Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 157


__ADS_3

Sementara diposisi Alan terus mengejar Ananta, ia tidak banyak memanggil melainkan terus mengejar. Setelah tangan Ananta berhasil ia raih, lekas Ananta hempaskan lagi.


"Pergi Loe! Kagak usah loe ngejar gue! Dasar manusia munafik!" Pekiknya.


"Ananta tunggu, plis dengarkan aku sejenak" Pinta Alan antusias meraih tangan Ananta lagi hingga Ananta pun akhirnya terhenti.


Seet!


Ananta terdiam seraya menyapu air mata di pipinya, lekas Alan mengangkat tangan hendak ia sapu air matanya. Tetapi secara sigap Ananta langsung menyingkirkannya hingga ia pun menampar pipi Alan sekeras-kerasnya.


"Jangan loe pegang-pegang gue!"


Plak!


Alan memejamkan mata saat tamparan itu mendarat di pipinya. "Baiklah, tapi tolong dengarkanlah aku sedikit saja." Pinta-nya tampak bersalah.


Ananta pun melihatnya walau hanya sekilas lantas berpaling lagi ke arah lain.


"Tolong jangan tumpahkan Amarahmu terhadap kakak-ku, dia tidak salah apapun. Jangan pernah kamu membencinya. Jikapun kamu membenci, bencilah saja aku. Karena .." Alan masih berbicara tetapi langsung diretas oleh Ananta.


"Karena apa hah! Tidak perlu loe membela Mike karena faktanya sudah jelas, baik loe maupun Mike sama-sama pembohong! Bersekongkol untuk mempermainkan gue!" Pekik Ananta tiada henti meneteskan air mata. "Hiks, hiks, hiks"


"Tidak Ananta, tidak seperti itu." Jawab Alan tidak pandai menjelaskan apalagi terhadap orang yang posisinya sedang menangis seperti ini. Lantas ia hendak menyapu air matanya sebab ia tidak tahan melihat air mata Ananta terus mengalir.


Tetapi saat ia hendak melakukannya, tangan Alan kembali disingkirkan oleh Ananta, lantas sebuah tamparan pun mendarat lagi di pipi Alan.


Plak!


"Gue udah bilang, Jangan loe sentuh gue! Bedebah!" Pekik Ananta emosi, sebab Ananta semakin mengira bahwa ada sebuah persekongkolan karena saat ini kebetulan Alan memakai seragam sekolah yang salah, yakni memakai seragam sekolah milik Mike.


Lantas Alan kembali memejamkan mata saat pipi tertampar lagi olehnya tanpa menangkisnya samasekali seperti yang biasa Mike lakukan.


Sontak Ananta langsung melotot sebab ada yang menganjal dalam dirasakannya. Semua karena Alan tampak sangat tulus baginya, hanya saja Alan tidak pandai berkata-kata hingga membuat Ananta selaku kaum hawa tidak sabar dibuatnya.


"Entah sesungguhnya apa yang terjadi yang gue tidak mengerti, hingga semua terjadi seperti ini. Dan gue benar-benar tidak tahu Mike yang gue kenali sejak dulu bisa memiliki saudara kembar seperti loe, yang jelas untuk saat ini, gua perlu waktu untuk berpikir. Dan perlu waktu untuk bisa mengerti maupun menerima penjelasan kalian." Pungkas Ananta lantas hendak beranjak pergi.


"Ananta tunggu." Panggil Alan seraya meraih tangannya.

__ADS_1


Seet!


Ananta pun berhenti lagi nan tak lepas pandang melihatnya.


"Ananta dengarlah, apapun yang sudah pernah kukatakan padamu adalah murni dariku dan sekali lagi maafkan aku." Ucap Alan penuh misteri.


"Gue sudah bilang, gue perlu waktu untuk berpikir, ngerti gak!" pungkas Ananta belum bisa menyaring dengan baik kalimat Alan yang memiliki segudang arti mendalam meskipun itu penuh misteri.


Lantas Ananta kembali melepaskan tangan Alan, lekas beranjak pergi.


Ya, Alan memang tidak pandai merangkai kata-kata sebab dirinya memang tipikal orang yang sedikit dalam bertutur kata. Tetapi sekali ia berkata maka ia tidak melupakan kata yang pernah ia ucapkan sendiri. Seperti kosa kata yang ia ucapkan tersebut mengingatkan Kepada Ananta bahwa apa yang pernah ia katakan kepadanya, selanjutnya akan tetap Sama seperti itu meskipun Ananta sudah tau siapa aslinya dia yakni bukanlah kakak-nya. (Mike)


Sementara untuk saat ini, Ananta samasekali tidak bisa berpikir dengan jernih, sebab yang ia rasakan tidak lebih dan tidak kurang hanyalah seperti sebuah permainan hingga ia lupa bahwa, nyawa ia selamat hingga ia bangkit dari keterpurukannya saat kehormatan ia dihancurkan oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab (Andika plus kelompok Bonanza) adalah oleh Alan, bukan oleh Mike.


Tetapi Alan tetaplah Alan, ia akan tetap menerima segala hukum Alam jikapun Ananta berakhir akan membencinya maka ia pun akan menerima dengan lapang dada. Sebab awal mula hidupnya disini dengan segala perkara yang terjadi tak terlepas dari bayang-bayang saudara kembarnya sebab semua bermula dari tertukar posisi.


***


Next


Alan sudah tak kuasa untuk mencegah Kepergian Ananta lagi, sebab ia tidak bisa memaksa kehendak jika Anantanya sendiri belum siap untuk mendengarkan segala penjelasannya. Lantas ia masih berdiri disana sembari melihat Ananta pergi meninggalkannya.


"Astaga Tuhan! Ya ampun, bodohnya gua." Ucapnya menyadari ada sesuatu yang menganjal didalam pikirannya.


Meskipun Mike belum bisa mengira-ngira tentang apa masalah yang terjadi, lantas ia segera meninggalkan badan dari kursi. Bergegas lari menuju ke arah Alan tadi.


"Lan, Alan" serunya dari Arah kejauhan.


Alan menolehnya sejenak lantas menoleh Ananta lagi yang posisinya sudah naik kedalam mobil taksi.


"Huff .. huff .. Lan, Wei Lan, " Panggil Mike lagi tampak napas yang masih tersenggal-senggal seraya merangkul pundak Alan.


Plek!


Lantas Alan pun langsung menyingkirkannya seraya sedikit menghindar darinya.


"Weih, pelecehan sangat ekspresimu itu. Huff .. kebiasaan!" Celetuk Mike, sudah paham pahwa ekspresi Alan seperti itu lantaran Badan sekaligus mulutnya sedikit bau lantaran ia memang belum mandi dari kemarin.

__ADS_1


"Cih," Lirik Alan penuh misteri tampak sejuta kata tak ia utarakan melalui kata.


"Kemana dia? Apa Kamu berhasil mengejarnya tadi?" Lanjut Mike bertanya seraya menoleh kesana dan kemari masih dalam napas yang tersenggal-senggal.


"Dia sudah pulang" jawab Alan singkat.


"Huff .. Aku baru inget Lan, aku belum ngomong ke dia kalo aku punya kembaran .. eh, tapi kok loh .." Ucap Mike sedikit melotot kala dia melihat nama pengenal di seragam sekolah yang Alan pakai.


Lantas Alan menoleh ke baju dia sendiri.


"Justru ini yang menjadi semakin rumit, salahku memakai bajumu. Baiklah kita bicarakan ini nanti dirumah. Ayo kita pulang dulu." Ajak Alan lantas meraih tangan Mike. Tetapi Mike langsung menangkisnya.


"Wait"


"Kenapa? Ayo kita pulang," Lanjut Alan meraih kembali tangan Mike.


"Aish, tunggu. Kopi ku tumpah tadi, lihatlah nih celana ku basah tersiram air kopi" Ucap Mike seraya memperlihatkan bagian paha-nya.


"Tidak ada alasan untuk itu, mari kita pulang supaya bisa membersihkan badanmu sekaligus ganti pakaianmu" jawab Alan.


"Haiyaa .. skakmat dah aku, ish .. nanti lah Lan, santai saja dulu kita ngobrol di taman ini sambil ngopi." Jawab Mike berjuta Alasan sebab ia tidak ingin jika berjumpa kembali dengan Marvin.


"Bukankah kamu belum pulang dari kejadian tadi malam? Kemana kamu dan kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Tanya Alan.


"Em .. anu .. itu,"


"Halah, kelamaan!" Pungkas Alan seraya meraih tangan Mike lekas menariknya menuju motornya berada.


"Oit, oit, oit haiyaa Lan, jangan di tarik tarik. oihh"


"Diam, ayo kita pulang!" Alan seraya terus menariknya hingga sampai di tempat motor Mike terparkir.


Setelah sampai disana sejenak Alan melangkah pergi menuju ke mobil penjemputnya, yang posisinya tidak begitu jauh dari tempat motor Mike terparkir.


"Pak, bapak pulang saja dulu. Biar saya pulang bersama Mike." Ucap Alan kepada sang sopir. "Baik kak"


Setelah usai, Alan kembali ke arah Motornya Mike, sontak ia pun menggelengkan kepala saat melihat Mike malah duduk di trotoar jalan didekat penjual kopi sembari menyemburkan kepulan asap dari zat nikotin (Merokok)

__ADS_1


"Hehehe," Mike cengegesan sengaja melakukan hal itu semata-mata hanya untuk mengulur waktu supaya Marvin sudah berangkat lagi ke kantor.


'Ya Tuhan, kelakuan kakak-ku ini ..'


__ADS_2