
Saat ketika tidak mendapati mobil pickup bermuatan bahan baku makanan yang hampir saja bertabrakan dengan mobilnya, Marvin kembali meminta Daniel untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Marvin masih terdiam ketika Daniel sudah siap kembali memacu kendaraanya hendak menuju tempat tujuan.
Karena Daniel belum mendengarkan secara langsung tentang apa maksud dari Marvin datang ke daerah tersebut, alhasil ia pun angkat bicara untuk segera menanyakannya.
"Vin, ada masalah apa yang tengah mengganggu pikiran kau, sehingga kau nampak sangat cemas seperti ini? Dan jua ada tujuan apa kau datang ke daerah sini?" Tanya Daniel sembari fokus menyetir.
"Antarkan saja saya pada tempat di tepat kau menemukan Mike ketika ia kecelakaan kala itu." Jawab Marvin singkat.
"Aiya..ya Vin, ba..baiklah." Daniel terpatah-patah.
Daniel merasa sangat gugup ketika Marvin hendak menuju ketempat tersebut, ia merasa gugup nan khawatir karena jika sampai Marvin mengetahui bahwa dirinyalah yang menabrak putranya sehingga membuat putrnya kini kehilangan ingatan, ia takut jika ia akan langsung di benci oleh Marvin.
Karena apapun itu, mereka telah bersahabat sudah sangat lama yaitu dari usia mereka masih remaja. Daniel sudah menganggap Marvin sebagai anggota keluarga, begitu pula dengan Marvin. Karena Marvin menganggap Daniel adalah bagian dari keluarga, membuat ia tidak menaruh curiga sedikitpun kepada Daniel bahwa sebenarnya dialah sang pelaku yang membuat putranya kehilangan ingatan.
**
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat kejadian perkara kala itu Daniel menabrak Alan. Daniel langsung memarkirkan mobilnya pada bahu jalan tepat pada saat ia memakirkan mobilnya kala itu.
"Disinilah saya menemukan Mike tergeletak bersimbah darah Vin," Ucap Daniel.
Marvin langsung bergegas turun dari dalam mobil lalu ia langsung melihat ke seluruh penjuru arah.
"Apakh Kau yakin dengan yang kau ucapkan itu Daniel?"
"Saya berkata apa adanya Vin, saya menemukan Mike tergeletak disini." Ulang Daniel.
Mendengar pernyataan Daniel, Marvin menggelengkan kepala, karena ia merasa heran kenapa Alan bisa sampai tertabrak pada jalan tersebut, sementara kawasan tersebut sangat jarang sekali ada rumah warga. Namun ia mencoba untuk yakin dan percaya dengan ucapan Daniel.
"Daniel, ketika kau menemukan Mike, apakah kau langsung membawa ia ke rumah sakit? ataupun klinik setempat?"
"Iya, saya membawanya langsung ke klinik setempat Vin." Jawab Daniel agak meringis karena ia merasa keceplosan telah berkata apa adanya kepada Marvin.
Daniel merasa sedang berada didalam situasi simalakama. Ia terlanjur jujur menurutnya salah jika ia tidak jujur ia merasa semakin salah. Namun kini ia telah pasrah ketika ia telah mengucapkan bahwa ia telah membawa Mike ke klinik kala itu, dan ia telah pasrah jika sampai nantinya Marvin saat setelah ia mengetahui tentang kebenarannya dia akan membencinya.
Karena Daniel merasa sangat terbebani dengan kebohongan yang ia buat sendiri dari awal.
Ia menyadari bahwa Sebuah kebohongan dari awal akan melahirkan kebohongan lainnya secara terus-menerus karena untuk menutupi kebohongan awalnya pastilah dengan kebohongan jua.
Dan salah satu cara untuk bisa menuntaskan kebohongan tersebut adalah dengan berkata jujur walaupun ia menyadari pastinya ia akan segera mendapatkan konsekuensinya.
**
__ADS_1
"Jika memang seperti itu, segera antarkan saya ke klinik itu Daniel."
"Baiklah Vin, mari." Jawab Daniel mengajak Marvin kembali masuk kedalam mobil hendak segera menuju ke klinik setempat.
Setelah mereka sampai di klinik tersebut, Marvin langsung menanyakan tentang putranya kepada pihak klinik tersebut sembari memperlihatkan sebuah foto Mike.
Kebetulan pada hari ini sang dokter yang tengah bertugas pada jam itu adalah dokter yang sama saat menangani pasien dengan ciri-ciri seperti foto yang tengah Marvin perlihatkan, dan kebetulan jua sang dokter ingat dengan pasien tersebut karena belum seberapa lama ia merawatnya. Namun dokter tersebut adalah dokter yang merawat Mike bukanlah dokter yang menangani Alan ketika Daniel yang membawanya.
"Oh iya saya telah menangani pasien ini beberapa hari yang lalu pak." jawab sang dokter.
Sontak membuat Daniel sedikit terkejut ketika ia mendengar pernyataan dari sang dokter. Karena yang ia ingat bukan dokter yang ini yang menangani Alan yang ia tabrak ketika ia membawa Alan ke klinik tersebut. Namun, meskipun ia merasa heran dan bertanya-tanya ia memutuskan untuk diam seribu bahasa.
Sementara Marvin tersenyum lega dan melanjutkan kembali percakapannya.
"Apakah anda tahu dimana anak itu tinggal pak?" Tanya Marvin.
"Setahu saya dia anaknya pak Ferdi pak, salah satu warga di dusun lima berjarak kurang lebih 3,2 Km dari sini pak," Jawab sang Dokter.
"Baiklah pak, terimakasih banyak pak." Marvin merasa senang karena ia akan segera mengetahui kehidupan anaknya selama ini.
Walau kendati demikian, ia jua memikirkan keberadaan Mike yang saat ini belum diketahui berada dimana. Namun karena selama ini jua Mike sangat jarang sekali pulang kerumah, menjadikan ia tidak begitu sangat menghawatirkannya mengingat seberapa barbarnya Mike didalam bergaul.
Selanjutnya Marvin kembali melanjutkan perjalanannya dengan Daniel hendak menuju ketempat yang dokter tadi sebutkan.
**
Selanjutnya ada anak muda tanggung seusia Alan melintas didekat mobilnya dan nampak sangat terburu-buru.
"Permisi dek, numpang tanya sebentar, didaerah sini rumahnya pak Ferdi disebelah mana ya?" Tanya Daniel dari dalam mobil sembari membuka kaca mobilnya.
Anak muda tersebut langsung terdiam dan memperhatikan mereka ketika Daniel bertanya, karena kebetulan pemuda tersebut adalah Yadi adik Alan dan anak dari pak Ferdi sendiri.
"Hey dik, apakah kamu tau dimana rumah pak Ferdi?" Ulang Daniel, karena Yadi masih terdiam belum menjawabnya langsung.
"Anda siapa? Kenapa anda mencari ayah saya?" Jawab Yadi sembari menangis.
Mendengar dan melihat hal tersebut, Marvin langsung turun dan mendekat langsung kepada Yadi.
"Ada apa dengan engkau dik? Apakah Benar kau anaknya pak Ferdi? Apakah engkau memiliki saudara laki-laki? Dan kenapa kau menangis?" Ucap Marvin langsung banyak bertanya-tanya.
"Ya saya anaknya pak Ferdi. Dan saat ini juga saya sedang mencari keberadaan anak sampah sialan yang tidak tahu diri itu!" Jawab Yadi langsung.
"Anak sampah? Aduh..saya tidak paham maksud perkataan adik, bisakah adik mengantarkan saya kerumah adik?" Lanjut Marvin.
__ADS_1
"Baiklah ikutlah dengan saya berjalan kearah sana. Mari pak," Jawab Yadi.
Selanjutnya mereka bertiga berjalan bersama hendak menuju kerumah Ferdi. Jarak tempuh tidak begitu jauh hanya beberapa meter dari mobilnya terparkir, mereka sudah sampai di jalan yang sudah nampak terlihat rumahnya. Namun masih berjarak kurang lebih 15 meter sebelum tepat dihalaman depan rumahnya.
Mereka masih berdiri dibalik pohon kopi coklat yang terdapat dipinggir jalan tersebut.
"Itu adalah rumah kami, saya tidak tahu tujuan anda apa datang kerumah kami, namun saya pamit undur diri." Ucap Yadi sembari masih meneteskan air mata dan akan melangkah pergi.
"Tunggu, Memangnya kamu mau kemana dik?" Tanya Marvin penuh penasaran melihat pemuda tanggung itu masih menangis semenjak ia bertemu dengannya beberapa menit yang lalu.
"Saya sedang mau mencari anak sampah sialan yang tidak tahu diri!" Jawab Yadi dengan nada tinggi yang mana ia tidak memiliki etika kesopanan berbicara terhadap orang tua, terlebih lagi saat berbicara dengan orang asing. Selanjutnya ia langsung pergi berlari.
"Hey Dik, Tunggu!" Teriak Daniel memanggil-manggil Yadi.
Sementara Marvin sudah tidak menghiraukan anak muda yang kurang memiliki attitude baik tersebut, dan juga ia tidak paham maksud dari ucapan Yadi yang tengah menyebut anak sampah Hinga beberapa kali adalah menyebut Mike yang saat ini menjadi Alan.
Ia fokus kepada tujuan utamanya, ia melihat posisi rumah Ferdi yang mana rumah tersebut adalah rumah kayu. Namun didalam rumah itu yang tengah ia lihat nampak ramai para warga berkumpul di rumah itu dan terlihat ada beberapa jumlah pemuda sedang menata kursi plastik dihalaman depan rumah tersebut.
**
' ya Tuhan, apakah selama ini anakku Michealan hidup didalam rumah itu? Sementara aku tidak pernah mengetahuinya selama ini, aku sungguh gagal menjadi seorang ayah, maafkanlah ayahmu ini nak..' batin Marvin menyesali tentang nasip putranya seraya ia memandang kearah rumah tersebut.
"Vin, mari.." Ajak Daniel kepada Marvin karena ia melihat Marvin terdiam dan melamun sembari melihat kearah rumah itu.
Namun, pada saat ketika mereka hendak melangkah menuju rumah pak Ferdi, mereka mendapati ada salah satu warga yang sedang berjalan dari arah belakang nampak terburu-buru sehingga menyenggol lengan Marvin dan membuat Marvin terkejut.
"Aduh, maafkan saya pak, saya tidak sengaja." Ucap warga tersebut dan tak lain dia adalah pak Tarman. Ia berjalan terburu-buru hendak segera menyampaikan kepada orang tua Alan bahwa kini Mike yang sedang menjadi Alan sedang dalam perjalanan menuju ke ibu kota.
"Iya pak, tidak papa." Jawab Marvin tersenyum.
Selanjutnya pak Tarman melihat mereka terutama kepada Marvin dari ujung kaki hingga ujung kepala karena nampak berpakaian rapi karena Marvin sendiri sebelumnya akan berangkat keluar negri yang mana ia pasti mengenakkan pakaian rapi sebagaimana mestinya.
"Oh iya, bapak-bapak ini siapa ya..? Dan sedang mencari siapa dan hendak kemana?" Tanya pak Tarman.
"Saya hendak menuju kerumah itu pak," jawab Marvin sembari menelunjuk kearah rumah Ferdi.
"Wah, tujuan kita sama, mari pak kita kesana bersama-sama." Ajak pak Tarman sembari tersenyum hangat walau ia tidak mengenali siapakah Marvin. Namun sejatinya para warga didaerah tersebut memang ramah tamah kepada para pendatang baru maupun kepada semua warga desanya.
Pada saat ketika ia hendak berjalan bersama-sama menuju ke rumah Ferdi, langkah mereka terhenti ketika melihat ada beberapa jumlah warga yang berjalan melewati mereka dari arah rumah Ferdi.
"Mau kemana pak?" Sapa pak Tarman.
"Ini pak, kami Mau mengurus perlengkapan jenazah." Jawab para warga.
__ADS_1
"Jenazah?"