"Sungguh wanita yang sangat cantik sekali" Lirih Alan merasa terkagum.
"Ya nak, mama kamu adalah wanita yang sangat cantik yang beruntung bisa papa menangkan hatinya." Ucap Marvin bernostalgia.
Mendengar kalimat tersebut, Kemudian Alan menoleh kearah sang ayah.
"Mama kamu adalah wanita yang sangat pendiam dan memiliki kepribadian yang benar-benar sangat tertutup, tidaklah mudah untuk bisa mengenalinya, bahkan berbicara dengnnya saja sangatlah susah. Namun, Tuhan telah menyatukan kami dalam sebuah ikatan suci dengan caraNya yang sangat tidak terduga dan tentunya dengan sangat indah. Sehingga terlahirlah kalian berdua. Namun, dibalik sikap mama kamu yang sangat pendiam itu, papa sangat menyesalinya nak, sungguh papa sangat menyesalinya" Marvin berkaca-kaca.
"Apakah maksud ayah..?" Tanya Alan merasa belum mengerti.
"Ya nak, papa menyesalinya karena papamu ini tidak pernah mengetahui bahwa mama kamu memiliki suatu penyakit yang sudah beliau derita cukup lama, mama kamu telah berjuang seorang diri untuk melawan penyakitnya itu, namun beliau tidak pernah mengatakan apapun kepada papa tentang hal itu. Hingga tiba saatnya kalian terlahir ke dunia, mama kamu sudah tidak bisa lagi menahan penyakit yang beliau derita hingga akhirnya beliau pulang ke surga. Papa merasa sangat menyesal karena papa tidak bisa berbuat apapun untuk mama kalian."
Marvin meneteskan air mata karena ia teringat masa-masa yang sangat pedih kala itu.
"Mama kalian sangatlah antusias untuk mengutamakan kebahagiaan papa daripada apapun yang ada didalam dunia ini. Yaitu salah satunya dengan melahirkan kalian berdua, namun siapa sangka saat dia sedang mengandung kalian, dia sendiri sedang merasakan kesusahan karena penyakit yang ia derita, Oh Tuhan, begitu sangat bodohnya papa, karena papa sama sekali tidak mengetahui akan hal itu. Papa sangat menyesal nak, hiks hiks hiks" Air mata Marvin langsung mengalir deras.
__ADS_1
Melihat dan mendengar kalimat yang telah sang ayah ucapkan tersebut, Alan langsung dapat memahami bahwa tidak hanya diri dia sendiri yang mengalami tekanan batin didalam hidupnya melainkan sang ayah jauh lebih parah merasakannya, terlebih lagi ketika Alan mendengar kalimat yang ayahnya ungkapkan kala sedang berada di alun-alun pada hari kemarin tentang dirinya yang hilang, membuat Alan kini dapat semakin memahami tentang bagaimana kisah keluarganya.
Kemudian, Alan menghapus air mata sang ayah yang sedang mengalir deras diantara kedua pipi dengan tangannya.
"Ayah.. janganlah menangis" Ucap Alan sembari tersenyum. Membuat Marvin merasakan lega ketika melihat sang anak tersenyum tulus untuk menenangkan hatinya.
"Emh.. lalu kenapa foto ibu tidak terpasang diantara dinding ataupun lemari depan dan ruang tengah ayah?" Lanjut Alan bertanya.
"Tidak nak, sengaja papa hanya menaruhnya didalam kamar, karena hanya tinggal foto yang terpajang ini dan beberapa lembar yang berada didalam album saja kenangan dari almarhum mama kamu nak, karena beliau sangatlah enggan untuk di ajak berfoto. Bahkan cenderung tidak mau di foto." Marvin tersenyum karena ia terbayang kenangan indah bersama almarhum sang istri.
"Apakah..?" Alan hendak bertanya sesuai apa yang sedang ia pikirkan.
"Ya Papa mengerti apa maksudmu nak, dan papa akan mengatakan tidak, ya, kami tidak menjalin hubungan kekasih sebagaimana mestinya seperti kebanyakan orang (pacaran)"
Alan mengagguk walaupun ia tidak begitu paham tentang hal itu, mengingat ia sendiri belum paham tentang seputar hubungan kekasih karena ia sendiri belum pernah memiliki kekasih pastinya ia tidak pernah merasakannya. (Masih Polos)
Ketika Marvin hendak melanjutkan kalimat yang sedang ia bicarakan, belum jadi ia lakukan ketika terdengar ada suara yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok.
Karena pintu tidak tertutup, alhasil yang mengetuk pintu tersebut langsung menyelonong masuk kedalam.
"Ehem, Lagi pada ngegosip apaan sih para cowok pagi-pagi bolong begini, huaaaam" Cetus Mike langsung masuk dan langsung berbaring diatas kasur sang ayah.
"Huupp yeeeaaahhh" Mike menggeliatkan badannya sembari menguap-nguap.
Marvin dan Alan langsung menoleh kearah Mike, kemudian Marvin langsung menggelengkan kepalanya ketika melihat Mike yang masih kusut serta rambut yang masih acak-acakan bahkan masih sering menguap-nguap nampak seperti sanak yang tak berguna.
"Bicara apa kamu Mike, Mandi atau cuci muka dulu sana Mike"
"Ya nanti lah pa, eh papa sama Alan sedang pada ngomongin apaan sih, lanjutkan saja aku ingin mendengarnya, huaaaam" Lanjut Mike.
"Ini, papa sedang berbicara tentang mama kalian"
"Mama? Eh iya pa, anu.." Lanjut Mike langsung bersemangat ketika mendengar kata mama dan kemudian ia langsung beranjak berdiri mendekat ke arah mereka.
"Apa Mike?" Tanya Marvin.
"Anu pa, sekarang kan.. Alan sudah bersama kita nih, bagaimana jika papa anu pa.." Lanjut Mike sembari cengegesan dan garuk-garuk kepala.
"Sekali lagi papa tegaskan, dan maaf papa tidak bisa Mike. Papa mengerti apa maksudmu,"
Bersambung.
***
Catatan Author.
Untuk semua kakak-kakak yang masih setia membaca cerita Twins ini, maaf jika author tidak banyak update seperti dulu. Karena ada banyak kesibukan didalam offline, namun lika-liku cerita kisah kehidupan si kembar ini masih terus berlanjut cukup panjang ya.. tambahkan ke favorite supaya mendapatkan notifikasinya.
Oh iya, Btw Author ingin tau nih, dari kedua tokoh utama twins ini siapa sih yang kalian suka antara Mike dan Alan? Ketik jawaban kalian pada kolom komentarnya ya? Dan berikan juga alasannya kenapa.
__ADS_1
Terimakasih..