
"Hehe, maaf kakak Mike, ada apa? Kenapa kakak bersembunyi di situ?" Asisten tersebut merasa heran.
"Ah tidak ada apa-apa, em.. saya minta tolong, dapatkah kalian menolong saya?" Lanjut Mike sembari menoleh ke arah ruang tengah melalui celah-celah Jendela penghubung diantara dapur dan ruang asisten.
Disana terlihat banyak tamu yang duduk di sofa bersama dengan sang Ayah, dan tak ketinggalan jua ada Daniel.
"Iya Kak, apakah itu?" Jawab mereka.
"Em.. begini, Saya mau meminjam pakaian kamu beserta hijab mu, sekarang."
"Hah? Maksudnya? Untuk apa kak?" Tanya mereka merasa heran.
"Tolong Jangan tanya dulu saat ini, lebih baik kalian segera siapkan saja. Cepatlah" pinta Mike nampak tergesa-gesa nan menjadi tegas, lantaran ia tengah mengejar waktu untuk memastikan Alan saat ini sudah berada di kamar atau tidak. Tetapi saat ini ia lupa untuk menanyakannya kepada para asisten, tentang Alan sudah sampai rumah atau belum.
Mike hendak meminjam pakaian para asistennya yang kebetulan salah satu diantara mereka ada yang berhijab untuk ia pakai. Karena itu adalah salah satu cara supaya ia bisa masuk ke ruang kamarnya yang berada di lantai atas tanpa diketahui oleh sang Ayah dan para rekan-rekannya.
"Baik kak, akan segera saya ambilkan." Asisten tersebut langsung bergegas mengambilkan pakaian miliknya di kamar. Setelah ia mendapatkannya, langsung ia berikan kepada Mike.
Setelah Mike meraih pakaian tersebut, ia bergegas ke kamar mandi untuk segera memakainya. Setelah usai, ia pun bergegas keluar sudah memakai pakaian tersebut lengkap dengan hijab yang menutup kepalanya.
Sontak membuat para asistennya saling berbisik-bisik nan tertawa ketika melihat tampilan Mike yang terkesan nyeleneh itu.
"Ya salam.. anak Tuan yang satu ini, tingkahnya emang benar-benar aneh. Apa pula maksud dia memakai pakaianku" bisik para asisten tersebut dengan temannya.
"Astaga Tuhan, parah, bahkan dia lebih terlihat cantik daripada kamu saat dia memakai kerudung itu, hihihi"
Mike mengetahui bahwa mereka saat ini pasti sedang membicarakannya, namun tidak ia pedulikan. Ia pun segera memakai masker penutup wajah hendak segera melangkah naik ke lantai atas.
Beruntung, saat ia melangkah melintasi ruang tengah, sang Ayah tidak memanggil ia yang saat ini sedang menyamar menjadi salah satu asistennya tersebut. Alhasil ia lolos sampai di ruang atas. Ia hendak segera masuk ke dalam kamar.
Crek crek
__ADS_1
'Loh, kok masih terkunci? Apakah Alan sedang mandi?' Batin Mike penuh tanya ketika ia meraih gagang pintu. Alhasil ia pun langsung membukanya dengan kunci yang ia bawa.
Setelah ia sudah masuk ke dalam ruang kamar, ia langsung menoleh ke seluruh ruang kamar termasuk jua ke arah kamar mandi. Tetapi, pintu ruang kamar Mandi tidak tertutup dengan sempurna menandakan bahwa Alan tidak sedang berada di dalamnya.
"Lan, Alan." Mike memanggilnya hingga beberapa kali. "Apakah dia sudah berada di lantai bawah? Ataukah.. oh tidak. Apakah jangan-jangan dia masih belum pulang?" Mike merasa khawatir karena ia benar-benar tidak tahu bahwa Alan memang belum sampai di rumah. Terlebih lagi ia menyadari bahwa Alan masih belum sepenuhnya paham dengan lokasi yang berada di ibu kota ini.
Ia langsung mengisi daya batrai, sembari menunggu batrai handphonenya terisi, ia berganti pakaian. Namun ia belum memakai pakaian yang hendak di pakai untuk pesta, melainkan hanya memakai pakaian biasa ia pakai saat pergi main di balut dengan jaket andalan yang selalu ia pakai.
Usai berganti pakaian, ia segera meraih handphone yang sudah terisi batrai walau hanya sedikit. Ia langsung mencoba menghubungi nomor Alan. Tetapi sudah beberapa kali ia memanggilnya, nomor Alan selalu berada di luar jangkauan.
"Oh Tuhan, kenapa nomor dia tidak bisa-bisa di hubungi, apakah dia.. ah, tidak-tidak. Dia tidak apa-apa, positif Mike, positiflah." Gumam Mike mencoba untuk menenagkan dirinya sendiri.
Rasa khawatir semakin membelenggu jiwa ketika ia terlintas ucapkan mengerikan yang pernah ia dengar dari musuhnya. Alhasil, ia langsung bergegas keluar hendak memastikan Alan berada di ruang bawah atau tidak.
***
Setelah ia masih melangkah di anak tangga, beberapa rekan-rekan Ayahnya banyak yang langsung menyapa. Sementara Marvin sendiri langsung bergegas mendekat ke Mike lantaran ia melihat pakaian Mike masih bak anak brandalan yang saat ini sedang Mike Pakai.
Mike tidak mendengarkan ucapan sang Ayah, melainkan ia menoleh ke sana dan kemari mencari keberadaan Alan.
"Kamu mendengarkan yang Papa bilang atau tidak Mike, cepatlah ganti pakaianmu itu. Dan mana Adikmu, apakah dia sudah bersiap-siap?" Lanjut Marvin.
Sontak Mike langsung melotot setelah mendengar kalimat dari sang Ayah tersebut. Kemudian, tanpa mengucapkan kalimat apapun ia langsung bergegas pergi.
"Mike, mau kemana kamu Mike. Astaga Tuhan anakku yang satu ini, kenapa dia bandel sekali. Hei Mike, berhenti. Mau kemana kamu?!" Marvin memanggilnya dengan suara yang tidak terlalu lantang lantaran ia juga tidak ingin jika sampai rekan-rekannya mengetahui kelakuan asli dari putranya yang tidak bisa di atur tersebut.
Alhasil, Marvin langsung melangkah ke kamar Mike untuk memastikan satu putranya lagi sudah siap-siap atau belum. Tetapi sungguh tidak ia sangka ketika ia sampai di kamar Mike yang posisinya tidak terkunci tersebut, satu putranya lagi tidak berada di dalam kamar.
"Astaga Tuhan. Kemana Michealan?"
Sementara Mike sudah langsung melangkah kembali ke kuda besinya terparkir, acara pesta hendak di laksanakan pada area taman belakang, maka tidak heran jika tidak banyak yang melihat Mike saat ia melangkah keluar. Tetapi ada sebagian yang melihatnya yaitu para tamu yang baru saja hadir.
__ADS_1
"Loh, bukankah kamu Mike ya, lalu kamu mau kemana?" Tanya salah satu tamu tersebut dia adalah Maria bersama beberapa teman-temannya, saat melihat Mike sudah duduk diatas Motor siap melaju.
Mike saat ini tengah menggunakan masker penutup wajah dan sudah terbalut helm yang menutup kepalanya, namun siapa sangka masih ada saja yang mengenalinya.
"Ah, tidak kemana-mana kok, hanya ada keperluan sejenak. Nikmatilah dulu pestanya teman-teman, dan sampai jumpa kembali" Mike melambaikan satu tangan sembari melaju pelan.
***
Disisi Jovan.
"Ooihh dasar kamferet, main kabur aja loe biadab!" Pekik Jovan ketika Driver yang Alan tumpangi sudah melajukan kembari kendaraannya.
"Sudah lah bro, santai Men, marah-marah mulu cepat jadi kakek-kakek ntar Loe."
"Brisik Loe ah! Asal loe tau gua jijik saat lihat anak belagu tadi itu senyum. Ingin rasanya gua robek tuh mulutnya biar dia gak bisa tersenyum lagi." Jovan mengomel sendiri.
"Jiah.. eh Loe kesurupan dedemit mana bro? Sejak kapan Loe jadi ngurusin hal sepele semacam ini, dasar aneh loe. Udah yuk ah kita cabut. Eh btw udah jam berapa sekarang?"
Jovan langsung melihat ke arah jam tangan "Aissh, mati pula jam tangan gua." Kemudian ia langsung melihat ke arah handphone "Aissh Mati pula juga hape gua, gegara jatuh tadi nih pasti. Aiih heran, gua pasti selalu terkena sial saat bertemu dengan dia."
"Halah, ngomel apaan sih loe bro, coba aja loe nyalain dulu hape loe itu, ngomel mulu loe kayak mulut cewek."
"Weh Kamvret! Berisik loe ah! Gua gibas juga ntar tuh mulut" Jovan Langsung menyalakan handphone tersebut. Sesaat setelah handphone itu sudah menyala, sebuah panggilan langsung masuk.
Triiitt.. triiittt..
"Eh, Nomor siapa ini yang manggil? Mike? Siapa Mike? Eh, loh kok? Ini.. Astaga! Ini bukan hape gua, Coy"
Bersambung..
Catatan Author
__ADS_1
Tidak banyak yang mau Author sampaikan karena sebagian dari kalian banyak yang tidak membaca bagian catatan ini. Saya selaku yang mengarang dan menulis, mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian yang setia hadir di kolom komentar untuk menyemangati, Vote dan juga Like hingga sejauh ini. Karena, semua itu adalah sumber semangat bagi semua penulis termasuk saya.