Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 79


__ADS_3

Mike merasa sangat gembira ketika ia menemukan Alan. Kemudian Mike langsung menarik tangan Alan untuk segera menuju tempat yang tidak begitu ramai dari kerumunan orang-orang. Dan setelah sampai pada tempat yang dimaksud, Alan langsung melepaskan tangan Mike yang sedang memegang tangannya dan sedikit mengibaskannya.


Seet!


"Alan!"


Teriak Mike, namun Alan masih saja terdiam seribu bahasa. Kemudian tanpa basa-basi Mike langsung mendekat dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Kenapa kau pergi Lan.. tolong jangan pergi meninggalkanku, janganlah kau pergi Lan.." Ucap Mike berbicara lirih ketika ia memeluk Alan.


Namun Alan sendiri masih belum jua mengucapkan kalimat apapun. Dan kemudian ia langsung mendorong Mike sehingga pelukan Mike langsung terlepas, bahkan hingga Mike mundur kebelakang dan hampir terjatuh.


Seet!


"Alan!" Seru Mike kembali.


"Pergilah, jangan mengikutiku." Ucap Alan singkat kemudian ia langsung bergegas pergi.


"Tidak! Alan, tunggu." Teriak Mike ketika Alan langsung berlari pergi.


Kemudian, Mike bergegas untuk segera menyusulnya. Namun, ketika ia hendak melangkah untuk berlari mengejarnya, ia tidak melihat ada mobil jenis Jep yang sedang melintas dari arah belakangnya.


Tin.. tin.. tin..


Alhasil Mike terserempet mobil tersebut hingga ia terjatuh dan menabrak pedagang kaki lima yang berada di bahu jalan.


Brak!


"Aaiisssh, awwwh, aaahh"


Mike merintih kesakitan. Kemudian mobil yang telah menyerempetnya tersebut langsung berhenti, dan seseorang yang mengendarai mobil tersebut langsung turun dari dalam kendaraannya.


"Ya Tuhan, Mike, loe tidak papa?" Tanya orang tersebut yang tak lain dia adalah Saga dan Dion teman-teman Mike sewaktu ketika mendaki gunung bersama-sama kala itu.


Kemudian, Saga dan Dion langsung membantu Mike untuk kembali berdiri, dan jua dibantu beberapa orang yang berada disana. Tangan kanan Mike terluka akibat tergores dari ujung gerobak pedagang kaki lima tersebut yang ia tabrak.


"Tidak, gua tidak papa bro" Jawab Mike singkat sembari menoleh kearah Alan yang sudah berlari dan sudah tidak terlihat.


"Loe kenapa bro, kenapa kelihatan gelisah sekali." Lanjut Dion sembari menoleh kearah yang Mike lihat.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada apa-apa, gua sedang ada urusan bro, gua tinggal dulu ya" lanjut Mike langsung berpamitan dan langsung berlari kearah Alan yang sudah berlari jauh.


"Hey Mike, tunggu!" Teriak Saga dan Dion ketika melihat Mike nampak sangat tergesa-gesa. Namun Mike sudah tidak menghiraukan Saga dan Dion yang tengah berteriak memanggilnya.


***


Mike berlari sembari memegang tangan kanannya yang masih terasa sakit, dan terdapat darah yang mengalir akibat tergores cukup dalam. Kemudian ia berlari kearah ujung pasar, yang mana disana terdapat perlintasan rel kereta api.


Dan setelah ia sampai disana, ia melihat Alan berdiri tepat didekat palang pintu kereta api yang sudah tertutup tanda kereta api sebentar lagi akan melintas.


Kemudian, ia berjalan menghampirinya dengan berteriak memanggilnya.


"Alan, Alan."


Kemudian, Alan mendengar Mike berteriak dari arah belakang, iapun langsung menengok kearahnya. Setelah ia menengok dan melihat bahwa Mike masih terus mengejarnya, ia langsung berjalan melewati palang pintu yang sudah tertutup tersebut.


"Berhenti Alan! Berhenti! Apa yang akan kau lakukan, kereta api sebentar lagi melintas. Berhentilah Alan! Jangan melangkah kesana Alan!" Teriak Mike.


Namun, Alan sendiri tidak mengucapkan kalimat apapun, sontak membuat semua orang yang berada disana melihat semua kearah Alan, dan jua kearah Mike, karena mereka memiliki rupa yang sama. Dan ketika Alan masih saja melangkah kearah rel kereta api tersebut, semua orang yang berada disana banyak yang berteriak.


"Berhenti dik, jangan melangkah kesana berbahaya! Berhenti!"


"Apakah engkau membenciku Alan." Ucap Mike dengan suara lantang serta nampak matanya sudah berkaca-kaca.


"Atas dasar apa aku bisa membencimu Mike. Sekalipun tidak."


"Lantas, kenapa kau pergi Alan."


"Hendak kemana pula aku pulang? Bukankah saya hanyalah anak yang tidak berguna dan tidak pernah diinginkan?"


"Cukup Alan! Kenapa kau berbicara omong kosong semacam itu, papa bilang kita adalah saudara kembar, dan itu sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kita memanglah serupa"


"Benar, rupa kita memanglah sama, namun sekalipun Kamu tidak akan pernah mengetahui dan mengerti Mike." Jawab Alan yang berpikir bahwa ayahnya telah membuangnya.


"Tidak Alan, justru engakau lah yang tidak mengerti, aku sudah mengerti semua tentangmu, marilah kita pulang" Jawab Mike karena ia memang sudah mengetahui tentang Alan ketika ia menjadi dirinya tanpa Alan ketahui dan belum ia katakan jua kepada Alan.


Sehingga saat ini Alan tidak mengetahui bahwa Mike juga beberapa hari yang lalu telah menjadi dirinya.


"Tidak."

__ADS_1


"Alan, Kita bisa bicarakan ini lagi nanti, ayolah kita pulang"


"Tidak, kamu pulanglah, jangan mengikutiku"


"Alan! Kenapa kau keras kepala sekali sehingga kau tidak bisa mendengarkanku! Alan dengarlah, Apakah engkau berpikir hanya kau saja yang merasakan kekecewaan setelah mendengar yang papa ucapkan. Tidak Alan, tidak kau saja, akupun merasakan demikian, karena papa tidak pernah mengatakan bahwa aku memiliki saudara, jikalau aku mengetahuinya, aku pasti sudah mencarimu sedari dulu!"


"Ya, Ya Ya, yang kamu ucapkan sangatlah benar. Karena aku tidak pernah diinginkan, sehingga beliau tidak pernah mengatakannya padamu" jawab Alan singkat dan langsung melangkah semakin mendekati rel kereta api.


"Tidak Alan, bukan seperti itu, marilah pulang dulu, kita tanyakan langsung dengan papa Alan, berhentilah Alan, aku mohon." Lanjut Mike merasa bimbang ketika Alan semakin mendekat kearah rel kereta api.


***


Kemudian, orang-orang yang berada disana merasa khawatir ketika Alan langsung melangkah kearah rel, yang mana kereta api yang hendak melintas sudah terlihat.


"Alan! Berhenti Alan! Kembali Alan!" Mike berteriak sangat lantang karena merasa sangat khawatir, kemudian ia hendak berlari untuk segera mengejar Alan, namun ia langsung dihentikan oleh orang-orang yang berada disana.


"Berhenti nak, jangan kesana itu sangat berbahaya!"


"Lepaskan saya! Lepaskan saya! Saudara saya sedang dalam bahaya, lepaskan saya!" Teriak Mike ketika ia dipegangi oleh orang-orang.


"Oh tidak, Ya Tuhan, Alaaaaaan!" Mike berteriak sangat lantang sembari meneteskan air mata. Ketika Alan langsung melangkah kearah rel dan disusul kereta api telah melintas.


Tuooooon..


Hingga beberapa menit kereta tersebut melintas, Alan sudah tidak terlihat lagi antara berhasil melewati rel kereta tersebut atau tidak.


Mengetahui hal tersebut Mike langsung menangis histeris dan langsung mengibaskan serta langsung mendorong orang-orang yang sedang memegangi dia. Ia langsung melangkah kearah dekat kereta api yang sedang melintas tersebut.


Ia langsung berlutut menghadap kearah kereta api yang sedang melintas, sembari ia melihat pada dibagian rel sembari masih menangis histeris menunggu kereta api tersebut selesai melintas.


'Ya Tuhan.. Alan.. saudaraku, kenapa engkau tega meninggalkanku, apakah engkau tidak menginginkan seperti yang sangat kuinginkan..' batin Mike merasa sangat kacau. Karena kebahagiaan yang sudah berada didepan mata belum berhasil jua ia raih yaitu hidup bersama dengan saudaranya.


***


Beberapa menit kemudian, kereta api telah selesai melintas. Mike kembali dalam posisi berdiri sembari menyapu air mata yang tiada henti-hentinya mengalir diantara kedua pipinya.


Kemudian ia langsung melangkah kearah rel kereta api tersebut sembari masih menangis dan sembari melihat jua rel kereta api tersebut.


"Oh tidak, ya Tuhan, Alan..."

__ADS_1


__ADS_2