
Catatan
Terdapat bahasa kasar dan kata umpatan. Mohon bijaklah dalam menyikapinya, terimakasih.
Alan hanya tersenyum malu ketika para siswi-siswi memintanya untuk membuka kembali wajahnya yang masih ia tutupi dengan tangan.
"Ssst hey Lan, kenapa kamu tutupi wajahmu terus," bisik Mike.
"Sinar cahaya itu sangat menyilaukan." Jawab Alan lirih.
"Sudahkah tidak apa-apa, toh hanya sekedar cahaya." Balas Mike sembari sedikit menarik tangan Alan yang masih menutupi wajahnya sendiri.
Seet!
Ketika tangan Alan baru saja Mike lepaskan, ia masih sedikit memejamkan mata nan tersenyum kepada para siswi-siswi yang tengah antusias untuk mengambil gambarnya. Sontak semua para siswi yang tengah berkumpul tersebut saling sorak gembira ketika melihat Alan tersenyum terlihat sungguh mempesona itu.
"Anjay, sumpah seksi sekali senyuman dia, ihh gemes aku tuh.." Bisik para siswi dengan teman-temannya.
"Gue gak nyangka guys, Mike selama ini punya kembaran setampan dan semanis ini, yuk kita abadikan momen pertama dia disini" Ajak para siswi dengan siswi lainnya.
Para siswi-siswi itu kembali memfoto Alan dan Mike dan beberapa diantaranya masih menggunakan sinar membuat lagi-lagi Alan hendak menutup bagian wajahnya. Tetapi setiap kali Alan hendak mengangkat tangannya untuk menutupi wajah, tangan ia sudah lebih dulu Mike raih.
Seet!
"Hei, apa yang akan kamu lakukan Lan? Mau kamu tutup lagi bukan?" Bisik Mike.
"Silau, Mike."
"Hei, diam dan tunjukkanlah saja pesonamu, lihatlah mereka semua sangat mengagumimu." Goda Mike.
"Cih, bukankah wajahku dan wajahmu itu sama?" Alan tersenyum malu ketika di puji oleh sang kakak.
"Iya juga si, berarti mereka mengagumi kita berdua so.. mari tunjukkanlah pesona kita, ingat yang kemarin sudah aku ajarkan. Berposelah sebaik-baiknya, jangan norak." Bisik Mike.
"Humph"
Ketika para siswi-siswi usai mendapatkan foto mereka berdua, para siswi-siswi tersebut masih tiada henti-hentinya saling berbicara dengan kalimat yang hampir serupa dari satu dengan yang lainnya, yaitu sebuah kalimat pertanyaan-pertanyaan yang tertuju kepada Alan.
Akan tetapi begitu banyaknya kalimat pertanyaan itu, lebih banyak yang di jawab oleh Mike. Karena Alan nampak bingung hendak menjawab pertanyaan dari banyaknya siswi yang berkumpul di sana. Karena ini adalah untuk pertama kalinya bagi Alan menghadapi berbagai siswi yang sangat antusias ingin mengenalnya.
Meskipun di kehidupan Alan dulu ia juga sangat di kagumi oleh banyaknya siswi di sana, tetapi keadaannya sangat jauh berbeda dengan yang sekarang ini. Karena para siswi di daerah pedesaan tidak banyak yang berani untuk mendekati Alan. Karena sifat dan karakter Alan sangat dingin membuat mereka banyak yang mundur satu langkah. Hanya ada satu siswi populer yang antusias mendekati Alan yaitu Jessi.
"Ssst Lan, Alan" Lirih Mike memanggil Alan yang tengah diajak berbicara oleh para siswi, tetapi ia malah tengah fokus melihat ke arah lain.
"Lan, Alan. Kamu sedang melihat siapa sih?" Ulang Mike memanggil Alan sembari sedikit menyenggolnya ketika Alan tidak menjawab panggilannya.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa, aku tinggal ke toilet sebentar ya" pamit Alan.
"Loh, tapi kan Lan.. wei." Panggil Mike nampak bingung ketika melihat ekspresi Alan sungguh tidak bisa ia tebak.
'Aih bukannya kita baru saja dari toilet ya?' Batin Mike bertanya-tanya.
"Maaf, saya mau pergi ke toilet sejenak." Pamit Alan kepada para siswi-siswi sembari bergegas pergi meninggalkan kerumunan para siswi-siswi tersebut.
"Yah.. Mike yang kedua kok malah kabur si.. lagi kita tanyain juga.."
"Buset, alangkah susahnya mengajak dia berbicara ya, dari tadi dia tidak jawab apapun,"
"Iya nih, dia sebenarnya emang pendiam apa gimana si." Gumam para siswi penuh tanya.
Mengetahui hal itu, Mike langsung mengajak mereka berbicara karena Mike menyadari sikap adiknya sangat dingin dan misterius cenderung terlihat sombong dari tampang luarnya. Ia pun tidak ingin jika sampai para siswi-siswi tersebut beranggapan yang tidak-tidak kepada Alan. Alhasil perhatian dapat dialihkan oleh Mike meskipun Mike sendiri merasa penasaran ketika melihat ekspresi Alan tidak bisa ia tebak sebelum dia pergi tadi.
***
Alan sengaja pergi karena ia merasa risih jika banyak perhatian yang tertuju padanya, terlebih lagi secara terang-terangan banyak yang menanyakan tentang dirinya. Akan tetapi lain dari pada itu, ia pergi karena ia melihat ada Maria bersama dengan beberapa temannya sempat berada di Kantin juga. Tetapi anehnya Maria tidak ikut serta berkumpul layaknya kebanyakan siswi-siswi yang lain.
Apapun penyebab Maria tidak seperti kebanyakan siswi-siswi yang lain, tidak Alan pedulikan. Niat Alan hendak mencari Maria karena ada hal penting yang ingin ia tanyakan kepadanya yaitu tentang Ananta.
Jarak antara Maria saat sedang berada di kantin lalu dia pergi dengan Alan pamit pergi dari kerumunan siswi-siswi tidak begitu lama, tetapi keberadaan Maria sudah entah dimana sehingga Alan sedikit sulit untuk menemukannya.
Alan berjalan ke arah berbagai ruang, lalu ia beranjak ke lantai bawah tetapi belum jua ia temukan keberadaan Maria. Alan tipikal orang yang enggan bertanya kepada orang lain meskipun ia sedang dalam kesulitan membuat hidupnya menjadi sulit akibat dirinya sendiri. Tetapi memang begitulah apa adanya sifat Alan.
Alan juga tidak mengetahui Maria berada di ruang kelas yang mana. Hingga akhirnya ia melangkah menuju ke arah gudang belakang sekolah. Tetapi ia tidak mengetahui bahwa arah tersebut menuju ke gudang sekolah. Alan menoleh ke sana dan kemari nampak semakin sepi.
'Ah sepertinya tidak mungkin jika dia berada disini.'
Batin Alan telah menduga bahwa tidak mungkin Maria dan teman-temannya berada di sekitar sana. Akan tetapi, Alan merasa penasaran dengan lokasi belakang sekolah itu karena ia belum pernah berpijak ke arah sana selama ia sedang menjadi Mike kala itu.
Ketika ia tengah melangkah didekat suatu ruang yang berada disana, tiba-tiba ada tangan yang meraih tangan Alan dari dalam ruang tersebut.
Seet!
__ADS_1
Alan ditarik cukup kuat lalu ia langsung di lempar oleh seseorang yang meraih tangan Alan itu hingga Alan terjatuh dan menabrak beberapa benda-benda yang berada di ruang tersebut.
Braak!
"Aiissh" Alan meringis kesakitan namun ia masih dalam posisi menunduk hingga ia belum mengetahui siapakah gerangan orang tersebut.
Tanpa basa-basi nan berucap apapun, seseorang itu langsung menyerang Alan dengan pukulan bertubi-tubi
Brak! Brak! Brak!
Blug! Blug! Blug!
Alan dalam posisi yang belum siap, maka tidak heran jika ia langsung terkena pukulan-pukulan dari orang itu. Akan tetapi ketika Alan tengah di pukul oleh orang itu pada area Wajah, tangan ia merayap ke lantai untuk meraih benda apapun yang ia dapatkan di tangannya.
Alhasil ia meraih suatu kayu balok bekas kursi kayu yang sudah patah. Menyadari dalam ruangan tersebut memang terdapat banyak benda-benda yang tidak terpakai cenderung hancur.
Ketika kayu tersebut berhasil ia raih, langsung ia ayunkan ke arah kepala orang itu sangat kuat hingga tiga kali pukulan.
Brak! Brak! Brak!
"Aahh!" Sontak orang itu langsung teriak kesakitan dan langsung mundur dua langkah ke belakang. Ia menggeram kesakitan sembari memegangi area kepalanya.
Sementara Alan sendiri perlahan-lahan menegakkan pandang sembari menyapu darah yang mengalir di sudut bibirnya untuk melihat siapakah gerangan seseorang tersebut yang sangat antusias untuk melukainya.
"Kamu." Ucap Alan lirih nan melotot tajam ketika mengetahui orang tersebut yang tak lain dia adalah Jovan.
Jovan memang sedang berada di area sana, tetapi entah apa yang sedang ia lakukan di sana, namun kebetulan ketika Alan tengah melangkah menuju ke area sana, kesempatan bagi Jovan untuk melakukan aksinya dalam membalaskan dendam yang tengah ia pendam. Lalu ia langsung bersembunyi pada ruang tersebut menunggu kesempatan yang tepat ketika Alan sudah sampai tepat di sana.
Sebelumnya Jovan merasa ragu antara Alan atau kembarannya kah yang tengah melangkah menuju ke area tersebut. Namun ia melihat gerak-gerik Alan sudah bisa di pastikan bahwa ia sedang tidak salah orang. Jovan sedikitnya telah mendengar berita bahwa kembaran musuhnya adalah orang yang di segani di sekolahan itu yaitu Mike. Namun apa yang saat ini sedang ia lakukan ia sudah tau bagaimana konsekuensinya nanti.
***
Alan langsung beranjak berdiri sembari masih memegang kayu balok di tangannya.
"Ya, Ini gua." Jovan melotot tajam.
"Lalu?" Alan sembari masih menyapu sudut bibirnya dengan tangan serta ekspresi dan lirikan matanya terlihat menantang.
"Sudah gua katakan bahwa kemanapun loe berada gua pasti akan menemukan Loe. Dan gua akan mencabik-cabik tampang sombong loe itu, dasar anak orang kaya sombong!"
"Hmph" Alan tersenyum khas yang membuat Jovan menjadi geram nan mengepalkan kedua tangannya.
"Berhenti membuat ekspresi semacam itu. Gua benar-benar muak melihat tampang Loe!" Pekik Jovan.
"Mengagumi loe bilang? Cuih! Bahkan melihatmu saja gua jijik!"
Alan semakin tersenyum ketika melihat Jovan berkata demikian.
"Gua bilang berhenti membuat ekspresi semacam itu Kampang!" Ulang Jovan hendak langsung menyerang Alan. Namun begitu Jovan melangkah, Alan langsung mengayunkan kayu balok tersebut tepat di kepala dia.
Brak!
Sontak Jovan langsung terjatuh. Begitu Jovan terjatuh Alan langsung meraih kedua tangan dia, lalu langsung ia cengkram kuat ke arah belakang.
"Aarggh lepasin tangan gua bedebah!"
"Hei kawan dengarlah. Jika sesungguhnya kamu hendak mencari musuh, maka saat ini kamu menemukan orang yang salah. Namun jika kamu hendak mencari seorang sahabat, maka jangan bertindak yang berlebihan. Aku yakin kamu tidak pernah memiliki seorang sahabat bukan?" Bisik Alan didekat telinga Jovan.
"Pers*tan dengan seorang sahabat! Cepat Lepaskan tangan gua, Kampang!"
"Hei Kawan, sejujurnya saat aku melihatmu mengingatkanku kepada sahabat kecilku." Alan melepaskan kembali tangan Jovan.
Setelah itu Jovan diam sejenak sembari mengusap-ngusap kepalanya akibat sakit setelah di pukul oleh Alan. Namun ia tengah berpikir bahwa yang dikatakan oleh Alan memang benar apa adanya bahwa dia memang tidak pernah memiliki seorang sahabat meskipun ia memiliki banyak teman.
"Lonceng sekolah sebentar lagi berbunyi, segera bergegas sebelum terlambat." Pungkas Alan hendak melangkah pergi.
"Hei, Tunggu," panggil Jovan.
Alan menoleh lagi ke arah dia
"Kenapa loe anu.." Jovan ragu-ragu hendak berkata.
"Apa maksudmu?" Tanya Alan.
"Ah, tidak."
Alan kembali tersenyum ketika melihat ekspresi Jovan nampak merasa bersalah sebelum ia kembali melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari ruangan tersebut.
'Aneh sekali, baru kali ini gua melihat orang yang begini. Tampang dia memang terlihat sangat sombong yang membuat gua jijik. Tapi.. kenapa dia memiliki wibawa tinggi ya, dia selalu memakai bahasa yang baik. Dia samasekali tidak… aih Kenapa gua jadi tidak bisa berkata apa-apa begini sih ngadepin dia. Kamvret.' Gumam Jovan setelah Alan sudah pergi.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Lonceng sekolah telah kembali dibunyikan.
Teng.. Teng.. Teng..
Siswa-siswi sudah hampir semua masuk kembali ke dalam ruang kelas. Akan tetapi, Alan masih belum jua kembali. Karena baru saja lonceng dibunyikan, maka guru belum hadir memasuki ruang kelas.
"Wei Mike, loe ngapa mondar-mandir mulu dari tadi di situ, bikin sepet mata gua, sumpah." Ucap Taro dari tempat duduknya.
Mike hanya menoleh ke arah meja para teman-temannya sejenak tanpa menjawab pertanyaan mereka, lalu ia kembali berjalan mondar-mandir di depan kelas sembari menggigit kuku.
"Wei Mike, dedemit mana lagi yang lagi merasuki Loe, aneh bet dah ah. Mondar-mandir seperti gosokan aje loe." Lanjut Taro ketika pertanyaannya tidak di jawab oleh Mike.
Mike langsung melangkah ke arah teman-temannya nampak ekspresinya penuh tanya.
"Eh, apakah kalian tadi ada yang melihat keberadaan Michealan?" Tanya Mike.
"Michealan?" Ucap Ivan sembari menoleh ke arah teman-teman yang lain.
"Michealan? Oh iya, loe kan ada kembaran ya, kemana kembaran Loe itu Mike?" Jawab Al balik bertanya. Mereka sempat Lupa bahwa Mike saat ini memiliki saudara kembar satu kelas dengan mereka.
Mike langsung menimpuk kepala Al.
Plak! Plak!
"Orang lagi di tanyain, malah balik nanya loe, kamvret!" Mike mendengus.
"Auuh sakit Mike, aih sue loe! Lagian itu saudara loe sendiri malah loe yang nanya ke kita-kita. Loe aja ngelupain kita-kita hari ini, eh bukankah loe sendiri kan yang tadi pergi bareng sama kembaran Loe?" Al sembari mengusap-ngusap kepalanya.
Mike terdiam sembari masih menggigit kuku jempol.
"Eh, itu dia panjang umur, lagi diomongin bocahnya nongol" Al menunjuk ke arah pintu ketika Alan memasuki ruang kelas.
Mengetahui itu Sontak Mike langsung bergegas kembali ke tempat duduknya.
"Darimana kamu tadi Lan? Ke toilet kok lama sekali? Bahkan aku sudah dua kali ke toilet kamu tidak ada." Tanya Mike ketika Alan baru saja duduk. Namun Alan selalu menghindar cenderung tidak mau melihat ke arah Mike ketika Mike mengajaknya berbicara.
"Em.. aku.. Anu.." Alan bingung hendak menjawab apa. Ketika Alan tengah hendak menjawab, Jovan baru saja masuk ke dalam ruang kelas dan tengah melangkah menuju tempat duduknya melewati tempat duduk Alan. Mereka saling pandang, Alan pun tersenyum tipis. Sementara Jovan sendiri langsung memalingkan wajah.
Mike langsung sedikit menarik bahu Alan.
Seet!
Sontak membuat Alan menoleh ke arah Mike, begitu Mike melihatnya, Alan langsung memalingkan wajah.
"Eh tunggu, hei.. coba kamu tengok kesini." Pinta Mike. Namun Alan enggan untuk menoleh ke arahnya lagi karena Alan sudah menduga.
"Alan. Tengoklah kesini" Ulang Mike. Karena Alan tidak jua menoleh ke arahnya, kemudian Mike langsung meraih pipi Alan.
Seet!
"Apa ini Lan, siapa yang berani melakukan ini kepadamu? katakan." Tanya Mike melotot ketika melihat terdapat luka lebam di area sudut bibir Alan.
"Tidak, bukan apa-apa, apa yang kamu pikirkan Mike?" Jawab Alan nampak canggung.
"Tidak usah mengelak. Katakan saja, siapa yang telah berani melakukan ini kepadamu. Katakan kepadaku siapa sanak itu." Mike nampak emosi. Ia langsung berdiri sembari memandang ke seluruh siswa-siswi didalam kelas.
Akan tetapi karena perbincangan mereka tidak begitu keras maka tidak ada yang mendengarnya dan tidak banyak yang melihat Mike ketika Mike langsung berdiri.
Sementara Jovan yang posisi duduknya berada di pojok paling belakang langsung menunduk dan langsung pura-pura membaca buku seolah-olah tidak tahu walau sebenarnya dia tahu karena ia sendiri tengah memperhatikan Alan dan Mike.
"Apa yang sedang kamu lakukan Mike? Cepat Kembalilah duduk, lihatlah itu guru sudah hadir." Bisik Alan sembari meraih tangan Mike supaya kembali duduk.
Seet!
"Cam kan ini Lan, siapapun orang yang berani menyentuh Adikku maka akan berurusan langsung denganku. Dan jika aku menemukan orang yang menyakiti adikku maka tiada ampun baginya. Jika saat ini kamu tidak mau mengatakannya langsung kepadaku maka akan ku temukan sendiri siapa orang itu." Mike sembari mengepalkan tangan.
Alan hanya tersenyum ketika Mike berkata seperti itu karena ia tidak tahu harus menjawab apa lagi ketika sang kakak sudah berkata demikian. Karena apapun itu semua untuk kebaikkannya.
Pelajaran langsung berlangsung.
***
Beberapa saat kemudian, pelajaran menjelang selesai.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu dari luar kelas. Sang guru segera bergegas untuk melihat siapakah gerangan yang hadir. Dan ternyata adalah guru lain yang hendak menyampaikan suatu pesan.
Begitu guru usai berbincang-bincang sejenak dengan guru lain tersebut. Ia segera mengumumkan kabar yang telah disampaikan oleh guru lain itu. Sebelum jam pelajaran selesai.
"Perhatian sejenak Anak-anak. Kabar duka mendalam telah sampai pada sekolah kita khususnya di kelas kita ini bahwa salah satu murid didalam kelas kita telah pulang ke Surga"
__ADS_1
"Astaga Tuhan, pulang ke surga?"
"Hah? Siapa yang meninggal dunia?" para siswa-siswi saling berbisik penuh tanya.