
"Kondisi saudara anda baik-baik saja dik, hanya terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, namun tidak perlu dikhawatirkan karena luka lebam yang berada di beberapa bagian tubuhnya tidak menyebabkan fatal seperti patah tulang dan lain sebagainya." Jawab sang dokter.
"Puji Tuhan, baiklah Terimakasih dokter" Jawab Mike penuh bersyukur dan merasa lega. Kemudian Marvin telah kembali kesana, disaat Marvin datang Mike langsung tersenyum kepadanya.
"Pa.." Sapa Mike merasa bahagia setelah ia mendengar pernyataan dari sang dokter bahwa Alan baik-baik saja, menyadari kondisi dia sebelumnya nampak terlihat memprihatinkan yang mana sebelumnya Mike sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kondisi Alan.
Kemudian, Marvin bercakap-cakap sejenak dengan sang dokter, sementara Mike langsung membantu Alan untuk kembali dalam posisi duduk. Setelah beberapa saat kemudian, Marvin telah selesai dengan urusannya dan ia kembali kepada Mike dan Alan berada.
"Mari nak, kita pulang" Ajak marvin.
Mike dan Alan masing-masing mengangguk, kemudian Mike kembali menuntun Alan hendak keluar dari rumah sakit dan berjalan pelan menuju ke tempat parkiran.
***
Setelah mereka sampai tepat pada parkiran, dan hendak masuk kedalam kendaraannya, hape milik Marvin berbunyi.
Kring.. kring.. kring..
"Tunggu sebentar nak" Ucap Marvin hendak menerima panggilan telepon tersebut kemudian ia sedikit melangkah jauh dari mereka.
Ketika Marvin sedang berbicara melalui telepon, Mike membantu Alan untuk masuk kedalam kendaraan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Alan ketika Mike sudah memasukkan ia kedalam mobil dan melihat Mike hendak pergi.
"Mau mencari toilet sebentar." Jawab Mike singkat. Kemudian ia langsung bergegas mencari keberadaan toilet. Namun ketika Mike mencari keberadaan toilet yang posisinya tidak jauh dari tempat parkir, kebetulan ia tidak menemukannya, alhasil ia melangkah lebih jauh kembali masuk kedalam.
Ketika ia sedang berjalan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda yang sedang berjalan jua nampak terburu-buru, dan juga pemuda tersebut sedang menggunakan masker penutup wajah.
Brak!
"Oit, oit," Mike nyaris terjatuh ketika ia bertabrakan dengannya, dan posisi ia nyaris terjatuhnya membelakangi orang itu.
"Maaf bang," ucap pemuda tersebut langsung menoleh kearah Mike dan sedikit menarik tangan Mike ketika Mike hampir terjatuh.
"Iya bang, tidak apa-apa." Jawab Mike sembari menoleh kearah pemuda tersebut. Dan kemudian, ketika pemuda itu melihat Mike, dia langsung melotot penuh terkejut dan nampak ketakutan.
__ADS_1
'Oh Tidak, Mike.'
Lalu pemuda itu langsung ambil langkah seribu untuk segera hengkang dari hadapan Mike dan langsung berlari.
"Lah.. Aneh sekali orang itu, melihat ku seperti sedang melihat hantu saja, langsung melotot ketakutan pula. Huh! bukankah wajahku ini tampan ya? Tapi kenapa orang itu malah terlihat ketakutan melihatku? Eet, tapi.. siapa orang itu ya?" Gumam Mike merasa terheran-heran karena ia tidak tahu siapakah gerangan orang yang baru saja bertabrakan dengannya dan jua karena tingkah orang itu aneh bagi Mike.
Kemudian, ia melanjutkan kembali untuk menyelesaikan urusannya di toilet.
***
Di tempat parkiran.
Marvin masih belum selesai bercakap-cakap melalui telepon sementara posisi Alan duduk seorang diri didalam mobil sembari melamun melihat kearah kaca mobil.
Kemudian, ketika ia tengah melihat kearah kaca, ia melihat ada seorang pemuda tengah berhenti sejenak didekat salah satu mobil yang terparkir disana, pemuda itu berulang kali menoleh kearah dalam sembari menghela napas dan terlihat sedang ketakutan.
Karena napas dia sedang terengah-engah, dia pun melepaskan sejenak masker penutup wajahnya. Sontak membuat Alan sedikit melotot ketika melihat pemuda itu setelah dia sudah membuka masker penutup wajahnya.
'Orang itu.. kenapa dia berada disini?'
Batin Alan bertanya-tanya sendiri ketika melihat pemuda itu, dan jua karena ekspresi pemuda itu terlihat sedang ketakutan dan jua karena Alan sangat paham sekali dengan wajah orang itu. Namun tidak selang waktu lama, pemuda itu langsung kembali pergi dari sana, dia takut jika sampai Mike melihatnya dan dia jua takut jika Mike mengetahui bahwa dialah yang membawa seseorang di rumah sakit itu.
Ia ketakutan ketika melihat Mike berada disana dan takut jika sampai Mike mengetahui bahwa teman wanitanya telah tertabrak mobil dan kebetulan ia lah orang yang mengantarkannya, menyadari setelah apa yang ia dan anggota kelompoknya lakukan, tentu ia berpikir nyawanya akan terancam jika sampai Mike mengetahuinya.
Sementara Alan sendiri sangatlah paham dengan Rehan, yang mana dia adalah salah satu orang yang menangkapnya ketika ia sedang bersama Ananta. Walaupun Rehan sendiri tidaklah separah Anwar dan yang lainnya khususnya Bonanza, namun apapun itu dia tetaplah bagian dari anggota kelompok mereka.
Rehan masih berada di lingkungan rumah sakit tersebut hingga malam hari adalah untuk memantau Ananta, yang mana dia membawa Ananta ke rumah sakit tersebut sudah dari siang hari. Namun, baik itu keberadaan dia sekaligus identitas dia, tidaklah diketahui oleh pihak rumah sakit maupun pihak keluarga dari Ananta.
Karena, ketika dia membawa Ananta ke rumah sakit tersebut, dia tidaklah seorang diri. Melainkan bersama dengan beberapa orang yang menyaksikan kejadian ketika Ananta telah tertabrak mobil.
***
Beberapa saat kemudian, Marvin telah usai bercakap-cakap melalui telepon, dan ia kembali masuk kedalam mobilnya.
"Loh, Mike kemana?" Tanya Marvin ketika baru saja masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Ke toilet sejenak yah," Jawab Alan singkat yang mana ia masih sering melihat kearah posisi Rehan tadi berada.
"Oh.." Marvin sembari menoleh kearah yang sedang dilihat oleh Alan.
"Ada apa nak? Kamu sedang melihat siapa?" Tanya Marvin karena penasaran.
"Oh, tidak yah, bukan Apa-apa"
Kemudian, Mike sampai ke tempat parkiran dan kembali masuk ke dalam kendaraannya. Dan ketika ia baru saja masuk dan duduk di sebelah Alan, Alan masih saja melihat kearah tadi.
"Kamu sedang ngeliatin apaan Lan?" Tanya Mike.
"Itu, kamu tau itu si anu.. ah tidak-tidak" Jawab Alan hendak mengatakan bahwa baru saja ia melihat Rehan, namun ia menghentikan niatnya untuk membicarakan seseorang yang baru saja ia lihat tersebut, menyadari posisinya belum tepat untuk membicarakan seputar masalah itu.
"Aisssh, apakah tidak ada kalimat lain kah? selain kata si anu? Anunya si anu siapa hah?" Jawab Mike sembari meliriknya. Membuat Alan langsung tersenyum tipis ketika melihat Mike meliriknya dan mengucapkan kalimat tersebut, menyadari ia sendiri memang tidak banyak berkata-kata.
"Sudah-sudah, Mike jangan ribut." Sambung Marvin sembari hendak memacu kembali kendaraannya.
"Apakah perlu aku mengajari kamu untuk berkata-kata?" Lanjut Mike berbicara dengan Alan dan tak menghiraukan ketika ayahnya berbicara.
"Apakah menurutmu aku seperti bayi?" Lirik Alan.
"Tidak, aku tidak berbicara seperti itu, huaaam " jawab Mike sembari menguap-nguap.
"Lalu..?"
"Lalu apaan? Hey Lan, dengarlah Aku pasti akan segera merubahmu"
"Berubah jadi Superman?" Lirik Alan.
"Bukan, tapi jadi pesikopat, haha" Mike langsung tertawa.
"Berisik sekali kau Mike, ngomong apa pula kau. Hati-hati dalam mengucapkan sebuah perkataan Mike, kau tau sebuah perkataan itu adalah do'a" sambung Marvin.
"Apaan sih pa, ih Nimbrung aja sih!" Guman Mike mendengus sembari melirik ke ayahnya melalui kaca spion.
__ADS_1
Marvin menggelengkan kepala sembari tersenyum ketika melihat tingkah Mike. Ia sangat bahagia melihat kedua putranya kini telah kembali bersama-sama dan mereka bisa akrab bak sudah hidup bersama-sama dari kecil. Mereka Tidak terlihat canggung sama sekali, meskipun hari ini adalah hari pertama untuk mereka memulai hidup bersama-sama.
Dan jua diantara mereka telah melalui beberapa kejadian yang sangat membingungkan didalam hidup mereka yaitu kejadian Tertukar posisi. Marvin berharap mereka dapat akur hingga selama-lamanya, karena ia jua belum sepenuhnya tahu tentang watak dan karakter asli dari satu putranya yang hilang dari 17 tahun yang Lalu, yaitu Michealan stevanus Lawrence.